Definisi Deindividuasi – Variabel Psikologi

deindividuasi, psikologi sosial, variabel psikologi, jurnal psikologi sosial, skripsi sosial, skripsi deindividuasi
Waktu baca yang dibutuhkan: 8 menit

Yuk kita bahas salah satu teori psikologi massa ini, dan beberapa fakta unik tentang teori deindividuasi.

Sebelum kita mulai, saya mau tanya dulu ahh.
Pernahkah kamu berada dalam situasi berikut ini?

  • Ketika kamu hangout sendiri atau berdua pacar, kamu cenderung ngomong dengan suara pelan. Kalopun mau selfie, pasti selfienya sembunyi-sembunyi.
    Ketika kamu hangout sama temen-temen, mendadak kamu bisa ketawa dengan suara keras. Ngomong juga teriak-teriak.
    Kalo lagi sama gengmu, foto-foto sambil pose sikap lilin pun kamu berani. Kok gitu ya?
  • Pernahkah kamu ngeliat bocah tawuran? Saat sendirian, mereka diam dan nggak banyak tingkah. Tapi kalo sudah sama temen-temennya… Mereka berani keluarin gir motor, tongkat kasti, ngayunin golok… dan lain sebagainya. Kenapa gitu ya?
  • Kalo ibadah sendiri di rumah, kadang rasanya susah serius. Tapi kalo ibadah di tempat ibadah bareng-bareng, rasanya jadi lebih tenang dan lebih menghayati. Kok gitu ya?

Itu, teman-temanku, adalah deindividuasi.
Kali ini kita akan bahas mengenai deindividuasi, teori-teori terkait, proses terjadinya deindividuasi, sejarahnya… banyak dah pokoknya.

Jadi, apa itu deindividuasi?
Kita bahas dari beberapa teori ilmuwan:

  • Deindividuasi adalah keadaan dimana seseorang kehilangan kesadaran akan diri sendiri (self awareness) dan kehilangan pengertian evaluative terhadap dirinya (evaluation apprehension) dalam situasi kelompok yang memungkinkan anonimitas dan mengalihkan atau menjauhkan perhatian dari individu (Festinger, Pepilone, & Newcomb; 1952)
  • Deindividuasi adalah bentuk pengekangan perilaku yang diinginkan individu, tetapi bertolak belakang dengan norma sosial. Teori ini juga menegaskan bahwa menyatunya individu terhadap kelompok membuat individu kehilangan identitas diri yang berakibat seseorang berperilaku agresif atau menyimpang dari perilaku sosial. (Festinger, dalam Chang, 2008)
  • Deindividuasi berfokus pada bagaimana anonimitas memberi pengaruh negatif pada perilaku sosial individu. Diener (1980) menyatakan kalo kondisi anonim menyebabkan seseorang dapat kehilangan kesadaran sosialnya sebagai individu. “Kehilangan kesadaran” ini adalah elemen kunci yang menyebabkan deindividuasi pada diri seseorang.

    deindividuasi, definisi deindividuasi, pengertian deindividuasi

  • Deindividuasi merupakan tahap psikologis yang ditandai oleh hilangnya self-awareness dan berkurangnya ketakutan individu karena berada dalam kelompok. (Hughes, 2013)
  • Deindividuasi terjadi ketika seseorang melakukan tindakan anti sosial yang tidak diinginkan karena ketertarikan individu dalam kelompok (Singer, Brush, & Lublin, dalam Li, 2010).
  • Deindividuasi adalah hilangnya kesadaran diri dan pengertian evaluatif diri sendiri yang terjadi di dalam situasi kelompok, di mana hal tersebut membantu perkembangan baik atau buruknya norma kelompok (Myers, 2008).

Dari teori-teori di atas, dapat disimpulkan bahwa:

Deindividuasi adalah hilangnya kesadaran diri karena seseorang menjadi satu dengan kelompok.

Masih bingung?
Penjelasannya gini.

Misal kamu sendirian di kafe.
Terus kamu buka yutub, nonton video lucu.

Kamu berani nggak ketawa keras-keras?
Ketawa sih, tapi pasti ketawanya kamu tahan.

Coba kalo nontonnya rame-rame, pasti ya ngakak keras-keras kayak kafe punya mbahmu.
Iya apa iya? Hehehe

Nah itu namanya deindividuasi.

Kamu jadi berasa nggak punya urat malu, jadi kurang aware terhadap lingkungan, nggak sadar terhadap penilaian orang lain…
Karena kamu “bergerak” bersama-sama kelompokmu, yang dalam cerita di atas, adalah temen-temenmu di kafe.

Ketika seseorang sudah menyatu dengan kelompok, dia jadi anonim.
Dia sudah nggak menggunakan identitas dirinya lagi, dia menjelma menjadi bagian kelompok.

Ketika sudah meninggalkan identitas dirinya, tanggung jawab dan kesadarannya sebagai individu juga menghilang.
Makanya, saat seseorang sudah bergerak dalam kelompok, dia jadi lebih “lepas”.

deindividuasi, definisi deindividuasi, pengertian deindividuasi
tawuran merupakan salah satu contoh deindividuasi

Bagaimana deindividuasi terjadi?

Jadi semua berawal pada 1895, saat Gustav Le Bon menciptakan teori tentang gimana pikiran kolektif bisa “mencabut” kesadaran dari individu.

Menurut dia, ketika seseorang sudah berada dalam kerumunan, orang tersebut jadi tidak bisa mengontrol diri. Pikiran orang tersebut cenderung jadi kosong.

Bayangkan apabila kerumunan ini kemudian dikontrol seseorang.
Kalau satu orang bergerak, semua jadi ikut bergerak dong? Apabila di dalam kerumunan ini ada seorang dalang, maka dalang bisa mengontrol massa ini sesuka hatinya.

Le Bon menyatakan bahwa “dalam situasi tertentu, sekumpulan orang akan memunculkan karakteristik baru yang berbeda dari biasanya”. Bila sudah di dalam kerumunan, seseorang akan meninggalkan kepribadian aslinya dan mengikuti kepribadian kelompok.

Teori Le Bon ini bagus, tapi bukti dan datanya nggak ada. Semua cuma hasil pemikirannya dia aja.

Maka pada 1952, Festinger, Pepitone, dan Newcomb mencoba menguji kebenaran teori Le Bon.
Dari penelitian inilah kata “deindividuasi” bermula.

Hipotesa mereka: ketika seseorang mengalami deindividuasi, maka orang tersebut bisa memunculkan perilaku yang biasanya nggak dilakukan. Orang-orang ini “terikat” dalam kelompok atau kerumunan, yang memungkinkan mereka untuk melakukan perilaku-perilaku tersebut.

Lalu, Festinger dan kawan-kawan melakukan eksperimen.

Mereka meminta para partisipan untuk duduk dan mendiskusikan suatu penelitian (“suatu penelitian” bohongan, tapi partisipannya nggak dikasi tau) yang dibacakan oleh peneliti.

Peneliti: hei kalian tau gak? Ternyata dalam penelitian kami sebelumnya, 100% partisipan kami bersikap agresif kepada orangtua mereka.

Partisipan: Loh kok bisa?

Peneliti: Iya beneran. Nih buktinya. (untuk membuktikan “penelitian bohongan” ini, peneliti memperlihatkan rekaman palsu dan hasil wawancara palsu ke sekelompok partisipan)

Para partisipan tersebut kemudian mendiskusikan kenapa bersikap kasar terhadap orang tua bisa terjadi.

Hasilnya?

Ternyata setelah mereka mengetahui dan mendiskusikan penelitian ini terhadap kelompok, para partisipan merasakan emosi negatif terhadap orang tua mereka.

Emosi ini ditunjukkan dalam bentuk verbal dan perilaku.

Setelahnya, para partisipan merasakan kedekatan terhadap kelompok diskusi ini
.

Festinger dan kawan-kawan percaya bahwa persepsi mereka sebagai individu sudah hilang.
Kebencian mereka terhadap orang tua adalah bentuk dari “kesetiaan” mereka terhadap kelompok.

Deindividuasi telah berhasil dilakukan.

Lebih lanjut, Zimbardo (1970) menyatakan bahwa anonimitas mempunyai pengaruh besar dalam memicu keadaan deindividuasi.

Jadi Zimbardo membagi kelompok partisipan menjadi dua: kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Dalam penelitiannya, kelompok eksperimen dibuat anonim (tanpa identitas, tidak dikenali) dengan menggunakan jaket lab dan tudung kepala.

Kelompok kontrol menggunakan baju biasa dan pake nametag.

Lalu, tiap individu dibawa ke ruangan dan diminta “menyetrum” orang di ruangan seberang. Tiap kali disetrum, level kejutan listriknya meningkat.

Hasilnya?
Kelompok eksperimen menyetrum teman di ruangan seberang dalam rentang waktu yang lebih lama, dibandingkan kelompok kontrol. Hasil penelitian ini menemukan bahwa anonimitas, yang merupakan salah satu syarat deindividuasi, ternyata berperan besar dalam memunculkan agresivitas.

Mungkin kamu bertanya-tanya: terus aspek apa lagi nih yang mempengaruhi deindividuasi?

salah satu penyebab munculnya agresivitas, tentu saja adalah karena pembelajaran dari lingkungan. Lebih lanjut bisa kamu pelajari di sini.


Aspek-aspek yang mempengaruhi deindividuasi

Singer, Brush, dan Lublin (1965) menyatakan bahwa seseorang bisa mengalami deindividuasi jika:

  • mempunyai banyak kesamaan dengan anggota kelompok yang lain
  • merasa yakin bahwa tindakannya tidak akan diperhatikan sebagai tindakan perorangan, namun sebagai tindakan kelompok
  • nggak bakal disuruh tanggung jawab atas aksi yang dia lakukan.

Kalo tiga syarat ini terpenuhi, saya dan kamu bisa mengalami deindividuasi.

identitas yang disamarkan bisa mempengaruhi deindividuasi

Menurut Reicher (1995) ada 3 faktor utama yang membuat seseorang mengalami deindividuasi, yaitu:

  • Group immersion, yang berarti meleburnya individu ke dalam kelompok. Individu tidak lagi melihat dirinya sebagai seorang individu tetapi sebagai bagian dari kelompok.Contoh: ketika ghofur mengikuti tawuran melawan SMA lain, Ghofur tidak bergerak sebagai dirinya.
    Ghofur memukul, berlari, dan menendang sebagai bagian dari kelompok pembela SMA-nya.
  • Anonimity, yaitu saat di mana identitas pribadi seseorang tidak diketahui.
    Tadi udah baca penelitiannya Zimbardo, kan? Di situ disebutkan bahwa deindividuasi dapat terjadi ketika identitas kamu nggak diketahui.
  • Hilangnya self- awareness dan self regulation. Hilangnya kesadaran diri dan kontrol diri menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang mengalami deindividuasi.

Kamu belum mengalami deinviduasi kalo kamu masih sadar tentang akibat dari tindakan kamu. 

Kamu belum mengalami deindividuasi ketika kamu masih bisa mikir perbuatanmu salah atau benar.

pengalihan aktivitas dapat mempengaruhi deindividuasi

Menurut Myers (2008) ada beberapa faktor yang mempengaruhi deindividuasi, yaitu

  • Individu berada dalam kelompok besar.
    Ketika individu berada pada kelompok besar, maka individu merasa bahwa tanggung jawab adalah urusan kelompok, bukan urusan dia. Sehingga kesadaran individu berkurang dan berpotensi menimbulkan perilaku impulsif.
  • Anonimitas fisik.
    Ketika individu berada pada kelompok besar, maka individu cenderung mempersepsikan dirinya sebagai yang anonim.
  • Terstimulasi dan pengalihan aktivitas.
    Seringkali perilaku kelompok berawal dari hal-hal sepele. Contohnya bentrokan antar suporter yang biasanya dari saling ejek dan berujung ke tindakan anarkis.

Ini ada contoh eksperimen deindividuasi. Langsung loncat ke menit 7:44 aja ya.


Ada Nggak Alat Ukur untuk Deindividuasi?

Sayangnya, nggak ada.

Sejauh saya tahu, nggak ada skala pengukuran deindividuasi yang baku.
Simpelnya gini: skala deindividuasi yang baku susah dicari karena fenomena tiap kelompok berbeda-beda.

Deindividuasinya tawuran di satu daerah bisa aja beda dengan daerah lain. Hal ini sih yang membuat kenapa nggak ada skala baku untuk deindividuasi.

Beberapa penelitian mengenai deindividuasi pake metode kualitatif. Jadi ya gitu, pake wawancara dan studi pustaka.

Ada beberapa contoh jurnal deindividuasi yang bisa kamu liat:

  • Adolescents’ Sexual Self-Disclosure on The Internet: Deindividuation and Impression Management
  • Deindividuation, Anonymity, and Violence: Findings from Northern Ireland
  • The Effect of Organization-Based Self-Esteem and Deindividuation in Protecting Personal Information Privacy


Kalau ada pertanyaan dan masukan seputar deindividuasi, silakan tulis di kolom komentar, ya! 😉

 

4 Replies to “Definisi Deindividuasi – Variabel Psikologi

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)