Waktu baca yang dibutuhkan: 17 menit

 


5. Penelitian berkaitan Social Learning Theory

Social Learning Theory pernah diteliti oleh Bandura, Ross, dan Ross, pada 1961.
Tujuan penelitian ini adalah:

a) pengaruh mengobservasi perilaku agresif terhadap kecenderungan meniru,
b) pengaruh mengetahui manfaat meniru perilaku terhadap kecenderungan meniru.

  • Subyek 40 cowok dan 40 cewek, umur rata-ratanya 4 tahun 3 bulan. 80 anak ini kemudian dibagi menjadi empat kelompok:
    a. Kelompok reward agresif – selanjutnya kita sebut kelompok A
    b. Kelompok punishment agresif  – selanjutnya kita sebut kelompok B
    c. Kelompok kontrol non-agresif – selanjutnya kita sebut kelompok C
    d. Kelompok kontrol tanpa model – selanjutnya kita sebut kelompok D
  •  Alat Penelitian
    a. tayangan lima menit di televisi, ada tokoh namanya Rocky sama Johnny.
    b. 2 Boneka Bobo dan mainan lain
  • Prosedur Penelitian
    Dalam sebuah TK, setiap subyek diajak peneliti untuk bermain di satu ruangan. Tapi sebelum diajak main, subyek ini diajak mampir dulu ke ruangan si peneliti, ada yang mau diambil. Peneliti meninggalkan subyek.
    Sambil nunggu si peneliti, si anak disuruh duduk sambil nonton siaran di TV selama lima menit.

a. Subyek dari kelompok A dikasi liat tayangan Rocky memukuli Johnny. Di dalam tayangan itu Rocky mukul, ngelempar, pokoknya Johnny babak belur deh di tayangan itu. Di akhir tayangan, tokoh Rocky mendapat kue dan susu sebagai reward.

Iklan!

b. Subyek dari kelompok B dikasi liat tayangan tokoh Rocky memukul Johnny. Mirip, cuma bedanya Johnny membalas. Di sini tokoh Johnny membalas dengan telak, hingga tokoh Rocky akhirnya nangis di pojokan. Di sini, Rocky mendapat punishment.

c. Anak dari kelompok C dikasi liat tayangan Rocky sama Johnny main bareng.

d. Anak dari kelompok D nggak disuruh nonton tv.

Habis itu, setiap subyek diajak masuk ke ruang mainan. Ada boneka Bobo di sana. Ada mainan lain juga.

Perilaku anak diamati dengan cermin satu arah, lalu agresivitasnya diukur dengan mean imitative aggression scores for children. Agresivitas anak di dalam ruangan ditunjukkan dengan perilakunya terhadap boneka Bobo.

  • Hasil Penelitian
    Anak dari kelompok A dapet nilai rata-rata paling tinggi, nilainya mencapai 15.
    Anak dari kelompok B dapet nilai rata-rata agresivitas 8.
    Anak dari kelompok C dapet nilai rata-rata agresivitas 6,5.
    Anak dari kelompok D dapet nilai rata-rata paling rendah, 4,5.

  • Kesimpulannya, anak cenderung mudah meniru suatu perilaku, bila setelah peniruan perilaku tersebut ada konsekuensi positif.
    Tadi saya sebutkan, kelompok A menyaksikan Rocky memukuli Johnny, malah dapet reward.
    Karena ada imbalan, anak mengira perilaku agresi ini baik. Makanya, subyek kelompok A lebih mudah meniru.


6. Penerapan Social Learning Theory 

Di mana saja teori Bandura ini diterapkan?

6.1 Kriminologi

Teori social learning digunakan untuk menjelaskan penyebab dan cara menangani perilaku menyimpang.
Kriminolog mengintegrasi prinsip-prinsip social learning dan operant conditioning dengan Differential Association Theory untuk menciptakan teori perilaku kriminal.

Pembunuhan berantai pun dapat dijelaskan dengan teori belajar sosial.

Hale (1993) menerapkan teori belajar sosial pada studi kasus mengenai pembunuh berantai. Dalam studinya, ia menyebut bahwa pembunuhan berantai mungkin berasal dari proses belajar.

Sudah kita ketahui bahwa lingkungan dan aspek kognitif berperan dalam social learning. Hale menganggap, pembunuh berantai pasti pernah mengalami sejumlah pengalaman memalukan dalam hidupnya.

Tentu, semua orang pernah malu; tapi anak yang kemudian jadi pembunuh berantai memproses pengalaman ini secara berbeda. Mereka tidak bisa membedakan pengalaman mana yang memberi reward dan mana yang tidak memberi reward. 

Artinya, bila anak melihat situasi tertentu hanya dari sudut negatif, anak tersebut bisa mengalami frustrasi. Di masa depan, ia mungkin akan melampiaskan frustrasi tersebut secara agresif.

Beberapa contoh kasus:

a. Ryan Jombang, pelaku pembunuhan berantai, mengaku saat kecil membenci ibunya. Ibunya bersikap keras, mudah marah, dan mudah tersinggung, dan Ryan sendiri lahir dari hasil hubungan gelap.

b. Babeh Baekuni, pelaku pelecehan seksual dan pembunuh berantai, mengaku saat kecil sering dihina orangtua dan mengalami kekerasan seksual.

c. Ed Gein dipermalukan saat kecil, dan sering menjadi korban kekerasan. Gein dikekang oleh ibunya, tidak dianggap anak oleh ayahnya, dan sering dipukuli.

 

6.2 Media

Prinsip-prinsip social learning  diterapkan untuk mempelajari kekerasan di media.
Akers dan Burgess menduga, melihat atau mengalami imbalan positif dan tidak adanya hukuman untuk perilaku agresif, dapat memperkuat agresi.
Banyak penelitian yang menemukan korelasi signifikan antara melihat kekerasan di media dengan perilaku agresif di dunia nyata. Termasuk media adalah TV, youtube, game, dan  lain sebagainya.
Selain itu, penerapan kategori untuk film dan game juga merupakan penerapan social learning theory.
Jika sebuah film mengandung adegan kekerasan atau seks, maka film tersebut diberi kategori dewasa.
Dengan harapan, seorang dewasa telah bertanggung jawab dan mampu memilah-memilih perilaku baik dan buruk. Sehingga adegan kekerasan dan seks di game/film tidak ditiru.
Kalau tidak ada proses kategori, tentu saja film-film beradegan kekerasan akan ditiru oleh anak. Ini karena anak belum mampu memilah yang baik dan buruk.

6.3 Menciptakan perubahan sosial dengan media

Nggak hanya yang serius-serius, pendidikan pun bisa datang dari cara yang menghibur.
Sinetron dan film dapat membantu penonton mempelajari perilaku yang diinginkan dengan cara yang positif dari artis-artis dalam film.

Untuk menanamkan suatu nilai moral, dalam suatu film harus ada setidaknya tiga jenis karakter:

  1. Karakter yang mendukung suatu moral (model positif)
  2. Karakter yang menolak suatu moral (model negatif)
  3. Karakter yang meragukan nilai tersebut

Saat nonton film, penonton biasanya ada yang mendukung nilai, ada yang menolaknya, dan ada yang meragukannya. Dengan formula ini, maka masing-masing segmen penonton akan terwakili.

Dalam perjalanan film pun, mereka yang meragukan akan terbelah menjadi tiga: mulai menerima nilai tersebut, mulai menolak nilai, atau menolaknya mentah-mentah.

Di akhir film, maka akan tampak kebaikan dalam nilai tersebut. Tokoh yang baik akan menang, dan mendapat reward. Perilaku ini dapat memotivasi penonton untuk melakukan hal yang sama.

 

6.4 Pendidikan

Teori belajar sosial pun bisa diterapkan di pendidikan.

Seperti yang disebutkan di bagian dua, peniruan suatu perilaku harus melalui empat proses.
Yaitu atensi, retensi, reproduksi, dan motivasi.

Maka, agar suatu perilaku (dalam hal ini, pelajaran) bisa diingat, seorang guru bisa:

a. Memberikan materi dengan cara yang menarik perhatian.
b. Menciptakan jembatan keledai biar pelajaran mudah diingat.
c. Memberikan latihan agar siswa dapat mengulangi.
d. Mengingatkan manfaat pelajaran dalam kehidupan sehari-hari.

Tentu saja guru juga bisa tuh memberikan feedback positif pada siswa, bila ia memperlihatkan progres peniruan dengan baik.

 

 


7. Social Learning dan Kekerasan di Media

Sungguh penelitian yang memukau. Di masa itu, penelitian Bandura ini cukup menggemparkan banyak pihak.
Abisnya gimana? Cuma ngeliat kekerasan di tv lima menit aja anak bisa langsung meniru.

Bagaimana kalau berhari-hari?
Berbulan-bulan?

Hal inilah yang kemudian jadi kekhawatiran Bandura dkk. Ya kamu tau sendiri kan tayangan di TV seringkali banyak kekerasannya. Apalagi sekarang di youtube juga bertebaran channel-channel yang perilaku maupun perkataannya kasar.

Apakah kekerasan di media mempengaruhi agresivitas?

Penelitian selama berpuluh-puluh tahun ini punya jawaban bulat: YHA.

Tayangan kekerasan terbukti memberikan pengaruh terhadap perilaku agresif anak di rumah dan di sekolah (Huesmann dan Miller, 1994). Bahkan gak cuma berupa tayangan tv atau yutub, tapi juga berupa game (Carnegey, Anderson, dan Bartholomew, 2007).

Social learning ini bukanlah sebuah perilaku yang bisa kita bendung. Ini adalah proses yang sebenernya alami, buktinya anak-anak aja melakukan.

Perlu diinget bahwa anak belum bisa membedakan perilaku baik dan buruk.
Apapun yang menurut dia memberi reward (dalam hal ini pujian atau hadiah) ya dia coba tiruin.

Yang bisa dilakukan untuk membendung proses ini adalah menjauhkan anak dari tayangan agresif, tentu saja. Anak perlu diawasi selama menonton tv, main game, ataupun saat buka youtube.


NAH!

Demikianlah sedikit cerita tentang Social Learning Theory atau Observational Theory ini.

Untuk pengetahuan tambahan, kamu bisa baca bukunya Wayne Weiten yang judulnya Psychology: Themes and Variations. Bagus tuh buku, penjelasannya lengkap.

Saya juga tadi abis googling, di sini juga penjelasannya lengkap dan leh uga.

Still, saya terus berusaha membuat berbagai penjelasan di blog ini lebih gampang dipahami.
Jadi bila kamu masih ngerasa kebingungan…

PLEASE PLEASE PLEASE komen di bawah ini dan kasi tau bingungnya sebelah mana.

Tanya aja, kita diskusiin bareng. Oke?

Sampai jumpa!

 

Referensi:

Author: Robi Maulana

Dalang sesungguhnya di balik PsikologiHore. Suka ngopi tapi kopi nggak suka sama dia.

12 Replies to “Teori Albert Bandura: Social Learning (Update)

  1. Saya suka dengan penjambarannya yang ringan dan mudah untuk dimengerti terlebih untuk saya sendiri, terimakasih untuk informasinya. Kalau bisa ditambahkan juga bagaimana aplikasi teori ini didalam pembelajaran dan bagaimana peran guru serta siswa didalamnya. Mungkin sekian, dan terimakasih sekali lagi untuk info yang sangat bermanfaat. Sukses terus 🙂

  2. thanks buat referesnsinya mudah di pahami. anda juga bisa membuat pembaca tersenyum bahkan tertawa. ^_^
    one more, Thanks.

  3. besok uas, tp materi dari dosen ga mudah di mengerti. malah lebih ngerti baca ini. hhehehhee
    sukaaakkk deh

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)