Teori Albert Bandura: Social Learning (Update)

teori alber bandura, social learning theory, teori bandura

Kali ini kamu akan mengetahui lebih jelas tentang konsep belajar versi Albert Bandura, yaitu Social Learning.

  1. Definisi Social Learning Theory
  2. Perkembangan Social Learning Theory
  3. Konsep Teori Belajar Sosial
  4. Proses Terjadinya Social Learning Theory
  5. Penelitian Berkaitan Teori Bandura
  6. Penerapan Social Learning Theory
  7. Teori Bandura dan Kekerasan di Sosial Media
  8. Variabel Psikologi Lainnya

 

Izinkan saya memulai artikel ini dengan sebuah kutipan keren dari Anthony Robbins.

social learning theory bandura
sukses itu berpola, dan siapa meniru pola bisa sukses

Orang sering bertanya-tanya tentang apa yang harus dilakukan untuk jadi sukses.
Tony Robbins punya jawaban mudah:

Bila kamu mau sukses, ya tirulah pola yang dilakukan orang sukses.

Kalau dipikir-pikir, ada benernya juga.
Austin Kleon dalam buku “Steal Like an Artist“, jawabannya pun serupa.
Bukunya Daniel Coyle yang judulnya “The Little Book of Talent” juga menyarankan hal serupa.

Jika kamu pengen jago dalam satu hal, maka tirulah apa yang sudah dilakukan orang yang ahli.

Dalam psikologi, meniru adalah hal yang wajar. Manusiawi. Meniru adalah salah satu cara kita belajar.

Kali ini, saya akan ngajak kamu untuk kenal lebih dalam tentang teori belajar versi Bandura, yaitu Social Learning Theory.


1. Definisi Social Learning Theory

Jadi sebenernya apa itu social learning theory?

Social learning theory adalah teori dari Albert Bandura (1977).

Menurut Bandura , manusia mempelajari sesuatu dengan cara meniru perilaku orang lain.

Anggaplah kamu mau belajar sesuatu hal yang super asing buat kamu.
Katakanlah kamu belajar nyetir mobil.
Apakah kamu langsung duduk di kursi sopir sendirian dan nginjek-nginjek gas?

Nggak. Kamu punya seseorang yang ngajarin.

Kita belajar dari contoh, kita belajar dari mengamati orang lain.

Kalau mau jago tendangan bebas, ya kamu ngikutin cara orang yang jago ngambil tendangan bebas.
Kalau mau jago nari, kamu akan ngikutin gerakan tari orang yang jago nari.

Semudah itu!

Oh iya, Bandura menyatakan Teori Social Learning tidak tercipta untuk menggantikan classical dan operant.

Teori ini justru penyempurna kedua teori yang udah ada, soalnya classical dan operant conditioning dapat terjadi selama proses meniru ini.

Teori Social Learning ini juga dikenal dengan nama Observational Learning ya, jadi kamu jangan bingung kalau ada yang bilang Observational Learning. Sama aja kok.

teori bandura, teori social learning, social learning theory, teori alfred bandura, psikologi kepribadian
anak belajar dengan meniru lingkungan. Sumber: Pexels

2. Perkembangan Social Learning Theory

Bandura, sebagai seorang behavioristik, percaya bahwa perkembangan kognitif saja tidak cukup menjelaskan perilaku pada anak. Ia yakin, proses meniru juga berpengaruh terhadap perkembangan mereka.

Namun Bandura juga merasakan bahwa kemampuan kognitif juga mempengaruhi proses belajar. Ini, terutama, ketika ia melihat eksperimen boneka Bobo; di mana anak memperlihatkan perilaku berbeda setelah diperlihatkan sebuah tayangan.

Psikologi behavioristik, atau belajar dari meniru, mempunyai empat batasan:

  • Mengabaikan motivasi dan proses kognitif;
  • Berdasarkan penelitian terhadap hewan;
  • Mengabaikan dimensi sosial;
  • Menganggap manusia adalah organisme pasif, yang tidak bisa memilih.

Bila behavioristik, sebagai sebuah teori, mengabaikan proses kognitif, lalu bagaimana seorang manusia belajar?

Dari sinilah teori belajar sosial menemukan jalan lahirnya.

Social learning theory, atau teori belajar sosial, adalah pengembangan dari karya Cornell Montgomery (1843-1904). Montgomery mengajukan pemikiran bahwa belajar sosial terjadi melalui empat tahap:

  • kontak dekat,
  • imitasi terhadap pihak yang superior,
  • memahami konsep yang perilaku yang hendak ditiru
  • perilaku model peran

Dalam Social Learning and Clinical Psychology (1954), Julian Rotter menyatakan bahwa efek suatu perilaku dapat mempengaruhi motivasi seseorang untuk melakukan hal serupa.

Individu cenderung menghindari sesuatu yang berdampak negatif, sekaligus menginginkan hasil yang positif. Jika seseorang mengharapkan keluaran positif dari suatu perilaku, atau berpikir bahwa ada kemungkinan mendapatkan imbalan positif, maka kemungkinan mereka mau melakukan perilaku tersebut.

Perilaku ini di-reinforce, dengan keluaran positif, membuat individu cenderung mengulangi perilaku untuk mendapat imbalan lagi.

Teori Albert Bandura kemudian melengkapi pemikiran Rotter, sekaligus melengkapi karya Miller dan Dollard (1941). Menurut Bandura, manusia bukanlah makhluk yang sekadar meniru apapun yang ia lihat; manusia bisa memilih perilaku apa yang ia pilih dan mana yang ia buang.

Bandura menyempurnakan teori belajar sosial dengan menambahkan aspek perilaku dan kognitif. Behavioral learning (belajar perilaku) berarti lingkungan menyebabkan seseorang melakukan perilaku tertentu. Belajar kognitif berarti bahwa faktor psikologis pun punya andil dalam mempengaruhi bagaimana seseorang berperilaku.

Manusia dapat meniru perilaku, namun ia juga punya kemampuan memilih dan memilah perilaku apa yang mau ia pelajari. Kecakapan memilah dan memilih inilah aspek kognitif yang dimaksud.

Sebagai kesimpulan, Bandura menyatakan bahwa teori belajar sosial adalah kombinasi dari lingkungan dan faktor kognitif.


3. Konsep-konsep Dasar Social Learning Theory Bandura

Sudah kita ketahui bersama bahwa teori belajar sosial menjelaskan manusia belajar dengan mengobservasi orang lain.

Teori ini didasarkan pada fakta bahwa pengetahuan manusia didapat dari manusia lain. Dengan kata lain, apa yang kita tahu didasarkan oleh penjelasan yang diberikan orang lain pada kita.

Manusia tentu saja selalu belajar. Dalam hal ini, kita belajar dari orang lain.
Berikut ini cara kita memahami suatu hal menggunakan social learning theory.

 

3.1 Harapan

Harapan adalah konsep pertama dalam teori belajar sosial. Harapan, atau ekspektasi, berarti pengetahuan seseorang harus mampu mewujudkan apa yang ia inginkan dari lingkungan, dan kepercayaannya terhadap sesuatu harus sesuai dengan kepercayaan lingkungan.

Kalau kita mengacungkan jempol di Indonesia, Korea, atau Jepang, itu menandakan kita sedang menyatakan setuju, oke, iya, dsb. Namun, kalau kita mengacungkan jempol di Brazil, itu menandakan kita sedang melecehkan orang lain secara seksual. Kamu bisa digebukin.

Karena harapan terhadap mengacungkan jempol di Brazil beda dengan Indonesia, kamu jadi nggak menggunakannya sebagai tanda setuju. Mungkin dengan isyarat lain.

 

3.2 Belajar observasional

Belajar observasional berarti seorang individu mendasari pengetahuannya dengan mengobservasi orang lain di dalam lingkungan.

Seorang individu akan mengenali perilaku orang lain, menyesuaikan dengan dirinya, lalu menirukan perilaku tersebut di masyarakat. Semua yang ia ketahui berasal dari perilaku orang-orang di sekitarnya.

Misalnya, kata “pantek”. Kata pantek, di beberapa kota diartikan sebagai pengeboran manual untuk gali sumur. Di beberapa kota di Sumatera, pantek diartikan sebagai makian. Seorang dari Sumatera mungkin akan kaget mendengar kata pantek disebut begitu saja di masyarakat. Namun, bila dia mengobservasi dengan benar, dia akan sadar bahwa kata itu punya makna yang berbeda.

 

3.3 Kapabilitas Behavioral

Kapasitas behavioral merujuk pada fakta bahwa pengetahuan seseorang diperlukan untuk mempengaruhi perilakunya.

Selagi perilaku orang lain mungkin dapat mempengaruhi kamu, perilakumu tidak akan terpengaruh sampai kamu tau/sadar. Barulah saat sadar, kamu bisa mengubah perilaku agar diterima masyarakat.

Seorang anak mungkin tidak sadar bahwa berteriak di dekat orang tua tidak sopan, sampai seseorang menegurnya. Kalau tidak mendapat respon negatif, tentu dia akan terus melakukannya dong. Kan dia nggak sadar. Kalau sudah dikasi punishment/respon negatif, barulah dia berhenti.

Ketika seseorang mendapat respon negatif, dia akan tau bahwa perilakunya nggak baik.
Di sinilah kapasitas behavioral bermain.

 

3.4 Self-Efficacy/Efikasi Diri

Efikasi diri adalah keyakinan seseorang terhadap dirinya sendiri. Jika seseorang yakin terhadap pengetahuannya, ia akan bertindak berdasarkan pengetahuannya.  Ia akan bertindak bila ia pede dengan tindakannya.

Misalnya mengacungkan jempol tadi. Bila satu orang di Brazil memarahi kamu karena mengacungkan jempol, kamu akan heran dan mulai ragu dengan pengetahuanmu. Kamu jadi ragu untuk mengacungkan jempol lagi. Akhirnya, semakin banyak orang memarahi kamu, kamu jadi tahu bahwa mengacungkan jempol itu salah.

Kalau sudah yakin mengacungkan jempol salah, kamu nggak mengacungkan jempol lagi.

 

3.5 Determinisme Resiprokal

Determinisme resiprokal adalah orang saling meniru perilaku saat mereka berinteraksi. Ketika seseorang berada di satu lingkungan, dia akan beradaptasi dengan lingkungan tersebut.

Ketika kamu ketemu dosen, mungkin kamu akan bicara mengenai mata kuliah atau tugas. Kamu akan menggunakan kata “saya” dan nada bicara yang rendah.

Tapi, saat sama temen, mungkin kamu akan ngomong dengan kata “ogut” dan nada bicara yang santai. Mungkin diselingi dengan saling meledek bahkan melecehkan.

 

3.6 Reinforcement

Reinforcement adalah respon dari orang lain yang dapat memperkuat/melemahkan suatu perilaku. Misalnya, bila seorang perempuan menggunakan pensil alis lalu dia dipuji, maka dia akan meneruskan menggunakan pensil alis. Malah, mungkin pensil alis itu akan dia gunakan juga di bagian kumis dan dagu.

Tapi, kalau dia pakai pensil alis lalu semua orang ngeledek “mirip Shinchan”, mungkin dia akan berhenti menggunakan pensil alis. Sebagai ganti, mungkin dia akan mengoleskan alisnya dengan pensil 2B, lalu komputer mendeteksi wajahnya sebagai kunci jawaban.


4. Proses Mediasi Social Learning Theory

Jadi bagaimana sih proses manusia dalam meniru perilaku?
Bagaimana suatu perilaku dikatakan meniru?

Bandura (1977) berkata bahwa manusia sesungguhnya adalah prosesor aktif.
Manusia tidak sekedar meniru, ia memikirkan konsekuensi dari perilaku yang akan ia tiru.

Apabila sebuah perilaku tidak memberikan manfaat buat dirinya, dia nggak akan meniru.
Tapi kalau perilaku ternyata memberi dampak, ya akan dia tiru.

Maka, individu nggak sembarang melihat dan meniru perilaku. Ada proses pertimbangan yang terjadi.
Ini terjadi antara proses observasi dan proses meniru.

Siapa yang ditiru?
Menurut Bandura, ada tiga model yang ditiru dalam observational/social learning.

Tiga model itu adalah:

a. Model langsung, seorang yang nyata, berada di dekat peniru, melakukan suatu perilaku

b. Model instruksi verbal, seseorang menyebutkan perilaku dan ciri-cirinya secara detil

c. Model simbolik, karakter (nyata/fiktif) yang menampakkan perilaku melalui media. Bisa berupa buku, video, atau film.

Menurut Bandura, ada empat tahap proses mediasi dalam social learning theory.

4.1 Attention atau Perhatian.

Kamu bisa meniru perilaku seseorang kalau sudah memerhatikan perilaku itu terlebih dahulu.
Proses peniruan dapat terjadi sempurna ketika kamu, sebagai pengamat, memerhatikan pola-pola yang ada dengan seksama.

Syarat utama untuk meniru suatu perilaku adalah: perilaku itu harus menarik perhatian. Kita mengobservasi banyak perilaku, tapi tidak semua layak kita perhatikan.
Bila ingin meniru sebuah perilaku, perhatian sangat penting.

Misalnya seorang guru, kalau lagi ngajar di depan kelas.
Kalau kamu nggak memperhatikan, apakah kamu bisa ngerti?

 

4.2 Retention atau Pengingat.

Seberapa baik perilaku ini diingat. Kita mungkin tau sebuah perilaku, tapi kita nggak bisa serta merta menirunya.

Ada kalanya kita lupa. Kelupaan ini bisa mencegah proses meniru.
Makanya, penting untuk mengingat perilaku sebelum mencoba menirunya.

Mengapa mengingat ini penting? Karena, tidak semua proses social learning langsung ditiru saat itu juga.
Ada juga proses meniru yang tertunda, baru terjadi beberapa saat setelahnya.

Proses peniruan nggak bisa berhasil kalau kita nggak inget perilakunya.

 

4.3 Reproduction atau Pengulangan.

Sudah merhatiin, sudah inget, maka waktunya praktek! Kita mencoba melakukan apa yang sudah kita lihat dan simpen dalam otak.

Beberapa pengulangan bisa langsung berhasil dalam sekali percobaan, ada juga yang butuh usaha.
Kamu kan gak mungkin langsung jago main basket hanya karena nonton berkali-kali.

Perlu ada pengulangan meniru supaya hasilnya bisa sesuai dengan ingatanmu.

Termasuk dalam proses pengulangan adalah pertimbangan kita sebelum meniru perilaku.
Kita bisa saja memiliki keterbatasan fisik, sehingga walaupun kita mau meniru perilaku, kita nggak bisa.

 

Di sini proses pengulangan sudah terjadi. Ketika kita berpikir: “apa iya aku bisa meniru perilaku itu?” kita sudah melakukan proses pengulangan. Namun, yang ini baru sebatas pikiran.

Di sini, kita mempertimbangkan apakah kita bisa meniru atau nggak.

Kalau ternyata kita bisa menirukan, berarti kita bisa melanjutkan proses social learning theory ini.
Kalau nggak, ya proses social learning berakhir.

 

4.4 Motivation atau Motivasi.

Kamu sudah memperhatikan perilaku. Kamu mengingat langkah-langkahnya.
Kamu merasa kamu bisa menirukan perilaku itu. Lalu, apakah proses learning ini pasti terjadi?

Belum tentu.

Sebuah perilaku tidak bisa ditiru, bila kita nggak ingin melakukannya.
Dalam hal ini, motivasi mengambil peran.

Seseorang cenderung akan melakukan pengulangan ketika ada sesuatu yang memotivasinya.
Pengulangan akan terjadi apabila:

1) memberi manfaat bagi si peniru,
2) peniru merasakan hal positif setelah meniru,
3) ada imbalan eksternal.

Jika imbalan yang didapat lebih banyak daripada usaha yang dilakukan, maka perilaku akan ditiru oleh individu.

Tapi, jika imbalan yang didapat nggak seimbang sama usahanya, maka perilaku nggak ditiru.

 

Selain keempat aspek di atas, Bandura (1986) juga menambahkan kalau proses peniruan lebih mudah terjadi ketika di dalam dirinya ada self efficacy dan self regulatory yang baik.

Self efficacy (efikasi diri) adalah keyakinan dalam diri seseorang bahwa dia yakin bisa melakukan suatu kerjaan.
Sementara, self regulatory (regulasi diri) adalah kemampuan seseorang dalam mengukur dan mengevaluasi pencapaiannya.

Lebih lanjut tentang efikasi diri bisa kamu baca di sini.

Intinya kalau mau proses meniru dapat terjadi secara sempurna, kamu perlu yakin bisa + evaluasi secara mandiri.

Apakah social learning theory ini cuma berlaku untuk perbuatan aja?
Nggak cuma berlaku untuk satu perilaku khusus. Social learning dapat juga terjadi dalam bentuk pola-pola perilaku atau pola pikir.

Contoh aja karakter seseorang. Karakter kan terdiri dari struktur-struktur perilaku. Bila seorang anak meniru struktur perilaku dan pola pikir orang tuanya, nanti karakter si anak jadi mirip orang tuanya.

kepo tentang psikologi? mampir ke sini dong!

Penelitian berkaitan Social Learning Theory bisa kamu baca di sini

Dalang sesungguhnya di balik PsikologiHore. Suka ngopi tapi kopi nggak suka sama dia.

7 Replies to “Teori Albert Bandura: Social Learning (Update)

  1. Saya suka dengan penjambarannya yang ringan dan mudah untuk dimengerti terlebih untuk saya sendiri, terimakasih untuk informasinya. Kalau bisa ditambahkan juga bagaimana aplikasi teori ini didalam pembelajaran dan bagaimana peran guru serta siswa didalamnya. Mungkin sekian, dan terimakasih sekali lagi untuk info yang sangat bermanfaat. Sukses terus 🙂

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)