Waktu baca yang dibutuhkan: 3 menit

Perasaan tiap liat berita, yang ditayangin duluan pasti berita yang sedih-sedih. Tadi pagi aja berita utamanya tentang kecelakaan, skandal politik, pembunuhan, pokoknya yang bikin hati jadi miris.

Emang sih ada berita positif. Tapi ditayangin di akhir. Udahlah sedikit, pembahasannya nggak dalem pula.

Kamu pernah nggak nemu berita UKM inspiratif yang diinvestigasi sampe berjam-jam?

Iklan!

Atau breaking news, seorang nenek berhasil menyeberang jalan dengan selamat?

Kenapa gitu yes? Kenapa kita lebih banyak dikasi berita jelek?

Apa iya di dunia ini banyakan hal buruk dibanding hal baik?

Sebenernya kejadian di dunia mah ada banyak, dan jurnalislah yang menentukan cerita apa yang pantes diliput. Kalo menurut mereka sesuatu gak pantes atau gak seru buat diliput, ya mereka gak dateng ke tempat kejadian.

Dan, jurnalis selalu percaya bahwa kita manusia tertarik sama kejadian negatif. Gampang aja, kita memelankan kendaraan dan membuka jendela mobil, ketika di pinggir jalan ada yang abis jatoh. Atau kita melongok keluar jendela ketika ada yang teriak-teriak emosi di depan pager rumah.

Respon kita yang gercep sama sesuatu negatif membuat jurnalis lebih mengutamakan berita jelek. Bad news is a good news.

Ini diperkuat sama penelitian yang menemukan kalo kita emang merespon berita negatif lebih cepat dibandingkan sama yang positif-positif.

Penelitian ini diperkuat juga sama penelitian lanjutan yang bersifat lebih global; ternyata respon cepat terhadap berita negatif ini juga terjadi di berbagai belahan dunia.

Penelitian lanjutan ini dilakukan di Michigan, untuk meneliti apakah fenomena ini hanya terjadi di Amerika saja.

Penelitian lanjutan ini menggunakan subyek penelitian dari berbagai ras dan bangsa di berbagai belahan dunia. Mereka diperlihatkan sebagian berita negatif dan sebagiannya lagi positif.

Dan, waktu detak jantungnya diteliti, memang pada sebagian orang, respon dan konsentrasi terhadap berita negatif lebih cepat.

Tapiiiii ternyata ini nggak terjadi pada semua orang. Para peneliti kemudian menemukan kalo di sebagian orang lagi, respon itu cenderung minim bahkan nggak ada. Orang-orang ini tidak memberikan respon tertentu pada berita negatif.

Jadi bisa dibilang kalo berita tuh isinya kalo bisa jangan kebanyakan negatif lah.

Saya pernah menulis di artikel tentang stres bahwa salah satu cara mengurangi stres adalah kurangi nonton berita. Unfollow akun-akun berita yang nggak ada dampaknya buatmu.

Saya bukan menyuruh kamu jadi abai atau nggak peduli. Hal buruk akan selalu terjadi, entah kamu baca berita atau nggak. Lagipula kalo emang itu berita besar, somehow kamu akan tau juga.

Kita udah dibombardir sama informasi yang sedemikian banyak, dengan kecepatan yang tak pernah terjadi di era sebelumnya. Kalo kita mencoba up to date, kita sendiri yang repot.

Kurangilah informasi yang masuk. Filter aja. Toh meskipun kamu follow dan baca semua berita, nggak semuanya bakal kamu inget. Yang tersisa justru hanyalah tekanan karena berita negatif dan informasi yang terlalu banyak.

Sisain energi otak buat kerjaan atau hobi, atau orang-orang yang kamu sayangi aja.

Dan, kalo media mau yang beda, coba dong bikin liputan yang isinya berita positiiif semua. Udah ada belum sih yang kayak gitu? Jadi berita investigasi tapi isinya menginvestigasi sesuatu yang positif.

Jadi liput aja breaking news seekor kucing belajar berenang. Atau peternakan lokal baru mendatangkan sapi-sapi berkualitas.

Bukankah berita positif semacam ini membuat kita merasa lebih baik?

Bukankah selama ini berita negatif terus menerus bikin kita merasa kurang baik juga? Mungkin kalo kita lebih banyak menyiarkan berita positif, kita jadi lebih optimis dan melihat dunia sebagai sebuah bola besar kebaikan.

Yah, saya cuma bisa membayangkan.

 

Author: Robi Maulana

Dalang sesungguhnya di balik PsikologiHore. Suka ngopi tapi kopi nggak suka sama dia.

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)