Waktu baca yang dibutuhkan: 6 menit

Yuk kita pelajari self efficacy dan faktor pembentuknya.

Nengsih termangu membaca bbm dari sahabatnya, Rani. Laptop yang sedari tadi menampilkan film korea dia abaikan.

Sahabatnya itu baru saja dapat beasiswa ke luar negeri! Ia pun, dalam bbmnya, memberi semangat pada Nengsih untuk ikut mengirimkan permohonan beasiswa di perusahaan yang sama.

Nengsih termenung. Dua bulan yang lalu, dia tidak yakin bahwa dia bisa dapat beasiswa ke luar negeri seperti yang terpampang di poster di kampusnya. Alasannya simpel: dia sadar dia nggak terlalu pintar. Dia biasa aja.

Iklan!

Tapi kini dia merasa dia juga bisa. Kenapa nggak? Rani bahkan nggak sepintar dia. Bergegas film korea itu ia tutup, ia segera menyusun form aplikasi untuk ia kirimkan.

Perasaan apa ini? Mengapa ia mendadak merasa mampu seperti ini?

Itu tadi, sahabatku, adalah self efficacy.
Tulisan panjang ini bakal ngajak kamu untuk tahu lebih dalam tentang self efficacy, penyebabnya, ciri-cirinya, dan kaitannya dengan variabel lain.

Siap?

Teori self efficacy

teori: self efficacy merupakan suatu keyakinan atau kepercayaan diri individu mengenai kemampuannya untuk mengorganisasi, melakukan suatu tugas, mencapai suatu tujuan, menghasilkan sesuatu dan mengimplementasi tindakan untuk mencapai kecakapan tertentu [1]

Bandura (1986) menyatakan bahwa self efficacy mengacu pada kepercayaan individu akan kemampuannya untuk sukses dalam melakukan sesuatu.

Self Efficacy menurut Santrock (2007)  adalah kepercayaan seseorang atas kemampuannya dalam menguasai situasi dan menghasilkan sesuatu yang menguntungkan.

Niu (2010) menyebut self efficacy adalah hasil interaksi antara lingkungan eksternal, mekanisme penyesuaian diri serta kemampuan personal, pengalaman dan pendidikan.

Stipek (2001, dalam Santrock, 2007) menjelaskan bahwa self efficacy adalah kepercayaan seeorang atas kemampuannya sendiri. [2]

Jadi bisa dibilang self efficacy adalah keyakinan seseorang mengenai sejauh mana ia mampu mengerjakan tugas, mencapai tujuan, dan merencanakan tindakan untuk mencapai suatu goal.

Ketika seseorang mempunyai self efficacy tinggi, dia tahu bahwa ia bisa mengerjakan suatu hal.

apa bedanya self efficacy dengan optimisme?

 

Jadi, apa sih pembentuk self efficacy?

Menurut Bandura, ada empat penyebab kenapa seseorang bisa punya self efficacy tinggi atau rendah. Empat hal itu adalah pengalaman yang menetap, pengalaman yang dirasakan sendiri, bujukan sosial, dan keadaan psikologis. Kita bahas satu persatu yes.

a. Pengalaman yang menetap.

Jadi peristiwa di masa lalu bisa nih menentukan self efficacy seseorang.

Misalnya nih kamu dulu pernah ngedeketin cewek, terus ehh berhasil jadian.
Pengalaman pernah jadian ini bikin kamu ngerasa bisa ngedeketin cewek. Kamu ngerasa kalo naksir cewek, kamu sanggup kok ngedeketin. Self efficacy kamu dalam ngedeketin cewek pun menjadi tinggi.

Beda cerita kalo kamu ngedeketin cewek tapi bolak balik gagal. Dengan gitu kamu akan ngerasa nggak sanggup ngedeketin cewek, dan berencana untuk berkembang biak melalui stek batang saja.

Perasaan tidak sanggup ini adalah tanda bahwa self efficacy kamu rendah.

Ohya, usaha dalam melaksanakan tugas juga mempengaruhi self efficacy nih. Kalo misalnya kamu berhasil melakukan sesuatu dengan usaha minim, maka self efficacy kamu akan suatu hal menjadi tinggi.

b. Pengalaman yang kamu rasakan sendiri.

Kamu pernah nggak punya seorang temen yang kamu anggap kemampuannya setara denganmu?

Kemudian kamu melihat dia melakukan suatu hal dan berhasil.

Saat itu kamu mikir,”lah kalo dia bisa berarti aku harusnya juga bisa dong”

Saat kamu mikir gitu, berarti self efficacy kamu udah terpengaruh. Jadi, self efficacy bisa dipengaruhi dengan perbandingan antara kamu dengan orang lain.

c. Pendapat orang lain

Bayangin kamu punya pacar.
Kalo kamu mentok mengerjakan suatu hal, terus dia senyum ke kamu sambil bilang “semangat sayang, kamu pasti bisa kok”, apa perasaanmu?

Berasa jadi semangat kan? Kalo udah dibilang “pasti bisa” gitu rasanya kamu pun jadi yakin kalo kamu bisa.

Ini tandanya pendapat orang lain dapat mempengaruhi self efficacy.
Tapi secara umum, menurunkan self efficacy lebih gampang dibanding meningkatkannya.

d. Keadaan psikologis.

Kalo lagi bete, lagi suntuk, lagi sedih, rasanya jadi males ngapa-ngapain. Nulis skripsi juga emoh banget.

Kalo hati lagi berbunga-bunga, lagi hepi… hmmmm rasanya bisa deh bikin skripsi dua jilid dari abis maghrib sampe sebelum imsak.

Begitulah, kondisi psikologis bisa mempengaruhi self efficacy kamu.

Gimana seseorang disebut memiliki self efficacy tinggi?

yaa ketika dia tahu sejauh mana kemampuannya dalam mengerjakan tugas.
seseorang dikatakan punya self efficacy tinggi kalo dia tahu kelebihan dan kekurangannya dalam suatu tugas.

jadi seseorang dengan self efficacy tinggi tidak cuma pede, tapi dia juga mawas diri.
dia juga merencanakan suatu tindakan untuk menutupi kekurangannya, supaya dia ngedapetin target yang sudah dia tentukan.

Self efficacy ini penting banget dimiliki, karena ia berkaitan dengan ketekunan dan pengembangan diri.

Bayangin kamu seorang pemain gitar deh. Kamu mau melatih skillmu tapi gak punya mentor. Ketika kamu punya self efficacy tinggi dalam dadamu (lah lebay), kamu akan sadar skillmu sudah sejauh mana. Baru sampai mana progressmu. Kamu juga tau kelemahanmu.

Dengan gitu, kamu jadi tau apa aja yang masih bisa kamu kembangin, dan kekuranganmu di bagian mana yang perlu kamu tutupi. Orang dengan self efficacy tinggi tuh bisa menilai dan memberi evaluasi pada dirinya sendiri. Hal ini akan gampang dia lakukan, karena dia memang merasa sanggup. Ini membuat dia menjadi gak cepet puas dan selalu pengen lebih.

Ada nggak nih alat ukur untuk menguji self efficacy?

Ada banyak penelitian tentang self efficacy, dan alat ukur peneliti untuk self efficacy biasanya berupa skala yang dibuat sendiri.

Alat ukur yang bisa kamu pake (kalo males bikin sendiri) adalah General Self Efficacy Scale punya Born, Schwarzer, dan Jerusalem (1995).

Kalo gak salah ada deh versi adaptasinya ke Bahasa Indonesia.

 

Apa variabel lain yang bisa dikaitkan sama self efficacy?

Macem-macem sih. Kalo kamu mau menjadikan self efficacy sebagai variabel terikat, kamu bisa baca lagi ke faktor-faktor pembentuk self efficacy dan cek kejadian apa nih yang biasa terjadi di masyarakat.

Kamu bisa mengaitkannya dengan tipe kepribadian. Apakah introvert dan ekstrovert bisa memengaruhi self efficacy seseorang?

Atau, mungkin nggak self efficacy antara satu ras dan ras lain berbeda?

Mungkin nggak sih pola asuh mempengaruhi self efficacy?

Atau kamu bisa membandingkan komunikasi pada dua perusahaan dan pengaruhnya pada self efficacy karyawan dalam mengerjakan tugas.
Kalo komunikasi interpersonal antara atasan dan bawahan bagus, apakah itu mempengaruhi self efficacy bawahannya dalam bekerja?

Terus kalo kamu menjadikan self efficacy sebagai variabel bebas.

Apakah self efficacy berdampak pada burnout?
Apakah self efficacy mempengaruhi tingkat stres?
Apakah self efficacy dapat mempengaruhi intensitas prokrastinasi seseorang?

link jurnal terkait
Dale Schunk: self efficacy and academic motivation

Hubungan antara self efficacy dengan kreativitas pada siswa SMK

Hubungan antara Self Efficacy dengan Kematangan Karir pada Mahasiswa Tingkat Awal dan Tingkat Akhir di Universitas Surabaya  

Gitu aja dulu tulisan kami tentang self efficacy. Kalo ada yang kurang, boleh banget ditambahin.

Sampai jumpa!

Author: Robi Maulana

Dalang sesungguhnya di balik PsikologiHore. Suka ngopi tapi kopi nggak suka sama dia.

10 Replies to “Definisi Self Efficacy (Efikasi Diri) Menurut Para Ahli

  1. Tulisan yang bagus!
    Menyinggung sedikit mengenai burnout, kapan kapan tulis mengenai burnout ya! i would really like to read. Salam hangat

  2. Sangat bermanfaat….. boleh donk dibantu, saya sedang mencari grand theory self efficacy…. ada referensikah? buku atau e book. terima kasih.

  3. apakah perbedaan self efficacy dengan self confidence kak? bisa diberikan contoh dalam kehidupannya?

    1. seorang dengan self-efficacy diri tinggi akan pede di tugas tertentu, tapi mungkin saja minder di tugas lain. kalo self confidence tinggi, secara umum dia akan pede mengerjakan berbagai tugas.

      Bandura bilang kalo efikasi diri adalah kepercayaan diri melakukan sesuatu, dan ini kamsudnya spesifik ke tugas/keahlian tertentu, kalo self confidence lebih ke general.

      misalnya nih mahasiswa punya efikasi diri yang tinggi dalam kegiatan akademis. dia tau materinya, dia bisa ngejelasin, dan kalo dia nggak ngerti, dia bisa tanya ke orang yang tepat.

      Mahasiswa yang sama belum tentu punya efikasi diri yang tinggi kalo dia disuruh melakukan aktivitas lain, misalnya main kuda lumping.
      kalo self-confidence yang tinggi, meskipun dia belum tentu bisa, tapi dia percaya kalo dia bisa. maka dia kerjakan saja dengan percaya diri.

      pertanyaan bagus! :)))

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)