Waktu baca yang dibutuhkan: 10 menit

Apa itu PTSD? Apa yang menyebabkan seseorang mengalami PTSD? Bagaimana penanganan PTSD? Semua kita bahas di sini.

Daftar Isi (Langsung klik aja)

Pernah nonton film American Sniper?
Di film itu, Chris Kyle yang pulang dari perang masih melihat badai pasir menghantam tubuhnya dan pasukannya.
Ia sering terbangun dengan keringat dingin. Ia merasakan mood yang tak terkendali, berlaku kasar terhadap istri dan teman, serta mudah terkejut.

Hal serupa tapi tak sama terjadi di keluarga saya.

Seorang sepupu kami tewas setelah dihantam dan terseret bis yang melaju kencang.
Ibunya tak pernah bisa menerima kejadian tersebut.
Terlebih, ia selalu menangis dan gemetar ketika melintasi jalan tempat nyawa anaknya direnggut.

Apa yang terjadi pada mereka berdua?
Mengapa mereka mengalami hal itu?

Kali ini, kita akan membahas mengenai PTSD. Apa itu post traumatic stress disorder, bagaimana PTSD terjadi, seperti apa rasanya mengalami PTSD, dan bagaimana penanganan PTSD.

1. Apa itu PTSD (Post Traumatic Stress Disorder)?

Jadi sebenarnya apa itu PTSD?

PTSD adalah gangguan stres yang terjadi setelah seseorang mengalami kejadian traumatis.
Gangguan ini tidak langsung muncul, namun biasanya baru terlihat beberapa lama setelah pengalaman itu terjadi.

Iklan!

PTSD, atau gangguan stres pasca trauma, dapat terjadi karena pengalaman seperti kecelakaan, korban perang, korban bencana alam, orang yang dikasihi meninggal, dan atau kejadian apapun yang dapat menciptakan trauma mendalam pada korban.

Seorang yang mengalami trauma, belum tentu mengalami PTSD lo.

Seseorang baru bisa dikatakan mengalami PTSD ketika kejadian yang sudah lama terjadi masih terus mengganggunya secara fisik maupun mental.

Wajar bila seseorang merasa trauma karena sebuah kejadian. Namun ketika trauma ini nggak sembuh-sembuh, dan dia jadi nggak stabil secara emosional, maka ia bisa dibilang mengalami PTSD.

Penelitian Rothbaum, et al. (Foa dan Rothbaum, 1998) terhadap korban perkosaan menemukan bahwa dalam kurun waktu 2 minggu setelah perkosaan, 94% diantara korban mengalami gejala PTSD.

Setelah 35 hari, persentase korban dengan gejala PTSD menurun menjadi 65% dan setelah 3 bulan turun lagi menjadi 47%, sedangkan pengukuran pada kurun waktu setelah 6 – 9 bulan relatif tidak terjadi perbedaan dengan hasil pengukuran sebelumnya.

Oleh karena itu, korban yang belum move-on dan tidak menunjukkan peningkatan, bisa diduga mengalami gejala PTSD kronik.

Lalu, berapa lama waktu yang diperlukan untuk membedakan mana yang trauma biasa, dan mana yang PTSD?

Menurut buku pedoman gangguan kejiwaan, DSM V, seseorang dianggap mengalami PTSD ketika trauma tidak berkurang selama satu bulan.

Kalau setelah sebulan traumanya masih ada (tapi berkurang), belum termasuk PTSD.

PTSD bisa menimpa siapapun, namun gangguan ini lebih sering menimpa seseorang yang emosinya tergolong sensitif. Bisa dialami oleh tua, muda, laki-laki, dan perempuan.


2. Kenapa seseorang mengalami PTSD?

PTSD terjadi karena kejadian traumatis, itu jelas.
Namun, faktor apalagi yang menyebabkan PTSD?

PTSD bisa disebabkan oleh:

  • Tingkat keparahan kejadian
  • Durasi kejadian
  • Minimnya dukungan dari teman dan keluarga pasca kejadian
  • Merahasiakan kejadian traumatis dan memendam emosi pasca trauma
  • Cara melupakan kejadian traumatis yang keliru
  • Tipe kepribadian
  • Kondisi kesehatan mental

Semakin parah sebuah kejadian, semakin memungkinkan kejadian tersebut menyebabkan PTSD pada seseorang.
Durasi kejadian juga berpengaruh. Kejadian yang hanya terjadi selama beberapa detik tentu saja akan berdampak berbeda dengan kejadian yang terjadi berjam-jam, bahkan berhari-hari.

Tidak menangani kejadian traumatis, juga satu penyebab PTSD. Orang seringkali berusaha tegar dan memendam emosinya setelah kejadian. Padahal, emosi sama seperti bom. Memendamnya justru akan membuatnya meledak sewaktu-waktu, dan menciptakan kerusakan yang besar.

Selain itu, ada yang berusaha melupakan kejadian itu dengan obat-obatan terlarang dan minum-minuman alkohol. Cara seperti ini keliru dalam menangani PTSD.

PTSD juga bisa dipengaruhi oleh karakter.
Orang yang kepribadiannya paranoid dan sering negative thinking lebih rentan mengalami PTSD.

Oh iya, individu yang mudah cemas juga seringkali salah cara dalam melampiaskan trauma pasca kejadian.
Hal ini menyebabkan trauma terus menetap dan tidak menghilang, karena cara menangani trauma yang keliru.


3. Apa saja pemicu PTSD?

PTSD terutama dipicu oleh kejadian traumatis.

Kejadian traumatis adalah kejadian tak biasa yang meninggalkan kesan mendalam pada pihak yang mengalami dan menyaksikan.

Misalnya: kebakaran, kecelakaan, dirampok, diperkosa, korban bencana alam, orang yang dikasihi meninggal, dan lain sebagainya.

Trauma yang mendalam terjadi ketika kejadian tersebut benar-benar tragis.
Bisa berupa durasi yang lama, jumlah korban yang masif, atau kejadian yang sebelumnya tak pernah terbayangkan sama sekali.


4. Bagaimana gejala PTSD?

PTSD, pencegahan PTSD, pengobatan PTSD, terapi PTSD

Ada tiga bagian di otakmu yang terkena dampak trauma:

  1. Prefrontal cortex, area otak untuk berpikir
  2. Anterior Cingular Cortex, area otak untuk mengendalikan emosi
  3. Amygdala, pusat rasa takut

Apabila kamu mengalami suatu kejadian trauma, maka:

  1. Prefrontal cortex mengalami penurunan fungsi. Sehingga, kamu jadi sulit berpikir.
  2. Anterior Cingular Cortex mengalami penurunan fungsi. Sehingga, kamu sulit mengendalikan emosi.
  3. Amygdala menjadi terlalu aktif. Kamu jadi lebih mudah takut.

Ciri-ciri PTSD di antaranya:

  • Masih sering mengingat kejadian traumatis
  • Sulit tidur
  • Mudah kaget
  • Sulit berpikir dan plin-plan
  • Mudah marah
  • Kadang berkeringat dingin, muntah-muntah, dan tidak enak badan
  • Mengulang kejadian traumatis di dalam mimpi
  • Sering murung, menjadi pendiam

Apabila ciri-ciri tadi berlangsung lebih dari satu bulan dan terus menetap, maka kemungkinan besar seseorang mengalami PTSD.


5. Bagaimana cara menyembuhkan PTSD?

Untuk mengatakan seseorang PTSD atau nggak, sebaiknya dibawa dulu ke dokter. Nanti, di dokter akan diperiksa dan ditanya-tanya. Akan ada tes sedikit. Kalau memang positif PTSD, dokter akan merujuk ke psikolog atau psikiatri.

Penyembuhan PTSD biasanya obat dan terapi kognitif.

5.1. Obat

Obat yang digunakan bisa antidepresan untuk mengurang kecemasan; dan prazosin jika gejala melibatkan insomnia atau mimpi buruk kambuhan (sumber)

Masalah obat-obatan, sebaiknya konsultasikan langsung ke dokter.

Selain pakai obat, ada lagi eksperimen pengobatan PTSD dengan semacam alat bernama Trigeminal Nerve Simulation (TNS).

TNS ini berbentuk semacam patch (bayangkan salonpas) yang disambungkan dengan listrik. TNS ditempelkan di kepala saat malam. TNS mengirimkan sinyal-sinyal listrik ke bagian otak yang terganggu, dan memperbaikinya.

Walaupun belum diedar luas ke publik, tapi sejumlah penderita PTSD mengaku mengalami perubahan positif. Masih belum jelas apakah ini cuma efek sugesti, tapi semoga saja TNS memang punya dampak untuk penderita gangguan stres pasca trauma.

5.2. Terapi psikologis

Ada beberapa macam terapi yang digunakan untuk mengurangi trauma. Di antaranya adalah terapi EMDR, terapi kursi kosong, terapi paparan, terapi musik, dan terapi kesadaran.

a. Terapi EMDR

EMDR merupakan singkatan dari Eye movement desensitization and reprocessing.
EMDR adalah terapi mengurangi trauma dengan gerakan mata.
Secara singkat, terapi ini meminta pasien untuk mengingat kejadian traumatis, sambil matanya mengikuti benda yang digerakkan oleh terapis. Benda ini bisa berupa jari, bandul, pena, dan lain sebagainya.

Ketika rasa trauma itu muncul, pasien harus berkonsentrasi dengan benda yang digerakkan itu.

Sebenarnya bukan gerakan matanya yang penting. Tujuan utama terapi ini adalah “mengacaukan” ingatan pasien terhadap trauma, sekaligus memisahkan emosi dari kejadian traumatis.

Kejadian tersebut mungkin masih bisa diingat, namun tidak membangkitkan trauma lagi.

Apa Itu PTSD (Post Traumatic Stress Disorder)?

b. Terapi bermain gitar

Studi yang dilakukan oleh The US Department of Veterans Affairs menyebutkan bahwa bermain gitar dapat mengurangi PTSD.

Studi ini memberikan gitar dan not lagu untuk dipelajari bersama oleh 68 veteran perang yang mengalami gangguan stres pasca trauma. Studi ini berlangsung selama satu tahun, dan hasilnya mencengangkan.

Terapi ini ternyata mampu mengurangi trauma sebesar 21% dan depresi sebesar 27%, peningkatan kualitas hidup sebesar 37%.

c. Terapi pengendalian pikiran

Bahasa Inggrisnya mindfulness therapy. Bahasa Indonesianya mungkin terapi pengendalian pikiran.

Fokus utama terapi ini adalah mewaspadai pikiran, perasaan, dan tubuh kita sendiri.
Dengan mewaspadai pikiran, perasaan, dan tubuh, kita jadi memegang kendali penuh terhadap diri.

 

Terapi ini cukup mudah.
Kamu cuma perlu fokus terhadap apa yang kamu lakukan.

Makan, misalnya. Kamu sering makan sambil ngelamun kan?
Atau makan sambil mainan hape, betul?

Pada mindfulness therapy, kamu perlu fokus terhadap tekstur nasi yang kamu kunyah.
Rasakan lidah kamu bersentuhan dengan kulit ayam, fokus dengan rasa apa saja yang keluar.
Tidak usah bayangkan enak atau nggak, cukup rasakan aja.

Sensasi apa saja yang muncul?

Apa yang kulitmu rasakan? Sejuk kah? Dingin? Waspadalah terhadap semua sensasi yang datang.

Terapi ini semakin bagus bila ditambah dengan tarikan nafas yang dalam dan teratur.

Dengan terapi mindfulness, kamu bisa melatih konsentrasi penuh terhadap tubuh, pikiran, dan perasaan.
Kamu bisa memilih pikiran apa yang mau kamu pikirkan. Mau yang positif atau negatif.

Selain untuk PTSD, terapi ini populer untuk mengurangi depresi dan kecemasan.
Bila rasa galau, depresi dan cemas muncul, segera fokus terhadap semua sensasi yang kamu rasakan.
Dengan begitu, kamu memblokir pikiran negatif.

Walaupun mudah, tapi sebaiknya konsultasikan terapi ini dengan psikolog atau psikiater.
Kenapa? Yaaa supaya efeknya bisa diukur, dan proses terapinya bisa maksimal.

 

d. Terapi paparan

Terapi paparan, atau exposure therapy, adalah terapi yang mengharuskan seseorang menghadapi ketakutannya.
Misalnya, seseorang yang fobia terhadap ayam.
Dalam terapi paparan, orang itu akan diminta untuk berhadapan dengan ayam.

Terapi ini sering digunakan pada pemilik fobia, depresi, cemas, atau trauma terhadap sesuatu.

Terapi ini ada tahapannya lo.
Sebelum terapi dimulai, biasanya calon pasien akan diminta bercerita tentang awal ketakutan itu muncul.
Bagaimana terjadinya, dan sebesar apa ketakutannya.

Dari situ, terapis bisa mengukur mau mulai dari mana.

Dan pasien pun nggak langsung dihadapkan dengan sesuatu yang ia takutkan.
Ada tingkatannya. Kalau trauma terhadap ayam, maka ia akan diminta memegang bulu. Lalu, berdiri dekat dengan ayam sejauh 10 meter. Lalu 5 meter. Lalu 1 meter. Lalu ayamnya dipeluk.

Terapi ini nggak boleh dilakukan sembarangan.
Jadi, sebaiknya konsultasi dulu dengan psikolog.

e. Terapi kursi kosong

Terapi kursi kosong adalah terapi yang mengharuskan kamu untuk bicara sama kursi kosong.
Cocok untuk korban rampok, pemerkosaan, dan kasus kriminal lainnya, yang notabene trauma terhadap seseorang.

Terapi ini membutuhkan satu ruang kosong dan tiga buah kursi.
Dua kursi diatur berhadapan, satu kursi untuk korban, satu untuk pelaku, satunya untuk psikolog.
Tugas psikolog adalah mengawasi, memberikan dorongan, dan memberi “pancingan” pada klien.

Klien diminta untuk duduk di kursi korban, dan membayangkan pelaku duduk di kursi satunya.
Sambil membayangkan, klien harus meluapkan semua emosi ke pelaku itu.

Boleh sambil teriak, sampai nangis, sampai melempar-lempar juga silakan.
Pokoknya emosinya harus ditumpahkan semua.

Walaupun kedengarannya simpel, tapi terapi ini butuh usaha keras.
Nggak semua orang mau bicara ke kursi kosong, karena takut dianggap gendeng.
Makanya, terapi ini paling bagus bila diawasi oleh psikolog atau psikiater, supaya ada yang memberi dukungan dan memahami.

Image result for empty chair therapy

Selain itu, ada juga terapi kuda, yang mengharuskan pemilik gangguan stress pasca trauma untuk bertemu dan merawat seekor kuda. Ada lagi terapi selimut, pasien harus tidur dengan menggunakan bedcover tebal. Terapi-terapi ini adanya di Amerika, jadi mungkin belum bisa digunakan oleh psikolog di Indonesia.


6. Bagaimana cara mencegah PTSD?

Bisakah PTSD dicegah?

PTSD adalah trauma yang terus membekas dan mengubah kepribadian seseorang. Ada tiga cara PTSD mengganggu kehidupan penderitanya: mengalami kembali (dalam pikiran dan mimpi), menghindari tempat, orang, dan situasi serupa, dan sensitifitas terhadap lingkungan yang berlebih.

Beberapa ilmuwan bilang ya, PTSD bisa dicegah. Namun penelitian yang membuktikannya belum ada.

Hal ini disebabkan karena semua orang mungkin saja mengalami trauma, namun belum tentu trauma itu menghantui dan menjadi gangguan. Prediksi seseorang mengalami PTSD sulit dilakukan, karena siapapun mungkin saja mengalaminya.

Apabila kita menelaah lagi sebab-sebab PTSD, kita bisa melihat bahwa trauma terus membekas ketika kejadian tersebut dirahasiakan. Beberapa korban terus memendam trauma karena merasa cukup tegar.

Padahal, sebaiknya ketakutan dan kecemasan pasca kejadian perlu diceritakan, dan emosinya perlu diluapkan agar tidak meledak dan melukai diri sendiri.

Selain itu, sebaiknya pemilik trauma segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Berkonsultasi dengan seorang ahli akan membantu menemukan cara untuk merelakan kejadian yang sudah terjadi, dan memaafkan diri sendiri atas semua yang telah berlalu.

Terus juga, dukungan sosial dan keluarga.

Kalau keluarga dan teman-teman memberikan support, pemilik trauma akan merasa hangat dan nyaman.
Dengan rasa positif, dukungan, dan pemahaman, trauma akan lebih mudah di-treatment.

NAH!

Demikianlah penjelasan kami tentang PTSD. Kalau kamu suka, boleh bagikan artikel ini ke teman atau orang yang membutuhkan.

Semoga membantu ya!

Author: Robi Maulana

Dalang sesungguhnya di balik PsikologiHore. Suka ngopi tapi kopi nggak suka sama dia.

4 Replies to “Apa Itu PTSD (Post Traumatic Stress Disorder)?

  1. Puasa bisa menjadi alternatif penyembuhan terhadap gejala PTSD, anyway. Hal ini aku alami sendiri, dan juga berdasar research memang membuktikan hal demikian.

    Silakan kunjungi PECTOPATRON untuk cerita lainya.

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)