Waktu baca yang dibutuhkan: 15 menit

Saat Ada Bencana, Bisakah Ilmu Psikologi Dimanfaatkan? Inilah Pembahasan Singkat Seputar Psikologi Kebencanaan.

Indonesia sudah diguncang banyak bencana : gempa di Situbondo, gempa di Lombok, gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah, gempa dan tsunami di Banten dan Lampung. Belum lagi letusan Tangkuban Parahu. Ribuan nyawa melayang, puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal dan barang-barang miliknya.

Dengan bencana berskala besar seperti itu, bantuan datang dari berbagai pihak. Bentuknya pun macem-macem, mulai dari makanan, pakaian, sampe obat-obatan. Tenaga medis juga didatangkan ke sana, untuk memberikan pertolongan pada para penyintas yang terluka.

Iklan!

Tapi kalo dari segi psikologi, apa aja sih yang bisa dilakuin seorang psikolog di daerah terkena bencana? Terus, kalo misalnya jadi relawan, bantuan psikologis kayak apa yang bisa diberikan? Artikel kali ini akan coba menjawabnya.

 

Daftar Isi (Klik untuk membaca)

  1. Psikologis Korban Pascabencana
    1. 24 Jam Pertama
    2. 1-2 Minggu Setelah Bencana
    3. >3 Minggu Setelah Bencana
  2. Dari Mana Bantuan Psikologis Didatangkan?
  3. Apa Aja Bantuan Psikologis yang Bisa Diberikan?
    1. Menginformasikan bantuan
    2. Membantu mencarikan keluarga
    3. Memberi ruang dan waktu untuk upacara pengurusan jenazah
    4. Mendengarkan kekhawatiran keluarga korban
    5. Membantu penyintas menyesuaikan diri dengan lingkungan baru
    6. Memberikan dukungan psikososial pada para penyintas
    7. Menemukan korban yang berpotensi mengalami histeria dan stres berlebih
    8. Mendata kondisi psikis para penyintas
    9. Menghibur anak dan trauma healing
    10. Melakukan intervensi dan merujuk ke rumah sakit
    11. Mengedukasi Masyarakat untuk Menerima dan Memaklumi Mereka yang Terdampak Parah
    12. Memberikan Informasi Tentang Dukungan Psikologis Jangka Panjang
  4. Gangguan Psikologis Apa yang Muncul Setelah Bencana
    1. Gangguan Depresi
    2. Gangguan Kecemasan
    3. Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD)
    4. Campuran Kecemasan dan Depresi
    5. Gangguan Penyesuaian
    6. Gangguan Somatoform
    7. Gangguan Psikotik

 


 

Psikologis Korban Pascabencana

 

Sebelumnya kita bahas psikologis korban bencana dulu ya. Secara psikologis, manusia akan bereaksi ketika bencana terjadi. Nah, reaksi psikologis korban terbagi jadi tiga fase:

 

1. 24 Jam Pertama

Di 24 jam pertama, korban/penyintas masih terguncang. Ada yang panik dan berlarian mencari anggota keluarganya, ada yang hanya menangis histeris, ada juga yang diam termangu. Selain itu ada rasa tegang, cemas, nggak percaya, dan bingung.

Ini normal ya, semua orang mengalaminya.

 

2. 1-2 minggu setelah bencana

Di fase ini orang-orang udah mulai sadar apa yang terjadi.

Kesedihan masih terasa, tapi di fase ini para penyintas merasa takut, waspada, dan siaga berlebih. Ada juga yang jadi tersinggungan, susah tidur, dan marah.

Flashback berulang kali terjadi, dan hal-hal biasa yang terjadi dianggap sebagai bencana. Contohnya kayak getaran karena truk lewat dikira gempa.

Terus muncul rasa bersalah. Sebagian orang menyesal karena nggak sempat menyelamatkan orang lain, ada juga yang merasa harusnya bisa mengorbankan diri demi keselamatan korban lainnya.

Sebagian lain mulai menerima takdir dan mulai berpikir positif tentang masa depan.

 

3. >3 minggu setelah bencana

Di minggu ketiga, kesan yang terjadi setelah bencana masih membekas. Reaksi yang sebelumnya muncul bisa menetap, misalnya kayak panik, gelisah, pesimis, dan menarik diri.

Ada juga yang mengalami kecemasan kayak pusing, mual, selalu capek, dan sakit kepala.

Tapi ini bukan gangguan jiwa. Ini masih berupa reaksi wajar.

 

 

Dari Mana Bantuan Psikologis Didatangkan?

 

Pertolongan pertama psikologis berasal dari Dinas Psikologi TNI. Tugas para tentara ini adalah menenangkan, memberikan informasi seputar tempat berlindung dan kebutuhan hidup, memantau situasi di lapangan, juga memetakan daerah mana yang paling terdampak baik fisik maupun psikologis.

Pertolongan pertama psikologis juga bisa berasal dari relawan. Relawan yang sudah ikut pelatihan psychological first aid (Pertolongan Pertama Psikologis) juga bisa ngasih bantuan psikis, tapi yang dasar-dasar aja. Badan Nasional Penanggulangan Bencana alias BNPB pernah ngasi pelatihan tentang pertolongan pertama psikologis.

Kalo penanganan lebih lanjut diperlukan, psikologis dan psikiater bisa didatengin. Jalur kerjasamanya sendiri macem-macem. Bisa kolaborasi dengan Dinas Kesehatan, Himpsi (Himpunan Psikologi), IKJ (Ikatan Kedokteran Jiwa), IPK (Ikatan Psikolog Klinis), dan macem-macem instansi terkait.

Waktu gempa di Palu, psikolog dan psikiater didatangkan berkat kerjasama sejumlah ikatan tenaga ahli klinis, Dinas Kesehatan, dan sejumlah rumah sakit di Palu.

Pihak swasta juga bisa memberi bentuan psikis. BNI pernah bekerjasama dengan Lembaga Psikologi buat ngasih bantuan psikologis pada korban. Tapi bantuan psikis yang ini datengnya setelah semua udah settle, alias bencana susulan udah berkurang dan situasi aman.

Tokoh agama, tetua adat, dan ahli pengobatan tradisional juga bisa dikerahkan lo. Mereka bisa dikasi pengertian singkat soal kondisi psikis, dan mereka bisa menghimbau para korban untuk nggak bereaksi berlebih ke korban lain yang psikisnya terdampak lebih parah.

 

 

Apa Aja Bantuan Psikologis Pasca Bencana?

 

Bentuk bantuan psikologis nggak hanya berupa konseling atau trauma healing. Apapun yang sifatnya menenangkan dan mengurangi kepanikan bisa dibilang bantuan psikologis.

Sekedar mendengarkan tangisan korban udah bisa dibilang bantuan psikologis lo. Meskipun ada juga sih bantuan psikologis yang cuma bisa dilakukan tenaga ahli khusus.

Apa aja sih bentuk bantuan psikologis?

Image result for psychological disaster relief

 

1. Menginformasikan bantuan

Seandainya seorang relawan berada di tengah-tengah para korban bencana, maka pertolongan psikologis pertama pasca bencana adalah memberikan kejelasan informasi.

Ini berupa mengarahkan korban bencana ke lokasi pembagian bantuan, memberi informasi tempat makan dan tempat mengungsi, serta membantu pendataan orang-orang hilang.

Terus juga mengklarifikasi info/isu yang simpang siur. Kadang orang abis kena bencana kan panik. Ntar dikait-kaitkan sama kejadian tertentu.

Psikolog cocok di bagian ini, karena biasa menghadapi orang-orang yang lagi panik dan kebingungan.

 

2. Membantu mencarikan keluarga

Bencana bisa memisahkan seseorang dengan keluarganya. Apalagi selama seminggu pertama, kepanikan dan kebingungan pasti bener-bener terasa.

Relawan dan tenaga ahli psikologi bisa bantu mencarikan anggota keluarga yang hilang. Kalo mereka masih linglung dan terbata-bata, proses membantu ini dilakukan dengan ekstra sabar.

 

3. Memberi ruang dan waktu untuk upacara pengurusan jenazah

Sebagian daerah dan agama punya ritual khusus dalam mengurus jenazah. Bentuk bantuan psikologis di bagian ini yaaa memberikan kesempatan untuk prosesi adat. Sebagian relawan yang beragama/suku yang sama akan ikut dalam prosesnya. Itu ngebantuu banget.

 

4. Mendengarkan kekhawatiran keluarga korban

Bencana gak hanya berdampak pada mereka yang ada di lokasi, namun juga orang-orang di luarnya. Biasanya kerabat dari para korban, orang asli sana tapi kebetulan lagi keluar kota, dan lain sebagainya.

Meskipun mereka nggak merasakan langsung, putusnya komunikasi dengan para korban pasti bikin mereka bingung apa yang harus dilakuin. Itu pasti bikin mereka khawatir juga. Belum lagi kabar rumah dan harta benda mereka di sana yang simpang siur.

Di sini, psikolog yang nggak berada di lokasi bencana bisa membantu juga. Psikolog ada yang dateng ke pusat informasi terkait bencana, terus memberikan penenangan pada para korban tak langsung tersebut.

Dulu, waktu peristiwa Air Asia tenggelam di perairan Laut Jawa, para psikolog dari Himpsi Jatim ikut ngasi bantuan penenangan pada para kerabat penumpang. Mereka mendatangi information center di Bandara Juanda terus menenangkan para kerabat yang masih panik dan histeris.

Btw, cara nenanginnya gimana sih?

Para psikolog ini mendengarkan kekhawatiran para kerabat penumpang pesawat, ngasi air minum, terus (kalo kerabat korban itu ngebolehin) mengelus pundak mereka, dan membimbing mereka untuk berdoa.

Walaupun sekilas kayaknya kok nggak penting, tapi ini adalah upaya pencegahan kekhawatiran berkembang jadi panik, yang bisa jadi histeria. Mencegah kepanikan ini bisa mempercepat proses recover mental dari para kerabat korban, jadi mengurangi kemungkinan trauma juga.

 

5. Membantu penyintas menyesuaikan diri dengan lingkungan baru

Para korban pasti nggak biasa lah ya tidur di tenda pengungsian. Mereka mungkin biasa tidur di kasur empuk, dengan space pribadi yang luas. Sekarang mereka harus tidur sama-sama orang yang mungkin nggak mereka kenal. Tenda pengungsian pun mungkin nggak senyaman rumah mereka.

Berhubung lingkungan ini baru, penyesuaian diri ini bisa bikin stres juga. Nah, di sinilah tugas lain dari psikolog; membantu korban menyesuaikan diri di lingkungan baru.

Penyesuaian ini bisa berupa mencarikan korban posisi tempat istirahat yang pas, bisa juga mencarikan “tetangga” pengungsi dari tempat asal yang berdekatan.

Pengungsi juga mungkin punya kebutuhan tertentu karena trauma, atau karena punya kondisi kejiwaan yang sudah ada sebelum bencana. Psikolog juga bisa dimintai pertimbangan untuk penanganan semacam ini.

 

6. Memberikan dukungan psikososial pada para penyintas

Para korban bencana merasakan ketidakberdayaan setelah semua miliknya habis. Padahal, setelah bencana berlalu, hidup harus jalan terus.

Di sini psikolog bisa mulai memberikan bantuan dukungan psikososial. Biasanya psikolog akan membantu membimbing korban beradaptasi dengan kondisi baru, membantu komunikasi dengan teman atau keluarga yang terpisah, dan mengubah mindset menjadi lebih optimis.

Terus psikolog juga bisa meyakinkan para korban, bahwa masih ada kesempatan untuk kembali menata hidup dan menjalaninya.

 

7. Menemukan korban yang berpotensi mengalami histeria dan stres berlebih

Meskipun sama-sama mengalami bencana, tapi reaksi para korban bisa beda-beda. Ada yang menangis histeris, ada yang stres berlebih, ada yang cuma diem mati rasa.

Dampak besar biasanya dirasakan pada mereka yang berada di dekat lokasi terparah, menyaksikan kejadian tertentu yang memilukan, atau masih belum ketemu sama keluarganya.

Dampak psikologis yang terjadi adalah kepanikan, histeria, dan stres. Ada yang jadi agresif dan mengganggu ketertiban, misalnya menyerobot antrean makanan. Kalau reaksi korban ini berlebih, kepanikan bisa menular dan menyebar. Di sini psikolog bisa berperan.

Psikolog, kalo memang ada di lokasi bencana, bisa memberikan penenangan cepat, atau kalau memang memungkinkan, dipisahkan dari korban lainnya untuk sementara.

 

8. Mendata kondisi psikis para penyintas

Kalo kondisi lokasi bencana udah mulai stabil, instansi terkait akan mendata kondisi kesehatan lanjutan dari para penyintas. Kondisi kesehatan ini nggak hanya fisik tapi juga psikis.

Ada tiga kondisi psikologis yang muncul pada penyintas bencana:

  1. Respon normal, nggak butuh intervensi khusus
  2. Respon distress sesaat, butuh penanganan pertama psikologis
  3. Respon disfungsi berat, butuh bantuan ahli kejiwaan.

Dari sini nanti bisa keliatan mana yang mengalami depresi, trauma dengan disorientasi, dan gangguan lainnya.

Pendataan ini adalah koordinasi antara Dinas Kesehatan  dengan ikatan psikologis dan psikiater yang berada di lapangan.

 

9. Menghibur anak dan trauma healing

Kalo kondisi pengungsian udah stabil dan pengungsi udah beradaptasi, maka saatnya melakukan trauma healing.

Di sini para psikolog dan relawan bisa mulai melakukan proses penanganan atas trauma yang bisa muncul dari para korban bencana ini.

Proses penanganan ini macem-macem; kalo untuk anak kecil biasanya diajak main, diajak cerita, atau aktivitas ringan yang menyenangkan lainnya. Kalo untuk orang dewasa biasanya konseling dan terapi.

Image result for disaster trauma healing
sumber: sisf.bookcouncil.sg

Tujuan trauma healing sendiri bukan buat ngelupain kejadian traumatis, tapi buat membantu korban menerima yang sudah terjadi, supaya bisa melanjutkan hidup.

Trauma healing ini penting buat mencegah kemungkinan para penyintas mengalami gangguan lain, kayak gangguan kecemasan, depresi, atau PTSD.

Tapi mungkin aja ada yang mengalami PTSD, alias stres pasca trauma. Tapi ini paling cepet keliatan di rentang waktu sebulan. Kalo misalkan dalam sebulan pasca kejadian para penyintas masih ditempatkan di tenda pengungsian, dan ada yang punya gejala PTSD, psikolog bisa membantu menangani.

 

10. Melakukan intervensi dan merujuk ke rumah sakit

Kalo ada yang mengalami gangguan psikologis berat gimana?

Maka di sini psikolog dan psikiater berperan. Psikolog, bila situasi di sana memungkinkan, bisa melakukan konseling baik berkelompok maupun individu. Psikiater juga bisa ngasih terapi psikofarmaka alias ngasi obat-obatan.

Seandainya fasilitas dan tenaganya nggak memungkinkan, penyintas dibawa ke rumah sakit terdekat.

 

11. Mengedukasi Masyarakat untuk Menerima dan Memaklumi Mereka yang Terdampak Parah

Misalnya bencana udah lama berlalu. Bantuan mulai berkurang dan orang-orang mulai melanjutkan hidup.

Meskipun sebagian orang mulai bisa tersenyum lagi, ada sebagian orang yang psikisnya terdampak lebih parah.

Ada yang mengalami depresi, ada yang PTSD, atau traumanya berlebihan.

Bisa aja mereka takut ngeliat gunung, takut ngeliat air gerak, dan semacemnya. Ada juga yang sifatnya jadi berubah. Mungkin jadi pemarah, ada yang nggak mau ngomong, ada yang sering linglung, macem-macem.

Nah bisa aja para survivor yang sehat menganggap orang-orang ini aneh atau gila. Mungkin malah dikucilkan atau diketawain.

Di sini psikolog dan relawan bisa membantu mengedukasi para warga buat memaklumi dan menerima para penyintas ini. Misalnya menghindari menakut-nakuti mereka, atau nggak mengucapkan/melakukan sesuatu yang membuat mereka teringat sama bencana lagi.

Sebagian dari penyintas ada juga yang masih mengisolasi diri dan berubah total setelah bencana.

Saya jadi keinget, dulu waktu SMP di sekolah saya ada anak pindahan dari Aceh, ngungsi abis tsunami. Waktu itu emang anaknya (katanya) agak telmi, terus gak banyak temen juga.

Apa gara-gara trauma ya?

 

12. Memberikan Informasi Tentang Dukungan Psikologis Jangka Panjang

Sebagian gangguan psikologis pascabencana justru baru muncul lama setelah kejadian. PTSD, bisa aja muncul dalam hitungan tahun. Atau ada penyintas yang mungkin butuh terapi lanjutan dalam jangka waktu lama.

Nah, psikolog bisa memberikan bantuan berupa informasi terkait ketersediaan psikolog atau psikiater dan alamat mereka.

Kalo misalnya para korban bencana diungsikan ke kota lain, korban-korban ini juga bisa dikasi alamat psikolog atau rumah sakit jiwa yang bisa dihubungi. Terus psikolog di kota ini juga perlu dikomunikasikan terkait keberadaan para penyintas.

Tapi perlu diingat bahwa walaupun psikolog bisa berperan vital dalam proses recover psikologis penyintas, psikolog tetep gak boleh bergerak sembarangan.

Koordinasi sama dinas dan instansi terkait selalu diutamain, jadi kalo mau apa-apa ya selalu kasi tau mereka.

 

Nah, itu tadi sejumlah bantuan psikologis yang bisa diberikan pascabencana.

Dampak psikologis pada penyintas pascabencana bisa berbeda pada tiap orang. Ada yang berhasil moving on, ada yang masih teringat tapi berusaha bangkit, dan ada yang terus membekas dan terdampak.

Jadi, nggak menutup kemungkinan ada yang mengalami gangguan kejiwaan setelah bencana.

Tapi apa aja ya gangguan psikologis yang bisa muncul setelah bencana?

 


Gangguan Psikologis Apa yang Muncul Setelah Bencana?

depresi ringan, depresi artinya, depresi pada remaja, depresi, depresi adalah, depresi akut,

1. Gangguan Depresi

Kehilangan anggota keluarga dan harta benda sangat mungkin menyebabkan seseorang mengalami depresi.

Kami pernah bahas seputar depresi. Secara singkat depresi adalah perasaan sedih mendalam dan hilangnya minat ngapa-ngapain dalam waktu lama. Pada kasus parah mengakibatkan munculnya niat bunuh diri.

Beberapa gejala depresi lainnya adalah:

  1. Suasana hati (mood) yang depresif: perasaan sedih, menderita, mudah tersinggung atau gelisah
  2. Kehilangan minat ngapa-ngapain
  3. Berkurangnya tenaga, gampang capek, mager
  4. Gerakan lamban
  5. Merasa bersalah dan nggak berguna
  6. Pesismis terhadap masa depan
  7. Muncul keinginan bunuh diri
  8. Gangguan tidur
  9. Berkurangnya nafsu makan

 

2. Gangguan Kecemasan

Cemas itu wajar, apalagi kalo bencana baru aja terjadi. Kalo gangguan kecemasan akan terjadi dalam waktu lama.

Gangguan kecemasan sendiri adalah kecemasan berlebih terhadap kejadian yang belum tentu terjadi, dan respon berlebih terhadap kejadian yang ada saat ini.

Gangguan kecemasan sendiri bentuknya bisa macem-macem. Ada fobia, gangguan panik, gangguan kecemasan sosial, atau kecemasan berpisah.

Ada orang yang gangguan kecemasannya sampe deg-degan dan gemetar. Itu kalo gangguan panik. Pada orang yang mengalami gangguan kecemasan berpisah, dia takut sendirian. Maunya sama seseorang yang dia sayang terus.

 

3. Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD)

PTSD adalah gangguan stres yang muncul akibat trauma. Trauma ini bisa karena bencana, kejadian menyakitkan, atau perang. Tapi bisa juga karena seseorang yang disayangi mendadak meninggal.

Yang unik, PTSD nggak muncul dengan segera. PTSD baru muncul setelah tiga bulan kejadian berlalu. Yang hitungan tahun juga ada.

Untuk gejala gangguan stres pascatrauma yang sering dialami korban bencana, antara lain:

  1. Potongan peristiwa muncul di pikiran
  2. Menghindari hal-hal yang dapat mengingatkan bencana, kayak benda atau kata-kata tertentu
  3. Slow response
  4. Berkurangnya minat beraktivitas
  5. Gangguan tidur
  6. Susah konsentrasi

Diagnosis ini hanya ditegakkan bila gejala di atas dirasakan lebih dari satu bulan.

PTSD bisa kamu baca lebih lanjut di sini.

Iklan!

4. Campuran Kecemasan dan Depresi

Buku Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Akibat Bencana menuliskan bahwa masyarakat yang tertimpa bencana punya kemungkinan mengalami kecemasan dan depresi sekaligus.

Kadangkala gangguan ansietas dan depresi dapat terjadi pada waktu yang sama memberikan tanda dan gejala dari kedua gangguan tersebut.

 

5. Gangguan Penyesuaian

Gangguan penyesuaian adalah reaksi dari ketidakmampuan beradaptasi terhadap bencana. Gangguan ini juga muncul setelah kehidupan berubah drastis pascabencana, misalnya kehilangan seluruh keluarga, hartanya habis, dan lain-lain.

Gangguan ini terjadi selama 3 bulan dari waktu bencana. Pada sebagian orang gejalanya berangsur menghilang seiring mampunya beradaptasi, tapi ada juga yang menetap.

Tanda dari gangguan beradaptasi, antara lain:

  1. Sedih yang mendalam
  2. Menangis terus menerus
  3. Kehilangan harapan hidup
  4. Kecemasan yang dibarengi sesak nafas atau tersengal-sengal
  5. Nggak kooperatif seperti: merusak, menyerobot antrian, berkendara ugal-ugalan, ribut dengan orang lain
  6. Susah diajak untuk ikut bekerja
  7. Menarik diri, nggak mau diajak ngobrol. Tapi ini tidak khusus pada semua orang.

 

6. Gangguan Somatoform

Gangguan somatoform adalah jenis gangguan fisik tapi disebabkan pikiran/kejiwaan.

Misalnya sakit kepala atau kejang-kejang, padahal sebelumnya nggak ada riwayat kejang-kejang.

Gejala sakit fisik ini nggak menentu. Ganti-ganti, tapi penyebabnya satu: pikiran. Jadi psikosomatis ini bisa muncul dalam berbagai keluhan, tapi saat diperiksa secara fisik ya sehat-sehat aja.

Gangguan somatoform termasuk:

  1. Gangguan konversi: mendadak buta, tuli, atau lumpuh. Diperiksa pun secara fisik sehat.
  2. Hypokondriasis: Percaya kalo gejala yang dialami adalah sakit serius. Misalnya bentol digigit nyamuk dikira kanker.
  3. Gangguan Somatisasi: Mudah capek, mens nggak teratur, sakit kepala.

 

7. Gangguan Psikotik

Gangguan psikotik adalah gangguan kejiwaan yang menyebabkan pikiran dan persepsi jadi nggak normal. Orang dengan gangguan psikotik kehilangan pijakan terhadap kenyataan.

Jadi yaaa selalu berhalusinasi dan delusi. Seolah-olah dia ngeliat ada sesosok tua di tengah laut, atau dia bilang “dibisikin” kalo dalam waktu dekat ada bencana yang lebih besar.

Gejala lain pada psikotik akut, antara lain:

  1. Halusinasi (sensasi atau bayangan yang salah, misalnya mendengar suara-suara atau melihat orang yang gak ada)
  2. Waham (ide atau keyakinan ngawur yang dipertahankan)
  3. Gangguan proses pikir: ngomong ngelantur dan menghubungkan sesuatu sebagai tanda gaib
  4. Menarik diri dari lingkungan sosial, selalu curiga.

 

8. Gangguan Prenatal/Prakelahiran (UPDATE)

Sebuah penelitian terbaru dalam Biological Psychology menemukan bahwa depresi prakelahiran pada ibu hamil dapat semakin besar ketika ibu tersebut mengalami bencana.

Terus juga depresi prenatal/prakelahiran ini bisa mempengaruhi kemampuan fight-or-flight anak, saat anak tersebut lahir dan tumbuh besar.

Perlu diingat bahwa fight-or-flight response adalah sebuah respon yang dimiliki seseorang saat menghadapi bahaya. Kemampuan respon fight-or-flight rendah menyebabkan resiko depresi dan attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD) jadi lebih besar.”

Meski dampak ini nggak bisa langsung terlihat, tapi sebaiknya ibu-ibu hamil yang menjadi penyintas bencana perlu mendapatkan perlakuan dan penenangan khusus, dan kondisi mentalnya terus diawasi, jadi memperkecil kemungkinan mengalami depresi prenatal.

Untuk penanganan gangguan-gangguan tadi bergantung sama kesiapan tenaga ahli di lokasi. Kalo psikiater ada di lokasi sih dikasi obat-obatan. Kalo dirasa kesulitan menangani, bisa dipindah ke rumah sakit terdekat.

depresi ringan, depresi artinya, depresi pada remaja, depresi, depresi adalah, depresi akut,

 


Nah! Itu tadi ya penjelasan singkat soal psikologi kebencanaan.

Bantuan psikis adalah bantuan penting yang dibutuhkan para penyintas dan keluarganya. Dengan memperhatikan kondisi psikis para penyintas, mereka jadi lebih cepet buat moving on dan melanjutkan hidup seperti sediakala.

Semoga semua orang yang berduka jadi kuat lagi, dan semua penyintas bencana di manapun dapat kembali menjalani aktivitasnya.

Apa kamu pernah jadi relawan? Bantuan psikis apa yang pernah kamu kasi ke penyintas bencana? Coba ceritain di kolom komentar ya~

 

Sumber:

https://www.fema.gov/disaster/4085/updates/crisis-counseling-psychological-first-aid

https://www.psychologytoday.com/us/blog/somatic-psychology/201004/the-trauma-arises-natural-disasters

Buku Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana

Author: Robi Maulana

Dalang sesungguhnya di balik PsikologiHore. Suka ngopi tapi kopi nggak suka sama dia.

2 Replies to “Psikologi Kebencanaan: Kalau Ada Bencana, Psikologi Bisa Apa Sih?

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)