Waktu baca yang dibutuhkan: 8 menit

Jika kamu adalah mahasiswa psikologi, dapat dipastikan jumlah ceweknya lebih banyak daripada cowok. Nggak hanya di kelas. Kalau kamu jalan ke fakultas pun, pasti dosen cewek lebih banyak daripada dosen cowok.

Bisa dibilang perempuan cukup mendominasi dalam psikologi.

Namun sebenarnya ini nggak aneh. Kalau kita melacak sejarah, perempuan sudah ikut berperan dalam lahir dan berkembangnya psikologi. Sejak seabad yang lalu, 1 di antara 10 psikolog di Amerika adalah perempuan. Ini membuat perempuan dalam psikologi nggak bisa dipandang sebelah mata.

Tentu psikologi harus bangga karena sejak awal bidang keren ini sudah meninggikan perempuan.
Karena keistimewaan itu, kaum hawa memberikan banyak sumbangsih besar di bidang ini.
Berikut ini 10 perempuan yang telah berperan mengubah alur sejarah psikologi.

 

1. Karen Horney – Psikoanalisa

Perempuan dalam psikologi
Karen Horney

Membahas psikoanalisa pasti nggak lengkap tanpa ngomongin Karen Horney.

Karen Horney, lahir pada 16 September 1885, adalah seorang psikolog neo-Freudian yang dikenal karena jasanya terhadap psikologi femininisme. Ketika Sigmund Freud mengajukan teori penis envy (rasa iri perempuan karena nggak punya penis), Horney maju dan mengkonternya dengan teori womb envy.

Womb envy adalah teori yang menyatakan rasa iri pada pria karena nggak memiliki rahim, dan sebagian tindakan abnormal yang dilakukan pria terjadi karena ingin menutupi rasa iri tersebut.

Teori yang berani! Karena pemikirannya itu, Horney membuka perhatian yang lebih terhadap psikologi perempuan.

Nggak hanya itu, ia juga menyumbangkan teori lain seperti teori kebutuhan neurotis. Serta, ia mengajukan pendapat bahwa manusia mampu mengambil peran mengenai kesehatan mentalnya.

Karen Horney telah memberi banyak kontribusi, dan namanya kini dihormati oleh psikolog modern.

2. Anna Freud – Mekanisme Pertahanan Ego

peran perempuan dalam psikologi
Anna Freud. sumber: Getty

 

Seperti apa rasanya jadi anak seorang legenda besar seperti Sigmund Freud?
Anak biasa mungkin akan mengkeret dan terbebani, namun Anna Freud bangkit dan menyempurnakan teori ayahnya.

Anna Freud berkembang menjadi psikolog, sama seperti sang ayah. Tidak hanya itu, ia mengembangkan teori Sigmund Freud mengenai psikoanalisa, dan membuka jalan psikoanalisa khusus anak. Anna Freud jugalah yang mengembangkan teori tentang mekanisme pertahanan ego, membuat teori psikoanalisa semakin tajam.

Sejak itu, Anna diakui tidak hanya sebagai anak dari orang besar. Iapun dikatakan tak kalah hebat dari sang ayah. Pemikirannya luas dan diakui. Bahkan ia juga mempengaruhi pemikiran “tokoh besar” lainnya, yaitu Erik Erikson.

Layak bila kita bilang Anna Freud sudah berdiri sejajar dengan sang ayah, Sigmund Freud.

 

3&4. Isabel Briggs Myers dan Katharine Briggs – MBTI

Image result for isabel briggs myers

Duo ibu dan anak ini adalah pencetus alat tes yang populer, MBTI.

MBTI adalah indikator tipe kepribadian dalam diri manusia. Di dalam MBTI ada empat kontinum: Introversion-Extroversion, Intuition-Sensing, Thinking-Feeling, Judging-Perceiving. Pada akhirnya, kombinasi dari empat kontinum itu menghasilkan 16 kepribadian.

16 tipe kepribadian ini dicintai banyak orang. Ia tidak hanya menjelaskan bagaimana pribadi seseorang, ia juga bisa memprediksi bagaimana seseorang akan bekerja dan bagaimana sikapnya terhadap pasangan. Karena teori ini “mudah dikonsumsi” masyarakat, teori ini dengan cepat diterima.

Teori ini bermula ketika Briggs mencoba menciptakan teori kepribadiannya sendiri. Ia melakukannya dengan membaca berbagai buku dan mengamati perilaku anggota keluarganya.

Teori belum rampung, Briggs tanpa sengaja menemukan karya Jung berjudul Psychological Types. Karya ini menyentak Briggs, karena tidak hanya mirip dengan teorinya, teori Jung malah lebih baik. Karena itu, Briggs bertekad membuat teori Jung menjadi sesuatu yang mudah digunakan oleh masyarakat. Atas dasar itulah MBTI lahir.

Beberapa tahun setelah proyek pribadi ini dimulai, Isabel Briggs Myers ikut membantu menyempurnakan MBTI. Myers datang setelah menimba ilmu statistika psikologi dari Edward Hay.

Yang unik, baik Myers maupun Briggs bukan lulusan psikologi. Mereka mempelajari psikologi secara otodidak. Itupun nggak semuanya dipelajari, hanya bagian-bagian tertentu saja.

Walaupun bukan berasal dari bangku pendidikan resmi, namun karya mereka berdua tetap diakui dan digunakan oleh jutaan orang setiap tahunnya.

 

5. Mary Ainsworth – Teori Kelekatan

Related image

Siapapun yang membahas psikologi kelekatan anak dengan orang tua, pasti akan mengenal nama yang satu ini. Mary Ainsworth.

Ainsworth adalah pelopor pentingnya kelekatan anak dengan orang tua saat kecil. Ia juga yang memulai sebuah teknik asesmen yang bernama “Strange Situation” atau “Situasi Asing”.

Dalam penelitiannya mengenai kelekatan anak dan ibu, Ainsworth menempatkan anak dan ibu di dalam sebuah ruangan yang asing. Ainsworth kemudian meneliti reaksi si anak terhadap berbagai situasi. Misalnya, orang asing masuk ke ruangan, si anak ditinggal berdua dengan orang asing, dan reaksi anak saat ibunya kembali.

Kelekatan pernah saya bahas di sini. Bisa dilihat, nama Ainsworth beberapa kali saya singgung di sana.

Karya Ainsworth kemudian berdampak masih terhadap cara kita memahami kelekatan, dan bagaimana pengaruh jenis kelekatan terhadap perilaku anak di masa depan.

 

 

6. Helene Deutsch – Psikoanalis Perempuan Pertama

11 Perempuan Pengubah Wajah Psikologi

Pada awalnya, psikologi, terutama psikoanalisa, merupakan ilmu yang fokus pada manusia secara umum.
Namun paradigma itu sedikit berubah setelah Helene Deutsch memfokuskan diri sebagai psikoanalis khusus perempuan.

Helene Deutsch adalah seorang Polandia, yang merupakan murid Freud. Karena kecerdasannya, Deutsch kemudian diangkat sebagai asisten oleh Freud.

Pada 1925, Deutsch menjadi psikoanalis pertama yang merilis buku tentang psikologi perempuan. Karya-karya Deutsch mendapat pengakuan oleh Freud, bahkan membuat Freud “gatal” untuk ikut menulis tentang psikoanalisa perempuan.

 

 

7. Mary Whiton Calkins – Perempuan Pertama yang Menjadi Presiden APA

Peran perempuan dalam Psikologi
Mary Calkins. sumber: Wikipedia

Mary Whiton Calkins adalah perempuan pertama yang menjabat sebagai presiden di American Psychological Association (APA).

Yang unik, Calkins mengawali karir sebagai pengajar Bahasa Yunani. Calkins melakukannya selama tiga tahun sebelum kemudian ditawari posisi mengajar psikologi.

Mengajar psikologi adalah peluang menarik, tapi ada sedikit hambatan: ia harus belajar psikologi dulu. Belajar psikologi saat itu cukup sulit karena program studinya masih jarang dan perempuan jarang diterima.

Untungnya, Calkins diberi kesempatan oleh sang legend William James untuk ikut kuliah di Harvard. Masalah belum berhenti, karena pihak kampus menolak memasukkan Calkins sebagai mahasiswa. Setelah negosiasi yang alot, Calkins boleh ikut pelajaran William James, Josiah Royce, dan Edmund Sanford, namun tidak dianggap sebagai mahasiswa resmi Harvard.

Calkins adalah perempuan yang cemerlang. Selesai dari Harvard, ia menulis beberapa penelitian. Penelitian-penelitiannya cukup revolusioner di zamannya, seperti self psychology dan metode asosiasi berpasangan. Karya-karyanya ini membuat Calkins kemudian menjabat presiden di APA selama satu periode di 1918.

 

 

8. Leta Stetter Hollingworth – Menolak Perempuan Dianggap Remeh

Image result for Leta Stetter Hollingworth

Orang psikologi pasti tidak asing dengan nama Edward Thorndike. Nah, salah satu murid Thorndike, Leta Stetter Hollingworth, adalah salah satu yang menonjol.

Namanya mulai dikenal setelah melakukan penelitian tentang inteligensi dan anak-anak gifted. Namun, yang membuat dia dicintai kaum hawa adalah salah satu penelitiannya yang mendobrak stigma.

Jadi, pada masa itu, ada opini bahwa kecerdasan perempuan akan berkurang saat mereka mengalami menstruasi. Hollingworth menantang asumsi itu dengan penelitiannya. Dalam risetnya, ditemukan bahwa perempuan punya kecerdasan yang setara dengan laki-laki, tidak peduli sedang menstruasi atau nggak.

Perlu diingat, meski psikologi sejak awal menganut kesetaraan gender, di kehidupan masyarakat stigma kesenjangan itu masih ada. Ini membuat penelitian Hollingworth mendapat banyak rintangan. Namun, keberanian Hollingworth pada akhirnya diapresiasi tidak hanya oleh perempuan, namun juga oleh para lelaki.

 

 

9. Melanie Klein – Penemu Terapi Bermain untuk Anak

11 Perempuan Pengubah Wajah Psikologi
Melanie Klein. sumber: ergopsy

Terapi bermain adalah teknik yang populer untuk membantu anak mengekpresikan perasaannya melalui cara yang menyenangkan. Adalah nama Melanie Klein yang membuat semua ini mungkin.

Klein adalah psikoanalis yang fokus pada anak. Ia mengobservasi anak, dan menganggap bermain adalah cara utama anak dalam membantu berkomunikasi.

Perlu diketahui bahwa fokus psikoanalisa saat itu adalah mencari cara membongkar perasaan alam bawah sadar, kecemasan, dan pengalaman di masa lalu. Dalam psikoanalisa, metode yang sering dipakai adalah asosiasi bebas.

Asosiasi bebas memang bagus. Seseorang disuruh duduk dan mengungkapkan apapun yang ada di pikirannya. Metode ini efektif, namun menurut Klein tidak untuk anak. Akhirnya, Klein menggunakan terapi bermain untuk menganalisa klien anak-anak.

Karya Klein ini mendapat tentangan dari Anna Freud, yang meyakini anak nggak bisa dianalisa. Namun Klein berpendapat, analisa sejak kecil boleh dilakukan, untuk meneliti dampak kecemasan terhadap perkembangan ego dan superego pada anak.

 

 

10. Margaret Floy Washburn – Perempuan Peraih Gelar Ph.D Pertama di Psikologi

Image result for margaret floy washburn

Margaret Floy Washburn adalah perempuan pertama dalam sejarah yang meraih gelar Ph.D. di Psikologi. Ia merupakan murid Edward B. Tichener.

Seperti perempuan-perempuan lainnya, karya Washburn mendapat tantangan tersendiri dari pihak akademisi karena masalah gender. Namun ia tetap menjadi peneliti, pengajar, dan penulis yang dihormati.

Fokus penelitian Washburn adalah area kognisi binatang dan proses fisiologis. Washburn kemudian menancapkan pengaruhnya di psikologi komparatif, dan mengembangkan teori yang menyatakan efek gerak tubuh terhadap pikiran.

 

 

11. Christine Ladd-Franklin – Psikolog sekaligus Feminis

Perempuan dalam psikologi
Christine Ladd-Franklin. sumber: wikipedia

Memiliki ibu dan bibi seorang aktivis, mempengaruhi perempuan yang satu ini.

Christine Ladd-Franklin muncul sebagai aktivis melalui jalannya sebagai psikolog. Darah panas dan semangatnya membuat ia menanjak dengan cepat di psikologi. Bahkan, pengalaman sering dihambat karena gender membuat ia menuntut pihak akademisi untuk memberikan hak-hak perempuan.

Ladd-Franklin menekuni banyak bidang: psikologi, matematika, fisika, dan astronomi. Ia pernah pula memprotes Edward Titchener, psikolog terkenal masa itu, karena tidak membolehkan perempuan terlibat dalam penelitiannya.

Kini namanya dikenang karena karya-karyanya dan pengaruhnya yang menyuarakan kesetaraan gender.

 

NAH! Demikian tadi yes perempuan-perempuan yang memberi warna di psikologi.
Semoga ke depannya perempuan mendapat respek yang lebih. Tidak hanya di bidang psikologi, namun juga di berbagai sektor kehidupan.

sumber:

verywell

verywell

wikipedia

One Reply to “11 Perempuan Pengubah Wajah Psikologi”

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)