Pedofilia, Ciri-Cirinya, dan Penanganan Pedofilia

Apa itu pedofilia? Apakah semua pedofilia adalah penjahat kelamin?

Beberapa hari lalu kita dihebohkan dengan adanya grup berisi pedofil.
Pedofilia mendapat cap jelek, karena sering disamakan dengan pelaku pelecehan seksual.

Padahal, nggak semua pedofilia itu jahat.

Tapi, apa sebenarnya pedofilia? Kenapa pedofilia bisa terjadi? Apa ciri-cirinya? Bagaimana penanganan pedofilia?

Semua kita bahas di sini.


Definisi

 

Pedofilia adalah kecenderungan seseorang untuk berhubungan seks dan/atau berfantasi seks dengan anak-anak berusia 13 tahun ke bawah. Pedofilia biasanya terjadi pada laki-laki, dan bisa tertarik pada anak laki-laki atau perempuan.

Sementara, gangguan pedofilik adalah perilaku seks seorang dewasa yang dilakukan kepada anak-anak berusia 13 tahun ke bawah.

Apa bedanya pedofilia dengan gangguan pedofilik?
Pedofilia baru sebatas selera, tapi tidak mengganggu diri sendiri dan anak-anak.

Pedofilia baru mencapai tahap gangguan pedofilik apabila pernah memenuhi hasrat seksnya pada anak-anak, atau ingin, tapi tidak terlampiaskan, sehingga mengalami stres dan malu karena fantasinya.

Apabila seorang pedofil tidak pernah dan tidak ingin melampiaskan hasrat seksnya, maka ia belum disebut gangguan pedofilik.

Seorang pedofilia belum tentu gangguan pedofilik.
Gangguan pedofilik sudah pasti pedofilia.

Sebagian pedofilia ada juga yang ingin berhubungan seks dengan orang dewasa.
Sebagian lain tidak ingin berhubungan seks dengan orang dewasa. Hanya mau sama anak kecil.

Berapa jumlah orang dengan gangguan pedofilik? Tidak diketahui, tapi jumlah terbesar berasal dari pria.
Sekitar 3% pria di dunia memiliki kecenderungan ini.

Di Indonesia, per 2016 telah terjadi setidaknya 512 kasus terkait kejahatan seksual pada anak. Rincinya, 314 kasus berupa pornografi dan cybercrime, 120 kasus kekerasan seks, dan 78 korban kejahatan seksual online (sumber).

Ini baru yang ketauan. Yang nggak terdeteksi, pastinya jauh lebih banyak.

Tentu kamu inget dengan kasus grup facebook pedofil yang kemaren santer di berita.
Ada sekitar 7479 anggota di grup fb pedofil tersebut. Mereka saling berbagi konten pornografi tentang anak, sambil bertukar tips menggaet anak agar mau jadi korban mereka.

Meski demikian, nggak semua pedofil akhirnya melampiaskan hasratnya pada anak-anak. Sebagian pemilik pedofilia menyadari bahwa nafsunya salah, dan memilih tidak melampiaskan hasrat seksualnya tersebut.

Pada kasus ekstrim, pemilik pedofil meminta dokter agar hasrat seksnya dicabut secara kimiawi, agar ia tidak perlu menyakiti siapapun.

 


Gejala

 

Untuk disebut sebagai gangguan pedofilik, ada beberapa kriteria:

  • Fantasi seks berulang.
  • Berniat atau sudah melakukan perilaku seksual dengan anak (13 tahun ke bawah) dalam rentang waktu paling lama 6 bulan sebelum dilakukan diagnosa.
  • Keinginan yang menyebabkan stres signifikan, dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Pelaku setidaknya berusia 16 tahun.
  • Kepribadian cenderung tertutup.
  • Pemalu, sensitif dan rentan depresi. (Wilson dan Cox, 1983)

Beberapa penelitian mengenai pedofilia pada pelaku kekerasan seks menyebut bahwa: para pelaku mengalami beberapa gangguan lain seperti sering cemas, minder, dan gangguan kepribadian.

Belum jelas apakah karakter ini selalu terjadi pada gangguan pedofilik, atau muncul karena mereka dihukum sebagai pelaku pencabulan.

Gangguan pedofilik menyalurkan hasrat seksnya dengan mengintip anak kecil telanjang, melihat mereka membuka pakaian, membukakan pakaian mereka, meraba, melakukan oral seks pada anak, masturbasi, bahkan hingga bersetubuh.

Korbannya bisa tetangga, kerabat, atau anak yang sudah percaya pada pelaku.
Yang dilakukan macem-macem. Ada yang hanya melihat korban membuka pakaian, ada yang pegang-pegang.
Ada juga yang melibatkan kegiatan seks seperti memegang kelamin, oral, bahkan berhubungan badan.

Namun, tidak semua pedofilia lantas boleh dicap sebagai peleceh seksual.
“Gelar” ini baru boleh disematkan apabila si pedofil telah melakukan kontak seks pada anak.

Tidak semua pedofilia menjadi pelaku pelecehan seksual,

Malah, ada juga pelaku pelecehan seksual yang bukan pedofil. Ini bisa terjadi bila seseorang berhasrat seks, tapi karena nggak ada yang mau, akhirnya anak kecil jadi pelampiasan.

Gangguan pedofilik yang telah melakukan pelecehan seksual tidak menganggap yang ia lakukan salah.
Apabila seseorang telah berani melakukan kontak seksual dengan anak, ia menganggap bahwa ini dilakukan atas dasar suka sama suka.

Pedofil menganggap apa yang ia lakukan ke anak bukan tindakan yang berbahaya.
Tidak kasar, tidak ada paksaan, bahkan bersifat “edukatif”.
Mereka berpikir bahwa ini bukanlah pelecehan atau pemerkosaan.

Artinya, gangguan pedofilik menganggap si anak pun menyukai perbuatan yang ia lakukan.

Mereka tidak memaksakan kehendak ke korban.
Semua didasarkan dengan pendekatan, pertemanan, dan perbuatan baik.

Makanya, kalau kamu sempat melihat beberapa screenshot yang beredar, terlihat bahwa orang dengan gangguan pedofilik memandang anak sebagai pasangan.

 

pedofilia, pelaku pedofil, gangguan pedofilia
urutannya salah ehehe~ maaf yak

 

Karena “bermain” dengan lembut, peleceh seksual membantah bahwa yang mereka lakukan adalah salah. Mereka memungkiri fakta bahwa tindakan yang mereka lakukan adalah untuk kepuasan mereka sendiri.

Mengkonsumsi pornografi anak juga merupakan indikator gangguan pedofilik.
Orang dengan gangguan pedofilik sering terobsesi mengumpulkan, menyusun, dan mengkategorikan pornografi anak yang dimiliki.

Pengkategoriannya pun disusun berdasarkan usia, jenis kelamin, gaya, dan fantasi.

Bagi gangguan pedofilik, mengkoleksi pornografi tidak hanya untuk ditonton.
Tapi digunakan sebagai sarana memuaskan, mengisi, dan memperjelas khayalan seks mereka.

Koleksi ini bisa menjadi penanda: seleranya si pedofilik ini yang kayak apa, model anaknya seperti apa, dan mau gaya yang seperti apa.

Psikologi sendiri masih sulit membuat diagnosa paling tepat untuk pedofilia. Orang dengan pedofilia jarang mencari penyembuhan. Selama ini upaya pembuatan diagnosa masih sebatas wawancara, pengamatan, atau rekaman internet. Itupun berasal dari investigasi kriminal, dengan perintah dari kepolisian atau hukum.

 

 


Apa Penyebab Pedofilia?

 

Penyebab pasti pedofilia tidak diketahui. Beberapa penelitian bilang bahwa pedofilia ada yang menurun di keluarga, walaupun belum pasti ini faktor genetik atau karena meniru.

Faktor lain seperti hormon seks dan serotonin yang abnormal juga belum terbukti menjadi faktor berkembangnya pedofilia. Ada juga yang bilang bahwa pedofil terjadi karena si pelaku dulunya pernah jadi korban pelecehan seksual, tapi ini juga belum pasti.

Teori behavior menduga, anak yang dulunya menjadi korban atau pernah menyaksikan perilaku seks abnormal, saat dewasa bisa saja akan meniru perilaku tersebut.

Orang-orang yang terkucil dari kehidupan sosial dan tidak pernah kontak dengan lawan jenis cenderung akan mencari pemuasan dengan jalan berbeda.

Seorang dengan pedofilia menyadari ketertarikannya pada anak-anak saat ia mulai puber. Ketertarikan ini bisa seumur hidup tapi stabil, tapi nafsu orang dengan gangguan pedofilik akan terus meningkat seiring waktu.

Ini terjadi karena kegagalan dalam bersosialisasi, stres, dan keinginan untuk melampiaskan nafsunya.

 


Penanganan

 

Bagaimana cara menyembuhkan pedofilia dan gangguan pedofilik?

Belum ada bukti ilmiah bahwa pedofilia bisa disembuhkan.
Tapi, psikiater dan psikolog saat ini berfokus pada pengendalian hasrat seksnya.

Ada juga sih terapis yang mencoba menyembuhkan pedofilia, tapi belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa efeknya permanen. Menurut Fred Berlin, pedofilia mungkin sulit diubah, namun perilakunya bisa dikontrol.

Saat ini, penelitian-penelitian mengenai pedofilia fokus pada cara menahan nafsu agar anak-anak terselamatkan.

Salah satu caranya adalah dengan obat. Obat yang digunakan misalnya antiandrogen untuk mengurangi nafsu seksual. Selain itu obat-obatan yang biasa digunakan untuk penderita depresi juga diberikan, namun dengan dosis yang lebih tinggi. Tapi, hal ini hanya bisa dilakukan oleh psikiater.

Selain itu ada juga suntik hormon, yang bertujuan untuk mengurangi produksi testosteron, yang akhirnya membuat nafsu seks dan agresivitas jadi berkurang. Pemberian hormon ini biasanya satu paket dengan terapi CBT, sehingga pemilik pedofil dapat mengendalikan perilaku secara sadar.

Selain obat dan hormon, bisa menggunakan terapi perilaku.

Ngomong-ngomong, penelitian menyebut bahwa penanganan kognitif behavioral cukup efektif untuk menangani gangguan pedofilik. Beberapa jenis penanganan ini di antaranya pengkondisian aversif, menunjukkan video korban, kognisi distorsi, pencegahan relaps, dan lain sebagainya.

Pengkondisian aversif itu apa sih?

Pengkondisian aversif adalah menggunakan rangsangan negatif untuk membuat seseorang kapok.
Contohnya, pedofil diminta untuk rileks dan membayangkan berhubungan seks dengan anak-anak. Ketika si pedofil mulai membayangkan, terapis lalu meminta pedofil membayangkan kejadian tidak enak, seperti penisnya tersangkut ritsleting.

Contoh lain adalah pedofil diminta membayangkan berhubungan seks dengan anak-anak, namun kemudian terapis menyemprotkan bau kotoran ke pedofil. Lama-lama, bila pedofil membayangkan seks, ia otomatis teringat dengan bau kotoran.

Untuk menghilangkan fantasi seks pemilik pedofilia tergolong sulit. Tapi, terapis bisa mencoba mengurangi intensitas khayalannya.

Yang paling penting dari semuanya, pemilik pedofilia dan gangguan pedofilik harus menyadari bahwa selera seks mereka salah. Mereka harus menyadari hal tersebut dan harus mau mengubah diri sendiri.

 

sumber:

DSM V
psychologytoday
The Relationship Between Self-Esteem and Deviant Sexual Arousal in Nonfamilial Child Molesters
Paraphilia: Annual Reviews of Child Psychology
Peer commentaries on Schmidt and Green

7 Replies to “Pedofilia, Ciri-Cirinya, dan Penanganan Pedofilia

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)