Parafilia – Definisi, Gejala, dan Penanganannya

parafilia, kelainan preferensi seksual

PERINGATAN: Artikel ini murni untuk edukasi, jadi kalo ada kosakata yang agak kurang senonoh, harap dimaklumi ya. Terus juga artikel ini nggak boleh dipake untuk mendiagnosa sembarangan. Untuk diagnosa tetep dateng ke psikolog ya.

 

Hei!

Di dalam psikologi, salah satu kebutuhan dasar kita sebagai manusia adalah makan, pakaian, dan seks.

Berbagai cara dilakukan sama manusia untuk memenuhi seksnya. Ada cara yang masih normal, dan ada cara yang nggak.

Mungkin kamu pernah kali mendengar istilah kayak BDSM, pedofilia, fetish, atau eksibisionis. Nah, itu tadi termasuk ke dalam kelainan preferensi seksual, alias parafilia.

Dan parafilia itu macem-macem. Ada yang berupa hobi ngintip, suka sama satu anggota tubuh doang, dan ada yang harus pake baju lawan jenis dulu untuk terangsang.

Artikel kali ini akan ngebahas jauh lebih dalem tentang parafilia ini. Termasuk membahas ciri-ciri, definisi, dan penanganannya.

Apa aja ya? Yuk simak!

 

Definisi Parafilia

Sebelum kita bahas lebih lanjut tentang berbagai kelainan preferensi seksual, kita bahas dulu tentang nama besarnya, yaitu parafilia.

Parafilia sendiri adalah kelainan di mana seseorang merasa terangsang ketika berfantasi dan melakukan perilaku seksual yang nggak biasa.

Parafilia sendiri bisa melibatkan pihak/obyek lain, kayak anak kecil, hewan, atau baju. Parafilia juga bisa muncul karena rangsangan terhadap diri sendiri. Dan, meskipun cabang parafilia ada macem-macem, fokus pada perilaku parafilia sendiri spesifik dan susah buat diubah.

Parafilia sendiri lebih banyak keliatan di cowok daripada cewek.

Parafilia sendiri baru bisa dikatakan gangguan kalo si pemilik parafilia tersebut jadi sangat bergantung pada objek seks favoritnya agar bisa terangsang.

 


Jenis-jenis Parafilia

 

1. Fetishisime (Fetish)

Sexual fetishism, atau erotic fetishism, adalah kepuasan seksual yang didapet dari objek yang nggak biasa.

Batasan antara wajar dan nggak wajar adalah benda itu pada orang lain nggak bikin terangsang. Misalnya terangsang sama celana dalem, sama seragam sekolah, atau benda-benda lain. Bisa juga berupa terangsang pada anggota tubuh yang nonkelamin, seperti telapak kaki, ketiak, pokoknya gitu-gitu deh.

Seseorang baru dikatakan punya fetish apabila dia terangsang sama suatu objek, padahal objek itu tidak dikenakan. Misalnya ada seseorang yang mendadak nafsu ketika dia ngeliat jemuran kolor, itu bisa dibilang fetishist.

Kalo objek itu baru menimbulkan keterangsangan saat lagi dipake, itu nggak bisa dibilang fetishist.

Sebagian pemilik fetish udah merasa terangsang cuma dengan melihat gambar objek favoritnya. Sebagian lain lebih suka objek aslinya. Biasanya fetish mendapatkan kepuasan seks ketika memegang, mengusap, menjilat, atau mencium benda atau anggota tubuh yang dia suka.

Fetishisme sendiri bisa dibilang wajar. Tapi pada batasan tertentu, fetishisme bisa dikatakan gangguan.

Nah, fethisisme baru dibilang gangguan ketika:

  • Mengganggu fungsi sosial (mencuri objek tersebut)
  • Mengganggu fungsi seksual (ketika tidak bisa terangsang tanpa benda fetishnya).
  • Fetishnya bikin stres kalo nggak dilampiaskan.

Bisa juga disebut gangguan kalo seseorang cuma terangsang pada objek itu saja, dan nggak terangsang pada anggota tubuh intim lain yang biasanya menimbulkan keterangsangan. Misalnya cuma suka sama telapak kaki doang, tapi bagian tubuh lain kagak. Nah itu nggak wajar.

Fetish dan gangguan fetish lebih banyak terjadi pada cowok, dan penyebabnya juga kurang jelas.

 

Gejala Fetish

Termasuk dalam ciri-ciri fetish adalah:

  • Selama periode minimal 6 bulan, kamu punya fantasi, keinginan, atau perilaku seksual yang melibatkan benda mati atau pada satu anggota tubuh tertentu.
  • Pada gangguan fetish, fantasi, keinginan seksual, atau perilaku seksual ini menyebabkan stres. Dapat juga menimbulkan gangguan sosial, berpikir, dan bersikap.

Penyebab Kelainan Fetish

Gangguan fetish (fetishistic disorder) biasanya sudah keliatan sejak puber. Tapi ada juga yang baru muncul waktu dewasa.

Sebagian pakar meyakini bahwa fetish mulai terlihat sejak masa perkembangan awal, akibat terjadi gangguan pada fase perkembangan seksual di lima tahun pertama kehidupan.

Sebagian pakar lain bilang kalo fetishism muncul karena benda tersebut tanpa sadar sering keliatan saat melakukan seks/masturbasi, sehingga waktu kita melihat benda tersebut, muncul keinginan untuk memuaskan nafsu seks.

Teori belajar behavioristik menyebut bahwa anak yang menjadi korban atau pernah melihat perilaku-perilaku tersebut bisa belajar meniru dan mengikuti perilaku tersebut.

Teori kompensasi menyebut bahwa seseorang yang tidak mendapatkan kontak seksual yang normal mungkin saja mencari pemenuhan lain dengan cara yang kurang wajar, ya termasuk di antaranya fetish ini.

Pada kasus yang agak langka, para pelaku fetish dulunya pernah memiliki keraguan terhadap maskulinitas, potensi, takut ditolak, serta pernah mengalami rasa malu yang dalam.

Mungkin saja dengan perbuatan fetishistik, individu tersebut berupaya memenuhi kebutuhan seksualnya, sekalian membentengi dirinya dari keperihan masa lalu.

 

Penanganan Fetish

Fetish yang masih bersifat fantasi, meski sudah termasuk kelainan, adalah biasa. Kamu nggak perlu takut. Fetih baru dikatakan gangguan bila sudah menjadi gangguan dan mengganggu kemampuan seseorang untuk berfungsi secara normal di kehidupan sehari-harinya.

Bila ingin disembuhkan, maka gangguan fetish perlu secara konsisten melawan keinginannya, yang biasanya intensitas dan frekuensinya naik turun. Bisa dibilang, penanganan paling efektif perlu waktu panjang.

Pendekatan yang dilakukan biasanya sih terapi psikologi (CBT, hipnosis, serta psikoanalisa). Kalo ke psikiater, mungkin diresepin obat semacam SSRI dan terapi deprivasi androgen.

Pengobatan yang diresepkan berfungsi untuk menurunkan hasrat seksual, sehingga mengurangi kecenderungan ngelamun jorok atau fantasi seksual.

Ada juga yang pakai antidepresan kayak Prozac, yang memang bisa mengurangi hasrat seksual, tapi kurang efektif dalam menanggulangi fantasi seksual.

Kombinasi terapi obat dan dengan terapi psikologis bisa sangat efektif.

 

 


2. Transvestisisme Fetishistik

Fetishistic transvestism atau transvestisisme fetishistik adalah kelainan preferensi seksual yang suka berfantasi atau berkeinginan memake baju lawan jenisnya. Menggunakan baju lawan jenis ini membangkitkan hasrat seksual mereka, yang biasanya dilakukan saat kontak seksual atau masturbasi.

Transvestisisme fetishistik biasanya dimulai sejak kanak-kanak atau masa dewasa awal. Kalo baru muncul pada masa dewasa awal, biasanya transvestis ini terjadi bersama dengan retardasi mental. Kelainan ini biasanya terjadi pada pria.

Bila memasuki masa lansia, pemilik kelainan yang dulunya sering mencoba menggunakan baju lawan jenis untuk membangkitkan rangsangan seksualnya mungkin akan mengembangkan disforia gender. Ada juga yang akhirnya mengubah tubuh mereka dengan terapi hormon atau operasi ganti kelamin.

Dampak transvestisisme pada orang dewasa gimana? Nah, dampaknya biasanya balik lagi ke reaksi pasangannya, nerima apa nggak.

Misalnya pasangannya tau kalo dia suka pake pakaian lawan jenis, lalu menerima apa adanya, maka transvestisisme ini nggak masalah. Malah kalo cross-dressing ini boleh dilakukan saat berhubungan seksual, hubungan antara si pemilik transvestisisme dengan pasangan akan jadi baik.

Tapi kalo partner nggak setuju, si transvestis ini bisa merasa cemas, malu, merasa bersalah, bahkan hingga depresi. Untuk menutupi perasaan ini, para pemilik transvestis mungkin akan diam-diam membongkar pakaian pasangannya dan memakainya pas si pasangan lagi nggak ada di rumah.

 

Transgender, termasuk transvestisisme kah?

Misalnya ada cewek yang lebih nyaman ke mana-mana dengan dandanan cowok. Atau seorang cowok yang kemudian jadi waria. Apakah ini juga termasuk transvestisisme?

Ya balik lagi ke definisi utama dari transvestisisme fetishistik, yaitu adalah mencari kepuasan seksual. Para transvestisisme melakukan cross-dressing bukan karena itu identitas sejati mereka, tapi karena dengan melakukannya mereka mendapatkan kepuasan seksual.

Ini beda dengan transgender, yang menggunakan pakaian lawan jenis karena mereka merasa itulah identitas sejati mereka.

Ada juga orang yang make pakaian lawan jenis bukan untuk mendapat kepuasan seksual atau identitas diri. Mereka melakukannya untuk mengurangi kecemasan, untuk bersantai, atau untuk mengeksplorasi rasa ingin tahu terhadap sisi lain dirinya. Jadi kalo ada orang yang make pakaian lawan jenis, bukan berarti transvestisisme ya.

Penyebab Transvestisme Fetishistik

Jadi penyebab transvestisisme fetishistik ini apa sih?

Penyebabnya masih belum jelas. Pada pria, mereka yang memiliki transvestisisme biasanya mulai merasakan sejak kecil. Sekitar tiga persen pria dan 0.4% perempuan dilaporkan pernah sekali mengalami sensasi fetish transvestik.

 

Gejala Transvestisme Fetishistik

Seseorang mungkin memiliki kecenderungan transvestisisme apabila:

  • Merasakan keterangsangan yang intens dan berulang saat make baju lawan jenis
  • Berfantasi menggunakan pakaian lawan jenis
  • Disebut gangguan bila mengalami rasa tertekan dan nggak bisa melakukan fungsi sosial dan bekerja dengan baik
  • Mengalami kondisi ini selama 6 bulan atau lebih

 

Penanganan Transvestisme Fetishistik

Di luar negeri sih transvestisisme bisa ditangani dengan SSRI, yang memblokir transmisi serotonergik ke presynaptic terminal. Ini bisa mengurangi perilaku terkait fetishisme dan parafilia.

Untuk psikoterapi sendiri ada macem-macem. Bisa diawali dengan ngobrol ala psikoanalisa, terapi support, CBT, dan pengkondisian a la behavioristik juga bisa.

Tapi biasanya orang dengan transvestis ini jarang sih yang nyari penanganan medis. Kalopun ada, biasanya karena tekanan dari pasangan, sosial, atau karena takut sewaktu-waktu bakal ketauan. Bisa juga karena disuruh oleh pihak pengadilan, kalo misalnya kena kasus terkait transvestismenya.

 


3. Eksibisionisme / Exhibitionism

Kelainan exhibitionism atau eksibisionisme adalah sebuah kelainan seksual yang ditandai dengan keinginan, fantasi, atau perilaku yang memperlihat kelamin pada orang tanpa seijin orang tersebut, biasanya ke orang asing.

Bahasa gampangnya, kecenderungan untuk ngasi liat kelaminnya ke orang lain. Inget ya, kelamin.

Kelainan eksibisionis punya beberapa subtipe, dan pembagian ini dibedakan berdasarkan usia sasaran si eksibisionis tersebut. Misalnya kecenderungannya ke siapa nih; anak kecil, dewasa, atau keduanya.

Sebagian pemilik eksibisionis mungkin berusaha menahan keinginan mereka untuk mamerin kelamin ke orang lain. Ini mungkin akan bikin stres. Kalo kemudian mereka akhirnya melakukannya, dan melakukannya berulang-ulang, maka ini udah masuk gangguan eksibisionis.

Latar belakang eksibisionis memamerkan kelamin bukan untuk mengajak targetnya melakukan hubungan seksual. Uniknya, seorang eksibisionis justru terangsang karena si target panik, ngeri, atau ketakutan. Jadi rangsangan seksualnya baru dapet kalo si target merespon.

 

Gejala Exhibitionist

Seseorang bisa dibilang memiliki kecenderungan eksibisionis apabila:

  • Selama enam bulan terakhir, orang itu ingin, berkhayal, dan berperilaku memamerkan kelamin ke orang lain.
  • Memamerkan kelamin ini ditargetkan pada orang yang tak dikenal, di tempat-tempat publik.
  • Baru disebut gangguan kalo keinginan ini nggak bisa ditahan, membuat stres si pemilik eksibisionis, dan meresahkan publik.

 

Gejala dari kondisi ini biasanya terjadi sejak masa dewasa awal. Kecenderungan eksibisionis ini biasanya semakin berkurang seiring bertambahnya usia.

Eksibisionis juga bisa dideskripsikan sebagai keinginan kuat seseorang untuk ditonton saat melakukan aktivitas seksual. Eksibisionis semacam ini targetnya adalah orang yang memang pengen ngeliat, jadi bukan buat ngagetin atau nakut-nakutin orang.

Orang yang punya kecenderungan eksibisionis jenis ini mungkin aja membuat film porno atau penghibur yang arahnya cenderung sensual. Kalo eksibisionis jenis ini biasanya jarang mengalami konflik batin, sehingga jarang yang akhirnya jadi stres.

 

Penyebab Exhibitionist

Apa yang menyebabkan seseorang jadi eksib?

Pada pria, kecenderungan eksibisionis terjadi karena gangguan kepribadian antisosial, penyalahgunaan alkohol, atau kecenderungan pedofilia.

Faktor lain yang jadi penyebab eksibisionis adalah pelecehan seksual dan emosional yang dirasakan waktu kecil. Perilaku eksibisionis kemudian dilakukan akibat proses meniru.

Psikoanalisa menduga eksibisionis pada pria terjadi karena ketakutan masa kecil akan menghilangnya penis. Memamerkan penis kemudian menjadi perbuatan yang berasal dari alam bawah sadar, sebagai upaya untuk menunjukkan pada dunia bahwa dirinya baik-baik saja (Rosenhan dan Seligman).

 

Penanganan Exhibitionist

Terus gimana caranya menangani eksibisionis?

Orang dengan kelainan eksibisionis biasanya nggak mencari penanganan sendiri sih. Penanganan biasanya baru dilakukan ketika dia ketangkep sama pihak berwenang.

Penanganan yang dilakukan bisa berupa terapi psikologis dan terapi obat.

Penelitian menunjukkan kalo terapi behavioral efektif dalam menangani eksibisionis. Terapi yang biasanya dilakukan adalah CBT, yang membantu individu mengidentifikasi pemicu eksibisionisnya, sekaligus menangani pemicu tersebut dalam cara yang lebih aman dan sehat.

Pendekatan psikoterapi lainnya termasuk pelatihan relaksasi, pelatihan empati, dan pelatihan skill coping.

Kalo terapi obat, mungkin yang diberikan adalah obat yang menghambat hormon seksual, yang mengurangi keinginan seksual.

 

Exhibitionist Flasher

Cara Menghadapi Eksibisionis

Anggaplah kamu lagi di kereta malem-malem, terus di gerbong cuma ada kamu dan seseorang yang ngeliatin kamu. Mendadak, dia mulai nurunin resliting dan ngasih liat kearifan lokalnya. Apa yang harus kamu lakukan?

Kalo sudah gitu, cobalah untuk meninggalkan lokasi dengan cepat, tapi usahain ekspresi tetep tenang.

Kalopun mau bereaksi, kasi reaksi jijik, menganggap remeh, pokoknya kasi reaksi yang merendahkan. Lalu buka hape, telepon pak polisi.

Hindari tetep bertahan, menyerang, atau panik ketakutan. Itu bikin dia puas lo. Kalo dia mendekat, segera melawan dengan sekuat tenanga.

Orang-orang dengan gangguan eksibisionis menginginkan reaksi. Mereka pengen liat kamu panik, takut, dan kaget. Jangan kasi itu ke mereka.

4. Voyeurisme

Voyeurisme merujuk pada keinginan dan perilaku mencari kepuasan seksual dengan cara ngintip orang lain.

Target yang diintip adalah orang yang lagi membuka pakaian, mandi, atau lagi beraktivitas seksual. Kalo dulu voyeurisme dilakukan dengan ngintip langsung, sekarang direkam pake hape yang disimpen di tempat tersembunyi, seperti mas-mas berikut ini.

Termasuk bagian lain dari voyeurisme adalah munculnya rasa terangsang saat mengintip seseorang ganti baju, buang air, atau menguping suara orang lain yang sedang berhubungan seksual. Si pelaku ini biasanya melakukan masturbasi sambil mengintip/menguping, tapi nggak tertarik buat bener-bener melakukan hubungan seks ke orang yang diintip.

 

Gejala Voyeurisme

Untuk bisa disebut gangguan voyeuristik, seseorang harus ngerasain keinginan ini selama enam bulan lebih.

Selain itu, perilaku ini membuat si pemilik kelainan ngerasa stres, nggak berfungsi secara optimal di lingkungan sosial maupun lingkungan kerja, terus juga ngasi dampak jelek ke berbagai aspek kehidupan lainnya.

Kriteria gangguan lainnya adalah pelaku minimal berusia 18 tahun, dan perilaku ini dilakukan tanpa sepengetahuan si orang yang diintip. Kebanyakan pelaku voyeuristik ini adalah cowok.

 

Penyebab Voyeurisme

Tapi sebenernya apa sih yang bikin orang suka ngintip?

Penyebab spesifik yang bener-bener pasti sih nggak ada. Tapi ada beberapa faktor yang cenderung ada pada voyeuris, termasuk penyalahgunaan obat-obatan dan hiperseksual.

Sejumlah peneliti bilang gini. Kalo ada kesempatan, keinginan untuk ngintip pada orang normal pun sebenernya ada. Cuma, orang normal takut buat ngelakuinnya, soalnya takut ketauan dan takut ketangkep.

Gangguan voyeuristik sendiri bisa aja terjadi karena pernah sekali dua kali secara nggak sengaja ngeliat orang tanpa pakaian, atau pernah ngeliat orang melakukan hubungan seksual. Tapi karena ngerasain sensasi unik akhirnya diterusin sampe jadi patologis.

Pelaku voyeuristik biasanya punya level testosteron berlebih. Bisa juga dibarengin dengan depresi, gangguan kepribadian antisosial, sama gangguan kecemasan.

 

Penanganan Voyeurisme

Pelaku voyeurisme jarang sih yang dateng ke psikolog karena kesadaran sendiri. Biasanya karena disuruh orang tua, pasangan, atau karena perintah dari pengadilan. Penanganan untuk voyeuristik berupa psikoterapi, terapi support, dan pengobatan.

Terapi CBT juga bisa membantu si pelaku untuk mengontrol keinginan ngintip, sekaligus mencarikan alternatif pembangkit gairah seks yang bener dan sehat.

Antidepresan juga bisa digunakan untuk menyeimbangkan senyawa kimia di otak dan mengurangi perilaku impulsif. Ada juga obat anti-androgenik yang bisa menekan gairah seksual.

 

Nonton bokep itu voyeurisme bukan sih?

Abis baca penjelasan tadi kamu mungkin mikir: nonton film atau video porno termasuk voyeurisme apa bukan sih?

Jawabannya: bukan. Soalnya walaupun punya kesamaan di bagian melihat ketelanjangan dan ngeliat orang berhubungan seksual, tapi subyek dari video porno sadar penuh bahwa dia lagi direkam. Ini menghilangkan elemen utama dari voyeurisme: korban nggak sadar lagi diliat/diintip.

Selain itu, sensasi terangsang yang didapat para pelaku voyeurisme sebenernya nggak berasal dari orang yang diintip, tapi dari ketegangan aktivitas ngintip itu sendiri.

 


5. Pedofilia

Pedofilia adalah keinginan seseorang untuk berhubungan seks dan/atau berfantasi seks dengan anak-anak berusia 13 tahun ke bawah. Pedofilia biasanya terjadi pada laki-laki, dan bisa tertarik pada anak laki-laki atau perempuan.

Beberapa pedofil ada yang tertarik ke anak laki atau perempuan. Sebagian lagi tertarik hanya pada anak, tapi ada juga yang masih mau sama orang dewasa.

Ilmu kejiwaan mendefinisikan pedofilia sebagai gangguan kejiwaan, tapi oleh sistem hukum di Indonesia, tindakan pedofilia yang “dipraktekkan” sudah termasuk tindak kriminal.

 

Gejala Pedofilia

Terus, apa aja gejala-gejala pedofilia?

Gejala utama pedofilia tentunya adalah keinginan untuk beraktivitas seksual sama anak di bawah umur.

Pengadilan biasanya mendefinisikan “bawah umur” sebagai di bawah 18 taun, tapi kalo dari definisi yang biasa dipake ilmu kejiwaan, bawah umur itu anak yang belum puber, alias 13 taun ke bawah.

Oh iya, perlu kita tegasin dulu kalo pedofilia sama gangguan pedofilik itu agak beda.

Kalo pedofilia itu baru keinginan dan selera aja. Jadi belum dilakuin. Mereka mungkin aja sadar kalo melampiaskan hasratnya berarti melanggar hukum, jadi nggak dilakuin.

Sementaraaaa kalo gangguan pedofilik itu adalah pedofilia yang akhirnya dilakuin. Mereka melampiaskan hasratnya ke anak kecil. Atau menonton dan menyimpan pornografi anak.

Kriteria lain dari gangguan pedofilik adalah:

  • Fantasi seksual yang muncul terasa intens dan berkali-kali, sudah terjadi selama minimal 6 bulan.
  • Keinginan seksual ini udah dilampiaskan.
  • Atau mungkin nggak dilampiaskan, tapi kemudian sifatnya jadi berubah. Misalnya jadi uring-uringan, kerja gak bener, murung, menyendiri, gitu-gitu.
  • Pemilik gangguan harus berusia minimal 16 tahun. Kalo ternyata pemilik gangguan memang 16 tahun, jarak umur si pemilik gangguan sama korbannya minimal 5 tahun. Jadi kalo umur 16, usia korbannya seenggaknya 11 taun. Kalo umur 16 sama umur 13 atau 12, bukan pedofil.
  • Terus kalo misalnya umur 17 nggangguin anak umur 14 taun gimana? Ya kecenderungannya sih gangguan pedofilik.

Terus diagnosa gangguan pedofilik perlu dispesifikasi lagi. Apakah si pelaku ini cuma tertarik sama anak, terus jenis kelamin apa yang jadi korban, dan apakah kecenderungan seksual ini hanya dilakukan pada yang sedarah (masih ada hubungan keluarga) atau nggak.

Perlu diingat, syarat utama diagnosa gangguan pedofilik adalah 1) sudah pernah melampiaskan dan 2) stres karena nggak melampiaskan. Kalo dua syarat ini belum terpenuhi, maka sebutannya masih pedofilia doang.

Persentase orang dengan gangguan pedofilik sendiri adalah sekitar 3-5%. Sementara korban utama biasanya tetangga atau kerabat dekat.

Jenis aktivitas yang dilakukan sendiri bervariasi; ada yang sekedar ngeliatin anak kecil, ada yang membuka bajunya, ada yang megang-megang. Yang parah udah pasti melakukan hubungan seksual, berupa oral atau genital.

Tindakan yang jarang ketauan biasanya berupa nyimpen video porno, merekam, atau browsing-browsing di dark web.

Diagnosa pedofil maupun gangguan pedofilik ini tergolong susah. Soalnya, mereka yang punya kondisi ini jarang mencari bantuan sendiri. Biasanya kalopun mencari bantuan atau penanganan, itu karena udah ketauan keluarga atau karena perintah dari pengadilan.

Wawancara, pengamatan, dan rekam jekak di internet juga bisa sih dipake untuk diagnosa pedofilia ini. Misalnya ya itu tadi, sering mengunjungi situs pornografi anak atau di hape/komputernya ada video porno anak.

Yang unik dari gangguan pedofilik ini adalah mereka kadang bikin forum di internet. Kamu mungkin inget dulu ada berita tentang grup loli, yang berbagi foto/video/pengalaman seks sama anak kecil. Bahkan sampe diajarin cara menggaet anak kecil biar mau diapa-apain.

Terus juga pemilik gangguan pedofilik ini sering punya gangguan kecemasan, depresi, atau mungkin juga gangguan mood. Bisa juga peminum alkohol atau obat-obatan.

Penyebab Pedofilia

Penyebab pedofilia sendiri belum jelas. Ada beberapa bukti yang menyatakan kalo beberapa pedofilia terjadi turun temurun, tapi belum jelas itu genetik apa perilaku belajar.

Ada juga faktor lain, kayak hormon seks dan serotonin yang nggak normal, tapi belum ada bukti kalo itu mempengaruhi munculnya pedofilia.

Teori lain menyebut kalo pelaku pedofilia bisa aja dulunya pernah diapa-apain sama orang dewasa. Beberapa berita membenarkan teori ini, tapi bukti sahih yang tak terbantahkannya belum ada.

Orang dengan pedofilia biasanya mulai sadar kesukaannya sama anak kecil saat usia puber. Pedofilia sendiri bisa menjadi kondisi yang stabil seumur hidup, tapi kalo gangguan pedofilik dia intensitasnya naik turun.

 

Penanganan Pedofilia

Penanganan pedofilia berbentuk terapi. Bisa terapi obat, bisa terapi psikologi.

Kalo untuk obat, yang pertama ada terapi deprivasi androgen. Jadi nanti orang dengan pedofilia akan dikasi obat yang mengurangi hormon testosteron di tubuhnya. Kalo bahasa gampangnya sih terapi deprivasi androgen ini kayak kastrasi kimia.

Pengobatan ini bisa memakan waktu antara tiga sampe sepuluh bulan. Semua punya efek samping, dan rata-rata susah dicegah.

Terus yang kedua ada terapi SSRIs, atau Spesific Serotonin ReUptake Inhibitors. SSRIs bisa diresepin untuk penanganan gangguan berbasis OCD, yang salah satunya adalah gangguan pedofilik. SSRI ini juga dipake untuk menurunkan libido.

Sementara untuk terapi psikologis, yang biasa dipake adalah terapi perilaku kognitif alias CBT. Ini cukup sering dipake di Indonesia.

Termasuk dalam CBT adalah pengkondisian aversif, menanamkan empati terhadap korban pelecehan, serta terapi asertif. Bisa juga berupa terapi mencegah bangkitnya hasrat seks pedofil.

Biasanya terapi semacam ini diimbangi juga dengan pemonitoran dari keluarga dan kerabat serta nanti diajarin cara mengelola waktu, jadi waktu kosongnya nggak dipake buat ngelamun atau ngeliatin video porno.

Upaya terapi ini akan makan waktu lama, mungkin seumur hidup. Soalnya pedofilia ini nggak bisa dihilangin sama sekali, cuma bisa dikendaliin biar nggak liar.

 

Pedofilia, Gangguan Pedofilik, sama Predator Anak, Apa Bedanya?

Kadang kalo kita ngeliat orang melakukan pelecehan seksual ke anak, kita dengan cepet bilang kalo itu pedofil. Padahal nggak selalu lo.

Seseorang yang melakukan pelecehan seksual ke anak, belum bisa disebut pedofil. Balik lagi ke motifnya. Bisa aja dia ngelakuin pelecehan seksual ke anak emang karena gak ada penyaluran lain. Bisa aja dia masih berselera sama yang sebayanya, cuma gak ada yang mau sama dia. Atau dianya nggak berani.

Untuk mereka yang seperti ini, mungkin lebih tepat kalo disebut predator anak. Predator anak bisa aja emang dasarnya gangguan pedofil, atau orang yang hasrat seksualnya nggak mampu disalurkan ke yang sebaya.

Tapi kalo baru pedofilia, sekali lagi, belum tentu melampiaskan hasratnya ke anak. Mereka ada juga yang masih menahan diri, karena itu melanggar kepercayaan, norma, dan hukum yang berlaku.

Kami udah bahas lumayan banyak di sini. Kamu bisa cek di sini yha~

 

6. Sadomasokisme: Sexual Sadism Disorder + Sexual Masochism Disorder

Sadomasokisme, atau orang sering bilang sadomasokis, adalah tindakan memberi dan menerima rasa sakit sebagai pemuas hasrat seksual, bisa dirinya sendiri, bisa juga bersama orang lain.

Biasanya istilah sadomasokisme di masyarakat dipaduin lagi dalam satu spektrum: BDSM; alias bondage, discipline/domination, sadism, dan masochism.

Sadomasokisme sendiri kadang ada di dalem satu orang, tapi yang lebih banyak adalah cuma sadis doang atau masokis doang. Sadomasokisme sendiri di psikologi lebih ke aktivitasnya ya, jadi bukan gangguannya.

Kalo gangguannya dibagi dua, antara gangguan seksual sadisme dan gangguan seksual masokis. Di sini penjelasannya kita bagi dua:

 

Sexual Sadism Disorder

Sexual sadism disorder, atau gangguan seksual sadisme, merujuk pada keinginan atau fantasi untuk ngasi rasa sakit, melecehkan, atau memberikan rasa takut pada orang lain sebagai cara melampiaskan hasrat seksnya.

Sadisme ini bisa dilakukan dengan cara memasung (pake borgol, tali, rantai, semacemnya), bisa juga dengan mengurung si subyek seksual, menggigit, menampar, mencambuk,  atau memukul.

Kalo seseorang melakukan praktik ini secara kasar dan berlebih, tanpa persetujuan dari pasangannya, dan terjadi minimal tiga kali berturut-turut, maka diagnosa gangguan seksual sadisme bisa ditegakkan.

Tapiii kalo ini baru sebatas ketertarikan, alias nggak dipraktekkin, dan nggak bikin dia stres, maka ini belum termasuk gangguan.

 

Gejala Sexual Sadism Behavior

Untuk bisa disebut sebagai gangguan seksual sadistik, seseorang harus merasakan keinginan yang intens dan berulang untuk menyakiti orang, baik secara mental maupun fisik.

Keinginan ini harus muncul seenggaknya enam bulan, terus juga menyebabkan stres atau disfungsi di kerjaan dan kehidupan sosialnya.

Kalo misalkan si sadistis ini ternyata punya gejala lain yang mirip dengan antisosial kayak impulsif, pembohong, nggak merasa menyesal, dan nggak berempati, maka urusan sadistis ini jadi semakin sulit buat dikontrol.

 

Sexual Masochism Disorder

Sexual masochism disorder, atau gangguan seksual masokis, merujuk pada keinginan untuk dipukul, dilecehkan, atau disakiti, demi mendapat kepuasan seksual.

Gangguan ini baru bisa ditegakkan kalo si masokis sudah mengalami masalah sosial, fisik, dan psikologis. Tapi kalo belum, maka belum bisa dibilang gangguan seksual masokisme. Oh iya, baru bisa dibilang gangguan, kalo dia merasa cemas, malu, bersalah, atau sering memikirkan untuk disakiti dan dipermalukan saat melakukan hubungan seks.

Kalo seseorang ini punya ketertarikan terhadap masokis tapi baru sebates minat doang, dan dia santai aja, ini belum termasuk gangguan.

Adalagi cabangnya masokis yang lebih spesifik. Namanya asphyxiophilia. Ini adalah keterangsangan seksual yang didapet kalo dia dicekik atau dibuat susah nafas.

Sebagian asphyxiophilia ada yang melakukannya bersama pasangan, ada juga yang melakukannya sendiri. Kadang ini menyebabkan kecelakaan yang berujung fatal.

 

Gejala Sexual Masochism Disorder

Untuk mendapatkan diagnosa gangguan seksual masokis, seseorang harus merasakan keinginan terkait masokis yang intens dan terus menerus. Terus ini juga harus terjadi selama minimal enam bulan, dan menyebabkan masalah di kehidupan sosial dan kerjaannya.

Jadi diagnosa masokis baru bisa ditegakkan kalo keinginan untuk disakiti dan dilecehkan ini udah muncul terus menerus selama minimal enam bulan.

Penyebab Sadomasokis

Oke, kita udah bahas seputar sadistis dan masokis.

Sebenernya apa sih yang bikin seseorang menjadi sadistis dan masokis? Apa penyebab psikologis seseorang untuk tertarik dengan sadomasokisme?

Ada beberapa kemungkinan sih.

Sigmund Freud mengajukan pendapat bahwa sadomasokisme berakar pada perkembangan psikologis yang abnormal di masa kecil.

Seseorang yang menikmati bertindak sadistis secara seksual melakukannya karena dia suka kekuaasaan dan kontrol. Untuk para seksual sadistis, nggak ada yang lebih menggairahkan dibanding seks yang dominan dan otoriter.

Ada juga psikolog lain yang menduga bahwa sadistis dilakukan sebagai upayanya melampiaskan rasa sakit, trauma, atau rasa malu di masa lalu.

Di sisi lain, masokis menikmati perannya yang submisif dan rela. Masokis disakiti murni atas keinginan dan kenikmatannya sendiri. Sebagian psikolog ada yang bilang bahwa peran submisif ini muncul karena rasa tergantung, aman, dan terlindungi, yang didapat waktu kecil.

 

Penanganan Sadism dan Masochism Personality Disorder

Penanganan gangguan seksual sadisme dan masokisme melibatkan psikoterapi dan obat.

Kalo psikoterapi, tujuannya adalah untuk membongkar sebab terpendam kenapa keinginan menyakiti/disakiti ini muncul. Kalo udah dapet, nanti keinginan ini akan coba dikontrol dengan terapi kognitif.

Terus juga, nanti selama proses terapi, klien akan diajarkan bahwa tindakan mereka bisa berbahaya bagi diri mereka sendiri dan juga orang lain.

Selain itu bisa juga dilakukan terapi perilaku kognitif atau CBT, yang bisa membantu seseorang untuk mengelola dan mengalihkan keinginan seksualnya dengan cara yang lebih sehat.

Psikoterapi lain yang bisa dilakukan untuk sadomasokis adalah terapi aversi, dan desensitisasi.

Terapi aversi dan desensitisasi ini membantu memisahkan antara imajinasi dengan hasrat seksnya; jadi kalo dia ngebayangin atau berfantasi terkait sadomasokis, keterangsangan itu nggak muncul lagi.

Kalo terapinya berupa obat, bisa dateng ke psikiater. Biasanya tujuan terapinya adalah mengurangi kadar testosteron di dalam tubuh, jadi frekuensi terangsangnya berkurang. Atau dikasi obat antidepresan. Kalo ini buat mengurangi hasrat seks.

 

Selain dari macem-macem parafilia di atas, masi banyak lagi parafilia lain kayak zoophilia (keterangsangan terhadap binatang), urophilia dan corophilia (terangsang terhadap urin dan kotoran), pyrophilia (keterangsangan terhadap api dan semacamnya), dan macem-macem deh.

 


Kenapa Parafilia Bisa Muncul?

Oke, kenapa sih parafilia bisa muncul? Kenapa seseorang bisa mengalami parafilia tertentu?

Penyebab utama yang super pasti emang belum jelas, tapi para ahli meyakini ada tiga faktor yang punya peran besar.

 

1. Dari sisi genetik

Beberapa penelitian menemukan kalo parafilia bisa aja muncul karena perkembangan neuron selama di dalam kandungan.

Sebuah penelitian di tahun 2008 mencoba menganalisa fantasi seksual dari 200 pria heteroseks. Mereka menggunakan kuesioner namanya Wilson Sex Fantasy Questionnaire. Habis itu data diri mereka, kayak jumlah sodara, dan struktur otak mereka juga dipelajari.

Dari berbagai faktor tersebut, ditemukan bahwa fungsi salah satu belahan otak yang terganggu punya pengaruh dalam munculnya parafilia.

 

2. Dari sisi psikologi behavioristik

Suatu keterangsangan bisa aja terjadi karena kebiasaan yang dibentuk tanpa sadar.

Di buku Psikologi Abnormal Jilid 2 punya Nevid, Rathus, dan Greene, disebut kalo ketika kamu melakukan rangsangan seksual, dan ada satu benda di dekatmu, bisa aja benda itu akan mengingatkan kamu tentang nikmatnya rangsangan seksual.

Misalnya gini. Katakanlah seseorang melakukan masturbasi secara sembunyi-sembunyi di suatu tempat. Lalu di tempat tersebut ada suatu benda, katakanlah celana dalam dengan tekstur tertentu.

Karena sering masturbasi di situ dan sering ngeliat celana dalam itu, bisa aja lo lama-lama kamu jadi terangsang cukup dengan ngeliat celana dalam yang mirip dengan itu.

 

3. Dari sisi psikoanalisa

Psikoanalisa menjelaskan bahwa lima tahun pertama kehidupan adalah fase krusial. Ada fase oral, anal, falik, laten, dan genital.

Freud berpendapat, parafilia terjadi karena ada gangguan di masa perkembangan fase falik, dan parafilia muncul sebagai akibat dari gangguan itu.

Contohnya sadomasokis. Freud bilang, waktu kecil cowok punya ketakutan akan kastrasi (anunya dipotong). Maka saat dewasa, bisa aja ketakutan ini dibalaskan dengan melakukan tindakan yang mendominasi atau menyakiti. Ini untuk menegaskan bahwa dialah pemilik penis tersebut sepenuhnya.

Pedofilia juga. Banyak pelaku pedofilia yang waktu kecilnya pernah menjadi korban pelecehan seksual. Saat besar, ia justru ikut melakukan tindakan pedofilia, karena alam bawah sadarnya berupaya melawan trauma tersebut.

Tapi belum tentu sih korban pelecehan seksual jadi pedofil. Tergantung gimana lingkungan ngasih support dan mengobati traumanya juga.

 


Beberapa Hal yang Perlu Diketahui dari Parafilia

 

1. Parafilia ≠ Gangguan Parafilia

DSM 5 memberikan perbedaan antara parafilia dan gangguan parafilia.

Orang yang punya parafilia, selama dia nggak mendatangkan bahaya ke diri sendiri maupun ke orang lain, maka dia belum disebut punya gangguan.

Katakanlah kamu pengen berhubungan seksual dengan umang-umang. Tapi kamu sadar kalo itu melanggar norma sosial. Kamu tau itu nggak wajar, jadi kamu meredam keinginanmu itu. Maka ini belum bisa dibilang gangguan parafilia. Ini baru parafilia aja.

Ketika kamu cuma sampe sekedar berfantasi, maka ini disebut parafilia. Aneh sih, tapi bukan gangguan.

Kalo misalnya kamu nggak sanggup meredam niatmu, kamu jadi stres karena nafsumu nggak tertahankan, dan akhirnya kamu memperkosa umang-umang, nah itu baru gangguan parafilia.

Hal ini juga terjadi di pedofilia. Nggak semua pedofil akhirnya melakukan pelecehan seksual. Pasti ada di luar sana pedofilia yang menahan diri, karena dia tau berhubungan seks dengan anak kecil melanggar hukum dan moral.

Ada kok pedofilia yang akhirnya menikah, punya anak, dan hidup bahagia.

Namun ketika seorang pedofilia nggak sanggup menahan diri, menyimpan video-video seks anak kecil, dan mencoba berhubungan dengan anak kecil, maka ini bisa dibilang gangguan pedofilia.

 

2. Parafilia sulit dihilangkan

Psikolog dan psikiater yakin kalo parafilia adalah sulit dihilangkan. Maka, ketika orang dengan parafilia dateng ke psikiater, para klien akan dibantu untuk meredam fantasi seks tersebut. Dihilangkan emang sulit, tapi diredam masih bisa.

Sekaligus, mencegah agar keinginan tersebut tidak “dipraktekkan”, yang bisa membawa bahaya baik untuk dia sendiri maupun ke orang lain.

 

3. Masturbasi bukan parafilia

Seorang temen pernah nanya ke saya: masturbasi termasuk parafilia bukan sih?

Dalam psikologi, masturbasi adalah hal yang normal. Ini merupakan upaya pemenuhan kepuasan seksual. Tapi masturbasi memang nggak disarankan karena sifatnya merusak. Lama-lama bisa jadi candu dan masuk gangguan kebiasaan dan impuls seksual.


 

NAH! Demikian tadi beberapa hal seputar kelainan preferensi seksual, gejala, penyebab, dan cara penanganannya.

Manusia adalah makhluk kompleks dengan pola pikir dan perspesi yang berbeda-beda. Ini juga membuat kita punya persepsi sendiri tentang hasrat seksual.

Semoga artikel ini membantu menuntaskan rasa penasaranmu, ya!

 

sumber:

fethisisme

transvestisme fetishistik

pedofilia

pedofilia

http://medlexi.com/Voyeuristic_disorder

DSM V

PPDGJ III

Psikologi Abnormal, Jeffrey Nevid dkk

 

One Reply to “Parafilia – Definisi, Gejala, dan Penanganannya”

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)