Waktu baca yang dibutuhkan: 4 menit

 

Kenapa om telolet om bisa sedemikian viral? Kami mencoba menjawabnya.

2016. Tahun yang aneh ini akan segera berlalu.
Kalau kita ngeliat ke belakang sejenak, banyak kejadian aneh tahun ini. Leonardo menang Oscar, Harambe, Brexit, Donald Trump jadi presiden, Portugal juara Euro, wahh banyak deh.

Kita bisa mengingat kembali sejumlah meme yang jadi viral. Di antaranya: Mukidi, emak-emak dasteran, anak SMA yang foto pake tulisan “foto bapak waktu SMA”, dan lain-lain.

Tapi bukan 2016 namanya kalau nggak menyimpan kejutan.
Pada akhir Desember, kita kedatangan sebuah fenomena aneh:

OM TELOLET OM.

Fenomena ini sungguh gila bukan hanya karena ia viral, tapi ia membingungkan artis-artis papan atas dan akun terkenal di luar negeri.

Klub sepakbola Inter misalnya, menulis om telolet om sebagai caption.

Om telolet om 😁🚌⚫️🔵 #ForzaInter

A photo posted by F.C. Internazionale Milano (@inter) on

Sejumlah artis luar negeri pun terherman-herman dengan fenomena ini

Sampe dibuatin video remixnya!

And so on, and so on.

Tapi om telolet om itu apa sih?

Frasa telolet adalah suara dari klakson bus yang sudah dimodifikasi.
Kalau biasanya cuma yaaah tooot biasa (dan ngagetin), sekarang jadi lebih berirama dan lucu. Telolelolelolet.

Suara klakson ini unik dan disukai anak-anak, jadinya anak-anak di pinggir jalan kalau ngeliat bus lewat pada teriak,”OM TELOLET OM!” Dan biasanya direspon oleh supir bus dengan mengklakson. Kalau udah dibales, anak-anak itu pada ketawa hepi.

Ada yang bilang fenomena ini berawal dari Jepara, tapi saya nggak bisa mastiin sih.

Tapi kenapa ya om telolet om bisa menyebar hingga ke seluruh dunia?

1. Ini Adalah Joke Instan

Om telolet om adalah joke instan. Kamu nggak perlu nyari ide untuk bikin meme. Kamu nggak perlu ngebikin cerita. Cukup komentar “om telolet om” pada akun artis atau fanpage populer di luar negeri, and you’re all set!
Setelah melakukannya, kamu pasti bakal senyum-senyum sendiri.

Apalagi ketika kamu ngeliat ada (ratusan ribu) orang yang sudah melakukannya duluan. Kamu jadi iseng pengen ikutan nyoba, kan?

2. It’s A Harmless Prank

Om telolet om adalah keusilan yang nggak menyakiti atau menyinggung.
Yang bikin lucu adalah ketika orang yang diusilin nggak ngerti apa itu “om telolet om”.

Udah itu aja!
Nggak ada kejahatan, nggak ada maksud jelek.

Di pinggir jalan, ketika anak-anak kecil mendapat telolet dari bis, mereka bahagia. Nggak dapet pun nggak papa, nggak ada yang marahin.

Ketika suatu aksi memberikan reward tapi minim resiko, siapa yang nggak tertarik buat nyoba?

om telolet om adalah, apa itu om telolet om
sumber: twitter.com/marshmellomusic

3. Teori Kesenjangan Informasi (Information Gap Theory)

Yang membuat om telolet om menjadi viral bukan karena videonya, tapi karena frasa om telolet om itu sendiri.
Frasa ini sungguh sulit dicerna dan dipahami kalau kita jarang main sosmed.

Yang nggak tau, tentu saja bingung dong. Kalau udah bingung, pasti kepo dong.

George Loewenstein, Profesor dari Carnegie Mellon University, menyebut fenomena ini sebagai “information gap theory“, alias teori kesenjangan informasi.

Teori ini berdasarkan perilaku manusia yang terpicu ketika ada kesenjangan antara yang dia tahu sekarang dengan yang dia pengen banget tahu.

Ketika seseorang merasakan pengen banget tahu tentang sesuatu, dia akan cari sampai dapat.

Ketika dia berhasil dapat, dia merasa hepi. Dia merasa “haha, aku tau dan kamu nggak!”
Kesenangan ini diekspresikan dengan memberi komentar “om telolet om” pada akun lain.

Akun lain pun kebingungan, terus kepo, terus tahu. Terus disebar lagi. Gituuuu terus!

kepoin artikel lain juga dong:

4. Emotional Contagion (Emosi yang Menular)

Emosi menular adalah proses di mana emosi menyebar kayak virus. Makanya dibilang menular.
Proses ini terjadi ketika suatu fenomena menciptakan emosi tertentu, sehingga satu-satunya cara untuk menikmati emosi tersebut adalah ikut melakukannya. Selain itu, tentu saja agar dapat diterima secara sosial (dalam hal ini, gaul).

Dalam fenomena telolet ini, satu-satunya cara untuk ikut terlibat dalam lingkaran sosial dan kesenangan yang ada, tentu saja adalah ikut berkomentar telolet. Atau seenggaknya, membuat tweet/post mengenai telolet.

Di jalanan, fenomena serupa juga terjadi. Satu-satunya cara buat menikmati kesenangan “bertelolet” tentu saja adalah dengan minta telolet dari bis yang lewat. Jadi penasaran pengen nyoba!

Kesimpulan

Kalau kita lihat kembali, fenomena telolet ini punya semua syarat untuk jadi viral.
Ia lucu, usil, praktis, nggak menyakiti, membingungkan, dan bikin orang pengen nyoba.

Lagipula, setelah semua perselisihan, huru-hara, bencana, dan Timnas yang gagal juara, bukankah Indonesia layak bersama dalam sejumput tawa?

 

 

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)