Waktu baca yang dibutuhkan: 3 menit

Orang yang suka mengumpat pun punya sisi positif.

Kamu pernah nggak dimarahin orang tua/guru gara-gara ngomong kotor?
Mengumpat, atau bahasa jawanya misuh, atau bahasa sumateranya mencarut, adalah hal buruk.
Bahasa preman, bahasa orang nggak berpendidikan. Katanya sih orang yang suka mengumpat tergolong kasar.

Tapi ada juga lo sisi positif di balik suka mengumpat.

Apa aja dah?

Orang yang suka ngomong kotor lebih bisa dipercaya

Sebuah penelitian menemukan bahwa seseorang yang suka ngomong kotor tergolong lebih jujur dan bisa dipercaya dibanding mereka yang nggak.

Dalam jurnal Psychological and Personality Science, para peneliti melakukan tiga macam studi untuk menginvestigasi hubungan antara mengumpat dengan kejujuran.

Pertama, tim peneliti meminta 276 responden untuk menulis seberapa sering mereka mengumpat dalam sehari, dan menjelaskan secara detail situasi seperti apa yang memicu mereka ngomong kotor.

Kedua, peneliti ini menganalisa status 73.000 pengguna facebook, menemukan kaitan yang mungkin terlihat antara ngomong kotor dan menganalisa tanda-tanda bohong yang muncul.

Terakhir, mereka menguji hubungan antara sifat dan kebiasaan mengumpat dari skala lebih besar. Mereka membandingkan level transparansi dan akuntabilitas dari pemerintah daerah, dengan seberapa sering penduduk daerah tersebut mengumpat di status facebook mereka.

Kesimpulan tiga penelitian ini sama: semakin sering mengumpat, semakin mungkin kamu jujur.

Kok bisa, ya?

Kenapa mulut yang kayak sampah justru dianggap sebagai tanda integritas?

Peneliti dalam studi tersebut menjelaskan hal ini.

“Kalau seseorang banyak misuh… mereka enggak memfilter lagi kata-kata dalam pikiran mereka. Orang yang mengutarakan kata-kata di otak mereka secara jujur, seringkali nggak manipulatif”.

Tapi mereka yang mulutnya bersih bukan berarti jelek lo yaa…

Dalam penelitian ini juga dijelaskan, mereka yang menjaga tata bahasa dan merasa bersalah kalau misuh, punya karakter dan pengendalian diri yang bagus.

Orang yang suka mengumpat lebih gampang akrab

sisi positif di balik mengumpat
“aku sering ngomong kotor biar bisa akrab sama kamu mbak~”

Mengumpat adalah skill yang bermanfaat, kata Noah Berlatsky.
Katanya, dalam kata-kata kotor ada keakraban, sesuatu yang justru terasa ketika mengumpat tidak dimaksudkan untuk mengungkapkan kemarahan.
Kata-kata kotor justru berguna dalam membangun hubungan dengan individu lain. Kata-kata kotor memang beresiko, tapi ketika kita bertemu orang dengan pikiran yang serupa, justru kata-kata kotor bikin lebih dekat.

Tapi ya dosisnya dikira-kira dong. Kita kan nggak bisa misuh sesuka kita. Ada tempatnya, dan kalau kita paham kapan dan waktu yang sesuai, teman baru kita akan jadi lebih cepat akrab sama kita.

 

Orang yang jago mengumpat punya kecerdasan di atas rata-rata

Di twitter, saya sempet memfollow akun yang namanya @xilitpitix. Dia kalo misuh parah banget. Semua fenomena yang terjadi di sekitar, dia komentarin. Misuhnya pedes, tapi pemikirannya kalo dipikir-pikir ya ada benernya gitu.

Satu yang khas dari akun itu adalah variasi misuhnya yang beragam. Menusuk, menghunjam siapapun yang merasa kesindir.

Bodoh nggak sih orang yang kayak gitu?

Kata-kata kasar mungkin mengganggu bagi sejumlah orang, tapi sebenarnya misuh pun menandakan adanya skill verbal yang oke.

Hal ini disimpulkan dari hasil eksperimen dua orang psikolog dari Amerika. Mereka menyimpulkan, orang yang makiannya bervariasi justru punya kosakata yang luas dan pemahaman makna bahasa yang lebih bagus.

Artinya, kalau kamu mampu “menusuk” orang dengan kata-kata yang beragam, kamu punya kecerdasan di atas rata-rata. Kalau cuma pake jancuk sih semua orang juga bisa.

Sekarang akun itu udah disuspend, adminnya entah ke mana.

Nah! Itu tadi yes tiga sisi positif misuh.

Bagi yang mulutnya kotor berantakan, bolehlah bangga dikit. Silakan aja lanjutkan mengumpat, tapi tetep inget waktu sama kondisi yes.

Kamu punya pengalaman soal mengumpat? Share di sini lah 😉

 

 

 

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)