Mendengarkan Detak Jantung Bisa Membuat Kita Memahami Pikiran orang Lain

Apa manfaat mendengarkan detak jantung, dan apa hubungannya dengan pikiran?

Deg. Deg. Deg. Deg.

Kapan terakhir kali kamu mendengarkan dia? Si mesin mungil yang nggak pernah berhenti, nggak pernah liburan sejak kamu lahir sampai detik ini.

Dengarkan jantungmu. Soalnya, orang yang lebih aware sama detak jantungnya, ternyata lebih mampu dalam menerima + memahami emosi orang-orang di sekitarnya.

Malah, melatih kemampuan mendengarkan detak jantung bisa membantu mengendalikan diri pada orang dengan autisme dan skizofrenia.

Kok bisa?

Bisakah kamu merasakan jantungmu berdegup tenang di tulang rusukmu? Setelah melakukannya, apakah kamu jadi merasa laper, haus, atau sedikit kesakitan?

Kalau kamu mau membangkitkan sebuah emosi, kamu harus paham dulu cara menerjemahkan sinyal-sinyal yang diteriakkan sama anggota tubuhmu.

Nah ketika kamu bisa merasakan sinyal tubuh setelah merasakan detak jantungmu, kamu sudah mencapai tahap pemahaman internal.

Tahap pemahaman internal ini adalah sebuah proses yang disebut interosepsi.

Ketika kamu sudah paham dengan sinyal tubuhmu, kamu bisa membedakan kapan kamu ngerasa bete, kapan ngerasa bosen, kapan kamu ngerasa curiga, dan lain-lain.

Tapi bukannya kita semua sudah bisa memahami itu ya?

Nggak juga. Kadang kan kita mengalami juga yang namanya salah menerjemahkan emosi. Sekedar bingung, kita bilangnya jengkel. Padahal cuma terganggu dikit, kita bilangnya marah.

Malah, ada juga orang yang mengalami masalah dalam memahami perubahan-perubahan emosi yang dia alami. Karena gagal dalam memahami emosinya sendiri, orang itu kadang jadi kayak dataaaar terus. Diem aja, tapi tau-tau meledak.

Malah, beberapa peneliti bilang kalau kesulitan memahami sinyal tubuh adalah ciri-ciri yang dialami orang dengan autisme dan skizofrenia.

Peneliti menduga kalau interosepsi sangat penting dalam memahami cara berpikir orang lain, bahkan membantu kita dalam menebak apa yang orang lain pikirkan.

Logikanya sih gini: kalo kita susah menerjemahkan emosi kita sendiri, kita susah memahami orang kan? Kalau kita mahir memahami emosi kita sendiri, menerjemahkan pikiran orang lain pun jadi mudah.

mendengarkan detak jantung

Untuk menginvestigasi hal ini, Geoff Bird, seorang peneliti dari Universitas Oxford, meminta 72 partisipan untuk menghitung detak jantungnya sendiri. Proses menghitung ini harus dalam hati, nggak boleh pake alat bantu. Ini dimaksudkan untuk mengukur interosepsi.

Setelah menghitung detak jantung, partisipan kemudian diminta menonton video macam-macam percakapan sosial. Pada masing-masing video, partisipan disuruh menjawab pertanyaan pilihan ganda, untuk menguji kemampuan mereka dalam memahami perasaan orang lain.

Hasilnya, partisipan yang menghitung detak jantungnya dengan tepat ternyata menjawab pertanyaan dengan lebih baik. Mereka lebih berempati, alias lebih memahami perasaan orang lain.

Ini menunjukkan bahwa kemampuan kita dalam memahami sinyal tubuh, membantu kita memahami pikiran orang lain.

Tapi sebenarnya nggak semua jenis pikiran sih. Kita cuma bisa memahami pikiran orang lain ketika ada emosi yang terlibat. Jadi kita nggak bisa juga menebak berapa angka yang dipikirkan orang, atau nomor PIN rekening banknya.

Baca juga tentang mengendalikan emosi di sini.

Bisa dilatih nggak ya?

Ternyata memahami pikiran orang lain bisa dilatih dengan memahami detak jantung kita sendiri.

Kalau punya kemampuan kayak gini kan lumayan, bisa buat ngobrol atau pedekate. Tapi bisa dilatih nggak ya?

Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan interosepsi ini nggak hanya berasal dari detak jantung aja. Kemampuan untuk tetap aware terhadap napas pun juga punya pengaruh, tapi masih belum tahu mana yang lebih efektif: napas atau jantung.

Masih belum ditemukan bukti kalau melatih interosepsi bisa meningkatkan empati, tapi di masa depan pembuktian untuk itu akan ada. Sementara, nggak ada salahnya dilatih.

Salah satu caranya adalah dengan mendengarkan ketukan nada yang satu tempo dengan detak jantung. Semakin lama, pelankan suara ketukan itu, sampai hilang sama sekali.

Melihat cermin dalam waktu lama juga bisa meningkatkan interosepsi ini.

Untuk efektif atau nggaknya, kita semua masih belum tahu. Tapi nggak ada salahnya mencoba ini, apalagi kalau selama ini kamu dicap “nggak pernah ngertiin aku” sama mantan.

 

 

 

You may also like...