Waktu baca yang dibutuhkan: 3 menit

Apa manfaatnya sih baca cerpen-cerpen dan novel?

 

Saya nggak terlalu suka buku fiksi.

Kalo boleh dibandingin antara jumlah buku fiksi dan non-fiksi yang ada di kamar, jumlahnya masih banyakan non-fiksi.

Bukannya saya benci novel sih, tapi buat saya buku fiksi kayak novel dan kumpulan cerpen sifatnya sekali pakai. Begitu selesai dibaca, sudah. Disimpan hingga bertahun-tahun kemudian. Tidak membuat kita baca berkali-kali, kecuali karyanya J.K. Rowling dan Dan Brown. Heheheh.

Lagian dengan harga yang sebanding dengan buku non-fiksi, menurut saya uangnya akan lebih bermanfaat bila saya dapat suatu ilmu tambahan.

Jadi saya menyimpulkan, membaca novel gak ada manfaatnya. Makanya saya lebih pilih “jajan” buku yang sifatnya edukatif.

Eh, tapi apa bener ya novel gak ada manfaatnya?

Sebuah penelitian yang baru saya baca, membuka mata saya tentang manfaat novel untuk jiwa manusia.

Jadi menurut Keith Oatley, seorang psikolog dari Universitas Toronto, membaca novel membantu kita mengembangkan sifat empati di dalam diri.

“Ketika kita membaca cerita tentang orang lain, kita masuk dalam sudut pandang dan pikiran tokoh tersebut. Ini membantu kita memahami orang lain lebih baik, dan membantu kita bekerjasama dengan orang lain.”

Dalam penelitian berbeda, Oatley mencari hubungan antara kebiasaan membaca fiksi dengan kemampuan berempati dan kepekaan sosial.

Oatley memberikan sejumlah nama pengarang ke para partisipan, untuk mengetahui seberapa “gila” mereka terhadap buku dan jenis buku seperti apa yang mereka baca.

Setelah itu, para partisipan mengisi skala berupa Interpersonal Reactivity Index yang didesain untuk mengukur empati, dan Reading the Mind in the Eyes Testyang mengukur kemampuan seseorang dalam menebak perasaan seseorang melalui sorot mata.

Hasilnya, partisipan yang “gila” baca buku fiksi mendapat skor yang lebih tinggi dalam kedua tes di atas, dibandingkan partisipan yang nggak seberapa suka baca buku fiksi.

Orang yang membaca buku fiksi lebih jago memahami perasaan dan sudut pandang orang lain,” kata Oatley.

 

sumber: gurl.com

Penelitian dengan tema mirip juga bisa kamu temukan di American Psychological Association’s journal Psychology of Aesthetics, Creativity, and the Arts. Dalam penelitian ini disebutkan bahwa proses membayangkan adegan saat membaca bisa meningkatkan empati dan perilaku prososial.

Raymond Mar menemukan bahwa pada bagian otak yang bertugas menafsirkan pemikiran dan perasaan orang lain, ikut berproses saat seseorang berusaha memahami cerita.

 

Tapi fenomena ini gak cuma berlangsung saat membaca cerita. Fenomena kayak gitu juga terjadi kalo kamu nonton drama atau main video game yang punya jalan cerita.

Tapi inget, kembali lagi ke ceritanya yang kayak gimana.

Suatu cerita baru memberi dampak psikologis ketika pembaca diajak untuk menyelami dan mengenal dekat kehidupan tokoh tersebut.

Saya akui, membaca novel memang asik sih.

Membaca bisa membantu kita untuk “lari sejenak”dari hidup kita dan menjadi orang lain.
Kita merasakan pengalaman baru, yang kadang-kadang belum tentu bisa kita alami sendiri.

Rasanya kita gak bakal jadi penyihir di dunia nyata, tapi kita bisa melakukannya dari raga Harry Potter.

Kita mungkin gak cukup berani untuk jadi pemberontak dan nggak cukup jago untuk jadi pemanah, tapi seenggaknya kita  mengalami seperti apa rasanya melalui kepala dan mata Katniss Everdeen.

Kita mengerti mereka, karena kita ada dalam pikiran mereka.

Kemampuan mengerti dan memahami inilah yang menumbuhkan perasaan empati.
Empati membantu kita menjadi manusia yang lebih baik.

 

Jadi ternyata membaca buku fiksi pun ada gunanya… Hehehe
Mungkin bulan depan saya beli satu novel deh.

Kamu punya rekomendasi novel apa nih? Corat-coret di kolom komentar yooo 🙂 😉

(semua sumber artikel ini telah disematkan pada link-link di atas)

 

Author: Robi Maulana

Dalang sesungguhnya di balik PsikologiHore. Suka ngopi tapi kopi nggak suka sama dia.

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)