Waktu baca yang dibutuhkan: 5 menit

Definisi mekanisme pertahanan ego versi Freud.

Ia merupakan salah satu metode bangkit dari kesedihan.
Namun, ia juga “dalang” di balik kepribadian ganda.

Apa itu represi?
Mengapa manusia melakukannya?

Pernahkah kamu mengalami kejadian tragis?

Iklan!

Mungkin kamu pernah ditinggalkan oleh seseorang yang kamu sayang.
Mungkin kamu pernah disakiti sedemikian rupa.

Mungkin sekarang kamu sulit menceritakan kejadiannya,
tapi kamu yakin kejadian itu membuatmu berubah.

Tanpa sadar, kita melakukan represi.

Represi, menurut Sigmund Freud, adalah ketika kamu berusaha memendam dan melupakan suatu kejadian.
Definisi lain menyatakan represi sebagai upaya menekan keinginan.

Ketika kamu berusaha memendam kejadian tersebut, ia akan masuk ke alam bawah sadarmu.

Manusia memiliki tiga alam: alam bawah sadar, pra sadar, dan alam sadar.
Bayangkan sebuah gunung es.

Secara psikologis, ada teori yang bilang bahwa sesungguhnya kita dikendalikan oleh alam bawah sadar.

Ketika kamu mengalami kejadian trauma, kamu akan menghadapinya di alam sadar, kan?
Kamu melihatnya, kamu mendengarnya, kamu merasakannya.

Kejadian itu mengguncangmu.

Kamu kemudian berusaha melupakannya.
Ketika berusaha melupakan inilah, represi dimulai.

Memori tentang kejadian itu mengalir menerobos ke alam bawah sadarmu.
Secara psikologis, alam bawah sadar kitalah yang mengendalikan perilaku seseorang.

Maka, ketika kejadian tersebut masuk ke alam bawah sadarmu, kejadian ini mempengaruhi perilaku kamu.

Misalnya, kamu pernah dijambret oleh seseorang dengan baju polo merah.

Kamu mungkin jarang mengingat-ingat hal itu. Tapi, entah kenapa, kalau melihat orang dengan baju polo merah, kamu jadi mencengkram erat dompet dan barang berharga yang kamu punya.

Kasus lain malah bisa lebih jauh dari itu.

Apakah kamu ingat pelaku pelecehan seksual seperti Babe dan Robot Gedek?

Mereka mengakui saat kecil pernah menjadi korban pelecehan.
Sangat mungkin, kejadian traumatis itu mereka pendam, lalu mempengaruhi perilaku dan hasrat.

Mereka mungkin jijik dengan kejadian masa lalu itu.
Karena dipendam, kejadian itu masuk ke alam bawah sadarnya.

Ketika masuk ke alam bawah sadar, kejadian itu mengubah seleranya terhadap pemuasan seksual.

Kejadian serupa terjadi pada orang dengan eksibisionis.
Eksibisionis adalah kelainan di mana seseorang ingin memamerkan kelaminnya pada orang lain.

Pelakunya biasanya laki-laki, dengan korban anak kecil atau perempuan.

Sigmund Freud menduga bahwa eksibisionis terjadi karena saat kecil,
beberapa anak laki-laki takut kelaminnya dipotong/disunat.

Ketakutan ini dipendam dan ditekan, namun tanpa sadar mempengaruhi alam bawah sadarnya.
Saat dewasa, ia berusaha memamerkan kelaminnya pada orang lain.
Apabila berhasil, ia merasa senang dan jadi horny.

Pelaku eksibisionis biasanya nggak tau kenapa dia senang pamer kelamin.
Iya, seseorang mungkin nggak sadar kenapa. Soalnya kejadiannya udah lama.
Namun, sebabnya akan diketahui ketika masa lalunya digali lebih jauh.

memendam perasaan, represi freud, definisi represi, represi menurut Freud

Apakah represi berarti buruk?

Apakah represi selalu berarti jelek?
Apakah represi selalu berbahaya?

Nggak juga.

Pada awal mempelajari histeria, Freud mengira represi adalah bentuk yang buruk.

Sebenarnya, represi adalah proses yang natural dan alami.

Represi sendiri dibagi menjadi dua fase: fase represi primer dan fase represi sekunder.

Represi primer terjadi ketika kita kecil.
Represi primer adalah ketika kamu mau melakukan sesuatu, tapi kamu cemas takut dimarahi.
Kecemasan ini membuat kamu mengurungkan niat.

Kamu memendam niat ini ke alam bawah sadar, ini mempengaruhi perilaku kamu.
Membuat kamu semakin bisa membedakan mana yang boleh dan mana yang nggak.

Makanya, kalau anak kecil nggak pernah dimarahi, dia jadi nggak bisa melakukan represi.
Dia jadi nggak tahu mana yang boleh dan yang nggak.

Makanya, saat kecil, kamu pede aja pipis di got.
Sekarang, masih mau nggak kayak gitu?

Represi sekunder terjadi setelah kamu melewati masa kanak-kanak.
Ketika kamu menunda atau memendam suatu keinginan.
Kamu menjadi cemas. Akhirnya niat itu kamu pendam.

Tanpa sadar kamu melakukan represi lo.
Kamu menekan niat itu ke alam bawah sadar, dan ia akan mempengaruhi kamu.
Kamu bisa melawan keinginan untuk bertindak, dan melakukannya di tempat yang tepat.

Nggak secara instan memang.
Tapi, semakin lama kamu memendam sesuatu, perilaku dan pola pikirmu akan terpengaruh.

Efek represi yang positif salah satunya adalah kapok.
Misalnya, dulu saya nekat nerobos lampu merah.
Karena ketahuan polisi dan ditilang, saya jadi kapok nerobos lampu merah.

Mana yang lebih baik: pendam atau ungkapkan?

Mana yang lebih baik, memendam perasaan atau mengungkapkan?
Berusaha melupakan atau menceritakannya pada orang lain?

Ada yang berusaha melupakan kejadian atau memendam keinginannya.

Ia berusaha melakukan represi dengan cara menyibukkan diri.
Orang yang sering represi, biasanya terlihat kuat.
Mereka sekilas terlihat sangat sehat dan ceria.

Namun, bila diuji dengan tes psikologi, mereka akan lebih peka terhadap hal-hal yang negatif.
Mereka berusaha terlihat kuat dan tegar, padahal ya aslinya mereka akan jadi lebih rapuh.

Orang yang terlalu sering memendam cerita dan keinginan, pada akhirnya akan sangat protektif terhadap diri sendiri. Bisa aja jadi curigaan.

Hal sebaliknya terjadi ketika kita mengungkapkan perasaan.

Kalau sering curhat, sekilas kita memang terlihat lemah.
Namun, kita jadi lebih kuat menghadapi hal-hal negatif.

Oh iya, mengungkapkan perasaan di sini berarti cerita pada seseorang yang tepat.
Bedakan dengan mengeluh ya. Karena, mengeluh bisa merusak otak.

Ini berbeda dengan curhat pada orang yang tepat.

represi, represi menurut freud, definisi represi

Bagaimana represi bisa menciptakan kepribadian ganda?

Di awal, saya menyebut bahwa represi bisa menciptakan kepribadian ganda.
Bagaimana caranya?

Kepribadian ganda terjadi ketika seseorang mengalami kejadian trauma.
Setelah mengalami kejadian tersebut, ia hanya memendamnya.
Tidak cerita ke orang lain.

Untuk menghilangkan ketakutannya, ia mengkhayalkan suatu karakter pengganti, yang mampu menangani kejadian traumatis tersebut.

Ketika sebuah kejadian punya dampak yang luar biasa pada seseorang, dan upaya memendamnya sangat kuat, akan terbentuk sebuah kepribadian baru, sebuah kepribadian tambahan.

Inilah yang kemudian disebut kepribadian ganda.
Kepribadian baru ini dapat memiliki nama yang berbeda dan sifat yang kebalikan dari kepribadian utama.

Bisa saja satu kepribadian merupakan perokok berat, tapi kepribadian satunya batuk saat mencium asap rokok.
Saya pernah bahas tentang orang dengan 16 kepribadian di sini.

Namun, dugaan ini masih lemah.
Gejala dan tanda-tanda kepribadian ganda masih sulit dideteksi.

Nah! Demikianlah tentang represi.

Represi sama seperti pisau.
Ia bisa berguna, namun bila dalam jumlah besar, akan berbalik menyakiti pemiliknya.

 

2 Replies to “Mekanisme Pertahanan Ego: Represi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *