Langkah Praktis Menerima Diri Sendiri

Saat saya SMP, saya punya keponakan  yang beda usianya hanya dua tahun lebih muda dari saya. Masa kecil kami cukup menyenangkan dengan segala macam permainan yang bisa kami lakukan, tapi ketika sudah remaja hubungan pertemanan dan persaudaraan kamu cukup merenggang.

Semuanya dimulai oleh mama saya yang sering sekali berkata, “tuh liat si T, anaknya rajin, pintar, bisa begini, begitu, bla bla bla bla….”

Gara – gara omongan mama saya ini, saya jadi be-te dan mulai menjauh dari dia. Saking seringnya mama saya ngomongin dia, saya sampai mengatakan begini, “ya udah, mama ambil aja dia jadi anak.”

Duh, ampuni saya ya Tuhan.

Kami selalu sekolah di tempat yang sama dan dia adalah adik kelas saya setahun. Jadi selama masa SMP hingga SMA, saya selalu mendengarkan mama saya memuji – muji keponakan saya ini, disertai sindirin “harusnya kamu juga bisa begitu, dan sebagainya”.

Saya merasa kesal dan marah karena mama saya selalu membanding – bandingkan kami berdua. Rasanya saya ini ada di dunia yang berbeda dengan mereka dan sempat membuat saya berpikir, “mungkin saya bukan anak orang tua saya; kayaknya mama memang nggak pernah sayang sama saya; dan sebagainya”

Masa – masa itu saya habiskan dengan menggerutu, mengeluh, iri hati hingga lupa untuk intropeksi diri dan menggali kelebihan saya sendiri yang mungkin saja keponakan saya itu nggak punya.

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang selalu bertumbuh dan berkembang setiap hari, saya yakin kalian juga pernah atau sedang mengalami seperti saya.

Mungkin nggak sama persis, tapi pasti ada masa di mana kalian mulai dibandingkan atau bahkan membandingkan diri sendiri dengan lingkungan sekitar kalian.

Membandingkan ini sebenernya salah satu kebiasaan manusia sih, jadi wajar saja kalau kamu juga pernah melakukannya. Masalahnya setelah selesai membandingkan, apa tindak lanjut berikutnya?

Hal ini kadang membawa dampak perasaan negatif lebih banyak dari pada positifnya. Apalagi kalau dibandingkan dengan seseorang yang kita anggap rival. Duh.. Rasanya kayak makan durian sama kulitnya! Nyangkut di hati dan njleb banget.

Gimana caranya mau fokus dengan yang positif kalau lingkungan justru memperlihatkan dan memperdengarkan yang negatif?

Kita ini memang tinggal di dunia yang kadang nggak fair guys, tapi sebagai manusia yang dikarunia akal pikiran, kita bisa memilih jalur yang mana untuk bisa menikmati hidup seutuhnya.

Ngomong gampang, prakteknya gimana?

Dalam psikologi ada yang namanya self-acceptance atau bahasa gaulnya “penerimaan diri; menerima diri sendiri”.

Yang terpenting dalam menerima diri sendiri adalah seberapa mau dan mampunya kamu untuk hidup dengan apa yang udah kamu punya sekarang.

Kamu perlu berdamai dan bersikap positif atau semua kelebihan dan kekurangan yang kamu miliki.

Tapi langkah praktisnya gimana?

 

Mantabkan Hati, Bulatkan Tekad!

Yes! That’s all you need to start!

Semua bentuk perubahan selalu dimulai dengan adanya niat dan tekad yang kuat. Kamu harus siap untuk meninggalkan hal – hal yang selama ini “nyaman”. Bersiap menerima pengalaman baru yang mungkin saja “susah dan sulit”. Dan yang paling penting, konsisten.

Kamu harus yakin kalau kamu siap untuk perubahan akan hidupmu dan melepaskan kehidupanmu yang lama.

 

Ambil Waktu Khusus : Intropeksi

cara menerima diri sendiri

Niat? Ceklis

Tekad? Double Ceklis

Okay. Selanjutnya, buat waktu khusus dimana kamu bisa berpikir dengan tenang dan objektif. Tempatnya bisa dimana aja, suka – suka kamu. Bisa di kamar, perpustakaan, taman kota atau tempat – tempat yang sekiranya bisa bikin kamu mikir dengan jernih dan tanpa diganggu.

Jangan lupa siapkan buku dan pulpen. Siapa tahu kamu perlu mencatat agar lebih mudah untuk melakukan analisis terhadap dirimu sendiri.

Hal yang sekiranya perlu kamu ketahui dan pahami dari dirimu sendiri adalah ;

  • Hal positif dan baik yang patut kamu pertahankan. Misalnya, kamu selalu bangun pagi, selalu on-time kalau punya janji, sabar terhadap orang lain, suka mendengarkan cerita orang lain, teman terdekat yang selalu bersikap positif dan support terhadap kamu.
  • Hal negatif dan jelek yang perlu kamu singkirkan. Misalnya, kamu suka pilih – pilih makanan (bukan karena alergi), mudah pesimis, tidak suka mendengarkan saran, selalu menggunakan tinju atau memaki ketika marah, lingkungan sekitar yang selalu berbicara negatif tentang kamu.

Maafkan Dirimu ; Berdamai dengan Masa Lalu

Selesai mengorek – ngorek diri sendiri, kamu pasti terkejut dengan hasilnya. Kamu pasti akan menemukan hal yang kamu pikir “sudah selesai” ternyata jauh sekali dari kata “selesai”.

Wajar kok kalo kamu menemukan hal yang seperti ini. Karena kadang ketika kita nggak sanggup menghadapi sesuatu, kita memilih lari dan menghindar. Seolah – olah hal itu nggak pernah ada, atau berpura – pura melupakan dan menganggapnya sudah selesai.

Sebelum memulai dengan langkah yang baru, yuk berjabat tangan dan lepaskan dengan ikhlas, apapun itu yang bisa menghambatmu.

Lepaskan Emosi Negatif , Stay Positive!

Bukan hal yang mudah tapi tetap bisa dilakukan.

Lepaskan semua emosi negatif yang kamu rasakan, entah itu untuk dirimu sendiri atau orang lain.

Bicara pada dirimu sendiri (inner self) kalau kamu itu …. (ucapkan hal – hal positif yang ingin kamu dengar untuk dirimu sendiri).

Hargai dan Beri Hadiah untuk Kelebihan dan Usahamu

bagaimana cara menilai kepribadian orang, bagaimana cara menilai kepribadian seseorang, bagaimana cara menilai orang, bagaimana cara menilai orang lain, bagaimana cara menilai seseorang, bagaimana cara menilai watak seseorang

Sudah melewati fase memaafkan dan melepaskan?

Gimana rasanya? Pasti kamu merasa lebih plong kan?

Setelah sekian tahun membiarkan dirimu dikuasi sisi – sisi gelap, sekarang waktunya kamu berpindah ke sisi yang lebih terang.

Kamu sudah tahu apa kelebihanmu. Apresiasi dong. Puji diri sendiri dan hal kecil apapun yang sudah kamu lakukan untuk menjadi lebih baik.

Kalau dulu kamu susah bangun pagi, sekarang dalam seminggu kamu bisa bangun pagi selama dua hari dalam seminggu. Bilang “Selamat (sebut nama kamu). Hari ini kamu berhasil. Terus mencoba ya. Pelan – pelan aja. Kita pasti bisa”.

Turunkan Standar Penilaian ; Bungkam Kritik Berlebihan dari dalam Diri

Sadar atau nggak setiap orang punya standar penilaian masing – masing, baik itu untuk dirinya sendiri ataupun orang lain.

Sederhana saja, kalau kamu bertanya dengan temanmu seperti apa tipe kekasih idamannya. Secara otomatis dia akan menyebutkan deretan kriteria, dari yang bisa diterima akal sehat hingga mission impossible.

Review lagi standar penilaian untuk dirimu sendiri. Jangan menaruhnya terlalu tinggi kalau kemampuanmu belum mengimbangi. Usahakan keduanya sejajar.

Standar penilaian yang disesuaikan dengan kemampuan, juga membantumu mengurangi kritik berlebihan yang kadang nggak masuk akal dari dirimu sendiri.

Temukan Sahabat

bagaimana cara menilai kepribadian orang, bagaimana cara menilai kepribadian seseorang, bagaimana cara menilai orang, bagaimana cara menilai orang lain, bagaimana cara menilai seseorang, bagaimana cara menilai watak seseorang

Setiap orang memerlukan setidaknya satu orang sahabat dalam hidupnya. Seseorang yang bisa kamu percayai untuk berbagai cerita, keluh kesah hingga bisa kamu mintai bantuan kapanpun.

Kalau kamu belum punya yang seperti ini, temukan.

Dia mungkin nggak selalu sejalan dengan pikiran, ide dan rencanamu. Dan itu bagus, karena kamu akan mendapatkan sudut pandang lain dari apa yang kamu ungkapkan. Ini akan membantumu menilai secara objektif, sehingga kamu bisa membuat keputusan dengan tepat.

Kenali Lingkunganmu ; Buat support system

Dalam langkah penerimaan diri, ini penting.

Kenali dan pahami di lingkungan mana kamu berada. Jangan menerima begitu saja dengan kondisi lingkunganmu. Lingkungan ini bisa berupa kondisi didalam rumah, kelompok pertemanan, organisasi atau eskul yang kamu ikuti, tempatmu biasa hangout, topik yang kalian obrolkan, public figure yang kamu ikuti di media sosial, dan masih banyak lagi.

Bertanyalah pada dirimu sendiri, apakah lingkunganmu sekarang membuatmu lebih baik? Apa peran positifnya atas hidupmu? Apa  mereka mendukung setiap rencana perubahan yang sedang kamu kerjakan?

Jika lingkunganmu sekarang berperan negatif, tinggalkan.

Meninggalkan bukan berarti nggak berteman ya. Tapi pelan – pelan lepaskan dirimu dari kegiatan yang berperan negatif dalam hidupmu. Misalnya, mulai berani menolak ajakan nongkrong hingga larut malam.

Jangan takut untuk kehilangan teman, dijauhi atau dianggap aneh. Kamu pasti akan menemukan lingkungan baru yang jauh lebih baik. Pastikan kamu mencarinya di tempat yang benar.

Bukan kamu meninggalkan lingkungan pertemanan di sekolah / kampus, lalu kamu mencari yang baru di tempat clubbing.

Pastikan dirimu dikelilingi oleh orang – orang yang positif, yang mendukung setiap usaha dan perubahan yang kamu lakukan.

Cintai dan Percayai pada Dirimu Sendiri

This is the key!

Kamu pasti pernah mendengar quote yang mengatakan “pertarungan tersulit adalah pertarungan melawan dirimu sendiri”?

Tahu kenapa?

Karena kamu tahu dengan baik siapa dirimu begitupun juga dia terhadap kamu. Strategi jitu apapun nggak akan mempan ketika kamu masih berkeras hati, masih  mudah patah semangat, masih sering ambil hati terhadap omongan orang lain, dan lain – lain.

Sering – seringlah mengatakan hal yang positif kepada dirimu sendiri. Kamu bisa mengatakan “you did a great job today, (sebut nama kamu); kamu bisa, sekarang kamu sudah maju selangkah; kamu sekarang sudah pe-de, kamu berani ngajak orang lain ngomong duluan; dan sebagainya”.

Jangan mudah menghakimi diri sendiri. Kamu harus jadi supporter utama untuk dirimu sendiri disaat orang lain belum bisa melakukannya.

Kamu harus mencintai dan mengasihi dirimu sendiri, apapun kondisimu sebelum meminta orang lain melakukannya.

Bekerja samalah dan percayai dirimu untuk hal – hal yang sebelumnya nggak pernah kamu lakukan.

Misalnya, kamu sebelumnya nggak berani mengutarakan ide apapun ketika dalam suatu forum. Cobalah untuk mengutarakannya, meski hanya pada teman yang duduk disampingmu. Biar ngomongnya mungkin sambil gagap – gagap, nggak masalah karena kamu sudah mencobanya.

Fake It ‘till You Make It!

Yes!

Mungkin awalnya kamu merasa, “ini kok bukan aku ya; rasanya nggak nyaman banget, kayak bukan aku; bla bla bla”.

Ketahuilah, “aku” yang kamu anggap “the real aku” sebenarnya juga hasil dari sebuah proses. Jadikan rasa nggak nyaman itu sebagai pemicu agar kamu lebih keras lagi berusaha hingga kamu merasa nyaman dengan kondisi yang baru.

Nikmati saja semua prosesnya. Berpura – puralah sampai kamu lupa kalau kamu sedang berpura – pura.

Satu perilaku yang diulang – ulang akan jadi kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan terus menerus akhirnya akan jadi karakter.

 

Kamu pasti pernah mendengar seseorang berkata “aku tuh kayak gini orangnya, kamu harus terima aku apa adanya dong”.

Kalau memang karakternya baik ya nggak apa – apa, tapi kalo karaternya buruk, misalnya pemarah. Yakinkah kamu untuk berteman dengan orang seperti ini untuk waktu yang lama?

Jangan menggunakan kata “terima aku apa adanya” sebagai alasan untuk nggak melakukan apa – apa.

Juga jangan mengatakan “aku sudah tua, umurku sudah segini, nggak mungkin bisa berubah”.

Bebaskan dirimu dari batasan yang sekiranya membuatmu tidak bisa bereksplorasi, tapi juga jangan melanggar batasan norma tertentu hanya agar kamu merasa bebas.

Menerima diri sendiri bukan pasrah pada kondisimu dan nggak melakukan apa – apa; Menerima diri sendiri adalah bersyukur atas kondisimu, mencintainya lalu menggunakannya secara maksimal agar kamu semakin berkembang.

Gimana?

Menerima diri sendiri itu gampang kan?

You may also like...