Waktu baca yang dibutuhkan: 6 menit

Adakah kesurupan dalam ilmu psikologi? Apa penjelasan psikologi mengenai kesurupan?

Bapak saya pernah jadi kepala sekolah di suatu SMP kecil.
Sekolah itu biasa aja.

Sampai terjadilah suatu kejadian yang membuat bapak masuk TV nasional.
Bukan, bukan pembunuhan atau pemerkosaan.

Di sekolahan bapak saya, terjadi kesurupan massal dan terjadi berhari-hari.
Kesurupan ini bahkan terjadi pada hampir semua siswa, menyebabkan kegiatan belajar mengajar diliburkan.

Bapak sampai pergi jam 12 malam demi menyelesaikan masalah kesurupan ini.

Kesurupan adalah fenomena aneh. Ia sangat erat dengan klenik.
Selama ini kesurupan dianggap sebagai fenomena mistis.

Tapi, benarkah bahwa kesurupan adalah mistis?
Adakah jawaban ilmiah untuk fenomena ini?

Mari kita selami bersama-sama kesurupan dari sudut pandang psikologi!
Hiiiiiiihihihihihihihihi~


Kesurupan Itu Apa Sih?

Oke, mari kita selami sejenak definisi kesurupan versi kita.

Menurut KBBI, kesurupan adalah fenomena kemasukan setan dan atau roh, bertindak yang aneh-aneh.
Jadi, kesurupan adalah ketika kamu kemasukan roh atau sesuatu yang spiritual, sehingga kamu bertindak di luar kendali.

Temen saya yang pernah kesurupan bilang, awal dia kesurupan terjadi karena dia ngelamun.
Lalu ada kilasan bayangan hitam meluncur menerjang kepalanya.

Setelah itu, dia berteriak-teriak dan menggelepar. Saat kesurupan, dia berada dalam keadaan sadar, tapi dia merasa tubuhnya seolah dipakai orang lain, mulutnya digunakan makhluk lain.

“Aku teriak, tapi bukan aku yang teriak. Tanganku bergerak, tapi bukan aku yang gerakin”, kata dia.

Teman saya yang lain punya cerita berbeda. Kesurupannya bermula saat dia ngelamun juga.
Tapi dia nggak melihat ada kilasan.

Dia melihat sesosok anu itu apa namanya yang rambut panjang baju putih?
Ya, dia ngeliat itu. Lalu dia nggak sadar, tau-tau pas bangun udah di UKS.

 


Kesurupan di budaya kita

Kita sebagai orang timur sangat dekat sama klenik. Sama mistis, sama hantu-hantuan.
Mungkin itu sebabnya hantu kita lebih serem daripada hantunya orang barat.

Coba liat film horor barat. Seremnya bukan karena wujud hantunya. Seremnya cuma karena kaget.
Saya ngeliat valak di Conjuring malah ketawa-ketawa.

Beda sama hantu kita. Kalaupun misalnya saat ini ada pocong di depan saya, dan dia ngebawain aice rasa jagung, tetep aja saya teriak-teriak minta ampun.

Kita percaya dengan keberadaan hantu, kita percaya dengan keberadaan makhluk halus.
Kepercayaan ini begitu kuat, sampai masuk ke alam bawah sadar kita.

Karena kepercayaan yang kental inilah, kesurupan menjadi fenomena yang jamak.
Aneh dan serem, tapi nggak asing.

Apa hubungannya kepercayaan sama seringnya kesurupan?

Bentar ya, saya bahas.
Eh coba kamu liat jendela, itu kok kayak ada yang ngeliatin.


Kesurupan dalam psikologi

Lalu, bagaimana kesurupan dalam psikologi?
Adakah penjelasan mengenai kesurupan?

Ya, ada.
DSM V (buku manual diagnosa gangguan jiwa) menyebutkan suatu gangguan yang disebut gangguan disosiatif.

Gangguan disosiatif adalah kondisi ketika kamu kehilangan kesadaran, penginderaan, dan kendali tubuh. Artinya, gangguan disosiatif terjadi ketika kamu nggak bisa mengendalikan pikiran dan perilaku.

Gangguan disosiatif ada banyak: kepribadian ganda, amnesia disosiatif, disosiatif fugue, dan lain-lain.
Nah, ada satu bagian yang khusus menjelaskan tentang kesurupan.

Dalam dunia psikologi, kesurupan disebut trance and possession disorder.
Kesurupan adalah perasaan trans yang dicirikan dengan munculnya pengendali tubuh pengganti, seperti: arwah, dewa, setan, hewan, atau objek tak bergerak.

 

kesurupan dalam psikologi

 

Gampangnya: gangguan kesurupan terjadi ketika pikiran dan perilakumu dikendalikan suatu “spirit”.

Meski demikian, nggak semua kesurupan boleh dibilang gangguan.
Misalnya kesurupan saat main kuda lumping atau reog. Itu nggak dibilang gangguan.
Soalnya, itu adalah ritual mistik budaya. Pelakunya kesurupan karena dia rela kesurupan.

Kesurupan yang terjadi tanpa sekeinginan kita, itu baru bisa dikatakan trance and possession disorder.

Loh, jadi psikologi percaya sama makhluk halus?

Ya dan tidak, tergantung kamu nanya ke siapa.

Soalnya beberapa fenomena yang kita kira kesurupan, justru bisa dijelaskan secara ilmiah.

Skizofrenia, misalnya. Skizofrenia lumayan mirip lo dengan gangguan makhluk halus.
Gejalanya berupa delusi, susah diajak berkomunikasi, dan hilangnya kesadaran.
Yang seperti ini justru kalau disembuhin secara gaib tambah parah.

Ini beneran kejadian waktu saya KKN. Selama KKN ini, temen saya jadi aneh.
Mendadak sering murung dan mengira kalau dia dikirimi sesuatu di leher.
Kami semua ngiranya “ketempelan”. Dibawa ke orang pinter, malah tambah gak beres.

Eeee… ternyata usut punya usut kena skizofren.

Sejujurnya ahli psikologi pun ada juga yang nggak percaya mistis.
Ahli psikologi yang “kurang” percaya mistis, menganggap kesurupan sebagai bentuk histeria.

Kesurupan bisa saja terjadi ketika penderita mengalami kecemasan hebat, tetapi ditekan ke alam bawah sadar. Akibatnya, terjadi gangguan disosiatif (Kompas, 22 Mei 2011).

Histeria semacam ini terjadi ketika seseorang memendam stres terlalu lama.
Ketika kita memendam stres, terjadi represi.

Ingat, stres jangan dipendam terlalu lama. Ia akan meledak saat kita lepas kontrol.
Saat kita sudah lepas kontrol, katakanlah ngelamun, kita bisa saja kehilangan kendali.

Represi seperti menanam bom hidup ke dalam tanah. Kenapa? Baca di sini.

 

Pendapat lain menganggap kesurupan terjadi karena pengaruh budaya.
Ini yang saya singgung di atas.

Kalau kita tinggal di budaya yang percaya gaib, kita jadi percaya sama yang gaib.
Kepercayaan kita terhadap gaib dapat mempermudah kita mengalami kesurupan.

Ini dibuktikan oleh penelitiannya Ferracutti (1996), yang bilang bahwa mereka yang punya kepercayaan kuat terhadap nilai-nilai religius lebih mudah mengalami gangguan trans disosiatif.

Cukup masuk akal bila mengingat kesurupan sering menular.
Pasti pernah denger kan kasus kesurupan massal?

Kita bisa aja ikut kesurupan kalau orang lain sudah kena duluan.
Karena kondisinya mencekam, otomatis kita jadi lebih “sadar” sama hal gaib.
Kita jadi lebih percaya sama “yang halus-halus”.

Apalagi kalau lagi memendam stres. Ya ikut kesurupan deh.

Saya bungkus ya. Kesurupan bisa terjadi karena: 

  • Spirit (Kesurupan karena beneran ada makhluk halus)
  • Medis (Kesurupan karena stres yang dipendam
  • Budaya (Karena percaya hantu jadinya kesurupan)

Saat ini psikologi berusaha melibatkan budaya daerah sebagai penyebab perilaku manusia.
Makanya, psikologi juga menyebutkan kata demon dan ghost di DSM V dan ICD 10.

Dengan kata lain, psikologi bisa percaya keberadaan arwah, mungkin juga nggak.
Tergantung psikologi ini sedang dipakai di budaya mana, dan siapa psikolognya.

Aneh sih kalau berpikir sains kok percaya klenik.
Tapi ya gimana, psikologi kan sains tapi sosial.

 

 

Kalau kamu percayanya sama yang mana? Kesurupan murni karena spirit, medis, atau budaya?
Masing-masing punya kelebihan dan kelemahan sih.

  • Spirit nggak masuk akal secara penuh.
  • Medis nggak bisa menjelaskan kesurupan arwah leluhur.
  • Budaya nggak bisa menjelaskan kesurupan karena santet (e.g. Bill Gates gak pernah kesurupan karena santet).

Atau, jangan-jangan kamu sudah bersiap menulis komentar seperti ini:

loh loh loh kesurupan itu kan gangguan jin?!?!?!?!”
“kok bisa kesurupan dijelaskan seperti ini. INI SALAH! KEBARAT-BARATAN!”

Iya, iya… agama memandang kesurupan sebagai gangguan makhluk halus.
Kami juga percaya kok sama keberadaan makhluk-makhluk tak kasat mata.

Yang baru saja kami jelaskan adalah pandangan psikologi mengenai kesurupan.
Dalam pandangan agama, penjelasannya bisa berbeda.

Apakah salah bahwa kesurupan itu gangguan makhluk halus?
Nggak, mungkin saja itu benar.

Hanya karena kami mengajukan satu pendapat, bukan berarti pendapat lain salah, kan?
Malah, apa yang kami jelaskan justru memperkuat pandangan agama mengenai kesurupan.

Kami percaya bahwa ilmu logika dan ilmu agama itu saling bersinergi.

Saling mengisi, saling menjelaskan.

Ilmu agama menjabarkan misteri, sementara logika membuktikan kebenaran ilmu agama.
Ilmu agama menunjukkan jalan, logika menerangi.
Agama menjelaskan, logika membenarkan.

Asik?

Yuk kita jadi makhluk Tuhan yang beriman sekaligus berpikir.

3 Replies to “Kesurupan dalam Ilmu Psikologi

  1. Sampai sekarang saya masih percaya nggak percaya sama yang namanya kesurupan, udah gitu saya sering liat orang itu kok kesurupan hewan buas, kesurupan macan la, harimau la, kenapa bukan hewan-hewan yang lebih kalem dikit ? Kayak kesurupan kupu-kupu atau kesurupan kura-kura. Kan enak gak ngamuk-ngamuk.

  2. Kalimat terakhir mengingatkan saya tentang kebesaran Tuhan, dimana akal pemikiran mentok tak ada jawaban. Saya melihat keberadaan Tuhan dan agama saya mempercayai hal-hal ghoib.
    Terimakasih untuk blog tentang introvert memotivasi saya untuk lebih mencintai diri saya. Pas galau nemuin blog ini plus menghibur. Semoga sehat selalu🙇

  3. hi, salam kenal semua,,
    saya mencari informasi dari sumber yang tidak membuat saya bertanya lagi mengenai kebenaranya karna setiap apapun yang kita tulis dan informasi sekecil apapun yang kita berikan, didalamnya terdapat tanggung jawab atas ke akuratan.

    Karna bisa jadi yang membaca ini adalah orang2 seperti saya yang sedang berjuang dan menganalisa apa yang sebenarnya terjadi dg diri sendiri

    saya pernah berada pada kondisi stress mendekati depresi, atas apa yang sedang hadapi dalam lingkungan kerja

    saya pun memiliki sedikit kepekaan terhadap hal hal gaib di sekitar saya yang mana menurut agama yang saya anut, hal gaib memang ada.

    kesurupan,, atau kemasukan
    sedang saya lawan selama 8 bulan terakhir ini.

    seandanya berkenan saya ingin memberi saran
    mungkin jika artikel ini bisa diperbaiki lebih spesifik, sumber yang dicantumkan dan ilmu yang sudah teruji pasti.
    sehingga lebih mampu menolong.

    Saat ini saya sedang berjuang mengembalikan alam bawah sadar saya, beraktifitas lebih produktif
    dari gangguan kesurupan, stress berkepanjangan dulu dan positif thinking.

    jadi menyeimbangkan ttg keyakinan kepada tuhan, secara (religi), psikologi, dan mindset.

    Terima kasih

    salam hangat

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)