Waktu baca yang dibutuhkan: 13 menit


Ketahui definisi kepribadian big five, trait yang termasuk di dalamnya, ciri-ciri masing-masing kepribadian, pengaruh kepribadian big five, dan faktor yang mempengaruhi kepribadian big five.

Belakangan ini beredar kabar tak sedap di sekitaran Gofur.
Katanya, di sekolah Chusnul ada anak baru, namanya Ahmad Sugaga dari Polewali Mandar.
Gofur nggak senang dengan kabar tersebut. Ia takut Ahmad Sugaga akan merebut Chusnul dari pelukannya.

Mengetahui hal ini, Chusnul cuma bisa ketawa.
Selagi dia ketawa, aroma kaos kaki basah menguar dari mulutnya.
“Yaampun yank, kamu itu neuroticismnya dominan banget sih! Tenang aja, walaupun openness to experience aku tinggi, aku tetep punya conscientiousness yang lumayan bagus kok. Aku tetep setia sama kamu lah!”

Gofur merasa tenang.
Namun ia jadi melongo, yang Chusnul bilang barusan apaan sih?
Consientiousness? Openness to experience? Apa dah?

Kamu nggak perlu bingung kayak Gofur. Hari ini, kamu akan belajar istilah-istilah sulit tadi!
Let’s go!

Daftar isi
Klik untuk mulai membaca

  1. Definisi Kepribadian Big Five
  2. Aspek-aspek Kepribadian Big Five
  3. Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian Big Five
  4. Pengaruh Kepribadian Big Five
  5. Alat Ukur Big Five Personality
  6. Potensi Penelitian


1. Definisi Kepribadian Big Five

Jadi, kepribadian big five itu apa sih?

Kepribadian big five memulai debutnya pada 1960, oleh Allport dan Cattell. Pendekatan ini digunakan untuk melihat kepribadian manusia, melalui trait yang tersusun dalam lima dimensi kepribadian, yang dibentuk menggunakan analisis faktor.

  • Allport (dalam Suryabrata, 2008) menyatakan bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Kepribadian ini terletak di belakang perbuatan-perbuatan khusus dan di dalam individu.
  • Cattel (dalam Engler, 2009) mengatakan kepribadian adalah prediksi mengenai perilaku seseorang dalam menghadapi situasi yang terjadi padanya.

Sementara big five adalah lima dimensi yang dikemukakan oleh Norman (1963), sebagai pengembangan dari teori Friske, Tupes, dan Christal (1961).

  • Feist dan Feist (2009) menyatakan bahwa big five adalah salah satu kepribadian yang dapat memprediksi dan menjelaskan perilaku. Ini merupakan pendekatan yang digunakan dalam psikologi untuk melihat kepribadian yang telah dibentuk dengan menggunakan analisis faktor. Terdapat lima trait, terbagi menjadi extraversion, agreeableness, conscientiousness, neuroticism, dan openness to experiences.
  • Caprara dan Cervone (2000) mengatakan bahwa kepribadian big five adalah teori kepribadian yang menjelaskan hubungan antara kognisi, affect, dan tindakan. Selain itu, big five dapat menjadi landasan bagi teori kepribadian.
  • Baron dan Byrne (2005) menyatakan bahwa lima besar dimensi kepribadian adalah dimensi dasar kepribadian manusia. Dimensi ini terbagi menjadi coscientiousness, openness, extraversion, agreeableness, dan neuroticism.
  • Pervin (2005) menyatakan bahwa kepribadian big five adalah teori mengenai faktor trait dengan lima kategori, yang dibagi berdasarkan karakteristik emosi, tindakan, dan faktor sosialnya.
  • Ghufron (2010) menyatakan kepribadian big five adalah kepribadian yang dikembangkan oleh McCrae dan Costa yang memiliki lima bentuk kepribadian yang mendasari perilaku individu.
  • McCrae dan Costa (dalam Feist & Feist, 2009) mendefinisikan trait kepribadian sebagai dimensi dari perbedaan individual yang cenderung menunjukkan pola pikiran, perasaan, dan perbuatan yang konsisten.

Kesimpulannya, big five personality factor adalah salah satu teori kepribadian. Seperti teori kepribadian milik Carl Jung, tipe kepribadian DISC, 16PF, dan lain-lain.

Big five personality  membagi kepribadian menjadi lima trait, yang terdiri dari keterbukaan (openness), hati nurani (conscientiousness), ekstraversi (extraversion), persetujuan (agreeableness), dan neurotisisme (neuroticism). Lima trait ini ada dalam tiap orang, namun kadarnya berbeda-beda. Kepribadian seseorang akan memiliki satu (atau lebih) trait yang dominan.

Lima trait ini akan kita bahas lebih lanjut di bawah yaa.


2. Aspek-aspek Kepribadian Big Five

Apa saja aspek-aspek kepribadian Big Five?

Sudah dijelaskan di atas, bahwa big five tersusun atas lima traitTrait ini semuanya ada dalam tiap orang, cuma pasti ada salah satu yang mendominasi.

Saya akan jelaskan langsung aja yak.

a. Openness

 Menurut Friedman (2006), openness adalah orang yang imajinatif, kreatif, dan artistik. Kata openness mengacu pada kemampuan untuk bertoleransi, kapasitas untuk menyerap informasi, fokus.

Seseorang dengan openness yang tinggi memiliki pemikiran yang imajinatif. Sementara orang dengan openness yang rendah juga menggambarkan orang yang cupet, konservatif, dan tidak suka perubahan (Goldberg, 1990).

Image result for daydreaming gif

b. Conscientiousness

Berkaitan dengan kemampuannya untuk fokus pada tujuan dan meraih tujuan tersebut. Orang dengan conscientiousness umumnya berhati-hati, dapat diandalkan, teratur, dan bertanggung jawab. Seseorang dengan conscientiousness memiliki nilai kebersihan dan ambisi. Selain itu mereka punya kontrol terhadap lingkungan sosial, berpikir sebelum bertindak, menunda kesenangan, taat aturan, terencana, terorganisir, dan memprioritaskan tugas. Orang-orang ini well-organize, tepat waktu, dan ambisius.

Orang yang conscientiousness rendah biasanya ceroboh, berantakan, tidak terarah, mudah teralih perhatiannya, dan tidak dapat diandalkan (Friedman, 2006).

Dalam urusan mengejar tujuan, orang dengan conscientiousness tinggi cenderung punya sedikit tujuan namun dikejar hingga tercapai. Sementara orang dengan conscientiousness rendah tujuannya banyak, namun berpindah-pindah dari satu tugas ke tugas lainnya (Goldberg, 1990).

c. Extraversion

Atau disebut juga faktor dominan-patuh. Merupakan trait berkaitan dengan karakter yang mudah diperlihatkan atau tidak. Individu yang tinggi pada dimensi ini cenderung penuh semangat, antusias, dominan, ramah, dan komunikatif. Ia juga akan mengingat semua interaksi sosial, berinteraksi dengan lebih banyak orang, serta memegang kendali dalam hubungan dan peer group.

Extraversion adalah orang yang ambisius, pekerja keras, dan lebih cepat berteman, mudah termotivasi, mudah tertantang, sekaligus mudah bosan (Friedman, 2006).

Orang dengan extraversion rendah lebih suka berdiam diri, tenang, pasif, dan kurang mampu mengungkapkan perasaannya (Costa & McCrae, dalam Feist dan Feist, 2009).

extraversion trait, big five, kepribadian big five
extraversion gampang bosen

d. Agreeableness

Berkaitan dengan altruisme. Menurut Friedman (2006) orang yang tinggi pada dimensi agreeableness cenderung ramah, kooperatif, mudah percaya, dan hangat. Trait yang disebut juga dengan adaptability ini mengindikasikan seseorang yang ramah, mudah mengalah, menghindari konflik, dan cenderung suka ikut-ikutan. Selain itu, seseorang dengan agreeableness tinggi berkarakter suka membantu, pemaaf, dan penyayang.

Seseorang dengan agreeableness rendah memiliki karakter yang dingin, kompetitif, egois, konfrontatif, dan kurang bersahabat.

e. Neuroticism

Neuroticism adalah tentang pengaruh dan pengendalian emosi. Individu dengan neuroticism tinggi memiliki sifat mudah gugup, sensitif, tegang, dan mudah cemas.

Individu dengan neuroticism tinggi cenderung memiliki ide yang kurang rasional,  mudah cemas, mudah marah, impulsif, dan rentan dalam menghadapi tekanan. Walaupun memiliki neuroticism tinggi, seseorang belum tentu tergolong memiliki kondisi psikolopatologi.

Individu dengan neuroticism rendah memiliki karakter tenang, datar, santai, dan mampu menghadapi situasi penuh tekanan tanpa merasa gentar. Selain itu, orang dengan neuroticism rendah juga lebih gembira dan puas terhadap hidup (Costa & McCrae, 1992).

Costa dan McCrae (dalam Pervin, 2005) membuat tabel karakteristik skor tinggi dan rendah pada masing-masing trait.

Skala traitSkor tinggiSkor rendah
NeuroticismCemas, gugup, emosional, insecure, merasa tidak mampu, rapuh, impulsifTenang, santai, merasa aman, puas terhadap dirinya, kuat secara emosional.
ExtraversionOptimis, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan, aktif, banyak bicara, penuh kasih sayang.Kurang ramah, berwibawa, suka menyendiri, orientasi pada tugas, pendiam.
Openness to Experience Ingin tahu, minat luas, kreatif, original, imajinatif, untraditional.Konvensional, sederhana, minat sempit, tidak artistik, tertutup, konservatif.
AgreeablenessLembut hati, percaya pada orang lain, suka menolong, pemaaf, penurut.Sinis, kasar, mudah curiga, tidak kooperatif, pendendam, kejam, manipulatif.
ConscientiousnessTeratur, pekerja keras, dapat diandalkan, disiplin, tepat waktu, rapi, hati-hati.Tanpa tujuan, tidak dapat diandalkan, malas, sembrono, lalai, mudah menyerah.


3. Faktor yang Mempengaruhi Trait Big Five

Faktor apa saja yang mempengaruhi big five?

Temperamen

Para peneliti memperdebatkan hal ini. Sebagian peneliti berpendapat bahwa temperamen adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kepribadian (berada di luar kepribadian), sebagian lain berpendapat bahwa temperamen adalah bagian dari kepribadian. Perbedaan pendapat ini disebabkan karena organisme yang belum belajar (binatang dan balita) telah memiliki temperamen, sebelum kepribadian mereka terbentuk (Rothbart dan Evans, 2000).

Peneliti lain berpendapat bahwa temperamen dan trait kepribadian adalah manifestasi yang satu paket, dan memiliki laten yang sama (Shiner dan Caspi, 2003). Ada juga yang berpendapat bahwa temperamen bisa saja menjadi trait kepribadian mereka, selama temperamen tersebut berinteraksi terhadap lingkungan sekitar (Shiner dan Caspi, 2003) (McCrae dkk, 2000) (Markey dkk, 2004).

Peneliti lain menganggap bahwa temperamen berasal dari sistem biokimia dalam tubuh. Temperamen ini kemudian mendapat pembentukan lanjutan dari lingkungan sekitar. Karena sudah ada sebelum kepribadian terbentuk, maka sejumlah peneliti menyarankan temperamen dilepaskan dari konsep kepribadian (Strelau, 1998; Rusalov dan Trofimova, 2007) .

Para peneliti temperamen menduga minimnya penelitian mengenai temperamen pada pengembangan teori big five menyebabkan ada kemiripan antara empat model temperamen  dengan trait yang terdapat pada big five. Misalnya, trait extraversion memiliki dimensi emosi “energi” dan “aktif” (Strelau, 1998).

Warisan

Studi pada sejumlah anak kembar menduga faktor keturunan dan lingkungan mempengaruhi kepribadian. Pada penelitian oleh Bouchard dan McGue (2003), rata-rata pada tiap kepribadian mendapat pengaruh dari faktor warisan genetis orang tua. Pada trait openness to experience ada pengaruh 57%, extraversion 54%, conscientiousnes 49%, neuroticism 48%, dan agreeableness 42%.

Perkembangan masa kecil dan remaja

Secara umum, penelitian big five berfokus pada kepribadian seseorang di masa dewasa, alih-alih pada masa kecil dan remaja. Namun, penelitian dari Caspi dan Shiner (2003), Rothbart dan kawan-kawan (2000), dan Markey dkk (2004) mulai menemukan benih trait big five pada anak dan remaja.

Tidak seperti peneliti lain yang beranggapan bahwa anak cenderung stabil, polos, dan mudah ditebak, peneliti ini menduga bahwa cikal bakal trait big five sudah ada sejak lahir. Seperti yang kita tahu, ada bayi yang lebih sering menangis dibanding yang lain. Ada pula yang lebih toleran terhadap sentuhan selain dari orang tua (Caspi dan Shiner, 2003).

Sejumlah penelitian menyebut bahwa empat trait – kecuali openness to experience – telah terlihat pada masa kanak-kanak. Sementara, bukti penelitian lain menemukan bahwa openness tidak terlihat pada masa kanak-kanak. Ini memberi dugaan bahwa openeess tidak terbentuk pada masa kanak-kanak.

Meskipun Mervielde, De Fruyt, & Jarmuz (1998) menyatakan bahwa openness pada anak terlihat pada tingkat kreativitas, keingintahuan, kecerdasan, dan imajinasi, peneliti lain tidak menemukan cikal bakal openness pada anak. Artinya, peneliti lain beranggapan bahwa openness belum bisa dilihat pada anak dan remaja.

Pengaruh pada masa dewasa

Cobb-Clark dan Schurer (2012) menyebutkan bahwa kepribadian pada dewasa akan menjadi stabil setelah empat tahun masuk dalam dunia kerja. Selain dari itu, tak banyak bukti yang menyatakan pengaruh besar pada kepribadian individu. Sejumlah penelitian dan meta-analisis mengindikasikan bahwa kepribadian dapat berubah pada tiap fase-fase tertentu sepanjang hidup. Secara rata-rata, tingkat agreeableness, conscientiousness meningkat seiring waktu, sementara tingkat extraversion, neuroticism, dan openness cenderung berkurang (Srivastava, 2003).

Penelitian lain menyebutkan bahwa perubahan masing-masing trait big five bergantung pada fase perkembangan seseorang. Misalnya, tingkat agreeableness dan conscientiousness mengalami tren negatif selama fase kanak-kanak dan remaja awal. Agreeableness dan conscientiousness baru mengalami perkembangan pada fase remaja akhir dan dewasa awal (Gosling, dkk, 2011).

Fleeson (2001) menyatakan bahwa trait big five tidak boleh dianggap sebagai suatu yang ajeg dan nggak berubah, namun dinamis dan fluktuatif. Tiap orang punya kapasitas untuk mengadaptasi masing-masing trait, tergantung perubahan fase dan lingkungannya. Trait dalam big five sejatinya adalah suatu yang bercampur dan ada dalam tiap orang, tidak berdiri sendiri-sendiri.


4. Pengaruh Kepribadian Big Five

Gangguan Kepribadian

Big five dikatakan mampu memprediksi 10 gejala gangguan kepribadian, dan mampu memprediksi gangguan kepribadian borderline, avoidant, dan gangguan kepribadian dependen (Bagby dkk, 2008). 

Kesehatan

Memiliki trait conscientiousness yang tinggi, meningkatkan harapan hidup seseorang hingga lima tahun lebih lama (Caspi dkk, 2007). Big five juga mampu memprediksi kesehatan tubuh yang lebih baik. Penelitian oleh Iwasa dkk (2007) menyebutkan bahwa conscientiousness, extraversion, dan openness berhubungan dengan berkurangnya resiko kematian pada lansia di Jepang.

Gaya Belajar

Banyak yang menduga bahwa  trait big five punya pengaruh terhadap proses berpikir (Zhang, 2001).

Smeck, Ribicj, dan Ramanaih (1997) membagi gaya belajar menjadi empat:

NamaFungsi
Sintesis dan analisis:Memproses informasi, membagi menjadi kategori, dan mengurutkan informasi tersebut dalam hirarki. 
Methodical study:Perilaku belajar dengan latihan dan tugas-tugas.
Fact retention:Fokus pada nilai dan hasil, mengabaikan logika dan proses pemahaman
Elaborative processing:Menghubungkan dan menerapkan hasil belajar dengan kehidupan sehari-hari

Openness cocok dengan proses belajar synthesis analysis dan methodical study. Sebenarnya conscientiousness dan openness mampu beradaptasi dengan semua gaya belajar sih (Komarraju, 2011). Sebaliknya, neuroticism tidak mampu beradaptasi dengan empat gaya belajar di atas. Extraversion paling cocok dengan gaya elaboratif (Komarraju dkk, 2011).

Prestasi Akademik

Kepribadian juga mempunyai pengaruh penting pada pencapaian akademis.

Sebuah penelitian dengan membandingkan hasil FFIP dengan nilai di sekolah pada 308 siswa, menyebutkan bahwa kepribadian mempengaruhi nilai di rapor. Dalam penelitian itu, ditemukan bahwa conscientiousness dan agreeableness mampu mengikuti semua gaya belajar, sementara neuroticism tidak mampu mengikuti.

Hubungan Asmara

Big five juga punya kaitan dengan hubungan asmara. Penelitian dari Holland dan Roisman (2008) menyebutkan bahwa big five bisa memprediksi kualitas hubungan asmara pada orang yang pacaran, tunangan, dan menikah. Penelitian ini mengukur trait big five pada pasangan-pasangan tersebut. Hasilnya?

Pasangan yang pacaran

Orang dengan conscientiousness tinggi menganggap hubungan mereka baik-baik saja.
Orang dengan agreeableness tinggi dinilai pasangannya mampu menciptakan hubungan yang berkualitas.
Orang dengan neuroticism tinggi menilai hubungannya nggak aman, namun bila pasangannya punya conscientiousness tinggi, mereka akan aman-aman aja (asal orang yang neuroticism tinggi nggak kebanyakan drama aja, heheh)

Pasangan yang tunangan

Orang dengan extraversion dan conscientiousness tinggi menilai bahwa hubungan pertunangan mereka berkualitas.
Kalau extraversion seseorang tinggi, hubungan pertunangannya biasanya bagus.

Pasangan yang menikah

Orang dengan neuroticism, extraversion, dan agreeableness menganggap hubungan pernikahan mereka langgeng.
Orang yang berpasangan dengan agreeableness tinggi merasa nyaman dengan pernikahan mereka.

Takeaways:

Sejumlah penelitian membuktikan bahwa big five mampu memprediksi:

  • Kualitas hubungan asmara
  • Gaya belajar yang tepat
  • Kecenderungan gangguan kepribadian
  • Kualitas kesehatan
  • Prestasi belajar


5. Alat Ukur Big Five Personality Factor

Apa saja inventori untuk big five?

a. NEO-PI-R (The Neuroticism Extraversion Openness – Personality Inventory – Revised)

Alat ukur ini dikembangkan oleh Paul T. Costa dan Robert R. McCrae, terdiri dari 240 item (Gosling, Rentfrow, & Jr., 2003). Durasi pengerjaannya sekitar 35 menit.

Tapi kalau kamu masih S1 dan mau bikin penelitian/skripsi pakai NEO-PI-R, kamu perlu bimbingan dari psikolog. NEO-PI-R digolongkan sebagai tes medis, dan interpretasinya gak boleh sembarangan.

Kamu juga nggak bisa download alat ukur ini dari internet.

b. BFI (Big Five Inventory)

Dikembangkan oleh John dan Donahue pada tahun 1999. Alat ukur kepribadian big five ini terdiri dari 44 aitem, terdiri dari 5 faktor trait di atas. Skalanya pakai skala likert dengan pilihan jawaban 1-5.

Asik nih, pakai skala likert. BFI juga bebas dipakai selama tujuannya bukan komersil. Pembuatnya sendiri yang bilang.

Intip Big Five Inventory di sini.

Contoh skoringnya ada di halaman paliiing bawah. Untuk norma tesnya, kamu bisa lihat di sini.
Masukkan dulu data-datanya, nanti di bagian akhir kamu dikasih norma tesnya.

(Saya belum sempet ngebaca norma tesnya. Ingetin saya di kolom komentar ya)

c. IPIP-FFI (International Personality Item Pool – Five Factor Inventory)

IPIP adalah kumpulan aitem yang dibuat dan dikembangkan oleh peneliti dari seluruh dunia. Hingga saat ini, aitem yang terkumpul mencapai 3010 butir dan skalanya ada 250 macam.

Jangan pingsan dulu.

Ada satu contoh skala yang terdiri dari 50 aitem di sini. Kalau kamu buka, nanti di bagian paling bawah ada norma dan instruksi tesnya.

Aitemnya singkat-singkat kok. Sebentar lah ngisinya.

Kalau kamu mau, kamu bisa nyoba tes onlinenya di sini.

d. MINI-IPIP (MINI – International Personality Item Pool)

Alat ukur ini adalah adaptasi dari IPIP-FFI, namun lebih ringkas. Cuma 20 aitem.

Bagus kok. Kalimat-kalimatnya singkat.

Tapi untuk norma dan cara analisa datanya saya belum liat. Kalau mau, kamu bisa cek di sini (skalanya ada di bagian lampiran paling bawah).

e. NEO-FFI (Neo Five-Factor Inventory)

Neo Five Factor Inventory (NEO-FFI) yang dirancang oleh Costa dan Crae (1992), dan merupakan versi pendek dari NEO PI-R. Versi ini terdiri dari 60 items dengan
validitas dan reliabilitas untuk mengukur lima dimensi dari kepribadian. Inventory ini menggunakan 7 skala yang bergerak dari 0 sampai dengan 6, mengikuti pola skala Likert.

Menurut Costa dan Crae, inventory ini menunjukkan adanya korelasi dengan NEO-PI sebesar .75 – .89, sedangkan konsistensi internalnya bergerak pada range .74 – .89.

Linknya nggak saya kasi ya, berbayar soalnya. Dan mahil juga, $176.


6. Potensi Penelitian

Trait big five adalah variabel psikologi yang menarik untuk diteliti, karena kaitannya dengan berbagai kondisi manusia yang cukup luas.

Kamu bisa mengaitkannya dengan kondisi yang jamak (seperti hubungan asmara) hingga yang rumit (kecenderungan suatu psikopatologi).

Tapi,, yang jadi masalah tentu saja kamu perlu mendapatkan subyek-subyek dengan dominasi pada masing-masing trait.

Jadi kamu perlu mendapatkan subyek yang dominan di conscientiousness, subyek yang dominan di openness, subyek lain dominan di neuroticism, gitu-gitu.

Tapi tetep konsultasi ke pembimbingmu.

Kalau ada komentar dan kontribusi tambahan, silakan tulis di bawah ya.

Sampai jumpa!

 

 

21 Replies to “Kepribadian Big Five: Variabel Psikologi

  1. Tulisan di atas sangat membantu sekali bagi mahasiswa psikologi seperti saya. Saya ingin mengetahui lebih lanjut terkait alat ukur kepribadian lainnya.
    Apakah bahasan selanjutnya bisa mengenai tipe kepribadian HEXACO?
    saya tertarik dengan HEXACO namum referensi yang saya dapatkan masih mini sekali.

    1. halo queency, terima kasih sudah mampir 🙂

      coba cek di sini https://shop.acer.edu.au/the-neotm-inventories-neotm-five-factor-inventory-3-neotm-ffi-3
      atau di sini https://www4.parinc.com/Registration/Register1.aspx

      dua-duanya minta personal qualification gitu, mungkin semacam sertifikat keprofesian yang diakui secara internasional.
      kalo beli di dalem negeri kita kurang tau sih, tapi biasanya minta bantuan HIMPSI.
      mungkin dosen yang sudah gabung ke APA bisa bantu juga.

  2. kak mau nanyak cara skoring BFI itu gmn ya? terus big five ini bisa dipakek buat ngukur kepribadiannya anak smp gak kak?

    1. Halo Nurany, makasih sudah mampir 🙂
      Kalo kamu liat di BFI halaman paling bawah, kan ada tuh tulisan seperti ini:

      Extraversion: 1, 6R, 11, 16, 21R, 26, 31R, 36.
      Itu artinya apa?

      Artinya, trait untuk extraversion terdapat di aitem nomer 1, 6, 11, 16, 21, 26, 31, dan 36.

      Cara menilainya sama seperti menilai skala likert. SS=5, S=4, RR=3, TS=2, STS=1.
      Misalnya, aitem nomer 1 dia memilih “sangat setuju”. Berarti dia dapat skor 5.

      Beberapa aitem ada yang ditambahkan R, seperti 6R dan 21R. Maksudnya?
      Itu berarti cara menilainya dibalik. SS=1, S=2, RR=3, TS=4, STS=5.
      Kalau dia memilih “sangat setuju” pada aitem dengan tambahan R, artinya dia dapat skor 1. Ibaratkan aitem unfavorabel, dibalik aja.

      Bisa sih dipakek ngukur, soalnya aitemnya singkat singkat.
      Tapi biasanya anak smp kan agak bandel ya, jadi kayaknya nggak bisa disuruh ngisi lama-lama.
      Kamu coba pake BFI yang 10 aitem nih.

      https://www.ocf.berkeley.edu/~johnlab/pdfs/BFI-10.doc
      Daftar pustakanya ini

      Rammstedt, B. & John, O. P. (2007). Measuring personality in one minute or less: A 10-item short version of the Big Five Inventory in English and German. Journal of Research in Personality, 41, 203-212.

      Semoga membantu!

      1. terimakasiih banyak kak sangat membantu 🙂
        kapan2 saya boleh tnyak lagi ya tentang Big Five 😀

  3. Pingback: Perbedaan Introvert dalam diri ISTJ dan INTJ – Robi Maulana
  4. Halo.. Saya nau nanya saya liat ada journal tentang personality change intervention di internet.. Apakah penelitian di indonesia ada yang melakukan hal serupa?

    1. halo Arya, thanks sudah mampir 🙂
      Dari beberapa repository Indonesia yang kami bongkar nggak ada sih.
      mungkin karena ulasan baru kali ya? jadi di Indonesia belum diteliti.

      1. Memang saya lihat penelitiannya baru di tahun 2013 di tahun 2017 baru dilakukan meta-analysis.. Kebetulan saya punya neuroticism yang tinggi jadi saya tertarik dengan penelitian tersebut.. Semoga di indonesia saya bisa dijadikan percobaan..hehehe

  5. kak mau tnyak lagi, klo boleh tau untuk faktor-faktor yang mmpngaruhi kepribadian big five itu daftar pustakanya dapat dari mana? saya ingin tahu karena untuk keperluan skripsi, kemudian mau tnyak lagi untuk ipip dan bfi sendiri bagaimana dengan lisensinya? apakah kami yg sdang menempuh skripsi boleh menggunakan alat ukur tersebut, jika memang boleh kami harus menghubungi siapa untuk bisa mendapatkan adaptasi bahasa indonesia tersebut? trimaksiih

  6. Hi.kak. Mau nanya bagaimana cara hitung skoring dan norma BFI?untuk skripsi, terimakasih atas bantuannya.:)

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)