Kenapa Sih Orang Suka Makanan Pedas?

kenapa kita suka makanan pedas

Di kota tempat saya tinggal, ada sebuah tempat makan hits.

Tempat itu jadi terkenal karena menu makanannya. Menu di sana itu pedes-pedes dan pedesnya pake level-levelan. Jadi satu level sama dengan tiga cabe rawit.

Orang-orang suka makan di sana, dan mereka rata-rata makan dengan muka merah nahan pedes. Asli deh percuma dandan kalo mau makan di situ. Luntur bosq~

Kebetulan saya pernah makan ke situ sama temen.
Saya sendiri gak terlalu suka pedes sih, tapi yaudahlah ya kan pengen juga jadi anak hits sekali-sekali.

Temen saya itu dengan gagah memesan mi goreng level lima.

Saya tanya,”yakin bakalan abis?”
Dia jawab,”yakin!”

Daaaaan setelah empat atau lima suapan, dia nyuruh saya yang ngabisin. Dia nggak kuat katanya.

Tapi di meja-meja lain, orang-orang yang dateng rata-rata berhasil makan sampe abis. Yaaa walaupun abis itu mereka jadi banjir keringet dan muka mereka jadi merah nahan kepedesan.

Kamu mungkin heran sama mereka yang terlalu doyan sama makanan pedes. Udah tau abis makan bakal banjir keringet, udah tau bibir bakalan dower. Udah tau lambungnya bakal perih. Tapi kok ya diterusin.

Atau mungkin kamu sendiri yang rela makan pedes, walaupun malemnya harus bolak-balik ke kamar mandi.

Kenapa ya orang suka makanan pedes? Adakah alasan psikologis di balik orang yang suka makanan pedes?

 

Ada Sesuatu yang Menyenangkan Setelah Kepedesan

Seringkali walaupun kepedesan, orang-orang mengipasi mulutnya sambil tersenyum puas.

Kok bisa ya?

Jadi saat kita ngerasain sakit, tubuh kita melepaskan hormon endorfin. Endorfin ini berfungsi sebagai pengurang rasa sakit, sekaligus pemberi rasa senang yang euforik.

Kalo kita lagi mengalami sakit yang beneran bahaya, mungkin hormon endorfin ini gak terasa banget. Tapiiii keberadaan endorfin itu bisa pelan-pelan membantu kita menenangkan diri.

kenapa kita suka makanan pedas
sambel enak seger kak~

 

Nah begitu juga saat kita makan makanan yang pedes. Waktu kita makan makanan pedes, otak kita mengira lidah kita lagi terbakar.

Maka otak langsung memantik produksi tiga hormon: endorfin, anandamide, dan adrenalin.

Yang pertama, endorfin. Endorfin ini memblokir sinyal rasa sakit, dan menstimulasi limbik dan prefrontal di otak. Sensasi yang muncul sama dengan reaksi nge-fly setelah mengkonsumsi heroin dan morfin lo.

Terus anandamide. Selain itu tubuh kita juga memproduksi pengurang rasa sakit bernama anandamide. Anandamide ini memblokir sinyal rasa sakit juga, dan dia bikin kita ngerasa anget dan santai.

Adrenalin, yang terakhir, bikin kita ngerasa bersemangat, dan bikin kinerja jantung jadi meningkat.

Makanya, abis makan makanan yang pedes, kita jadi senyum-senyum, bersandar, sambil ngelapin keringet.

Sensasi menyenangkan akibat makan pedes ini adalah sesuatu yang tanpa sadar kita kejar.

 

Kita Suka Rasa Sakit yang Nggak Berbahaya

Ahli botani bilang, cabe memproduksi capsaicin sebagai cara bertahan hidup, supaya buahnya nggak dimakan hewan.

Dan itu berhasil. Nggak ada satupun hewan yang mau makan cabe.

Kecuali manusia. Manusia justru malah memakan cabe, membuat skala kepedasan, sampai membudidayakannya.

Nggak cuma di era modern lo. Penelitian sejarah menemukan bukti bahwa budidaya cabe udah dilakukan sejak 6000 tahun yang lalu.

Ketika hewan-hewan lain pada menghindari cabe, kok kita mau ya memakannya?

Naaah, jadi ada sebuah teori yang bilang kalo kita suka rasa sakit, selama sakit itu nggak membahayakan.

Istilahnya sih benign masochism, alias ‘masokisme jinak’. Dan ini super normal.

Contohnya roller coaster. Kamu mau naik roller coaster, asalkan kamu yakin sama keamanannya.
Atau nonton film horor. Kamu mau ngeliat hantu-hantu di dalam film itu, karena kamu tau hantunya gak mungkin kan keluar layar dan ganggu kamu beneran.

Terus pernah nggak kamu iseng megang pinggiran panci/wajan yang panas, padahal kamu sendiri udah tau itu panas? Iya, sebagian dari kita suka sama rasa sakit, selama itu nggak bahaya.

 

Kita mau ngerasain sakit, asal:

  1. Sakit itu nggak bikin kita cedera/meninggal
  2. Rasa ingin tahu kita terpuaskan
  3. Mendapatkan kesenangan yang lebih besar setelah ngerasain sakit

 

Pedesnya cabe juga termasuk dalam masokisme jinak ini. Zat capsaicin di dalem cabe emang bikin kepedesan, tapi sensasi senang pasca kepedesan itu bikin kita nagih buat nyobain makanan pedes lagi.

Anak kecil biasanya nangis kalo baru pertama makan pedes. Tapi lama-lama anak sadar kalo pedes ternyata nggak membahayakan. Akhirnya, karena sakit tapi nggak bahaya, ada anak yang pas gedenya jadi suka pedes.

Sejatinya sakit dan kesenangan itu jalannya berbarengan. Otak kita merespon kebahagiaan dengan cara yang sama seperti merespon rasa sakit.

Makanya orang kalo mengkonsumsi obat semacam penghilang rasa sakit, dia jadi lebih kebal sama rasa sakit, tapi juga sekaligus nggak bisa ngerasa senang.

Emotionally numb gitu istilahnya.


NAH! Itu tadi sebab kenapa orang suka makanan pedes.

Pedes emang bikin perut perih, tapi kita rela melakukannya demi mendapatkan sensasi senang dan bahagia.

Mungkin sama juga dengan kesuksesan. Kita mungkin harus rela sakit dan gagal berkali-kali demi mendapatkan kebahagiaan di akhir kelak.

Kamu sendiri suka pedes nggak sih?

Dalang sesungguhnya di balik PsikologiHore. Suka ngopi tapi kopi nggak suka sama dia.

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)