Kenapa Sih Orang Percaya Hoax?

kenapa hoax laku di indonesia, dampak hoax, contoh berita hoax, kenapa orang percaya hoax, kenapa orang mudah percaya hoax, kenapa orang gemar menyebar hoax, kenapa kita suka hoax, kenapa orang suka hoax

Siapa sih yang suka dibohongin?

Keberadaan hoax alias berita palsu emang bikin resah. Nggak hanya karena kita dibohongin, tapi kadang ada pihak yang dirugiin. Contohnya, gara-gara hoax, omset pedagang bakso di Banyumas menurun. Sedih nggak sih, orang jadi susah nyari nafkah gara-gara informasi simpang siur?

Hoax emang jadi salah satu agenda yang perlu dibahas serius. Bukan apa-apa sih, tapi emang orang cenderung gampang percaya hoax.

Ngomong-ngomong, kenapa sih orang percaya sama hoax?

Apa ciri-cirinya?

Dan gimana sih caranya mengurangi penyebaran hoax?

Kali ini kita akan bedah semua satu-satu.

Kenapa kita percaya sama hoax?

Secara psikologis, ada beberapa alesan kenapa kita percaya sama hoax. Apa aja sih?

 

1. Motivasi Internal

Pada dasarnya manusia bergerak karena termotivasi dua hal: Mendapatkan kesenangan, atau menghindari kesengsaraan.

Seseorang bisa aja percaya hoax karena dia senang sama berita bohong tersebut.

Misalnya di musim pemilu ini ada seorang fanatik pendukung golongan A. Terus dia nemuin berita jelek tentang golongan B. Dia mungkin akan membacanya dengan senang hati, atau mungkin membagikannya, karena kejelekan lawan akan meningkatkan kebaikan golongan yang dia dukung.

Seseorang juga bisa percaya hoax karena dia ingin menghindari kesengsaraan.

Misalnya broadcast Whatsapp tentang ajakan meletakkan baskom berisi air garam di teras rumah untuk memancing hujan. Seseorang bisa aja percaya atau melakukannya karena dia pengen musim kemarau segera berakhir.

Atau yang baru-baru ini terjadi di rumah saya di Maumere. Berhubung beberapa waktu yang lalu ada gempa di Lombok dan Sulawesi Tengah, broadcast tentang prediksi gempa di Maumare nyebar dengan cepat dan dipercaya gitu aja. Itu murni karena ketakutan dan kecemasan akan gempa.

Mungkin ini juga bisa jadi alesan kenapa ada orang nyebarin hoax. Karena seneng kali ya ngeliat orang takut…

 

2. Sesuai sama keyakinannya

Seseorang juga cenderung akan membagikan hoax karena sesuai sama keyakinannya.

Pada dasarnya ketika orang udah percaya sama sesuatu, kepercayaan orang itu susah diubah. Informasi baru yang dianggep beda sama keyakinannya akan ditolak, sementara informasi lain yang sesuai sama apa yang dia yakini akan dia terima.

Contohnya adalah foto seorang anak korban perang Suriah yang tidur di tengah-tengah makam kedua orangtuanya. Setelah diselidiki, ketahuan bahwa makam itu boongan. Orang tuanya masih idup, dan yang motret adalah oomnya si anak tadi.

Perang Suriah memang bener terjadi, dan semua orang yakin itu. Foto ini hoax, tapi ngepas sama keyakinan kita. Sebuah informasi palsu, tapi sesuai sama keyakinannya seseorang, maka orang itu akan percaya dan share begitu aja.

Walaupun hoax ini udah lama kebongkar, tapi orang yang belum pernah liat mungkin akan percaya gitu aja.

Fenomena ini di psikologi disebut confirmation bias, kalo diterjemahin jadi bias konfirmasi. Confirmation bias ini adalah kecenderungan orang untuk memilih dan menerima informasi yang sesuai sama dia, dan menolak yang nggak sesuai.

 

3. Karena males cross-check

Internet ngasi kita akses yang luar biasa luas dan cepet terhadap informasi. Buka aja instagram atau facebook kamu. Kalo kamu refresh sekali aja, informasi baru akan langsung muncul.

Informasi yang terus muncul memborbardir ini justru bikin orang nggak sempet “ngunyah”. Jadi langsung main telen aja tanpa diproses. Jadinya, ketika ada informasi yang masuk, orang percaya aja. Lagian males banget mau periksa kebenaran lagi.

Jangankan verifikasi. Orang kadang baca judulnya aja, atau baca setengah terus langsung komentar.

 

4. Karena orang lain percaya

Kamu pernah nggak nemu postingan kayak gini di Facebook?

kenapa hoax laku di indonesia, dampak hoax, contoh berita hoax, kenapa orang percaya hoax, kenapa orang mudah percaya hoax, kenapa orang gemar menyebar hoax, kenapa kita suka hoax, kenapa orang suka hoax

Postingan semacam ini biasanya bisa dapet puluhan ribu like dan komentar. Orang yang awalnya nggak percaya, lalu melihat puluhan ribu komentar yang terpampang, akhirnya penasaran terus ikut-ikutan.

Orang cenderung melakukan sesuatu, membaca sesuatu, atau menyetujui sesuatu karena orang lain melakukannya. Ini wajar, alami. Tindakan ini namanya konformitas.

Misalnya kamu deh. Kamu mungkin memilih sabun muka bukan karena komposisi di belakang kemasan, tapi karena review dari blog atau karena direkomendasiin temenmu.

Di satu sisi ini bagus, karena menghemat waktu. Tapi di sisi lain ini bikin kita jadi subyektif, dan kadang bisa dipengaruhi.

Hoax juga menyebar karena ini. Orang kadang ikut ngeshare suatu hoax karena dia ngeliat jumlah like atau share yang mencapai ribuan. Atau dia ikut nyebarin broadcast hoax karena dia “dapet dari grup sebelah”.

 

5. Karena muncul berkali-kali

Waktu kecil saya doyan banget nonton tv. Dan salah satu favorit saya adalah iklan. Yang unik, kadang ada iklan yang durasinya singkat, tapi muncul tiga kali berturut-turut.

Saya dulu sering heran kenapa iklan ini bisa muncul tiga kali. Apa tvnya rusak?

Jawabannya gampang: semakin sering kita liat atau denger sesuatu, lama-lama kita bakalan percaya.

Kalo kata Neville Goddard: asumsi mengeras menjadi fakta.

Ketika satu hoax sering berseliweran di timeline, atau berkali-kali didapetin dari broadcast grup WA, orang yang awalnya skeptis lama-lama bisa jadi percaya.

 

6. Berita bohong lebih memantik emosi

kenapa hoax laku di indonesia, dampak hoax, contoh berita hoax, kenapa orang percaya hoax, kenapa orang mudah percaya hoax, kenapa orang gemar menyebar hoax, kenapa kita suka hoax, kenapa orang suka hoax
huuh berita ini membuatku marah~

Mana yang lebih heboh: muka babak belur karena dikeroyok, atau karena abis sedot lemak?

Mana yang lebih serem: ada partai ilegal diam-diam punya 2 juta anggota, atau partai itu sebenernya udah bubar dari 53 tahun yang lalu?

Mana yang lebih nakutin: prediksi gempa berpotensi tsunami, atau gempa sebenernya nggak bisa diprediksi?

Orang cepet percaya berita hoax karena emang isinya udah pasti bombastis. Isinya bikin takut, bikin tercengang, atau bikin marah. Pokoknya bener-bener memantik emosi pembaca.

Orang sering menganggap diri mereka sebagai makhluk rasional, padahal kenyataannya banyak tindakan kita dipengaruhi emosi.

Gampangnya gini: pernah nggak kamu beli sesuatu yang nggak kamu butuhin banget, hanya karena lagi diskon? Atau pernah nggak kamu nafsu banget ngambil makanan banyak, terus ternyata nggak abis?

Ya itu dia, kadang kita melakukan sesuatu karena emosi sesaat. Dan berita bohong seringkali dipercaya dan menyebar karena sebab ini.

 


Apa sih ciri-ciri hoax?

Hoax dapat diterima dan disebar bahkan oleh orang yang cerdas sekalipun.

Kita belum lupa dong kasus muka bonyok yang ngakunya gara-gara dikeroyok, tapi ternyata gara-gara sedot lemak. Sebagian elit politik dan influencer terlanjur percaya sama hal ini. Ini membuktikan kalo hoax sekarang tambah halus.

Jadi apa sih ciri-ciri hoax? Gimana cara membedakan hoax dengan berita asli?

 

1. Hoax seringkali too weird to be true

Dulu di Bengkulu ada hoax berupa PBB mau ngasi bantuan berupa duit 13 juta per bulan selamanya, caranya cukup daftar 200ribu pada oknum tertentu.

Terus ada lagi isu beras plastik, padahal ya buat apa juga orang bikin beras dari plastik? Mending buat operasi lah.

Ada lagi hoax telur sintetis, yang kalo dipikir-pikir ngapain juga bikin telur buatan…

Ada lagi kakek-kakek yang bisa bertelor.

kenapa hoax laku di indonesia, dampak hoax, contoh berita hoax, kenapa orang percaya hoax, kenapa orang mudah percaya hoax, kenapa orang gemar menyebar hoax, kenapa kita suka hoax, kenapa orang suka hoax
telur hanya ilustrasi, bukan milik kakek tsb

Ada juga tukang las yang bisa bikin tangan robotik.

 

Intinya semua hoax ini sama: mereka terlalu aneh untuk jadi kenyataan. Memang kadang ada berita yang ajaib, tapi seberapa sering sih hal-hal semacem itu terjadi?

 

2. Asalnya bukan dari sumber terpercaya

Hoax seringkali muncul dari broadcast WhatsApp. Biasanya si pengedar mengaku “copas dari grup sebelah”.

Padahal nggak tau juga grup sebelah mana.

Atau kalo emang asalnya dari situs, asalnya dari situs gratisan dengan domain blogspot.com. Kalaupun udah pake domain berbayar, nama situsnya nggak pernah kamu denger.

 

3. Kamu disuruh nyebarin

Biasanya hoax yang sifatnya ajaib atau agak aneh, di bagian bawah nanti ada perintah buat nyebarin. Kalo nggak disebarin nanti kamu dapet sial lah, jomblo stadium akhir lah, macem-macem.

 

4. Viral terlalu cepat

Viral gak selalu jadi indikator kebenaran informasi. Malah penelitian ini menyebut kalo berita bohong seringkali menyebar lebih cepat dan lebih jauh dibandingkan berita beneran.

Informasi viral seringkali dibagiin berkali-kali soalnya dia berhasil memancing emosi, dan bukan karena akurasinya. Ketika sebuah broadcast, video, atau artikel dibagi berkali-kali, biasanya orang akan terpancing oleh konformitas, dan akhirnya akan mikir kalo informasi ini layak dipercaya.

Malah sebaliknya informasi gak viral karena emang isinya biasa aja. Walaupun penting, tapi nggak seru-seru amat. Makanya nggak seberapa sering dibagiin.

 

5. Nggak netral

Masih inget kan tentang bahasan tadi tentang motivasi, confirmational bias, dan konformitas? Nah tiga bumbu penyedap ini sering terpadu dalam satu informasi hoax.

Katakanlah kamu menemukan suatu informasi. Coba baca judulnya. Ketika kamu membaca judulnya saja, bisakah kamu langsung setuju dengan konten tersebut? Adakah informasi ini menguntungkan golongan atau kepercayaan yang kamu anut, bahkan tanpa membaca isinya?

Penyebar hoax dan propagandis cukup pintar untuk membuat framing, memantik confirmational bias dan motivasi kita untuk percaya dan membagikan informasi tersebut.

 


Gimana dong caranya menghindari hoax?

Okelah, kita udah ngejelasin panjang lebar banget soal hoax ini. Kita udah sampe di bagian akhir: jadi gimana sih cara menghindari hoax?

Seberat apapun berusaha, kadang hoax emang bikin kita terpancing untuk cepet percaya. Malah tergerak untuk ngebagiin. Terus gimana caranya biar kita nggak gampang terpengaruh sama hoax?

 

1. Slow down

Namanya informasi hoax hampir pasti isinya provokatif dan mancing nafsu kamu, entah itu takut atau marah.

Sebelum mulai bergerak, coba kamu stop dulu. Slow…… Ngapain buru-buru membagikan informasi? Kamu kan nggak dikasi deadline? Kan nggak ada yang nyuruh?

Dengan slow down, kamu bisa meredakan emosi kamu. Kamu bisa ngeredain dulu rasa takutmu, curigamu, atau marahmu gara-gara informasi yang barusan kamu baca. Dengan gitu kamu nggak langsung percaya apalagi ngebagiinnya dengan cepet.

 

2. Ini yang nulis siapa sih?

Sebelum mulai baca berita provokatif, coba liat dulu asalnya berita ini dari mana. Apakah berasal dari “grup sebelah?” atau “dapet dari temen?” kalo iya, udahlah diemin bae. Gausah dibaca.

Atau kalo asalnya dari situs, coba periksa; kamu udah pernah denger belum sih situsnya? Domainnya pake apa, gratisan .blogspot.com atau udah pake .com/.id?

Kalo emang belum pernah denger situsnya, yaudahlah diemin bae.

 

3. Cek kebenarannya, minimal dari Google

Katakanlah kamu menemukan informasi seputar isu bencana. Sebelum kamu mulai baca, coba deh tutup dulu itu WhatsAppnya, terus buka Google. Ketik deh, kira-kira isu bencana itu bener nggak sih?

Atau kalo misalkan kamu nemu foto yang provokatif. Kira-kira foto ini bener nggak sih?

Googling gak butuh waktu lama kok. Paling lima menit. Lima menit udah lebih dari cukup buat menegaskan kalo kamu adalah orang yang kritis akan informasi. Ya nggak?

 

4. Menanamkan mindset bahwa menyebar hoax adalah kegiatan memalukan

Ini sih saran dari kami pribadi ya.

Verifikasi kebenaran informasi nggak cukup buat memerangi hoax. Soalnya gini: ketika kita nemu hoax, terus kita kasi tau ke si orang yang nyebarin, kadang dia cuma berkelit,”dapet dari temen”.

Artinya apa sih? Nyebarin berita hoax seolah nggak ada ruginya. Nggak ada salahnya. Kalo bener ya sukur, kalo salah ya kan “dapet dari orang”.

 

kenapa hoax laku di indonesia, dampak hoax, contoh berita hoax, kenapa orang percaya hoax, kenapa orang mudah percaya hoax, kenapa orang gemar menyebar hoax, kenapa kita suka hoax, kenapa orang suka hoax
hobi kok nyebar hoak sih bosq~

 

Mungkin kita harus secara aktif nanemin ke masyarakat dan orang di sekitar, terutama para penghuni grup chatting, kalo nyebar-nyebarin hoax adalah tindakan yang memalukan.

Dengan demikian, lama-lama orang mikir lo mau nyebarin informasi apa nggak. Takutnya kalo salah, nantik malunya nggak ilang-ilang.

Tindakan nyebar hoax emang sekarang udah termasuk ilegal, tapi sanksi sosialnya masih minim banget. Orang bisa berdalih “dapet dari temen”, makanya mereka nggak kapok. Coba kalo menyebar hoax adalah tindakan nggak normal, udah pasti orang mikir dua kali buat nyebar-nyebarin.

Kalo misalnya kamu nemu berita bohongnya dari sosmed, kamu juga bisa pake tombol “laporkan” yang ada di Facebook, Twitter, atau IG. Dengan gitu, pelan-pelan berita bohong akan memudar.

 


Nah! Itu tadi serba-serbi sisi psikologis hoax, ciri-cirinya, dan cara memeranginya.

Keberadaan berita bohong emang meresahkan, bikin kita jadi susah ngebedain mana yang bener dan salah. Tapi dengan beberapa informasi yang kita bahas barusan, semoga hoax pelan-pelan bisa kita perangi bersama ya.

Anyway, hoax di macem-macem daerah dan kota bisa beda-beda. Kalo di tempatmu, hoax apa yang pernah kamu dapetin? Cerita dong!

sumber;

Huffington Post

Time

American Psychological Association

 

One Reply to “Kenapa Sih Orang Percaya Hoax?”

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)