Kenapa Sih Kita Bisa Kecanduan Smartphone?

Kamu mungkin punya temen yang nggak tahan kalo nggak pegang hape. Adaaa aja yang dibuka. Instagram lah, Line lah, WA lah… adaaaa aja yang dipencetin.

Ada jenis orang yang langsung gelisah kalo layar hapenya mati lebih dari beberapa menit. Maunya ngechat dan meriksa notifikasi. Bahkan walaupun lagi di kelas atau di tempat kerja.

Atau jangan-jangan kamu sendiri juga gitu?

Itu tadi adalah contoh dari apa yang dianggap sebagai perilaku antisosial, yang disebabkan sama kecanduan smartphone. Fenomena ini sudah menarik perhatian media, dan membuat para pengguna smartphone menuntut para raksasa teknologi tersebut mengatasi masalah ini.

Sebenarnya apa sih yang bikin kecanduan smartphone? Benarkah kalau perilaku seperti ini disebut antisosial?

Mungkinkah kecanduan smartphone ini karena kita hipersosial, bukan anti sosial?

Profesor Samuel Veissière, seorang antropolog kognitif yang mempelajari evolusi kognisi dan budaya, menjelaskan bahwa keinginan untuk mengamati dan diamati oleh orang lain, sudah mengalir di nadi kita sejak jaman old.

Manusia berevolusi menjadi spesies sosial yang unik, yang membutuhkan masukan dari orang lain untuk mencari panduan tentang berperilaku yang sesuai. Ini pun merupakan cara bagi kita untuk menemukan makna, tujuan, dan rasa identitas.

Makanya ada kan orang yang seneng bikin IG live, bikin polling, selfie-selfie… Karena kita punya kebutuhan untuk merasa diperhatiin.

Makanya kita seneng kalo banyak yang ngeliatin Instagram Stories kita.

hai gaes kita lagi di rancaekek ni~

Dalam sebuah studi yang akan diterbitkan di Frontiers in Psychology, Samuel Veissière dan Moriah Stendel, para peneliti di Departemen Psikiatri McGill, mereview sejumlah literatur terkini mengenai penggunaan teknologi.

Penelitian ini menemukan bahwa fungsi smartphone yang paling bikin kecanduan semuanya punya kesamaan: mereka memanfaatkan keinginan manusia untuk terhubung dengan orang lain.

Kebutuhan untuk diperhatikan dan memperhatikan ini sebenernya normal dan sehat-sehat aja.

Tapiii Professor Veissière bilang bahwa kecepatan koneksi dan informasi yang bertubi-tubi ini mendorong otak kita untuk “menagih” kebutuhan diperhatiin ini terus menerus.

Makanya kita sering tanpa sadar ngidupin layar hape sekedar buat ngeliat ada notif apa nggak.

Sekedar ngeliat notif sih nggak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika ini jadi kebiasaan. Sebuah kebiasaan yang berlebih, bahkan jadi candu, cepat atau lambat akan membajak struktur otak kita, membuat kita jadi bergantung banget sama hape dan internet.

Coba deh: kalo bangun tidur, apa yang kamu cari duluan? Hape kan?

Nah, jadi sumber masalah dari kecanduan smartphone adalah kecanduan untuk berinteraksi sosial. Interaksi sesama manusia bisa bersifat candu, dan sebenarnya ada solusi sederhana untuk mengendalikannya.

Cara menghindari kecanduan smartphone

Yang pertama gampang sih. Coba aja nonaktifkan notifikasi hape kamu. Coba untuk disiplin dan mengatur waktu, kapan aja kamu boleh periksa hape.

Kalo lagi mau ngerjain sesuatu, kayak mau nugas atau bikin PR, coba deh matiin paket data dan wifi. Lebih ekstrim lagi: jauhkan hape dari jangkauanmu. Titip hapemu ke orang lain, dan minta lagi saat kerjaanmu beres.

“Daripada menuntut perusahaan teknologi, kita perlu lebih banyak berdiskusi tentang cara yang tepat dalam menggunakan smartphone,” kata profesor Veissière dalam sebuah wawancara. “Orang tua dan guru perlu disadari betapa pentingnya hal ini.”

Nah itu tadi ya sedikit bahasan tentang kecanduan smartphone. Sebenernya membahas kecanduan mainan hape ini menarik.

Kebetulan saya lagi baca satu buku tentang gimana sih caranya fokus dan mengabaikan gangguan, dan hape banyak banget disinggung di buku ini. Ntar kalo udah selesai baca, saya akan tulis beberapa kesimpulan dan tips yang bisa kita pake bareng. Sip?

Dalang sesungguhnya di balik PsikologiHore. Suka ngopi tapi kopi nggak suka sama dia.

3 Replies to “Kenapa Sih Kita Bisa Kecanduan Smartphone?

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)