Kenapa Kita Takut Sama Badut?

badut, kenapa kita takut sama badut
Waktu baca yang dibutuhkan: 5 menit

Kenapa kita takut sama badut?

Badut nggak pernah menjadi bagian menyenangkan dalam hidup saya.
Dari kecil saya nggak suka sama badut dan yang sejenisnya. Saya inget dulu waktu TV di rumah cuma dapet TVRI, dan ada salah satu iklan di TVRI, iklan layanan masyarakat, yang pake pantomim sebagai pemeran iklannya.

Tau kan orang kalo pantomim gimana dandannya?

pantomim
credit: tihen on deviantart

Saya pasti lari ke kamar kalo udah muncul iklan itu.
Sampe sekarang pun saya pasti nggak nyaman kalo liat perform teatrikal yang dandannya kayak gitu. Badut, pantomim, wayang orang, dan sejenisnya. Sudah nggak lari lagi, tapi nggak nyaman.

Terutama badut.

Saya nggak pernah nyaman sama badut. Dan mungkin kamu juga nggak suka badut. Malah bukan cuma aku sama kamu doang.

Jadi ceritanya ada sebuah rumah sakit anak yang sedang melakukan pembangunan. Untuk dekorasi, pihak rumah sakit memilih-milih mau pake lukisan macam apa. Tema lukisan yang muncul, salah satunya adalah badut. Nah, anak-anak di sana disuruh voting, enaknya pake lukisan apa, dan nyaman apa nggak sama lukisan badut.

Dan ternyata… 100% anak nggak suka sama badut! Loh kok gitu? Bukannya badut buat anak-anak ya? Kenapa anak-anak sendiri pun nggak suka sama badut?

Kenapa kita, yang udah gede-gede gini, nggak nyaman sama badut?

Ada penjelasan psikologis kenapa kita nggak nyaman, bahkan takut sama badut. Di bawah ini akan ada beberapa foto badut. Kalo kamu bener-bener takut, siap-siap ya. Atau ngeliatnya siang-siang aja.

Kita mulai!


1. Kita nggak bisa membaca ekspresi badut

Badut selalu tampil dengan make up tebal. Bibirnya dimake-up dengan garis melengkung tampak seperti senyum, dengan hidung biasanya tempelan balon, serta bedak putih tebal. Nah, make-up semacam ini bikin kita takut.

Soalnya gini. Kita terbiasa menafsirkan senyum sebagai ekspresi bahagia. Senyum berarti ramah, hepi, dan apapun yang sifatnya positif. Nah, ketika senyum muncul namun tidak membawa arti yang biasa kita tafsirkan, kita jadi takut. Contohnya:

 

Wah, senyumnya tulus. Bagus, ramah. Kita bisa menafsirkan senyumnya dengan gampang. Positif sekali bukan saudara-saudara?

Bandingkan dengan yang ini.

Image result for clown
do you feel this is hilarious?

Sigmund Freud menyebut ini sebagai the uncanny. The uncanny adalah sesuatu yang kita tau itu apa, tapi maknanya kurang sesuai dengan yang kita biasa pahami. Kita akan takut, atau setidaknya heran dan tidak nyaman saat menghadapi the uncanny.

Contoh lain dari the uncanny ini adalah gini. Bayangkan kamu sendirian di rumah malam hari. Kamu jalan ke kamar mandi, tau-tau kamu mendengar suara ringtone hape. Dan itu bukan ringtone hapemu. Kamu tau ringtone berarti ada orang. Tapi saat ada ringtone hape tapi gak ada orang lain selain kamu, apa reaksimu?

Contoh lain adalah kalo kamu punya boneka di kamar. Waktu kecil, mungkin kamu berharap bonekamu idup dan bisa diajak ngomong. Sekarang kamu udah gede, kamu tau kalo boneka adalah benda mati yang nggak bisa gerak. Apa yang kamu rasakan kalo boneka itu mendadak bisa gerak dan ngomong?

Nah, kita balik lagi ke foto badut yang tadi.

Ya, ada garis melengkung ke atas di wajahnya si badut. Pengalaman hidup kita bertahun-tahun bilang itu senyum, tapi otak kita bilang itu bukan senyum. Ini bikin kita ngerasa nggak nyaman. Takut, risih.

Malah ada sedikit sejarah serem di balik senyuman badut. Di jaman dulu, jaman-jaman Shakespeare, badut akan dihukum oleh raja kalo gagal membuat raja ketawa. Makanya, badut di jaman dulu memotong otot di wajahnya, atau mengiris wajahnya sendiri biar selalu keliatan kayak senyum.

 

2. We Hate Something Exaggerated

Kita nggak suka sama sesuatu yang berlebihan. Entah itu terlalu besar, terlalu kecil, pokoknya apapun yang nggak sewajarnya, kita akan takut, atau minimal nggak suka.

Kamu mungkin nggak takut sama semut. Tapi kalo semutnya segede rumah, apa kamu nggak lari ketakutan?

Oh iya, kita nggak cuma bicara ukuran. Kita juga bicara durasi. Bahkan orang paling murah senyum pun pada satu titik akan berhenti tersenyum. Ini wajar. Betul?

Tapi nggak dengan badut. Badut nggak pernah berhenti tersenyum. Ini nggak wajar buat otak kita, dan ini bikin kita nggak nyaman.

Coba aja kamu senyuuuum terus ke orang di sebelahmu. Awalnya dia bakal ikut senyum. Terus dia bakal ketawa heran, terus lama-lama nyuruh kamu berhenti. Coba deh!

Mari kita kembali lagi pada riasan badut.

Image result for clown

See?

Alis yang terlalu ke atas, bibir yang terlalu besar, hidung yang terlalu merah, wajah yang terlalu putih, sepatu yang kegedean, macem-macem pokoknya.

 

Image result for badut lucuImage result for badut lucu

 

 

DAN DI MANA LETAK LUCUNYA MAKHLUK DI BAWAH INI APAKAH DIA BERASAL DARI ALAM DUNIA ATAUKAH TITISAN DARI ALAM GAIB

Image result for badut

 

Image result for annabelle

 

Ibu saya di rumah juga punya boneka-boneka yang creepy. Wajahnya terlalu nyata, tapi nggak ada badan tangan dan kaki. Jadi kepala sama baju doang. Kalo malem, nggak berani deh ngelirik ke boneka-boneka itu.

 

3. Bentukan Lingkungan

Beberapa tahun belakangan, badut memang sudah tergeser popularitasnya. Demikian juga dengan sirkus. Makanya badut sekarang agak jarang dilihat, kecuali kita dateng sendiri ke sirkus atau ke taman ria.

Malah yang banyak diekspos adalah film-film horor yang menggunakan badut sebagai pemeran utamanya. Contohnya kayak Joker di film Batman, boneka Chucky, sampe yang terbaru Pennywise di film IT.

Suatu sudut pandang akan muncul berdasarkan pengalaman keseharian yang kita alami. Karena kita terbiasa terekspos sama badut yang serem-serem, akhirnya kita mengaitkan badut dengan keseraman.

Akhirnya badut dianggap serem juga.

 

4. Coulrophobia

Ada juga sebuah fobia yang disebut coulrophobia. Fobia ini sering disebut sebagai fobia badut. Tapi sebenarnya lebih dari itu, ini adalah fobia berupa takut tidak bisa membaca ekspresi yang tersembunyi di balik make-up. Entah itu dalam bentuk badut, pantomim, wayang, dan lain sebagainya.

Penderita fobia ini akan mengalami kesulitan bernafas, keringat dingin, dan gemetar saat ketemu para seniman tersebut.

Kamu bisa baca lebih lanjut tentang fobia di sini.

Penyebab fobia ini ya sama aja sih kayak fobia lain. Bisa berupa trauma atau memang pengaruh lingkungan.

Nah, itu tadi penjelasan kenapa kita takut sama badut. Bukan berarti kamu penakut atau cemen, itu adalah reaksi yang wajar pada seorang manusia. Ya yang namanya pemberani bukan berarti nggak takut sama apapun.

Berani itu mau menghadapi rasa takut. Ya nggak?

Kalo kamu punya pengalaman sama badut, boleh lo cerita sama kita~
Tulis di kolom komentar aja ya!

One Reply to “Kenapa Kita Takut Sama Badut?”

  1. Hai min saya mahasiswa yg sedang skripsi dan saya bingung dengan macam2 kepercayaan diri. Nah disini saya mau request tulisan mengenai perbedaan self esteem, self confidence, self efficacy dll. Terimakasih banyak min moga di respon🤗

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)