Kenapa Aku Suka Bad Mood?

Tarmuji dan Naylul sudah tiga tahun ini menjalin hubungan.

Sejak lulus dari TK Planet Ban, keduanya sepakat sudah waktunya melanjutkan ke hubungan yang lebih serius.

Namun, hubungan keduanya sedang gamang. Pasalnya Naylul kerap kali memasang wajah cemberut, seolah ia adalah kucing persia yang pantatnya lupa dilap dengan tisu basah.

Tarmuji sering bertanya apa yang salah.

Naylul sendiri tak mengerti. Saat pelajaran, ia seringkali merasa kesal. Ia bisa saja membentak temannya hanya karena peruncingnya ditiup dari samping, bukan dari atas. 

Naylul takut bila ia terus begini, ia akan kehilangan Tarmuji… 

 

Ngerasa suka bad mood?

Sering banget merasakan mood yang mendadak jelek?

Tenang, itu bukan kelainan. Sering bad mood ada penyebabnya kok. Dan, seringkali penyebabnya nggak nyambung sama si bad mood ini.

Kali ini kita bahas penyebab kenapa kamu sering bad mood.

Siap?

1. Ada masalah yang belum terselesaikan

Salah satu penyebab bad mood adalah kamu punya masalah yang belum terselesaikan, yang kamu biarin berlarut-larut.

Kamu mungkin mencoba melupakannya. Kamu mungkin mencoba mengalihkan perhatian. Tapi inget, alam bawah sadar kamu tau lo. Alam bawah sadar kamu menangkap si masalah, lalu membiarkannya mengganggu kamu tanpa kamu sadari.

Masalah yang belum terselesaikan ada dua macem: kamu punya solusinya tapi kamu terus menunda, atau kamu merasa nggak punya solusinya.

Kalau kamu punya solusinya tapi terus menunda, biasanya karena kamu kebanyakan alesan. Kamu bisa coba dengan membuat langkah-langkah kecil untuk mulai nyelesaiin masalah kamu sedikit demi sedikit.

Kalau kamu nggak punya solusinya, biasanya karena kamu belum mikir terlalu jauh, atau kamu belum membuka semua kemungkinan.

Nah, kalau belum mikir terlalu jauh, kamu bisa ambil kertas dan mulai lakukan brainstorming. Pikirin semua solusi, mulai dari yang wajar sampe yang nggak masuk akal. Biarin semua ide keluar, nanti biasanya nemu inspirasi.

Kalo emang kamu nggak ada ide, kamu bisa cerita sama orang lain. Saran nih: coba ceritanya ke orang yang lebih pinter dari kamu, atau pikirannya kamu rasa lebih terbuka dari kamu.

Intinya sih: selesaikan.

 

2. Kebanyakan ngelamun

Jangan kebanyakan ngelamun, nanti kesurupan. Pernah dikatain gitu nggak sih?

Percaya nggak percaya, ngelamun alias pikiran kosong biasanya berujung ke pikiran negatif. Kamu harus sebisa mungkin sadar kalo kamu udah ada tanda-tanda ngelamun.

Apa tanda-tanda ngelamun?

Kamu membuat skenario-skenario nggak masuk akal di otakmu. Biasanya berupa prasangka buruk atau berantem yang kamu karang-karang sendiri.

Dan skenarionya biasanya drama banget. Iya apa iya? Hayooooo hahahaha

Nah kalo kamu udah kayak ngerasa mau ngelamun, segera aware dengan saat kini. Maksudnya apa dah?

Kamu harus merasakan keadaan di sekitarmu. Rasakan tekstur kasur tempat kamu tiduran. Dengarkan secara serius lagu yang daritadi kamu puter. Atau, rasakan dengan sungguh-sungguh cemilan yang kamu kunyah.

Biasanya ngelamun langsung berhenti, tapi nggak lama.

Sering ngelamun adalah akibat dari kesulitan fokus. Kayaknya saya pernah bahas ini deh. Eh iya ding pernah.

Baca juga: 8 Trik Mudah Agar Tetap Fokus (Bahkan Saat Kamu Capek)

 

3. Kurang kena sinar matahari pagi

Terlalu lama berada di dalam ruangan dan kurang kena sinar matahari bikin kamu rentan bad mood.

Jadi sinar matahari pagi merangsang produksi hormon serotonin di dalam tubuh. Dan hormon ini bikin kamu lebih hepi. Kekurangan hormon serotonin bisa bikin kamu gampang bete.

Jadi, bangunlah lebih pagi dan nikmatilah sinar matahari.

 

4. Memberi tapi berharap

Poin ini nggak ada bukti ilmiahnya, tapi rasanya masuk akal.

Jadi gini. Bila kamu memberi, kamu akan menerima. That’s the way our world works.

Memberi sambil berharap itu boleh, sah banget. Tapi inget, ada kemungkinan harapan kamu nggak dibalas dari tempat atau orang yang kamu prediksikan.

Dan biasanya berharap bikin kecewa. Apalagi kamu berharap sama seseorang. Berharap sama manusia banyak kecewanya lo.

Kebaikan akan selalu kembali ke si pemberi, cuma jalan kembalinya bisa aja bukan dari tempat atau seseorang yang kamu harapkan.

Bingung?

Misalnya kamu mencoba bersikap baik sama seseorang, dengan harapan kamu bisa berteman atau dekat dengannya. Tapi dianya nggak mau deket sama kamu karena suatu alasan. Kamu kecewa nggak?

Nggak kecewa? Masa sih?

Tapi coba inget-inget. Akhirnya kamu ketemu temen baru kan? Temen kamu yang lain memperlakukan kamu dengan baik kan?

Nah itu dia, kebaikan akan selalu kembali ke si pemberi. Berharap boleh, tapi jangan berharap dari suatu sumber yang spesifik.

Contoh lain adalah memberi uang atau bersedekah. Kamu mungkin berharap uang itu akan kembali padamu.

Boleh aja, tapi jangan berharap uang yang kamu beri akan kembali dalam bentuk uang juga. Bisa aja kamu jadi kenal sama orang baik. Bisa aja kamu mendadak nemu artikel/buku yang jadi jawaban masalahmu. Bisa aja kamu mendadak ditraktir makan.

Kebaikan kita akan kembali melalui arah yang nggak kita duga.

Setelah memberi, rasakanlah sensasi menyenangkan dari berbuat baik. Syukuri bahwa ternyata kamu bisa menambah kebaikan di dunia.

Setelah itu, bukalah dirimu terhadap semua kebaikan. Semua kebaikan yang datang padamu, itu karena kebaikan yang kamu beri pada dunia.

 

5. Berharap tapi tidak melakukan sesuatu yang solid

Ini kebalikan dari yang barusan.

Mengharapkan sesuatu tapi nggak melakukan action yang bener. Berharap kaya tapi nggak nyari tau gimana caranya jadi kaya. Berharap cinta tapi nggak nyari tau gimana biar layak dicintai.

Berharap dia ngerti tapi kamu nggak pernah mau cerita.

Akhirnya kamu gelisah karena keinginanmu itu nggak kunjung jadi kenyataan. Akhirnya apa? Bad mood deh.

Mungkin kamu pernah baca buku The Secret atau baca-baca tentang Law of Attraction. Jadi hukum ini berkata bahwa ketika kamu mengharapkan sesuatu, kamu akan mendapatkannya.

Bener, tapi kamunya juga kudu gerak. Kamu harus action untuk menjemput keinginanmu itu. Lakukan action yang kongkret.

Kalo kamu mau dingertiin, jangan cuma kode-kode. Ngomong langsung.

Kalo kamu mau sesuatu, bertindak. Tanyalah, mintalah. Setiap hari, ambil satu langkah yang mendekatkan kamu kepada keinginanmu itu.

 

6. Kebanyakan main hape

Mainan hape berlebihan punya dampak serius terhadap tubuh dan otak. Kami udah sering bahas ini di beberapa artikel, kayak di sini dan di sini.

Penelitian bilang bahwa main hape terlalu sering mengurangi kemampuan kita meregulasi emosi.

Regulasi emosi adalah kemampuan kita dalam mengatur emosi. Semakin buruk regulasi emosi, semakin sulit kita mengendalikan emosi. Biasanya emosi yang tak terkendali berujung ke bad mood.

Terus juga kebanyakan main sosmed mengurangi kemampuan kita untuk fokus. Ini karena paparan informasi di sosmed luar biasa cepet dan singkat. Otak kita jadi nggak terbiasa membaca tulisan panjang, atau beraktivitas yang butuh fokus tingkat tinggi.

Susah fokus berujung ke ngelamun, ujung-ujungnya bad mood.

So, kurangi mainan hape. Soal caranya, kapan-kapan kita bahas deh.

 

7. Mengkonsumsi konten sembarangan

Ini adalah rantai dari penyebab yang barusan.

Kamu sering baca-baca berita online? Ngefollow akun-akun gosip dan sejenisnya? Atau nimbrung di twitwar dan debat politik?

Nah, kurangilah. Atau hentikan sekalian. Informasi-informasi dari sana nggak menambah manfaat buat hidup kamu.

Kamu nggak akan jadi pinter kalo tau pacar terbarunya seorang artis sinetron, hidupmu juga nggak akan lebih ceria kalo kamu liat video ibu-ibu ngelabrak polisi. Berita semacam itu nggak ada gunanya.

Yang ada malah bikin kamu emosi. Udahlah, berhenti ngeliatin yang kayak gitu-gitu.

Loh nanti jadi kurang update dong?

Biar aja. Toh selama ini selalu update juga hidupmu gitu-gitu aja kan.

Kalo memang ada berita yang bener-bener penting, kamu pasti bakal tau. Kalo memang ada berita viral, temenmu pasti nanti bakal cerita ke kamu. Kamu nggak usah repot-repot mencari.

Pilah pilih informasi yang mau kamu konsumsi. Yakinkan bahwa informasi itu berguna buat kamu, dan menambah manfaat dalam hidup kamu.

 

8. Lingkungan yang negatif

Kadang kita udah sebisa mungkin bersikap positif, tapi lingkungan di sekitar menghalangi kita untuk jadi diri sendiri.

Bisa berupa keluarga yang suka mencibir apapun tindakan kita, temen yang doyan ngegosip, atau banyaknya gangguan di lingkungan yang bikin kita sulit berkonsentrasi. Ini semua bisa bikin bad mood yang berlarut-larut.

Tindakan terhadap lingkungan negatif nggak pasti sih. Tapi cara paling mudah adalah ngecut mereka dari hidup kamu.

Kalo sama orang tua gimana? Masa iya aku ninggalin orang tua? 

Gimana ya? Kalo emang orang tua nggak sejalan sama pikiran kamu, ya mau gimana lagi dong? Bukan berarti minggat dan nggak pernah ngabarin mereka lo ya. Yaaa kurangilah berakrab-akrab dengan mereka.

Susah emang ngubah pola pikir orang tua. Dan kalo urusannya sama orang tua pasti dilematis; mau tetap di situ susah berkembang, mau ninggalin takut dibilang durhaka.

Cerita aja seperlunya, atau cerita aja yang bagus-bagus.

Setelah itu, carilah tempat dan orang baru yang positif, yang membantu kamu mencapai tujuan.

 

9. Nggak punya tujuan

Satu lagi alasan kenapa kamu sering mendadak bad mood adalah kamu belum menemukan goal yang jelas dalam hidup kamu. Kamu nggak tau ke depan mau ngapain, kamu bingung setelah ini harus ngapain.

Kamu kayak tersesat, tapi kamu sendiri juga nggak tau mau ke mana.

Kegelisahan dan kebingungan inilah yang kemudian berujung menjadi bad mood.

Kebingungan ini susah diselesaikan, terutama karena kamu nggak punya solusinya.

Yaaa solusinya adalah milikilah tujuan yang jelas. Pilih satu tujuan, lalu kejarlah sampai dapet.

Ketika kamu tau mau ke mana, kamu jadi tau harus ngapain. Pikiran kamu akhirnya punya sesuatu untuk difokuskan, dan ini akan mengurangi bad mood kamu.

 

10. Belum makan / makanannya nggak bergizi

Ini pendapat pribadi sih.

Kalo kamu lagi laper, kamu jadi sensian kan ya? Rasanya kayak bad mood melulu.

Makanya, kalo bad mood segeralah isi perut. Nggak usah banyak-banyak, cemilan aja. Inget, cuma buat ngilangin laper. Nggak usah sampe kenyang. Kenyang bikin males, bikin ngantuk.

Kalo tiba waktunya makan, carilah makanan yang enak. Sesekali manjakan lidahmu. Menikmati makanan enak kan bikin mood jadi bagus.

Makanan manis dan ada gula biasanya bikin lebih semangat. Tapi kalo efeknya abis, mood jadi tambah ancur.

Dan makanan yang kurang bergizi kayak gorengan penuh minyak, dan makanan yang nggak ada sayurnya juga bikin bad mood lo. Badan juga rasanya nggak enak. Ini saya lo ya, nggak tau kalo kamu. Hehehe.

 

Nah, itu tadi yes alasan-alasan kenapa kamu gampang bad mood. Sebagian ada yang diambil dari buku/penelitian, sebagian lagi dari pendapat plus pengalaman pribadi. Semoga bermanfaat yes!

 

Dalang sesungguhnya di balik PsikologiHore. Suka ngopi tapi kopi nggak suka sama dia.

One Reply to “Kenapa Aku Suka Bad Mood?”

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)