Waktu baca yang dibutuhkan: 7 menit

Sekarang ini media sosial udah jadi bagian nggak terpisahkan di dalam hidup kita.

Media sosial mengubah cara kita berkomunikasi. Kita yang dulunya boro-boro mau nginget ulang taun temen, sekarang bisa ngucapin, karena diingetin sama Fesbuk. Kita juga bisa ngintip dan kenalan sama orang, bahkan walaupun nggak pernah tatap muka.

Pola komunikasi kita juga jadi berubah drastis, karena kita bisa ngobrol sama siapapun tanpa terikat jarak lagi.

Iklan!

Nggak hanya komunikasi yang berubah, kelakuan kita pun jadi berubah.

Sekarang kita jadi bener-bener terikat sama internet. Kalo nganggur nunggu antrian, apa yang kita buka? Kalo bangun tidur, apa yang kita cari duluan?

Kita udah jadi sedemikian bergantung sama internet, seolah internet adalah dunia kedua kita.

Riset dari Crowdtap, Ipsos MediaCT, dan Wall Street Journal pada tahun 2014 menyebut kalo orang bisa menghabiskan waktu 6 jam 46 menit tiap harinya di internet, melebihi aktivitas mengakses media tradisional (Nasrullah, 2015).

Makanya, nggak heran kalo media sosial seperti facebook, Twitter, dan Instagram tetap laris dan betah dikunjungi.

Tapi kenapa ya kita bisa sedemikian bergantung sama internet?

Kenapa orang bisa benar-benar betah di sosial media?

Apa yang membuat kita ketagihan sosial media?

Kali ini, kita akan bahas berbagai aktivitas yang biasa kita lakukan di sosial media. Nggak hanya itu, kita akan bahas juga tentang apa sih yang membuat kita melakukannya.

Ada beberapa aktivitas yang biasa kita lakukan di sosial media, yaitu selfie, berargumen, berbelanja, dan berbagi informasi.

Kita bedah satu-satu!

 


Selfie: Karena Manusia Ingin Menampilkan Eksistensi Diri

 

orang yang tidak suka selfie, kepribadian orang yang suka selfie, selfie secara psikologis, penyakit suka selfie, selfie tanda gangguan jiwa,

Selfie! Di tempat keren dikit, selfie. Ada pemandangan lucu, kita foto. Cekrek, upload.

Kita selfie karena ingin ngasi liat eksistensi diri kita di sosmed. Kita mau menunjukkan keterbukaan kita ke orang lain, dan buat memperlihatkan di mana kita berada.

Selfie sendiri nggak selalu berarti narsisistik; kita selfie karena sudah jadi insting kita untuk memperlihatkan diri pada orang lain.

Malah narsis sendiri nggak berarti buruk. Narsis pada kadar tertentu diperlukan, karena itu cara kita untuk bergabung ke lingkungan sosial.

Ada sih narsisistik yang buruk, tapi itu jarang terjadi. Kamu bisa baca lebih lanjut tentang gangguan kepribadian narsisistik di sini.

Kita juga pernah lo bahas tentang psikologi di balik selfie. Kamu bisa cari tahu lebih lanjut di situ.

 


Berargumen Karena Manusia Suka Bertindak Agresif

 

Twitwar, adu argumen di kolom komentar, dan membully beramai-ramai adalah kelakuan netizen yang udah biasa.

Mau mengunggah apapun, netizen akan selalu punya cara untuk menghujat dan sekedar mengingatkan figur terkenal.

Belum lagi mengait-ngaitkan bencana dengan azab, yang kemudian bikin netizen jadi lupa berempati.

Terus lagi beramai-ramai menggeruduk seseorang hanya karena pendapatnya berseberangan, atau menyerang akun yang berbeda pandangan.

Perilaku menggeruduk dan agresif ini mudah terjadi, karena sosial media kita memberi kita fasilitas untuk itu.

Untuk bersikap menyerbu dan membully beramai-ramai, perlu adanya situasi kolektif. Misalnya pandangan politiknya sama, agamanya sama, dan semacemnya. Kesamaan ini disebut situasi kolektif.

Masalahnya, media sosial nggak ada batasan. Satu situasi kolektif akan sangat gampang bersinggungan sama situasi kolektif lain, jadi ketegangan bakal gampang sekali terjadi.

Semakin besar ketegangan, maka sedikit aja ada pemicu, api akan mudah membesar. Api berupa isu, kecurigaan, dan kecemasan, akan mudah dibakar, memancing keributan yang kayaknya terjadi tiap hari.

Belum lagi kalo situasi kolektif ini punya pusat, kayak seseorang yang punya pengaruh. Mobilisasi akan sangat gampang terjadi.

Terus ada satu lagi faktor yang membuat argumen jadi gampang; deindividuasi.

Deindividuasi adalah situasi di mana kita merasa terlepas dari kesadaran kita sebagai makhluk sosial. Ketika kita mengalami deindividuasi, kita berasa bebas dan nggak perlu bertanggung jawab.

Contohnya? Ngebully artis. Netizen menggeruduk dan membully artis karena dia ngerasa sosmed itu bebas. Kenal juga nggak. Ketemu langsung juga nggak. Jadi ngomen suka-suka aja.

Saya akan bahas tentang agresivitas di sosial media di artikel lain deh. Seru nih kayaknya.



Kita Belanja Karena Kita Suka Menimbun

Macam-Macam Kelakuan Kita di Sosial Media dan Kenapa Kita Melakukannya

Hal lain yang biasa kita lakukan di sosial media adalah belanja.

Walaupun katakanlah nggak belanja langsung, minimal kita ngefollow akun-akun olshop, terus kita simpen fotonya. Kita beli ntar pas kita punya duit.

Yang lucu, barang yang biasa kita liat di olshop bukan barang yang kita butuh. Seberapa sering sih kamu beli beras dan sembako di olshop instagram? Atau pernah nggak kamu beli bensin terus nego-nego harga sama bro sis?

Nah, aktivitas belanja di sosmed ini hadir karena emang insting manusia yang suka menimbun. Kita menginginkan barang-barang yang notabene kita udah punya; sepatu, baju, tas, dsb.

Menimbun sendiri nggak selalu buruk. Bukan berarti kita serakah juga. Kita emang kadang-kadang beli barang sebagai sarana rekreasi, buat memanjakan diri. That’s totally normal.

 

 


Mengunggah Berbagai Hal Karena Kita Suka Berekspresi

 

Kamu mungkin nggak suka selfie. Tapi bukan berarti kamu nggak mengunggah sesuatu di sosial media.

Bukan berarti kamu nggak bisa mengekspresikan diri. Maka, kamu mengunggah tulisan. Kamu mengupload quote di IG. Kamu mengunggah video ceramah, karena kamu merasa ceramah itu “kamu banget”.

Manusia berusaha mencari jati diri, dan citra diri yang berusaha ia raih itu ia perlihatkan pada orang lain.

 


Berbagi Informasi Karena Manusia Suka Berbagi

 

Meretweet info kemacetan, memotret kakek-kakek pedagang lalu mengunggahnya di twitter, memotret situasi bencana dan mengirimnya ke grup WA, adalah kebiasaan baru yang kini sering kita lakukan.

Manusia pada dasarnya suka berbagi informasi. Insting ini mengakar dari leluhur primitif kita, yang membagikan informasi sumber makanan dan ancaman predator, agar spesies kita dapat terus bertahan hidup.

Macam-Macam Kelakuan Kita di Sosial Media dan Kenapa Kita Melakukannya

Ketika informasi yang kita berikan menyebar dan mendapat apresiasi, kita jadi seneng dan hepi. Syukur-syukur jadi viral dan masuk ke situs berita.

Hal ini pun berlanjut dan semakin dipermudah di era modern. Makanya, waktu jalan Gubeng kemaren ambles, orang-orang bukannya lari, malah merekamnya dengan ponsel masing-masing.

Sayangnya, keinginan untuk menyebar informasi kadang dilakukan dengan cara yang salah. Sadar tidak bisa memberi informasi yang laris, akhirnya ada aja yang iseng mengarang-ngarang berita, dengan tujuan informasi ini menyebar dan memengaruhi orang lain.

Informasi hoax semacam ini justru berbahaya, bahkan walaupun mungkiiiin niatnya baik.

Ngomong-ngomong hoax, kita pernah bahas lebih lanjut tentang hoax dan gimana cara menghindarinya. Kamu bisa baca dan ketahui lebih lanjut di sini.


 

Kita Bergosip Karena Kita Mengevaluasi Struktur Sosial

 

Siapa yang nggak tau akun lambe-lambean? Akun-akun semacam itu secara rutin membagikan gosip seputar artis dan figur terkenal lainnya.

Gosip sendiri adalah hal manusiawi yang susah kita hindari. Bahkan walaupun kamu nggak ngefollow akun gosip dan nggak suka gosip, nggak ngatain orang sehari aja rasanya sama kayak nggak bernafas.

Manusia pada dasarnya suka bergosip. Gosip membantu kita membangun norma sosial dan mempertahankannya. Ketika kita menemukan orang yang melanggar norma, kita gosipin. Kita sendiri pun kadang mematuhi norma karena takut “apa kata orang nantinya”.

Contoh nih: hamil di luar nikah. Terlepas dari agama, kehamilan di luar nikah adalah pelanggaran norma sosial kita. Kalo ketauan, mending sekalian ganti muka pake ban dalem.

Macam-Macam Kelakuan Kita di Sosial Media dan Kenapa Kita Melakukannya

Dengan menggosipin orang yang melanggar norma, manusia secara nggak langsung mempertahankan norma sosial kita, jadi kita sebagai sebuah society terus bertahan lama.

Manfaat lain dari gosip adalah untuk mendekat ke lingkaran sosial. Gosip mendekatkan kita dengan lingkaran sosial, membantu kita membaur sama orang lain.

Walaupun gitu bukan berarti gosip selalu positif. Hidup dengan mikirin urusan orang bikin kita lupa urusan kita sendiri. Terus juga, keseringan mikirin kehidupan orang bikin kita gengsi dan malu buat melakukan sesuatu, karena “malu nanti apa kata orang”.

Meskipun gosip itu alami, mending kurang-kurangin deh.

 

 

Nah, itu tadi beberapa hal yang kita lakukan di media sosial, dan kenapa kita melakukannya. Kalo kamu, seringnya ngapain?

 

https://jurnal.ugm.ac.id/buletinpsikologi/article/view/22759

 

2 Replies to “Macam-Macam Kelakuan Kita di Sosial Media dan Kenapa Kita Melakukannya

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)