Variabel: Intimasi / Kedekatan Pelatih-Atlet

kedekatan pelatih atlet, intimasi pelatih atlet, definisi pelatih atlet, skripsi kedekatan pelatih atlet, skripdi intimasi pelatih atlet, definisi kedekatan pelatih atlet, definisi intimasi pelatih atlet,

Waw! Udah lama banget nggak nulis sesuatu di kategori Inspirasi Variabel.

Oke, kali ini saya akan nulis variabel yang lumayan sering dibahas di psikologi olahraga, namanya Kedekatan Pelatih-Atlet.

Di Bahasa Inggris biasanya variabel ini disebut Coach-Athlete Relationship. Beberapa penelitian yang saya lihat menggunakan istilah Intimasi Pelatih-Atlet. Istilah intimasi di sini kurang tepat, karena intimasi sendiri punya definisi yang, yah… bisa dibilang intim. Makanya, istilah hubungan pelatih dan atlet lebih realistis.

Kita akan bahas definisinya, ciri-cirinya, dan skala yang bisa dipake.

Siap?

Pengertian Kedekatan Pelatih-Atlet

Kedekatan pelatih atlet secara umum didefinisikan sebagai situasi di mana kognisi, perasaan, dan perilaku atlet dan pelatih telah saling selaras secara mutual (Jowett & Cockerill, 2002; Jowett, Paull, & Pensgaard, 2005; Poczwardowski, Henschen, & Barott, 2002).

Kedekatan pelatih dan atlet terjadi ketika atlet dan pelatih sudah klop satu sama lain. Sudah saling memahami, dan punya cara pikir dan komunikasi yang selaras.

Jika ditilik dari definisi ini, maka sebenernya kedekatan pelatih-atlet bisa naik turun, dan perkembangannya dapat dilihat sebagai suatu tahapan. Bentuknya berubah-ubah, tergantung sama dinamika kognisi, emosi, dan perilaku yang terbentuk melalui interaksi dari pelatih dan atlet tersebut.

Tahapan ini akan semakin terlihat dengan saling selarasnya pikiran, perasaan, dan perilaku atlet dan pelatih.

Yang menarik, kedekatan pelatih sama atlet ini nggak bisa dilatih atau dibimbing. Kedekatan pelatih sama atlet nggak bergantung pada gender, usia, ataupun skill atlet.

Dan ini juga tergantung kepada kedua pihak, mau diciptakan apa nggak.

Kedekatan pelatih dan atlet secara sadar dan sengaja mengembangkan sebuah hubungan, yang dicirikan dengan berkembangnya apresiasi dan rasa hormat terhadap satu sama lain sebagai individu.

Secara keseluruhan, hubungan pelatih atlet  termaktub dalam proses kepelatihan yang dinamis namun kompleks, dan memberikan makna pada pelatih dan atlet, bahwa kebutuhan mereka telah terekspresikan dan terpenuhi satu sama lain (Jowett dan Cockerill, 2002).

Penelitian dari Adie dan Jowett (2010) menemukan bahwa atlet yang menganggap pelatihnya sudah klik dengan mereka, akan berpikir bahwa hubungan mereka dapat bertahan dan mampu berinteraksi secara kooperatif satu sama lain.

Atlet-atlet ini juga akan bisa lebih termotivasi. Ini karena mereka bisa fokus sepenuhnya pada pengembangan kemampuan. Mereka juga yakin bahwa pelatih mereka selalu ada, siap mendampingi dan mendukung mereka.

kedekatan pelatih atlet, intimasi pelatih atlet, definisi pelatih atlet, skripsi kedekatan pelatih atlet, skripdi intimasi pelatih atlet, definisi kedekatan pelatih atlet, definisi intimasi pelatih atlet,

Sebaliknya, Adie dan Jowett menemukan kalo kekhawatiran atlet yang kualitas hubungan dengan pelatihnya jelek akan terlihat dari ketiadaan pelatih dalam pemberian dukungan jangka panjang, nggak memuji performa bagus, cenderung tertutup, dan nggak mau memulai berkomunikasi.

Nah, hubungan yang nggak deket bisa mengganggu konsentrasi mereka dalam mencapai target kompetensi yang telah ditentukan, dan kurang fokus ini bisa mengarah kepada kemungkinan-kemungkinan kegagalan.

Makanya hubungan yang stabil dan harmonis antara pelatih dan atlet bisa meningkatkan dan mempertahankan motivasi dalam diri atlet.

Dalam catatan yang berbeda, Jowett (2008) menyatakan bahwa motivasi pelatih dalam melatih atletnya dapat muncul apabila pelatih tersebut merasa puas dengan kualitas hubungan yang terjadi dengan atletnya. Artinya, kedekatan pelatih atlet yang baik dapat berfungsi sebagai pendorong dan pemotivsi bagi kedua pihak.

Penelitian dari Vallerand (2007) menemukan bahwa semangat atlet dalam menjalani olahraga mereka dapat dihubungkan dengan persepsi mereka terhadap kualitas hubungan dengan pelatih.

Berdasarkan dualistik model passion terhadap sebuah aktivitas, Vallerand membagi passion menjadi dua:

  • passion yang selaras dengan aktivitas, yang merujuk pada keinginan kuat dan otonom untuk terlibat dalam aktivitas yang ia suka
  • passion yang obsesif, merujuk pada keinginan kuat untuk terlibat dalam satu aktivitas tersebut dan hanya aktivitas tersebut saja; menyebabkan individu merasa tertekanuntuk berpartisipasi.

Lafraniere, Jowett, dan Vallerand (2008) menemukan kalo atlet yang penuh semangat akan sangat interdependen dengan pelatih mereka dalam hal keakraban, komitmen, dan saling melengkapi.

 


Dimensi Kedekatan Pelatih-Atlet

Kedekatan pelatih atlet secara umum didefinisikan sebagai situasi di mana kognisi, perasaan, dan perilaku atlet dan pelatih telah saling selaras secara mutual (e.g., Jowett & Cockerill, 2002; Jowett, Paull, & Pensgaard, 2005; Poczwardowski, Henschen, & Barott, 2002).

Perasaan, pikiran, dan perilaku yang terhubung antara pelatih dan atlet secara operasional dan sistematik diteliti berdasarkan konstruk kedekatan, komitmen, dan komplementer (Jowett & Cockerill, 2002; Jowett & Ntoumanis, in press).

kedekatan pelatih atlet, intimasi pelatih atlet, definisi pelatih atlet, skripsi kedekatan pelatih atlet, skripdi intimasi pelatih atlet, definisi kedekatan pelatih atlet, definisi intimasi pelatih atlet,

Keakraban – Closeness

Keakraban (closeness) didefinisikan sebagai tingkat emosional dalam hubungan, dan merefleksikan sampai sejauh mana atlet dan pelatih saling terikat secara emosional, dan seberapa dalam hubungan tersebut.

Baik pelatih maupun atlet mengekspresikan rasa suka, percaya, menghormati, dan apresiasi, yang diindikasikan dengan hubungan interpersonal dan afektif yang positif.

Jadi kalo ada keakraban di antara pelatih dan atlet, keduanya bisa bercanda bareng. Baik pelatih maupun atlet akan saling bantu. Atlet juga bisa curhat masalah lain di luar olahraga. Kalo atlet murung, pelatih nanya ada apa. Kayak gitu deh.

Indikator keakraban:

  • Adanya rasa saling menghargai
  • Pelatih memberikan pertolongan pada atlet
  • Pelatih peduli pada atlet
  • Adanya rasa saling menghormati

 

Komitmen – Commitment

Komitmen (commitment) merefleksikan intensi atau keinginan antara pelatih dan atlet untuk mempertahankan kemitraan mereka seiring waktu; yang dilihat sebagai representasi kognitif dari hubungan antara pelatih dan atlet.

Komitmen bisa dibilang kayak niat antara pelatih dan atlet untuk mempertahankan hubungan. Misalnya kalo lagi lebaran, si pelatih dan atlet masih komunikasi buat maaf-maafan. Kalo lagi libur, pelatih dan atlet masih saling tanya kabar.

Kalo pelatih dan atlet bersitegang, keduanya inisiatif untuk minta maaf.

Indikator komitmen:

  • Adanya keinginan untuk mempertahankan hubungan
  • Ada komunikasi yang terjalin
  • Adanya keinginan untuk saling memahami

 

Komplementer – Complementarity

Komplementer (complementarity) didefinisikan sebagai interaksi antara pelatih dan atlet, yang masing-masing menganggap hubungan itu interaktif dan efektif. Komplementer terefleksi dari motivasi afiliasi dalam perilaku interpersonal, dan memiliki beberapa contoh perilaku seperti bertanggung jawab, ramah, dan santai.

Komplementer berarti baik pelatih dan atlet menganggap hubungan terjadi dua arah. Pelatih tahu seperti apa dia di mata atlet, dan atlet juga paham seperti apa dia di mata pelatih. Keduanya juga saling menaruh hormat, dan saling menghargai kapasitas masing-masing.

Indikator komplementer:

  • Saling memuji
  • Saling terlibat dalam interaksi yang kooperatif
  • Saling memberi dukungan

 

Dalam sebuah rangkaian studi kasus dan penelitian pada 12 atlet Olimpiade, Sophia Jowett dan kolega (Jowett & Meek, 2000a, 2000b; Jowett & Cockerill, 2001) telah meneliti mengenai closeness, co-orientation dan complementarity pada pasangan pelatih atlet.

Dalam semua kasus, atlet lebih menekankan pada closeness (keakraban), melaporan bahwa motivasi dan kepercayaan diri mereka terkait dengan pengalaman mereka diperlakukan, disukai, dipercaya, dan dihormati oleh pelatih mereka.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa kedekatan pelatih-atlet terdiri atas tiga dimensi: closeness (keakraban), commitment (komitmen), complementarity (komplementer).

 


Skala Kedekatan / Intimasi Pelatih-Atlet

Nah, tadi kita udah bahas seputar definisi kedekatan pelatih-atlet dan juga dimensi di dalam variabelnya.

Sekarang kita bahas skala kedekatan pelatih-atlet yesss.

Kedekatan pelatih-atlet paling banyak dibahas oleh Sophia Jowett. Kisaran penelitian terjadi di awal 2000-an, jadi kalo kamu nyari di google kamu akan dapet skala dan kuesioner dari Jowett.

Beberapa di antaranya adalah:

 

Coach Athlete Relationship Questionnaire (Khusus Pelatih)

CART-Q dibuat sama Jowett dan Ntoumanis. CART-Q sendiri ada dua versi; khusus pelatih, dan yang satu lagi bisa dipake pelatih dan atlet. Rentang responnya dari satu sampe tujuh.

Yang 23 aitem khusus untuk pelatih, dan bisa kamu liat di sini, halaman 33.

 

Coach Athlete Relationship Questionnaire

Yang ini bisa dipake untuk atlet aja, tapi pelatih juga boleh pake.

Ini 11 aitem, dan bisa kamu liat di sini.

Tapi dua-duanya koefisien alphanya lumayan tinggi, di atas 0.7.

 

Greek Coach Athlete Relationship Questionnaire

Dibuat sama Jowett dan Ntoumanis, tapi sudah mengalami penyesuaian dengan kultur di Yunani. Emang kuesioner ini dibuat waktu meneliti di Yunani sih. Link sama, di halaman 33 atau 34. Lihat aja tabel 3.

Ada 13 aitem yang lumayan bagus di situ.

 

 


Potensi Penelitian

Nah, tadi kita udah bahas banyak hal tentang kedekatan pelatih-atlet, ciri-ciri, dan skalanya. Tapi sebenernya sejauh mana potensi penelitian untuk variabel satu ini?

Penelitian tentang psikologi olahraga, lebih-lebih tentang kedekatan pelatih-atlet, di Indonesia masih jarang yang bahas. Padahal jika diteliti lebih jauh, ada banyak potensi yang bisa mengembangkan performa atlet di variabel satu ini.

Keuntungan menggunakan penelitian ini adalah jarang dibahas. Terus juga hasil penelitian ini bisa jadi evaluasi buat pelatih dan atlet, jadi kalo ternyata tidak ada atau minim kedekatan, kan pelatih dan atlet bisa evaluasi.

Keuntungan lainnya adalah kultur budaya di Indonesia beda dengan negara lain. Sophia Jowett berkali-kali menekankan di berbagai paper yang ia buat bahwa dampak kedekatan pelatih-atlet bisa aja beda di daerah atau negara tertentu. Ini membuat penelitianmu lebih diverse; soalnya mungkin aja hasil penelitian kamu akan beda dengan hasilnya orang lain yang beda daerah atau negara.

Terus juga penelitian tentang ini rata-rata masih lumayan baru. Paling lama kalo nggak salah tahun 1998. Jadi beda dengan teori penelitian lain yang kadang terlalu jadul, variabel ini masih anget. Ruang buat improvisasi jadi luas.

Tapi…

Tantangannya juga ada. Kedekatan pelatih-atlet adalah variabel yang lumayan sempit. Yang mengupas tentang ini paling banyak adalah Jowett.

Kalo dosen pembimbing skripsi kamu minta teori dari orang selain Jowett, kamu bakal kesusahan.

Terus juga di Indonesia masih jarang dibahas, jadi kalo mau cari jurnal tentang kedekatan pelatih-atlet, kamu kudu pake jurnal luar. Kalo bahasa Inggrisnya masih patah-patah, kamu perlu bersiap-siap.

 

Variabel ini bisa dihubungkan dengan apa?

Regulasi diri bisa. Jadi kamu bisa meneliti apa hubungan antara kedekatan pelatih-atlet dengan regulasi diri atlet dalam menghadapi tekanan.

Stres juga bisa. Apakah kedekatan pelatih-atlet punya hubungan dengan tingkat stres atlet? Jika iya, hubungannya negatif apa positif?

Atau kamu bisa ambil penelitian ini tapi dari sudut pandang pelatih. Mungkinkah pola kepemimpinan pelatih mempengaruhi kedekatan pelatih dengan atlet?

 


 

NAH! itu tadi ya penjelasan singkat tentang kedekatan pelatih-atlet. Kamu tertarik buat membahasnya nggak?

 

Daftar Pustaka

Jowett, S., & Cockerill, I. M. (2003). Olympic Medallists’ perspective of the athlete-coach relationship. Psychology of Sport and Exercise, 4, 313-331.

Jowett, S., & Meek, G. A.. (2000). The coach-athlete relationship in married couples: An exploratory content analysis. The Sport Psychologist, 14, 157-175.

Jowett, S., Paull, G. & Pensgaard,A.M. (2005). Coach–athlete relationship. In J. Taylor & G. S.Wilson (Eds.). Applying sport psychology: Four perspectives. Champaign, IL: Human Kinetics.

Jowett, S & Ntoumanis, N. (2003) The Greek Coach – Athlete Relationship Questionnaire (GrCART-Q): Scale development and validation. International Journal of Sport Psychology, 34, 101-124.

Jowett, Sophia & Poczwardowski, Artur. (2007). Understanding the Coach-Athlete Relationship. Social Psychology in Sport. 

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)