Ini 8 Alasan Kenapa Orang Bunuh Diri. Jangan Sampai Terjadi lagi!

penyebab bunuh diri, alasan bunuh diri, bunuh diri, pahinggar indrawan

Hei, kamu ngecek facebook tiga hari yang lalu?

Saya ngecek facebook malam itu. Timeline digemparkan dengan berita seseorang gantung diri, lalu ia menyiarkannya di facebook secara langsung.

Saya yang dasarnya kepo, memberanikan diri nonton video itu.
And boy what a horrifying view.
Baru kali itu saya bener-bener liat proses meninggalnya orang saat gantung diri.

Iklan!

Semoga beliau diterima di sisi-Nya.

Anyway, sebelum video yang dia gantung diri, dia sempet mengunggah satu video lain.
Di video sebelumnya, dia cerita soal kenapa memilih mengakhiri hidup.

Katanya, dia abis berantem sama istrinya. Istrinya itu memutuskan pergi tanpa ngasih kabar.
Saya nggak tau jelas sih apa yang terjadi, tapi kalo liat di status-status dia sebelumnya,
kayaknya masalah itu udah mengganggunya sejak lama.

Ketika istrinya pergi, itu menjadi puncak keresahan yang dia alami.
Mungkin, mungkin saja, dia mengalami depresi.

Banyak orang mengalami depresi, namun berhasil mengatasi hal itu dan bangkit kembali.
Namun kenapa sebagian lain justru menyerah dan mengakhiri hidup?

Benarkah hanya depresi yang bermain di sini?
Adakah sisi lain?

Lalu, apa saja penyebab bunuh diri?

 

1. Depresi

Depresi menyumbang 90% penyebab seseorang bunuh diri.

Bahkan, menurut penderita kanker, depresi jauh lebih sulit ditangani. Ia seperti lubang hitam yang terus membesar, menghisap kebahagiaan dan harapanmu terhadap hidup.

Ini sungguh pedih, hingga sebagian orang memilih mengakhiri hidup, dengan harapan kepedihan depresi itu ikut berhenti.

Namun, ada satu perbedaan yang membuat penderita depresi bangkit atau bunuh diri.
Harapan dalam hidup.

Seseorang yang memutuskan bunuh diri, itu karena dia merasa hidup atau mati sama aja.
Kalau sama aja, ngapain terus hidup di kepedihan?
Maka mereka memilih jalan mudah, yakni kematian, sebagai solusi mengakhiri rasa sakit.

Kalau seseorang mengalami depresi namun bertahan, itu karena masih ada setitik harapan dalam diri mereka.

Bahkan kalaupun sudah nggak ada harapan, para pelaku bunuh diri masih mempertimbangkan hal lain.
Misalnya, bagaimana dengan anak-anak? Bagaimana dengan keluarga yang ditinggalkan?

Terkadang, mereka yang berencana bunuh diri cenderung membesar-besarkan masalah mereka. Ini adalah celah bagi para psikolog dan atau mereka yang mau mencegah bunuh diri.

Patahkan kesalahpahaman mereka, agar depresi itu dapat berkurang sedikit demi sedikit.

 

2. Menantang

Kadang-kadang seseorang ingin diperhatikan. Untuk melakukannya, mereka mengancam akan bunuh diri.
Ancaman ini kadang tersembunyi. Bisa berupa status di media sosial, update-update gambar DP, dan lain-lain.

Ketika orang lain nggak memahami pesan-pesan itu, atau nggak peduli, mereka mengambil langkah lebih jauh.
Ada yang kemudian berdiri di atas tiang sutet, atau di menara telepon, pokoknya tempat tinggi.

Walaupun itu cuma ancaman, gak sedikit juga yang akhirnya nekat bertindak.
Kuncinya adalah memberikan perhatian yang diinginkan.

Makanya, orang-orang yang memberikan ancaman mau bunuh diri sebaiknya segera diperhatikan.

3. Takut 

Orang-orang dengan schizophrenia punya ketakutann yang menyiksa, sehingga bunuh diri dipandang sebagai cara keluar. Orang dengan schizophrenia tidak menganggap bunuh diri sebagai cara mengakhiri hidup, tapi sebagai cara keluar dari kepedihan.

 

4. Kebencian

Kadang ada juga yang membenci orang lain sedemikian buruknya, sehingga (mungkin) ia menganggap bunuh diri sebagai cara menyakiti perasaan yang paling hebat. It’s just a hypothesis after all.
Lagian kita nggak bisa mewawancara orang yang udah meninggal kan.

Oh iya, kasus bunuh diri juga bisa terjadi karena terlalu benci dengan diri sendiri. Istilahnya, self-loathing. Saking bencinya, ia ingin berpisah dari dirinya itu.

Makanya, orang yang self-loathing bunuh diri dengan cara yang menghancurkan fisik, misalnya loncat dari gedung tinggi.

5. Kesendirian

Kamu tau cerita Romeo dan Juliet kan?

Di cerita itu, si Juliet meminum racun sebagai usaha untuk menyusul Romeo yang udah meninggal duluan.
Itu juga salah satu penyebab. Bunuh diri bisa saja terjadi karena perasaan ditinggal oleh orang yang dicintai.

Pelaku menganggap, pasangannya telah ada di kematian. Satu-satunya cara untuk menyusul pasangannya, ya ikut meninggal.

 

6. Kecewa/Malu

Ada juga orang yang bunuh diri karena malu. Bisa malu karena gagal menyelesaikan tugas, malu karena nilainya buruk, dan lain-lain.

Salah satu contohnya adalah budaya harakiri di Jepang.
Di sana, masih jamak orang yang ingin bunuh diri karena merasa malu gagal menyelesaikan tugas.

Ada juga politisi yang malu karena jadi tersangka korupsi.
Di sana baru tersangka aja udah malu. Kalo di sini, udah terbukti malah masih bisa dadah-dadah di kamera.

 

7. Merasa Tak Berdaya 

Beberapa politisi di masa lalu melakukan bunuh diri karena sudah mati kutu.
Adolf Hitler contohnya. Ketika Jerman sudah dikepung Sekutu, dia bunuh diri dengan minum pil sianida lalu menembak kepalanya.

Bunuh diri mungkin saja dilakukan bila sudah merasa terpojok. Apalagi kalau sudah melakukan kejahatan.

Selain itu, bunuh diri juga bisa menjadi simbol bahwa “akulah yang memegang kendali hidupku!”
Ini biasanya dilakukan oleh penderita penyakit parah dan didiagnosa akan segera meninggal.

Dengan bunuh diri, ia seolah menunjukkan pada dunia bahwa dialah yang mengontrol hidupnya, bukan penyakit.

Bunuh diri yang dilakukan korban bullying pun mengalami hal serupa. Karena ia sudah menjadi korban perundungan, mungkin saja dia memutuskan mengakhiri hidup karena nggak mampu melawan.

Tapi tentu saja, motif bunuh diri hampir selalu tumpang tindih.
Bunuh diri hampir pasti punya lebih dari satu penyebab.

 

8. Pengorbanan diri

Ini dilakukan ketika seseorang yakin bahwa iman jauh lebih penting daripada nyawa. Hidup kemudian dianggap tidak seberharga iman atau tidak sebanding dengan kebahagiaan hidup sesudah mati.

Contohnya ya bom bunuh diri.

 

Oke, kita sudah baca sama-sama 8 sebab orang melakukan bunuh diri.
Kalau kita tarik benang merahnya, sebenarnya apa sih faktor paling krusial yang menyebabkan bunuh diri?

Jika kita amati 8 sebab di atas, pola yang selalu muncul adalah pandangan bahwa hidup sudah tidak berharga.

Sudah nggak ada artinya hidup!

Hal inilah yang dialami oleh pelaku bunuh diri,
tak terkecuali oleh mendiang PI yang bunuh diri secara live di Facebook itu.

Ketidakberhargaan hidup ini belakangan mulai sering terlihat di meme luar negeri.
Jujur, saya takut dan curiga dengan keberadaan meme-meme suicidal seperti itu.

Apakah bunuh diri layak dijadikan lelucon?
Bukannya nanti bunuh diri dianggap sebagai suatu jalan keluar yang enak, yang fun?

Kan kunci utama bunuh diri adalah ketidakbermaknaan hidup, memandang hidup nggak berharga?

Tapi belum diketahui apakah meme tentang bunuh diri hanya joke, atau ada maksud tersendiri di baliknya.

 

Anyway, terima kasih sudah membaca sampai habis.
Kalau kamu mau bunuh diri, sebaiknya jangan deh.

Pikirkan orangtuamu yang menangis sambil menebar bunga di makammu.
Pikirkan saudaramu, yang sering kamu ajak berantem, kelak menangisi kepergianmu.

Pikirkan teman-temanmu yang selama ini diam-diam memperhatikanmu.

Apa kamu nggak kasian sama mereka?

Hidupmu mungkin lagi jatuh. Tapi begitulah hidup, ada naik turunnya.
Kita harusnya bisa seperti bola karet, yang akan memantul tinggi ketika dijatuhkan.

 

Untuk kamu yang kerabatnya berniat bunuh diri…
Dekati dia dan yakinkan dia untuk terus melanjutkan hidup.
Ajak dia bepergian, bawa dia ke tempat yang indah.

Agar dia paham, hidup sangat layak untuk terus dijalani.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *