Depresi Itu Apa Sih? Ini Dia Definisi Depresi Paling Tepat dan Ciri-cirinya

depresi, definisi depresi, penanganan depresi
Waktu baca yang dibutuhkan: 11 menit

Artikel ini cuma untuk mengedukasi pembaca buat makin ngerti tentang depresi. Please, please, jangan gunakan artikel ini untuk menggantikan diagnosa ahli.

 

 

Definisi Depresi

Depresi itu apa sih?

Depresi, adalah jenis gangguan mood yang dicirikan dengan perasaan sedih dan tidak berdaya yang dalam, serta hilangnya ketertarikan terhadap aktivitas yang dulu dinikmati.

 Selain dari gangguan emosi, orang yang mengalami depresi juga bisa dibarengi dengan rasa sakit kronis di bagian tubuh tertentu. Ada juga yang dibarengi dengan masalah pencernaan.

Terus juga nggak mau ngapa-ngapain, males beraktivitas, males makan, gitu deh pokoknya.

Untuk disebut mengalami depresi, perasaan nggak berdaya dan sedih yang mendalam ini harus dirasakan selama dua minggu berturut-turut.

 

 

Gejala Depresi

Terus apa aja ciri-ciri depresi? Apa ciri-ciri orang yang mengalami depresi?

DSM 5 menyebutkan sejumlah kriteria untuk mendiagnosa depresi. Seseorang harus mengalami lima atau lebih gejala selama dua minggu. Dan, di antara semua gejala, perasaan tertekan dan hilang mood harus ada.

Gejala depresi di antaranya:

  1. Merasa tertekan setiap hari. Rasa tertekan ini muncul dari dalam diri.

  2. Kehilangan ketertarikan pada hal-hal yang dulu disukai. Biasanya dulu suka ngopi, sekarang nggak suka. Dulu sering buka hangout, sekarang males. Ini terjadinya hampir setiap hari.

  3. Mengalami penurunan berat badan secara signifikan, dan nafsu makan berkurang drastis. Tapi ada juga yang nafsu makannnya naik drastis dibarengi nafsu makan berlebih.

  4. Kamu jadi lambat loading, dan gerakan kamu jadi lamban kayak slow motion. Perlambatan ini kelihatan mencolok di mata orang lain.

  5. Kelelahan dan gak ada energi setiap hari.

  6. Merasakan kalo kamu nggak berharga, rasa bersalah yang berlebih dan nggak beralasan hampir setiap hari.

  7. Susah berpikir, berkonsentrasi, dan susah mengambil keputusan setiap harinya.

 

  1. Berulang kali muncul keinginan untuk bunuh diri, ide bunuh diri tapi belum direncanakan, atau sudah direncanakan.

 

 

Gejala Depresi pada Anak dan Remaja

Depresi gak hanya terjadi pada orang dewasa, tapi pada anak dan remaja juga. Ciri-cinya lumayan mirip dengan yang tadi kita bahas, dengan tambahan:

 

  • Pada anak, depresi juga dicirikan dengan kesedihan, sensitif, sering khawatir, badan sering gatel atau sakit, nggak mau sekolah, dan berat badannya di bawah anak-anak seumuran.

 

  • Pada remaja, gejala depresi dibarengi dengan kesedihan, sensitif, merasa negatif dan nggak berharga, marah mulu, nilai di sekolah jatoh, mengkonsumsi drugs, mabok-mabokan, membahayakan diri, menghindari interaksi sosial, makan atau tidur berlebih, dan merasa nggak dimengerti.

 

 

Apa bedanya sedih sama depresi?

 

Tapi sebenernya apa sih bedanya sedih sama depresi?

Depresi sebenernya lebih dari sedih atau mood naik turun. Ya udah pasti lah semua orang pernah mengalami kesialan. Semua orang mengalami musibah, semua orang pasti ngerasain down dan nggak termotivasi.

Tapi depresi akan bikin kamu mikir bahwa hidup nggak layak dijalani. Kamu males menjalani hidup, dan ngerasa hidup nggak ada artinya.

Perbedaan paling besar pada depresi sendiri adalah dampaknya ke tubuh. Orang kalo sedih ya paling nangis, manyun, sayu, gitu-gitu aja. Tapi kalo depresi kan beda. Depresi bisa bikin berat badan turun drastis, nafsu makan berubah, gerakan melamban, macem-macem.

Mungkin aja sih, saat sedih, ada juga orang yang berpikiran pengen bunuh diri. Mungkin ada seseorang yang pernah ditinggal wafat oleh orang yang dia sayang, dan dia terpikir buat bunuh diri, buat menyusul mendiang terkasih.

Tapi itu belum depresi. Kesedihan mendalam sangat wajar dirasakan manusia sebagai makhluk dengan emosi. Tapi, kalo pikiran semacam ini terus menerus muncul selama jangka waktu yang lama, sampe merusak tubuh dan pikiran, nah ini bisa aja depresi.

Terus juga, sedih itu kan ada penyebabnya ya. Yang hape ilang, diputusin pacar, orang terdekat meninggal, nilai jelek…

Kesedihan selalu ada pemicunya, entah itu situasi, orang, atau kejadian. Kalo depresi, bisa aja merasa down tanpa sebab.

Gampangnya gini deh: depresi adalah sedih level super, yang dampaknya terlihat jelas di fisik dan emosi seseorang, dan jangka waktunya lama.

 

Apa bedanya stres sama depresi?

Stres adalah sebuah reaksi seseorang pas berada di situasi baru, atau berada di kondisi yang kurang nyaman buat dia.

Stres sendiri ada dua macem: eustress dan distress. Eustress adalah stres yang kemudian memotivasi untuk bangkit; distress adalah stres jahat yang melemahkan, bikin emosian, susah tidur, macem-macem.

Kalo diliat-liat, sebenernya stres punya beberapa ciri-ciri yang mirip sama depresi. Stres, selayaknya depresi, bisa bikin susah konsentrasi, makan nggak teratur, susah tidur, dan males makan.

Terus apa bedanya depresi sama stres?

Naaah perbedaan dari depresi adalah adanya keinginan untuk bunuh diri. Orang dengan depresi juga lebih mungkin menarik dari situasi sosial.

Berbeda dengan stres, yang masih bisa melakukan fungsi sosial. Yaaa tapi gitu, sensian.

 

 

Apa Penyebab Depresi?

 

Sebenernya apa sih yang menyebabkan depresi?

Depresi bisa terjadi di rentang usia anak sampe lansia, tapi mayoritas sih sejak remaja sampe 30an. Depresi sendiri lebih banyak terjadi pada perempuan.

Faktor yang menyebabkan depresi di antaranya:

 

  • Perbedaan biologis. Orang yang depresi punya struktur otak yang agak beda dibandingkan orang yang nggak punya.
  • Zat kimiawi di otak. Neurotransmiter di otak punya peran dalam memproduksi zat-zat kimia, membuat kita mampu merasa senang, sedih, bete secara stabil. Nah, neurotransmiter yang terganggu membuat terjadi ketidakseimbangan produksi zat-zat kimiawi ini.
  • Hormon. Perubahan hormon di tubuh seseorang juga bisa bikin depresi. Misalnya depresi pascakelahiran (postpartum), depresi karena gangguan tiroid, menopause, dan lain-lain.
  • Faktor keturunan. Seseorang lebih mungkin mengalami depresi kalo punya kerabat sedarah yang depresi. Gak harus dari orang tua langsung sih. Kalo misalnya punya om apa tante yang depresi, kamu mungkin beresiko mengalami depresi juga.
  • Faktor kepribadian. Jenis-jenis trait kepribadian, kayak kurang percaya diri, manja, dan pesimis, juga beresiko mengalami depresi lebih tinggi.
  • Kejadian yang traumatik. Pernah mengalami pelecehan, ditinggal orang terdekat, hubungan yang toxic, pernah mengalami bencana, bisa jadi penyebab depresi juga.
  • Pengguna narkoba atau alkohol. Seseorang yang menggunakan narkoba atau alkohol lebih rentan mengalami depresi.
  • Efek samping obat-obatan. Obat-obatan tertentu yang berfungsi menurunkan tekanan darah atau obat tidur punya efek samping yang beresiko menyebabkan depresi. Tapi gak selalu lo ya.
  • Sebelumnya pernah mengalami masalah psikologis. Pernah mengalami gangguan kesehatan mental, kayak gangguan kecemasan, gangguan makan, atau PTSD, juga beresiko menyebabkan depresi.

 

 

Terapi Psikologi untuk Depresi

 

Terus gimana cara mengatasi depresi?

Penanganan depresi bisa melalui pengobatan, terapi, atau keduanya secara bersamaan.

Depresi sendiri ada tahapannya. Kalo depresinya masih tahap ringan, atau waktu berlangsungnya belum lama, terapi CBT bisa dilakukan dan itu efektif.

Terapi CBT sendiri biasanya bisa dilakukan sama psikolog umum berlisensi CBT.

Psikolog umum rata-rata bisa sih terapi CBT, tapi lebih bagus cari yang punya lisensi terapi, artinya dia udah teruji gitu.

Yang penting cerita dulu soal depresi kamu, terus minta diagnosa sama psikolognya.

Kalo depresinya kronis, kayak sudah gak mau mandi, dan gak mau diajak ngomong, atau sering ngomong mau bunuh diri, itu butuh pengobatan dan perhatian intensif.

Terus biasanya berapa lama sih sesi terapi untuk menangani depresi?

Jurnal penelitian dari Nieuwsma dkk menyebut kalo melalui terapi CBT dan problem solving, depresi bisa ditangani dengan enam sampe delapan sesi.

Depresi juga bisa ditangani dengan obat. Obat-obatan kayak antidepresan bisa menurunkan depresi. Tapi ini nggak diresepin sama psikolog ya. Kamunya perlu ke dokter atau ke psikiater.

Misalnya kamu punya gejala depresi ringan, tapi belum sempet ke psikolog.

Bisakah depresi diatasi tanpa ke psikolog? Bisakah menghilangkan depresi tanpa obat?

 

 

Cara Mencegah Depresi

Depresi kalo baru gejala ringan masih bisa ditangani tanpa perlu ke psikolog.

Berikut ini cara mencegah munculnya depresi, sekaligus mencegah depresi ringan jadi parah.

  • Belajarlah mengendalikan tekanan yang datang. Cari cara menguatkan diri dan meningkatkan kepercayaan diri.
  • Ceritakan depresi kamu ke orang yang peduli. Ceritakan pada orang yang baik, yang akan membantu melindungi kamu melewati masa sulit. Orang kalo lagi depresi mah rapuh. Semakin mencoba melewati semuanya sendirian, bakal semakin menderita. Maka cerita sama temen di sini nggak cuma buat curhat, tapi sekaligus minta bantuan menguatin kamu. Terus juga hindari curhat sama temen/orang yang ngejudge, ngebandingin, atau nyuruh kamu “kembali ke agama”. Sure it helps, but not this time when everything is messed up.
  • Perbaiki kualitas makanan. Percaya atau nggak, makanan yang sehat akan meningkatkan kualitas hidup. Banyakin makan sayuran segar dan buah, jiwamu ikut merasakan manfaatnya.

    Jenis-jenis makanan tertentu mengandung nutrisi yang bikin hepi. Kamu bisa cek di sini.
  • Carilah humor atau sesuatu yang lucu. Hibur diri kamu dengan menonton video atau film lucu. Sedikit tawa akan menceriakan hati kamu.
  • Perbaiki jadwal tidur. Jadwal tidur yang kurang atau kelebihan bisa membuat otakmu nggak berfungsi maksimal. Jadi, sebisa mungkin dapatkan jam tidur yang cukup. Sekitar 7-8 jam lah.
  • Lakukan sesuatu yang baru. Coba pergi ke tempat baru. Dapetin pengalaman baru. Dengarkan lagu yang sebelumnya nggak pernah kamu denger. Atau lakukan hobi lama kamu yang udah jarang kamu lakukan.
  • Meditasi. Temukan cara buat meredakan pikiran kamu melalui meditasi atau yoga.
  • Lakukan hal baik untuk orang lain. Membantu orang lain bisa menggerakkan energi positif dalam diri kamu. Lagipula what goes around comes around; yang kamu tanam akan kamu tuai. Kalo kamu menanam kebaikan, nanti kebaikan itu bakal balik lagi kok.
  • Perdalam agama. Mungkin selama ini kamu udah mulai jauh dari agama yang kamu anut. Coba kembalilah, lakukan ibadah dengan khusyuk. Saya letakkan ini di poin terakhir, soalnya please please jangan jadikan ini sebagai senjata andalan. Bercerita dengan orang yang peduli serta memulai hidup sehat adalah langkah yang lebih genting saat ini.

Walaupun demikian, sebisa mungkin usahakan mencari penanganan profesional ya. Minimal kalo susah ke psikolog, pergilah ke dokter. Soalnya biar gimanapun penanganan ahli yang terlatih akan lebih efektif  dan terukur, dibandingkan mencoba menangani sendiri.

Kamu gak mungkin menangani tumor pake betadine kan?

 

 

Kalau Orang Terdekat Kita Depresi, Gimana Dong?

 

Tadi kita udah banyak bahas tentang apa yang perlu dilakukan kalo kita sendiri yang depresi.

Tapi kalo misalnya orang terdekat kita yang mengalami depresi.

Kadang-kadang kita meremehkan sakit yang dialami sama jiwa. Kita mencoba memperbaiki sendiri sakit yang dialami sama jiwa kita, atau bahkan mendiamkannya; kita mencoba menutupi luka yang dirasakan dengan dalih “mencoba sabar.”

Ini bikin kita, dan orang lain, kadang-kadang mendiamkan sakit yang dirasakan, dan nggak cerita ke siapapun.

Padahal sakit di batin yang nggak ditangani dengan benar bisa berujung ke depresi, dan bisa berujung ke bunuh diri juga.

Misalnya nih ada orang terdekat kamu yang depresi. Kamu nggak mau dong kehilangan dia. Terus kamu harus gimana dong?

Orang yang depresinya udah parah biasanya mulai sering membahas tentang kematian, mulai memilih buat mati aja. Contohnya:

  • Ngomongnya kayak mau berpisah sama semua orang, ngasih-ngasih barang dalam jumlah banyak, nulis surat wasiat, secara nggak terduga bilang minta maaf kalo selama ini ada salah, atau ngucapin selamat tinggal.
  • Dalam kalimat-kalimatnya sering membahas kenikmatan meninggal. Bisa bilang ,”mati aja enak kali ya”, atau “pengen mati aja rasanya”, “enak banget kalo orang udah meninggal,” “pengen sakit parah biar cepet mati,”  “pengen ditabrak biar mati,” dan lain-lain.
  • Melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri, kayak nyilet tangan, memar-memar, atau membakar anggota tubuh.
  • Yang biasanya murung mendadak kayak bahagia atau lega, seolah bebannya udah lepas. Walaupun mungkin ini berarti positif, tapi kalo diikuti sama ciri-ciri yang di atas, bisa aja berarti dia udah bertekad bulat buat bunuh diri.

 

Kalo kamu menemukan ciri-ciri tadi, maka kamu perlu:

  • Kasi tau mereka kalo kamu ada buat mereka. Mereka nggak sendiri, dan kamu siap membantu apapun yang diperlukan untuk membuatnya bahagia.
  • Kasi ruang buat cerita. Dengerin aja, gak perlu dinasehatin sabar atau dijudge. Jangan diceramahin juga. Biarin dia berbagi. semua yang dia rasakan.
  • Ajak dia melakukan aktivitas yang menghibur. Pergilah keluar dan lakukan aktivitas yang menggerakkan tubuh.
  • Temukan ahli yang bisa menangani depresi dan keinginan bunuh diri.
  • Kalo tanda bunuh diri udah semakin signifikan, lakukan pengawasan yang ketat.
  • Awasi barang-barang yang dia beli. Obat-obatan tanpa resep, tali, cairan rumah tangga yang beracun, benda tajam, sebaiknya disembunyiin.
  • Kurangi waktu sendirinya dia. Jangan biarkan pikiran buat bunuh diri menguasai kepalanya.

 

Di Indonesia sendiri ada lo organisasi yang fokus ke pencegahan bunuh diri. Kalo orang terdekatmu atau kamu sendiri mulai kepikiran bunuh diri, kamu bisa reaching out ke mereka buat konsultasi lebih lanjut. Facebook mereka ada di sini.

 

NAH!

Itu tadi sekilas tentang depresi.

Intinya nih ya, depresi adalah luka di jiwa yang harus disembuhkan dengan hati-hati.
Soalnya jiwa kan nggak kelihatan. Kalo dicoba dirawat sendiri, takutnya nggak sembuh malah makin parah. Apalagi karena nggak kelihatan, progressnya nggak bisa kamu pantau.

Stay strong ya sobatku!

One Reply to “Depresi Itu Apa Sih? Ini Dia Definisi Depresi Paling Tepat dan Ciri-cirinya”

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)