Definisi Stres Menurut Para Ahli – Variabel Psikologi


Apa itu stres? Apakah stres selalu berarti buruk? Bagaimana cara mengukur stres?

Kali ini kita akan bahas salah satu variabel paling sering muncul di skripsi. Variabel ini sering kita alami, dekat dengan keseharian kita, namun bervariasi pada tiap orang. Stres!

Kali ini kita akan bahas macam-macam teori tentang stres, penyebabnya, faktor-faktornya, dan aspek-aspek stres.

PLUS juga contoh skala yang bisa kamu gunakan. Siap?

Daftar isi


1. Definisi Stres

Kita bahas dulu arti stres ya.

  • Selye (1982 dalam Ali Maskum, 2008) menyatakan definisi stres sebagai respon non spesifik dari tubuh di setiap tuntutan.
  • Robbins (2001) menyatakan bahwa stres merupakan suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai sesuatu kesempatan di mana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang.
  • Weinberg dan Gould (2003) mendefinisikan stres sebagai “a substantial imbalance between demand (physical and psychological) and response capability, under condition where failure to meet that demand has importance concequences”. Artinya, ada ketidakseimbangan antara tuntutan (fisik dan psikis) dan kemampuan memenuhinya. Gagal dalam memenuhi kebutuhan tersebut akan berdampak krusial.
  • Anoraga (dalam Anggraeni, 2003) berpendapat bahwa stres merupakan tanggapan seseorang, baik secara fisik maupun secara mental terhadap suatu perubahan di lingkungannya yang dirasakan mengganggu dan mengakibatkan dirinya terancam.

Berdasarkan pengertian di atas, stres adalah gangguan mental yang dihadapi seseorang akibat adanya tekanan. Tekanan ini muncul dari kegagalan individu dalam memenuhi kebutuhan atau keinginannya. Tekanan ini bisa berasal dari dalam diri, atau dari luar.

Misalkan begini.
Sebentar lagi UAS. Tapi kampus kamu mewajibkan semua mahasiswa untuk melunasi uang SPP, untuk dapat kartu ujian. Masalahnya, kamu nunggak beberapa bulan. Kamu belum ada uang, padahal UAS tinggal 4 hari lagi. Kamu bingung dan cemas harus ngapain.

Dari masalah di atas, bisa dilihat bahwa kebutuhanmu adalah melunasi SPP. Sementara kamu tidak mampu melunasi SPP tersebut. Artinya, kamu gagal dalam memenuhi kebutuhanmu. Ini sudah bisa disebut stres.

credits: elitedaily

Apakah stres selalu berarti buruk?

Enggak juga. Selye (1975) membagi stres menjadi 2: eustress dan distress.

Eustress berarti stres yang baik. Stres yang ini menantang kamu untuk menjadi lebih maju, dan kamu bersemangat menghadapinya. Contoh: kebutuhan untuk menang dalam sebuah pertandingan.

Atau misalnya kamu mau jadian sama dia, tapi kamu punya saingan. Saingan ini membuat kamu berusaha lebih keras untuk merebut hati si anu. Saingan ini adalah sumber stres, tapi stres ini memacu kamu untuk jadi lebih baik.

Distress berarti stres yang buruk. Stres yang ini membuat kamu males ngapa-ngapain. Stres ini bikin kamu sakit, nggak bersemangat, dan jadi lebih gampang emosi. Stres ini dampaknya jelek buat kamu.

 

takeaways: 

  • Stres adalah gangguan mental yang terjadi ketika seseorang terhalangi dalam mencapai keinginan/kebutuhannya


2. Penyebab Stres

Menurut Brannon & Feist (2007) dan Myers (1996), stres dapat berasal dari tiga sumber, yaitu:

  • Katastrofi. Katastrofi adalah kejadian besar yang terjadi secara tiba-tiba dan tidak dapat diprediksi, misalnya bencana alam dan perang.
  • Perubahan kehidupan. Perubahan kehidupan seseorang dapat memicu terjadinya stres. Misalnya perceraian, kematian orang yang dicintai, dan kehilangan pekerjaan.
  • Kejadian sehari-hari. Kejadian sehari-hari yang dapat menimbulkan stres misalnya jadwal kerja yang padat, lalu lintas yang macet, dan antrian yang panjang di kasir, loket, atau bank.
definisi stres, ciri-ciri stres, variabel stres
kejadian sehari-hari juga bisa bikin stres. sumber: buzzfeed

Menurut Rasmun (2004), stresor adalah variabel yang dapat diidentifikasi sebagai penyebab timbulnya stres.
Sumber stres dapat berasal dari dalam tubuh dan luar tubuh.

Stres terjadi apabila stresor tersebut dirasakan dan dipersepsikan sebagai ancaman sehingga menimbulkan kecemasan yang merupakan awal dari gangguan kesehatan fisik dan psikologis.

Beberapa jenis stresor adalah sebagai berikut:

  • Stresor biologik. Stresor biologik dapat berupa bakteri, virus, hewan, binatang, tumbuhan, dan berbagai macam makhluk hidup yang dapat mempengaruhi kesehatan. Tumbuhnya jerawat, demam, dan digigit binatang dipersepsikan dapat menjadi stresor dan mengancam konsep diri individu.
  • Stresor fisik. Stresor fisik dapat berupa perubahan iklim, suhu, cuaca, geografi, dan alam. Letak tempat tinggal, demografi, jumlah anggota dalam keluarga, nutrisi, radiasi, kepadatan penduduk, imigrasi, dan kebisingan juga dapat menjadi stresor.
  • Stresor kimia. Stresor kimia dapat berasal dari dalam tubuh dan luar tubuh. Contoh stresor yang berasal dari dalam tubuh adalah serum darah dan glukosa sedangkan stresor yang berasal dari luar tubuh misalnya obat, alkohol, nikotin, kafein, polusi udara, gas beracun, insektisida, pencemaran lingkungan, bahan-bahan kosmetika, bahan pengawet, pewarna, dan lain-lain.
  • Stresor sosial dan psikologik. Stresor sosial dan psikologik misalnya rasa tidak puas terhadap diri sendiri, kekejaman, rendah diri, emosi yang negatif, dan kehamilan.
  • Stresor spiritual. Stresor spiritual yaitu adanya persepsi negatif terhadap nilai-nilai ketuhanan.

Tidak hanya stresor negatif yang dapat menyebabkan stres, tetapi stresor positif seperti kenaikan pangkat, promosi jabatan, tumbuh kembang, menikah, dan mempunyai anak juga dapat menyebabkan stres.

takeaways:

  • Penyebab stres menurut Brannon dan Feist: katastrofi, perubahan yang drastis terhadap hidup, dan kejadian sehari-hari.
  • Penyebab stres menurut Rasmun: biologik, fisik, kimia, sosial dan psikologik, serta stresor spiritual.

 

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stres

Apa sih faktor-faktor yang mempengaruhi stres?

Menurut Atkinson & Hilgard (1996), tingkat stres tergantung pada sejumlah faktor.
Faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu:

  • Kemampuan memperkirakan. Ketika seseorang mampu memperkirakan kapan stres muncul, walaupun dia nggak bisa mengontrolnya, biasanya akan mengurangi tingkat stres.
  • Kontrol atas jangka waktu. Ketika seseorang mampu mengontrol jangka waktu kejadian yang penuh stres, akan mengurangi tingkat stres.
  • Evaluasi kognitif. Kejadian stres yang sama, dampaknya bisa berbeda pada tiap orang. Hal ini tergantung pada situasi apa yang berarti bagi orang tersebut.
  • Perasaan mampu. Kepercayaan seseorang atas kemampuannya menanggulangi stres merupakan faktor utama dalam menentukan kerasnya stres.
  • Dukungan masyarakat. Dukungan emosional dan adanya perhatian orang lain dapat membuat seseorang sanggup bertahan dalam menghadapi stres. Makanya cari pasangan sana biar nggak stres.

 

 

Tadi disebutkan bahwa efek stres dapat berbeda pada tiap orang.
Ada suatu stres yang bagi seseorang dapat menjadi distress, bagi orang lain menjadi eustress.
Kenapa begitu ya?

Menurut Rasmun (2004), setiap individu akan mendapat efek stres yang berbeda-beda.
Hal ini bergantung pada beberapa faktor, yaitu:

  • Kemampuan individu mempersepsikan stresor. Jika stresor dipersepsikan berakibat buruk bagi individu tersebut, maka tingkat stres yang dirasakan akan semakin berat. Sebaliknya, jika stresor dipersepsikan tidak mengancam dan individu tersebut mampu mengatasinya, maka tingkat stres yang dirasakan akan lebih ringan.
  • Intensitas terhadap stimulus. Jika intensitas serangan stres terhadap individu tinggi, maka kemungkinan kekuatan fisik dan mental individu tersebut mungkin tidak akan mampu mengadaptasinya. Misalnya revisi skripsi. Sekali dua kali nggak masalah. Tapi kalo tiap ketemu revisi terus, ya stres kan.
  • Jumlah stresor yang harus dihadapi dalam waktu yang sama. Jika pada waktu yang bersamaan bertumpuk sejumlah stresor yang harus dihadapi, stresor yang kecil dapat menjadi pemicu yang mengakibatkan reaksi yang berlebihan. Yaaa misalnya pulang abis diputusin pacar, kehujanan, bannya pecah pula. Hmmmm kumplit.
  • Lamanya pemaparan stresor. Memanjangnya lama pemaparan stresor dapat menyebabkan menurunnya kemampuan individu dalam mengatasi stres.
  • Pengalaman masa lalu. Pengalaman masa lalu dapat mempengaruhi kemampuan individu dalam menghadapi stresor yang sama.
  • Tingkat perkembangan. Pada tingkat perkembangan tertentu terdapat jumlah dan intensitas stresor yang berbeda sehingga risiko terjadinya stres pada tingkat perkembangan akan berbeda.

takeaways:

Tinggi rendahnya stres dipengaruhi oleh:

  • persepsi individu terhadap penyebab stres
  • sering tidaknya berhadapan dengan stresor
  • lamanya berhadapan dengan stresor
  • pengalaman individu terhadap stresor tersebut
  • tingkat perkembangan psikologis individu yang mengalami stres

Masih buntu sama judul? Butuh inspirasi? Intip variabel psikologi lain di sini!


4. Aspek-Aspek Stres

Bagaimana seseorang bisa disebut mengalami stres?

Seseorang yang mengalami stres, akan memperlihatkan respon-respon tertentu. Respon inilah yang kemudian menjadi tanda untuk mengetahui seseorang sedang stres atau tidak.

Menurut beberapa ahli, ada beberapa tanda seseorang sedang mengalami stres:

4.1 Atkinson (2oo3)

Atkinson berpendapat tanda-tanda psikologis yang muncul akibat stress adalah sebagai berikut.

  • Cemas, merupakan emosi yang tidak menyenangkan yang ditandai dengan munculnya rasa khawatir, tekanan dan ketakutan, hal ini terjadi dengan tingkatan berbeda – beda pada setiap individu.
  • Marah, yaitu luapan emosi yang agresif, baik verbal maupun non verbal. Ketika individu marah, perilaku agresi bisa ditujukan langsung pada sumber stres. Bisa juga dengan menyerang orang tak bersalah dan obyek – obyek yang ada di sekitar.
  • Depresi, merupakan reaksi psikologis dengan menarik diri, menjadi malas dan tidak berdaya menghadapi kejadan – kejadian yang tidak sesuai dengan harapan sebelumnya.
  • Penurunan fungsi kognisi, yaitu sulit konsentrasi dan sulit berpikir logis.

stres

4.2 Taylor (2003)

Taylor membagi gejala stres menjadi 4: gejala emosi, kognisi, gejala sosial, dan gejala fisik.

  • Gejala emosional (Perasaan) meliputi cemas, murung, rasa tidak mampu untuk melakukan sesuatu, perasaan marah, merasa ketakutan.
  • Gejala kognisi. Seperti takut gagal, tidak dapat berkonsentrasi, ceroboh, rasa khawatir, penghargaan diri yang kurang.
  • Gejala sosial. Seorang yang mengalami stres menjadi sulit bekerja sama, gugup ketika berbicara dengan teman, tidak tenang, dan bertindak sesuka hati.
  • Gejala fisik. Berkeringat, detak jantung meningkat, merasa gugup, gemetaran, mudah lelah, sering buang air kecil, susah tidur,sakit kepala, tekanan darah tinggi.

 

4.3 Kahn dan Byosiere (1992)

Kahn dan Byosiere (1992) membagi respon individu terhadap stress menjadi 3 kategori, yaitu respon fisiologikal, respon psikologikal, dan respon perilaku.

  • Respon fisiologis adalah sakit. Kayak tekanan darah tinggi, sakit pencernaan, bisul-bisul, dll.
  • Respon psikologikal adalah respon yang berkaitan dengan pemikiran atau perasaan, baik yang berhubungan dengan sumber stres atau tidak. Misalnya kecemasan, burnout, depresi, ketidakpuasan terhadap pekerjaan mapun kehidupan di luar organisasi, kelelahan, tertekan.
  • Respon perilaku adalah respon yang berkaitan dengan perubahan perilaku yaitu menurunnya performance (malas belajar, malas bekerja), perilaku agresif verbal maupun non verbal (jadi kasar, sering mukul, dsb dsb), melakukan hal yang buruk terhadap peran kehidupan (mengupload foto-foto aneh di instagram, menulis caption kontroversial, merusak barang-barang dengan sengaja) dan perilaku merusak diri (mengkonsumsi alkohol, penyalahgunaan obat-obatan).

takeaways:

  • tanda orang stres secara umum terbagi menjadi empat: pikiran,perilaku, perasaan, dan fisik.
  • ketika seseorang stres, pikirannya jadi sulit konsentrasi dan sulit berpikir logis
  • ketika seseorang stres, perilakunya jadi lebih agresif, dan menjadi malas
  • orang stres merasa tertekan, mudah marah, dan kecemasan berlebih
  • orang yang stres dapat juga mengalami sakit, seperti sakit kepala, tekanan darah tinggi, sakit jantung, dsb


5. Skala-Skala tentang Stres

Ada nggak nih contoh skala tentang stres?

Hmmm biasanya sih peneliti tentang stres akan membuat skala sendiri. Kan tiap profesi stresnya beda-beda.
Misalnya skala stres kerja kantoran pasti beda dong dengan skala stres atlet. Dan beda lagi dengan stres mahasiswa dalam menyelesaikan skripsi.

Makanya, balik lagi ke sampel yang mau kamu jadikan subyek penelitian.

Tapi kamu boleh deh liat salah satu skala baku tentang stres berikut ini.

Perceived Stress Scale

Perceived stress scale adalah skala kemampuan menerima stres buatan Cohen, Karmack, dan Mermelstein.

Skala ini terdiri dari 10 aitem, menggunakan model skala likert.

Dilihat dari aitem-aitemnya, skala ini kayaknya cocok sebagai alat pre-test dan post-test eksperimen.
Tapi pencipta skala ini juga menggunakannya untuk meneliti korelasi dengan beberapa variabel lain kok.
Tetep tanya sama dosen kamu aja.

Kamu bisa lihat Perceived Stress Scale di sini.


6. Potensi Penelitian

Gimana potensi penelitian tentang stres?

Stres adalah salah satu variabel yang paling sering diteliti sama mahasiswa psikologi. Tiap semester ada!

Lagian, stres selalu terjadi pada semua orang di berbagai macam profesi. Bukan barang langka.

Jadi masih bagus lah buat diteliti. Tinggal variabel x-nya aja yang kamu utak-atik.

Temen saya kemaren meneliti tentang perbedaan stres antara atlet beregu dan atlet kelompok. Mungkin kamu tertarik buat mengembangkan?


Nah!

Demikianlah pembahasan tentang variabel kali ini.

Semoga bermanfaat!

 

5 Replies to “Definisi Stres Menurut Para Ahli – Variabel Psikologi

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)