Pengertian Harga Diri Menurut Ilmu Psikologi


Pengertian harga diri. Definisi, faktor pembentuk, ciri-ciri harga diri, sekaligus alat ukur harga diri.

MENU – klik untuk memilih

Ada seorang mahasiswi yang digosipkan sebagai “ayam kampus”. Dia seringnya temenan sama cowok.
Kalau malem, sering dianter pulang ke kos dengan mobil yang berbeda-beda.

Di kampusnya, dia sering dikucilkan dan dihina. Dianggap murahan. Nggak punya harga diri.

Tapi anehnya si mahasiswi ini tetep pede ke mana-mana. Dia tetep say hi ke orang-orang yang mengucilkan dia. Dia tetep kuliah. Tetep ngumpulin tugas.

Di kampus yang sama, ada Si Nengsih. Dia ini mahasiswi biasa. Dia memfollow akun-akun gosip di instagram, sekaligus secara rutin memberikan komentar-komentar pedes menusuk ke akun-akun artis. Dia juga punya group chat bersama gengnya, yang isinya ngegosipin orang sekaligus capture-capture gambar sebagai materi gosip.

Nengsih suka semua ini. Bagi dia, menyenangkan bisa mengoreksi kesalahan orang lain. Kekurangan orang lain sungguh merupakan kesenangan yang hakiki.

Namun sebenernya temen-temennya tau Nengsih ini orang yang gengsian.

Nengsih seneng ngeledek orang, tapi bakal tersinggung kalau diledek. Nggak jarang, dia diem-dieman sama temennya karena masalah ejekan. Kadang Nengsih yang salah, kadang dia nggak mau minta maaf.

Di antara kedua cewek ini, mana yang punya harga diri tinggi?

Apa ciri-ciri orang dengan harga diri tinggi?

Dan darimana kita bisa meningkatkan harga diri?

Hold on tight fellas, karena kali ini kita akan bahas harga diri secara tajam dan komprehensif.


1. Definisi Harga Diri

Jadi, sebenarnya apa itu harga diri?

  • Coopersmith (dalam Ainur, 1997) menjelaskan bahwa harga diri adalah evaluasi yang dibuat individu mengenai sesuatu yang berkaitan dengan dirinya, yang diekspresikan dalam suatu bentuk sikap setuju atau tidak setuju dan menunjukkan bahwa individu tersebut meyakini dirinya sendiri sebagai individu yang mampu, penting, dan berharga.
  • Blascovich dan Tomaka (dalam Coetzee, 2005) menyatakan bahwa harga diri adalah komponen evaluatif dari konsep diri, representasi diri yang lebih luas sehingga mencakup aspek kognitif dan behavior yang bersifat menilai dan afektif.
  • Roman (dalam Coetzee, 2005) menyatakan bahwa harga diri sebagai suatu kepercayaan diri seseorang, merupakan patokan untuk sesuatu yang terbaik bagi diri sendiri, dan bagaimana melakukannya.
  • Clements dan Bean (1995) mengungkapkan bahwa harga diri (self-esteem) adalah penilaian-penilaian seseorang tentang dirinya sendiri dari berbagai perspektif.
  • Dariuszky (2004) mengemukakan bahwa harga diri (self-esteem) sebagai penilaian seseorang bahwa dirinya mampu menghadapi tantangan hidup dan mendapat kebahagiaan.
  • Santrock (1998) Harga diri merupakan evaluasi individu tentang dirinya sendiri secara positif atau negatif. Evaluasi ini memperlihatkan bagaimana individu menilai dirinya sendiri dan diakui atau tidaknya kemampuan dan keberhasilan yang diperolehnya. Penilaian tersebut terlihat dari penghargaan mereka terhadap keberadaan dan keberartian dirinya sendiri apa adanya.
  • Rosenberg (1965) menyatakan definisi harga-diri (self-esteem) merupakan suatu evaluasi positif ataupun
    negatif terhadap diri sendiri (self).
  • Robinson (1991) Harga diri adalah salah satu komponen yang lebih spesifik dari konsep diri, yang
    melibatkan unsur evaluasi atau penilaian terhadap diri.
  • Byron & Byrne (1994) Konsep diri adalah kerangka kognitif yang mengorganisir bagaimana kita mengetahui diri kita dan bagaimana kita memproses informasi-informasi yang relevan dengan diri.
    Konsep diri, termasuk harga diri, merupakan aspek yang sangat penting dalam berfungsinya manusia, sebagian karena manusia memang sangat memperhatikan berbagai hal tentang diri, termasuk siapa dirinya, seberapa positif atau negatif seorang individu memandang dirinya, bagaimana citra yang ditampilkan pada orang lain, dan lain-lain.
  • Stuart dan Sundeen (1998) mengatakan bahwa definisi harga diri (self-esteem) adalah penilaian individu terhadap hasil yang dicapai dengan menilai seberapa jauh perilaku memenuhi tujuan idealnya.
  • Burn (1978) memberikan definisi harga diri (self esteem) sebagai penilaian individu terhadap dirinya sendiri, yang sifatnya tersembunyi dan tidak dinyatakan.
  • Maslow (dalam Alwisol, 2002) menyebutkan bahwa harga diri adalah satu bagian dari hirarki kebutuhan manusia. Harga diri ini perlu dipenuhi, sebelum beranjak memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi.

Pelajari lebih banyak tentang Abraham Maslow di sini.

Dari teori-teori di atas, bisa disimpulkan bahwa harga diri adalah penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri. Harga diri ini bisa tinggi atau rendah.

Kalau harga dirinya tinggi, berarti seseorang ini menganggap bahwa dirinya baik.
Dia merasa berharga, layak untuk terus berusaha.
Harga diri kayak gini bisa membantu individu berkembang.

Kalau rendah, berarti dia menganggap bahwa dirinya adalah seorang yang buruk.

Harga diri negatif bisa merusak dan menghambat kemajuan.
Bahkan, bisa menyebabkan gangguan jiwa kayak depresi dsb dsb.

Pada prinsipnya, setiap orang punya harga diri. Yang membedakan adalah harga dirinya ini positif atau nggak.

Harga diri adalah tentang dia ini menganggap dirinya adalah seorang yang baik atau nggak. Berharga atau nggak. Gitu.

tiap orang punya harga diri. sumber: elitedaily.com

TAKEAWAYS:

  1. setiap orang punya harga diri
  2. harga diri adalah cara seseorang menilai dirinya sendiri
  3. harga diri tinggi membantu kita untuk maju dan berkembang
  4. harga diri rendah membuat kita memandang diri sebagai seseorang yang buruk

Trik melejitkan kepercayaan diri dalam waktu singkat, cek di sini.


2. Faktor-faktor Pembentuk Harga Diri

Gimana cara orang menilai dirinya?

Nggak ada tolak ukur yang pasti. Standar penilaian diri ini subyektif banget.
Artinya, bisa aja seseorang yang udah punya banyak prestasi tapi tetep ngerasa minder. Nggak berharga.

Dan bisa aja seseorang yang seumur hidup nggak pernah berprestasi, tapi pede ngejalanin hidup.
Kok bisa ya cara menilai diri ini beda tiap orang?

Nah, jadi ada beberapa hal yang mempengaruhi penilaian terhadap diri sendiri.

a. Usia

Setiap manusia punya fase perkembangan dari anak, remaja, dewasa awal, dewasa madya, sampe lanjut usia. Setiap fase ini punya rentang usia, dan rentang usia ini berperan dalam self esteem kamu.

Dari sebuah penelitian tentang hubungan self esteem dengan usia, disebutkan bahwa harga diri cenderung menurun di masa remaja, meningkat di usia 20 tahun, mendatar di usia 30meningkat di rentang 50-60 tahun dan menurun di usia 70 dan 80 tahun.

Penelitian ini dilakukan dengan melibatkan 326.641 responden, dengan rentang usia 9 sampe 90 tahun.

self-esteem
sumber: Journal of Psychology and Aging

b. Jenis Kelamin

Lebih lanjut dari penelitian tadi, ternyata harga diri juga dipengaruhi sama jenis kelamin.

Grafik di atas menyebutkan, secara rata-rata harga diri cowok lebih positif dibandingkan cewek.
Coba liat deh tanda segitiga di grafik. Lebih tinggi dibandingkan lingkaran, kan?

Penelitian ini juga diperkuat temuan Erol dan Orth (2011) yang menyebutkan jenis kelamin adalah salah satu dari tujuh faktor penentu harga diri seseorang.

Tapi, Major dkk (dalam Baron, Branscombe, & Byrne, 2008) menekankan bahwa perbedaan harga diri pada laki-laki dan perempuan keliatan signifikan pada kelas sosial menengah ke bawah.

Untuk kelas profesional atau menengah ke atas, perbedaan harga diri ini nggak berbeda signifikan.

(Harga diri ini bukan merupakan faktor pembeda yang kuat. Jadi bila kamu mau neliti tentang harga diri, jenis kelamin gak usah dimasukkan sebagai variabel. Tetep konsultasi sama yang lebih ahli ya)

c. Keluarga

harga diri
keluarga yang harmonis bisa meningkatkan harga diri. sumber: quietrev.com

DeHart, Pelham, dan Tenne (dalam Baron, Branscombe, & Byrne, 2008) menyatakan bahwa dewasa yang dibesarkan dalam keluarga dengan kasih sayang yang besar, memiliki harga diri yang lebih positif dibandingkan dewasa muda yang dibesarkan dengan kasih sayang yang sedikit.

Penelitian lain dari Lian dan Yusoof (2009) menyebutkan bahwa keluarga yang kohesif (dekat) memberikan peningkatan pada harga diri anak.

Ketika kohesivitas keluarga tinggi, maka harga diri anak akan lebih baik.

Sejumlah penelitian juga menyebutkan pentingnya peran ayah dalam memengaruhi harga diri seseorang.
Anak-anak dari keluarga tanpa ayah cenderung mengalami masalah dengan harga diri, masalah akademis, dan masalah perilaku (O’Neill, 2002).

Anak yang nggak memiliki seorang dengan peran ayah cenderung bermasalah dengan prestasi di sekolah, dan mengalami kesulitan belajar (Allen dan Daly, 2002).

Dari sini, bisa kita liat ya bahwa keluarga punya pengaruh terhadap harga diri seseorang. Apabila keluarganya lengkap dan dekat, maka harga diri seseorang akan meningkat.

d. Kondisi Fisik

Coopersmith (1967) menyatakan bahwa orang dengan daya tarik fisik tinggi cenderung memiliki harga diri lebih baik dibandingkan orang dengan kondisi fisik kurang menarik.

Individu yang merasa dirinya berpenampilan menarik akan merasa baik terhadap dirinya sendiri.
Sebaliknya, cacat fisik yang mencolok bisa membuat seseorang merasa rendah diri (Hurlock, 1990).

Hal ini berbeda-beda pada tiap orang ya.
Nick Vujicic punya pandangan menarik tentang hal ini:

e. Tingkat Pendidikan

Penelitian yang dilakukan oleh Bulut, Gurkan, dan Sevil (dalam Ilmaz dan Baran, 2010) menyebutkan semakin rendah tingkat pendidikan seseorang, semakin rendah pula harga diri yang dia miliki.

Sebaliknya, sikap yang positif terhadap pendidikan akan menghasilkan kepercayaan diri pada seseorang. Tingginya kepercayaan diri ini berimbas pada harga diri yang meningkat.

f. Penghasilan

Menurut Baruch, Barnett, & Rivers (1983), penghasilan yang sesuai dengan usaha seseorang akan meningkatkan harga dirinya.

Penelitian lain dari Aro dan Nurmi (2007) juga menyebutkan bahwa harga diri yang tinggi terlihat pada seseorang yang memiliki pekerjaan permanen dan berpenghasilan tinggi.

Dari sini bisa terlihat: penghasilan yang oke dan mapan bisa meningkatkan penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri.

Gaji gede, makin pede.

g. Teman Dekat

Herter (dalam Bitar, 2004) menyatakan bahwa teman dekat juga bisa mempengaruhi self-esteem.
Keberadaan teman dan kemampuan mempertahankan hubungan dengan teman mampu mempengaruhi penilaian seseorang terhadap diri sendiri.

harga diri adalah. pengertian harga diri, definisi harga diri
teman dekat mempengaruhi harga diri!

h. Kompetensi

Herter (dalam Bitar, 2004) menyatakan bahwa kemampuan/kompetensi tinggi juga memberi pengaruh pada harga diri.

Ketika seseorang bisa mengerjakan suatu hal spesifik lebih baik dibandingkan orang lain, maka ia akan merasa bangga terhadap dirinya sendiri. Perasaan bangga ini meningkatkan self-esteem.

Herter sendiri menyatakan ada tiga kompetensi yang mempengaruhi harga diri: kompetensi akademis, kompetensi sosial, dan kompetensi kerja.

Kompetensi akademis adalah kemampuan akademik. Kompetensi sosial adalah kemampuan dalam bersosialisasi, dan kompetensi kerja adalah keahlian lebih dalam hal pekerjaan.

Pada perkembangan remaja, self esteem akan meningkat bila individu tersebut tahu tugas-tugas perkembangannya, dan mampu menghandle tugas tersebut. (Santrock, 2003)

i. Dukungan Sosial dan Emosional

Ketika kamu lelah dan nggak mampu lagi untuk berjuang, siapa sih yang bisa menguatkanmu?

Bisa sahabat gengmu. Bisa orang tua. Bisa juga si bebeb. Keberadaan mereka sungguh berarti!

Mereka selalu ada buat kamu, dan mendukung semua yang kamu lakukan. Mereka siap mendengarkan keluh kesahmu. Mereka memahami kamu dan selalu memberikan kamu semangat untuk bangkit dan berjuang lagi.

Santrock (2002) menyatakan dukungan emosional dari orang lain mampu mempengaruhi self-esteem.

Anak-anak dengan harga diri rendah acapkali berasal dari keluarga konflik, perundungan (bully) dan ditolak keberadaannya.

dukungan pacar bisa meningkatkan harga diri

j. Kekuasaan

Ketika seseorang mampu mengontrol perilaku orang lain, dan diakui oleh orang lain, dia akan merasa punya kekuasaan (power).

Nah, kekuasaan ini meningkatkan harga diri orang tersebut (Mengantes, 2005).

Tapi nggak semua orang yang berkuasa jadi sombong.
Yang pasti, peningkatan self-esteem itu ada, walaupun mungkin pengaruhnya beda-beda pada tiap orang.

k. Kebajikan

Ketika kita berbuat baik, rasanya ada semacam kesenangan kecil di hati.
Ya gak sih? Hati kita kayak terasa hangat.

Ketika kita berbuat baik dan tulus, kita juga merasa baik terhadap diri kita sendiri. Rasa positif ini mempengaruhi self-esteem kamu.

Tidak hanya sebatas berbuat baik sih. Ketika kamu menaati peraturan, moral, etika, dan agama, self-esteem kamu akan meningkat pula (Mengantes, 2005).

Inilah, yang dalam keseluruhannya disebut kebajikan.

Sedikit tambahan, Crocker dan Woldfe (2000) mengemukakan harga diri dipengaruhi beberapa hal:

  1. dukungan keluarga
  2. kompetisi
  3. penampilan
  4. anugerah Tuhan
  5. kompetensi akademis
  6. nilai moral
  7. penghargaan dari orang lain

(sebagian faktor ini kadang nggak cocok sama subyek pelajar atau mahasiswa. jadi, tetep sesuaikan dengan subyek penelitianmu ya)

TAKEAWAYS:

  1. Usia bisa mempengaruhi harga diri seseorang
  2. Di kalangan menengah ke bawah, harga diri perempuan lebih rendah dari laki-laki
  3. Orang yang keluarganya penuh kasih sayang, harga dirinya tinggi
  4. Penampilan fisik yang menarik bisa meningkatkan harga diri
  5. Tingkat pendidikan yang tinggi bisa menaikkan harga diri seseorang
  6. Harga diri seseorang akan meningkat apabila penghasilannya oke


3. Aspek-Aspek Harga Diri

Sama kayak materi psikologi yang lain, harga diri nggak bisa kita liat secara kasatmata.

Harga diri dapat kita liat dari macam-macam perilaku yang menandakannya.

Untuk mengetahui seberapa tinggi seseorang menilai dirinya, ada tiga perilaku yang bisa kamu liat (Michinton, 1993).

a. Perasaan Terhadap Diri Sendiri

harus nyaman terhadap diri sendiri
harus nyaman terhadap diri sendiri

Perasaan terhadap diri sendiri adalah gimana cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Apakah dia nyaman dengan dirinya yang sekarang? Apakah dia menerima diri sendiri apa adanya?

Orang yang harga dirinya tinggi merasa nyaman sama dirinya.
Dia menerima kelebihan dan kekurangan dirinya sendiri.
Dia juga nggak gampang terpengaruh sama pendapat orang lain atas dirinya.

Orang yang harga dirinya tinggi ini nggak gampang marah. Nggak gampang tersinggung, gitu.

b. Perasaan terhadap Hidup

Orang dengan harga diri tinggi adalah orang yang hidup dalam realita.
Mereka menerima kenyataan yang terjadi dalam hidupnya.

Orang dengan harga diri tinggi sadar bahwa semuanya terjadi karena pilihan dan keputusannya sendiri, bukan karena faktor orang lain.

Ada beberapa kemiripan harga diri tinggi dengan locus of control (lokus kendali) internal.
Locus of control bisa kamu baca di sini sekarang.

Orang dengan harga diri tinggi cenderung realistis, mereka memasang cita-cita sesuai dengan kapasitasnya. Buat mereka, cita-cita boleh tinggi, tapi kaki harus tetap menjejak tanah.

Oh iya, orang berharga diri tinggi menganggap masalah adalah tantangan. Mereka nggak mengeluh, karena masalah adalah kesempatan untuk mengembangkan diri.

c. Hubungan dengan Orang Lain

Orang dengan harga diri tinggi memiliki toleransi dan menghargai orang lain.

Daripada ngejelek-jelekin orang lain, mereka memilih ngeliat potensi dan kebaikan yang orang lain punya.

Mereka percaya, semua orang punya hak yang sama dan patut dihormati.

Yakin deh, mereka yang seneng ngejelekin orang lain adalah mereka yang nggak nyaman sama dirinya sendiri.

Bila orang udah nyaman sama dirinya dan pilihannya, dia gak bakal maksain orang lain buat ngikut. Dia gak butuh pendapat orang lain juga kok.

TAKEAWAYS:

  1. Orang dengan harga diri tinggi merasa nyaman dengan dirinya
  2. Orang berharga diri tinggi mampu menerima realita dan kuat menghadapi masalah
  3. Orang berharga diri tinggi mampu menerima orang lain apa adanya
  4. Orang dengan harga diri tinggi merasa bodo amat dengan penilaian orang lain
  5. Orang dengan harga diri tinggi nggak gampang tersinggung


4. Tipe Harga Diri

Kamu pasti sudah tahu dong kalau harga diri terbagi menjadi rendah dan tinggi.
Namun, beberapa ahli punya teori lain mengenai tipe-tipe harga diri.

harga diri adalah. pengertian harga diri, definisi harga diri

Tiga Fase Self-Esteem

Klasifikasi ini dibuat oleh Martin Rossmembagi self-esteem dalam lingkupan yang disebut feats dan anti-feats.
Feats” memiliki atribut yang positif (kemenangan, kehormatan, kebajikan), sementara “anti-feats” adalah atribut-atribut negatif (kekalahan, rasa malu, terhina).

Perihal self esteem, ada tiga tingkatan yang selalu dilewati individu:

4.1. Terpecah

Individu memandang dirinya tidak berharga dan tidak layak dicintai. Ia mengalami “anti-feats”, yang di dalamnya ada rasa terhina, malu, dan pecundang. Ia mengasihani dan menghina dirinya sendiri (Gallardo, 2015; Ross, 2013). Fase ini penuh kesedihan dan ketidakberdayaan.

4.2 Rapuh

Pada tahap ini, individu memiliki citra diri yang positif.

Namun, apabila ia masih rentan terhadap muncul “anti-feats”, sehingga individu dalam tahap ini sering merasa gugup dan secara regular melakukan mekanisme pertahanan diri (Bonet dan Bailen, 2015).
Mekanisme perlindungan yang sering terjadi pada fase ini, adalah menghindari pengambilan keputusan.

Walaupun individu pada tahap ini seolah memperlihatkan kepercayaan diri yang besar, sebenarnya ia adalah kebalikannya. Kepercayaan diri yang terlihat besar adalah indikasi ketakutan mereka akan rasa tak berdaya dan rapuhnya selfesteem mereka.

Mereka juga mencoba menyalahkan orang lain, demi melindungi tercorengnya image dalam diri mereka.

Mekanisme pertahanan rapuh di antaranya adalah berpura-pura “sengaja mengalah” dalam pertandingan dan atau kompetisi.

Hal ini dilakukan agar orang lain mengira ia tidak butuh kemenangan, dan memperlihatkan sikap tak acuh terhadap penerimaan sosial.

4.3 Kuat

Individu dengan self-esteem kuat, memiliki image diri yang positif dan teguh, sehingga “anti-feats” tidak mampu menodai harga diri mereka.

Tidak takut gagal, mereka terlihat rendah hati, ceria, dan tidak menyombongkan diri (Gallardo, 2015; Ross, 2013).

Mereka juga mampu berusaha dengan segenap kemampuan demi mencapai tujuan. Hal ini dapat terjadi, karena meskipun gagal, harga diri mereka tidak akan terpengaruh.

Mereka mengenali kesalahan-kesalahan yang mereka buat tanpa merasa malu.

Walaupun kokoh seperti karang, sesungguhnya semua tingkatan self-esteem dapat berubah, tergantung pada situasi dan kondisi dalam hidup mereka (Ross, 2013).

TAKEAWAYS:

  1. Fase harga diri dibagi tiga: terpecah, rapuh, dan kuat
  2. Harga diri terpecah adalah ketika seseorang merasa tidak berharga
  3. Harga diri rapuh ketika di luar tampak pede, sebenarnya tidak
  4. harga diri kuat ketika di luar dan di dalam benar-benar percaya diri


5. Alat Ukur Harga Diri

Tertarik meneliti self-esteem?

Bagus! Nih, sejumlah skala self esteem yang bisa kamu intip.

a. Skala Self Esteem Inventory Coopersmith

Skala self esteem inventory Coopersmith terdiri dari 58 pernyataan favorabel dan unfavorabel.

Ada dua pilihan jawaban, “seperti saya” dan “tidak seperti saya”.

Misalnya pernyataan ini sesuai dengan dirimu alias kamu banget, kamu bisa centang di bagian “seperti saya”. Kalau nggak sesuai kamu, tinggal centang di bagian “tidak seperti saya”.

Kamu liat dulu deh di sini, biar dapet gambaran.

Untuk skoring, kamu tinggal sesuaikan jawaban responden sama kuncinya.

Sesuai saya: Item 2, 4, 5, 10, 11, 14, 18, 19, 21, 23, 24, 28, 29, 32, 36, 45, 47, 55, 57
Tidak sesuai saya: Item 3, 7, 8, 9, 12, 15, 16, 17, 22, 25, 26, 30, 31, 33, 35, 37, 38, 39, 40, 42, 43, 44, 46, 49, 50, 51, 52, 53, 54, 56, 58

Misalnya responden jawab “sesuai saya” di aitem nomer 2. Itu jawabannya bener.

Terus dia jawab “tidak sesuai saya” di aitem nomer 3. Itu jawabannya bener.

Berarti jawaban yang bener udah dua. Gitu terus.

Oh iya.

Aitem nomer 1, 6, 13, 20, 27, 34, 41, dan 48 adalah aitem tipuan. Kalau dia ngasih centang pada tiga atau lebih aitem-aitem ini, artinya dia udah faking good. Kejujurannya diragukan.

Kalau udah gitu, singkirkan responden itu dari sampelmu ya.

Tingkatan harga diri ada di bagian bawah file tadi.

P.S. : Apabila kamu mau make skala ini, sebaiknya aspek-aspek harga dirinya ngikutin teori Coopersmith ya. 

b. Rosenberg Self-Esteem Scale

Skala yang gak kalah populer adalah skala punya Rosenberg.

Skala Rosenberg terdiri dari 10 aitem dengan empat pilihan jawaban: sangat setuju, setuju, tidak setuju, sama sangat tidak setuju. Nilai jawaban per aitem maksimal 3, minimal 0.

Jadi rentang nilainya antara 0 sampe 30. Cek di sini deh.

Skala ini enak, cuma ada 10 aitem. Jadi ngumpulin datanya lebih cepet. Terus juga skala ini bisa digunakan untuk siswa sekolah. Jadi misalkan mau make siswa sebagai subyek, kamu udah aman.

Tapi kelemahannya adalah nggak ada batasan berapa harga diri tinggi dan berapa harga diri yang rendah.

Solusinya adalah mencari penelitian yang ngambil datanya pake skala ini. Dari situ bisa kamu cari teori terkait yang menyebutkan berapa range harga diri tinggi dan berapa yang rendah.

c. State Self-Esteem Scale

State Self-Esteem Scale adalah skala buatannya Polivy dan Heatherton (1991). Skala ini terdiri dari 20 aitem, dengan 5 pilihan jawaban: tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering, selalu. Nilai per jawaban adalah satu sampai lima, tergantung soalnya favorabel atau nonfavorabel. Cek di sini deh.

Pernyataan-pernyataan skala ini gampang dipahami, tapi nggak terlalu jelas range-nya.
Jadi kamu perlu nyari penelitian yang ngambil data pake skala ini.

Selain alat ukur baku, tentu aja kamu bisa bikin skala kamu sendiri.
Agak repot, tapi tentu aja bakalan lebih pas dengan respondenmu.

Satu kelemahan alat ukur baku adalah hampir semuanya buatan luar negeri, jadi bisa aja nggak cocok sama budaya responden kamu.

Tetep konsultasikan sama yang lebih ahli ya.


6. Potensi Penelitian

Harga Diri alias self-esteem adalah satu variabel psikologi yang lumayan sering diteliti.
Teori-teori terkait self-esteem juga banyak dan beragam, tinggal kamu sesuaikan aja sama subyek penelitianmu.

Dengan banyaknya penelitian yang sudah ada, kamu jadi gak kesulitan untuk nyari referensi.

Tapi karena terlalu sering, kadang dosen pembimbing akan nyuruh kamu untuk meneliti variabel lain.
Abisnya self-esteem ini udah agak pasaran.

Apa ini berarti harga diri adalah variabel yang nggak menarik diteliti?

Wah, itu tergantung dengan variabel satunya. Kalau kamu bisa menghubungkan harga diri dengan masalah yang lagi hangat saat ini, kamu bisa dapet judul penelitian yang bagus.

Kamu juga bisa meneliti kenapa netizen seneng banget menghujat.
Apakah mungkin netizen yang suka menghujat memiliki harga diri rendah?

Atau bisa mengaitkan harga diri dengan abnormalitas, kayak impostor syndrome atau cinderella complex. Kondisi klinis biasanya punya “nilai jual” tinggi di mata dosen, jadi judulmu lebih gampang diterima.

Kamu juga bisa mengembangkan penelitian sebelumnya tentang self-esteem.

Jadi kan biasanya di bagian kesimpulan dan saran, ada tuh saran buat penelitian berikutnya. Atau penelitian sebelumnya punya kekurangan. Ya kamu perbaiki deh kekurangannya.


NAH!

Itu aja nih pembahasan kita tentang harga diri. Intinya harga diri ini teteup asik kok untuk diteliti, karena banyak juga kondisi psikologis yang bisa dikaitkan sama variabel ini.

Kamu tertarik untuk meneliti harga diri?

sumber:

Kamila, Ismi I. (2013). Perbedaan Harga Diri (Self-Esteem) Remaja Ditinjau dari Keberadaan Ayah. Jurnal Psikologi Volume 9 Nomor 2.
Maulana, Imam (2013). Perbedaan Harga Diri Antara Siswa yang Mengikuti dengan yang Tidak Mengikuti Ekstrakurikuler Olahraga di SMAN 4 Kotamadya Magelang. Universitas Negeri Yogyakarta: Yogyakarta.
Paskahandriati, R., & Kuswardani, I. Hubungan antara Harga Diri dan Prestasi Belajar Fisika pada Siswa STM. Universitas Setia Budi Surakarta: Surakarta.
Aditomo, A., & Retnowati, S. 2004. Perfeksionisme, Harga Diri, dan Kecenderungan Depresi pada Remaja Akhir. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta.
Srisayekti, W., dkk. 2015. Harga-diri (Self-esteem) Terancam dan Perilaku Menghindar. Jurnal Psikologi volume 42.
Khalid, I. 2011. Pengaruh Self Esteem dan Dukungan Sosial terhadap Optimisime Hidup Penderita HIV/AIDS. UIN Syarif Hidayatullah: Jakarta.
Pratiwi, L.R. 2011. Hubungan Kebermaknaan Hidup dengan Self Esteem pada Penghuni Pusat Rehabilitas Narkoba Rumah Damai. Universitas Negeri Semarang: Semarang.

Dalang sesungguhnya di balik PsikologiHore. Suka ngopi tapi kopi nggak suka sama dia.

3 Replies to “Pengertian Harga Diri Menurut Ilmu Psikologi

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)