Waktu baca yang dibutuhkan: 19 menit

Ketahui definisi tentang pola kelekatan, aspek-aspek kelekatan, ciri-ciri, faktor yang mempengaruhi, dan alat ukur kelekatan.

Daftar isi (klik untuk loncat)

  1. Definisi Kelekatan

  2. Aspek-aspek Kelekatan

  3. Ciri-ciri Kelekatan

  4. Faktor yang Mempengaruhi

  5. Manfaat

  6. Alat Ukur Kelekatan

  7. Potensi Penelitian

 

¬†ūü϶”yank km dmn? PING! PING! PING! PING!”

¬†ūüĎß”yaampun yank mav yha ku tdi ketiduran hhe”

¬†ūü϶”ketiduran apa ketiduran? hmmm? kmu bohong yha!”

¬†ūüĎß”lah beneran yank ku tdi ketiduran”

¬†ūü϶”klo ketiduran, kok kamu gak muncul di mimpi aku?”

Chusnul baru sebulan pacaran sama Gofur.

Awalnya sih semua terasa indah. Gofur perhatian, selalu khawatir, dan selalu mikirin.
Namun lama-lama kok Gofur ini bikin risih… Kalau nggak ngabarin dikit langsung curiga.
Langsung maramarah.

Ghofur ini terlalu pengen lengket sama Chusnul. Tapi ya gimana ya Chusnul juga butuh ruang buat bernafas.

Kelakuan Ghofur ini mungkin pernah kamu lakukan, atau kamu mengalami.
Namanya tak lain dan tak bukan ialah kelekatan insecure.

Kelekatan adalah hal yang bagus, tapi kalau kelekatan yang insecure ya nggak enak dong.

Ingin tahu lebih lanjut tentang kelekatan?

Ayo kita mulai!

1. Definisi Kelekatan

Jadi, kelekatan itu apa sih? Sejumlah ahli memandang kelekatan sebagai:

  • Kelekatan (attachment) adalah ikatan kasih sayang dari seseorang terhadap pribadi lain yang khusus (Alish, 1998).
  • Kelekatan merupakan tingkah laku yang khusus pada manusia, yaitu kecenderungan dan keinginan seseorang untuk mencari kedekatan dengan orang lain dan mencari¬†kepuasan dalam hubungan dengan orang tersebut (Soetjiningsih, 2012).
  • MŇĎnks (2006) menyatakan bahwa attachment¬†adalah mencari dan¬†mempertahankan kontak dengan orang-orang yang tertentu saja. Orang pertama¬†yang dipilih anak dalam kelekatan adalah ibu (pengasuh), ayah atau saudara-saudara dekatnya.
  • Menurut Santrock (2007), kelekatan adalah ikatan emosional yang erat antara dua orang. Kelekatan ini mengacu pada suatu¬†relasi antara dua orang yang memiliki perasaan yang kuat satu sama lain dan melakukan banyak hal bersama untuk melanjutkan relasi itu.

    Anak yang mendapatkan kelekatan (Attachment) yang cukup, akan merasa dirinya aman (Secure) dan lebih positif terhadap kelompoknya, menunjukkan ketertarikan yang lebih besar terhadap orang lain di dalam mengajak bermain atau ketika digendong.

    Berarti, anak ini bersifat sosial tidak hanya dengan ibu atau pengasuhnya, tetapi juga pada orang lain. Sebaliknya anak yang memiliki kelekatan yang tidak aman/kuat (Insecure) akan takut pada orang asing dan akan merasa sedih oleh perpisahan dengan ibu atau pengasuhnya.

  • Bowlby (dalam Hasan dkk, 2006) menyatakan bahwa kelekatan (attachment) adalah bentuk tingkah laku yang dapat mengekal, ataupun untuk mendapatkan individu lain.
  • Kelekatan (attachment) juga disebut sebagai suatu ikatan yang intens dan terus menerus yang secara biologis berakar dari fungsi perlindungan dari bahaya (Wilson dalam Potter-Efron, 2005).
  • Menurut Flanagan (2003)¬†attachment¬†diartikan sebagai ikatan emosional antar dua orang, terutama pada ibu dan anak.
  • Cox (2001) menyebutkan kelekatan sebagai ikatan emosional yang kuat dengan orang lain.
  • Hendrick (dalam McGuirk dan Pettijohn, 2008) mendefinisikan kelekatan sebagai bagian dari interaksi dengan pengasuh yang melibatkan kelekatan fisik, yang secara tak langsung juga kedekatan afeksi emosional.
  • Menurut Erwin (1998) secara biologis, kelekatan merupakan mekanisme yang dibuat untuk melindungi dan mendorong perkembangan remaja secara adaptif dan mempertahankan eksistensinya.
  • Bee (2000) menyatakan bahwa kelekatan adalah bentuk dari suatu ikatan kasih sayang yang berhubungan dengan timbulnya atau adanya rasa aman dalam hubungan tersebut.

kelekatan berarti dekat secara emosi antara satu individu dengan individu lain. pic: elitedaily

Kesimpulannya?

Dari penjelasan di atas, bisa kita simpulkan bahwa kelekatan adalah suatu bentuk keterikatan emosi antara satu individu dengan individu lain.

Ketika seseorang telah lekat dengan orang lain, ia akan merasa aman, terlindungi, dan terpenuhi kebutuhan afeksinya. Kelekatan ini bersifat menetap, intens, dan terus menerus.

Perilaku kelekatan merupakan bentuk pencarian kedekatan seseorang dengan orang lain. Kelekatan ada agar seseorang mampu bertahan hidup, karena dalam kelekatan ada rasa aman dan terpenuhinya kebutuhan dari figur yang dilekatkan.

Memang sih kelekatan seringkali bicara tentang hubungan antara orang tua dan anak, tapi kelekatan juga bisa dikaitkan dengan hubungan antar orang dewasa yang romantis kok (Bowbly, 1980). Tapi ya itu, nyari referensinya agak susah.

Makanya, pembahasan mengenai kelekatan biasanya tentang orang tua sama anak.

Takeaways:

  • Kelekatan adalah bentuk keterikatan emosi antara satu orang dengan orang lain
  • Keterikatan ini berawal dari kedekatan fisik secara konsisten yang berakhir menjadi afeksi emosional
  • Apabila terjadi kelekatan yang baik, seseorang akan merasa aman dan terlindungi


2. Aspek-Aspek Kelekatan

Dalam kaitannya antara orang tua dan anak, kelekatan sendiri punya pola yang bermacam-macam.
Bowlby (dalam Yessy, 2003) menyebutkan tiga macam pola kelekatan (attachment), yang terdiri dari:

a. Pola secure attachment. Pola ini terbentuk dari interaksi orang tua dengan anak. Dalam pola kelekatan yang aman, anak merasa bahwa orang tua adalah figur pendamping yang sensitif, responsif, penuh cinta, serta selalu siap membantu dalam situasi yang menakutkan mengancam.

Ainsworth (dalam Wade & Travis, 2007) menyebutkan bahwa ibu yang sensitif dan cepat responsif terhadap kebutuhan bayinya akan kelekatan yang aman.

b. Pola resistant attachment. Pada pola resistant attachment (ambivalen) anak merasa tidak yakin bahwa orang tua akan selalu ada untuk mereka. Karena rasa kurang yakin ini, anak mudah mengalami kecemasan untuk berpisah. Selain itu anak jadi cenderung manja, caper, dan cemas ketika bereksplorasi dalam lingkungan.

Dalam diri anak muncul ketidakpastian, karena orang tua tidak selalu ada. Dan juga, sering ada jarak antara mereka. Ditambahkan oleh Rothbard & Shaver (dalam Sokolova, 2008) bahwa, anak yang ambivalen bisa merepresentasikan seorang individu yang kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain.

Ini terjadi akibat respon atau ketersediaan yang tidak konsisten dari pengasuhnya. Kadang ada, kadang nggak.
Kadang baik, kadang marah-marah.

c. Pola avoidant attachment. Dalam pola avoidant attachment (cemas menghindar), anak tidak merasakan kelekatan dengan orangtua.

Hal ini karena saat mencari kasih sayang, anak tidak direspons atau bahkan ditolak. Pada pola ini, konflik merupakan hasil dari perilaku orang tua yang secara konstan menolaknya ketika remaja mendekat untuk mencari kenyamanan atau perlindungan.

Oleh karenanya, anak yang ditolak oleh orang tua berusaha mencari kelekatan dari figur lain dan cenderung menghindari keberadaan ibu.

Bartholomew (dalam Baron dan Byrne, 2003) menyebutkan empat pola kelekatan, yang terdiri dari:

a. Secure attachment style. Individu dengan pola ini digambarkan sebagai individu yang mempunyai harga diri dan kepercayaan interpersonal yang tinggi, mempunyai pandangan yang positif tentang dirinya dan orang lain, serta mampu membuat hubungan interpersonal berdasarkan rasa saling percaya.

b. Fearful-avoidant attachment style. Individu dengan pola ini mempunyai pandangan yang negatif tentang diri sendiri dan orang lain, mereka menghindari penolakan dengan cara menghindari hubungan dekat dengan orang lain.

c. Pre-occupied attachment style. Individu dengan pola ini mempunyai pandangan yang negatif tentang diri sendiri, tetapi masih mengharap orang lain menerima dan mencintai dirinya. Sehingga, individu dengan tipe ini masih berusaha membuat hubungan dengan orang lain. Namun, di dalam hati mereka takut ditolak.

d. Dismissive attachment style. Individu dengan pola ini mempunyai karakter positif dalam memandang diri sendiri, merasa berharga dan mandiri, dan merasa pantas untuk mendapat atau membuat hubungan dekat dengan orang lain.

Namun, kadang-kadang mereka menolak hubungan yang tulus karena mereka mengharapkan orang lain yang lebih rendah dari mereka, sehingga pola ini digolongkan dalam sisi negatif.

Ada asumsi bahwa berbeda pola kelekatan, akan berbeda pula caranya dalam mempersepsikan hubungan dengan orang lain.

Penelitian dari Shaver (1998) bilang bahwa kita membawa satu model kelekatan dalam hidup. Model kelekatan inilah yang membimbing cara kita dalam berhubungan dengan orang lain, utamanya dalam hubungan yang intim seperti pacaran atau menikah.

Penelitian dari Brennan dan Shaver (1995) juga menyatakan adanya hubungan antara tipe attachment dengan kepuasan dalam hubungan dekat. Kelekatan ini penting juga sih sebenernya. Monks (2004) bilang, kelekatan individu dengan figur lekat adalah awal kemampuan individu dalam kemampuan sosial.

Kelekatan juga menjadi dasar perkembangan individu pada setiap masa pertumbuhan. Kelekatan juga bisa menjadi penentu perilaku individu.

Gordon (dalam Saarni, 1999) bilang bahwa corak perilaku individu sangat dipengaruhi oleh bagaimana kelekatan yang terjadi antara orang tua dan individu tersebut. Pengalaman kelekatan menjadi sumber informasi untuk belajar mengenai individu itu sendiri.

Takeaways:

  • Pola kelekatan Bowlby pada anak terbagi tiga: secure, avoidant, dan resistent attachment
  • Secure = kelekatan yang baik,¬†Resistent = figur lekat¬†kadang ada kadang nggak, kadang baik kadang galak,¬†Avoidant = diabaikan oleh figur lekat
  • Pola kelekatan Bartholomew ada 4: secure, fearful, preoccupied, dan dismissive attachment
  • Secure = kelekatan yang aman dan saling percaya, fearful = individu tak ingin membuat kelekatan karena takut,preoccupied = takut membuat kelekatan tapi masih ingin, dismissive = ingin kelekatan tapi sering menolak mereka yang datang¬†


3. Ciri-ciri Kelekatan

Bagaimana kita bisa bilang si anu punya kelekatan yang tinggi? Tentu kita nggak bisa ngejudge sembarangan dong.

Kita kan udah baca tuh di atas tentang macam-macam tipe kelekatan. Kelekatan pada anak ada secure, resistant, dan avoidant. Ciri-cirinya menurut Hazan dan Shaver (1987) adalah:

a. Secure Attachment 

– Siap dalam memiliki hubungan yang erat

– Merasa nyaman dalam bergantung pada pasangan lekat

– Nggak khawatir pasangan lekat akan meninggalkannya.

b. Resistant Attachment

– Beranggapan bahwa pasangan terlalu “jauh” (ada jarak antara ia dan pasangan)

– Merasa pasangan nggak cinta sama dia

– Merasa bahwa cinta pasangan ke dia, nggak sebesar cinta dia ke pasangan

– Merasa bahwa pasangan lekat mungkin akan meninggalkannya

c. Avoidant Attachment

– Kurang nyaman dalam memiliki hubungan yang intim

– Gugup bila ada orang yang ingin dekat dengannya

– Sulit mengizinkan dirinya untuk dekat dengan pasangan

Ainsworth (dalam Cassidy, 1999) menyatakan sejumlah parameter yang menjadi tolak ukur kelekatan pada anak:

a. Secure Attachment 

РMenggunakan ibu sebagai landasan dalam mengeksplorasi.

– Menyambut orang tua dengan tersenyum, suara yang ceria, dan bahasa tubuh yang aseptif.

– Mencari orang tua saat sedih. Ketika sudah tenang, kembali mengeksplor.

b. Resistant Attachment

– Menunjukkan kecemasan saat mengeksplorasi.

–¬†Saat berpisah, mencari kontak pada pasangan dengan kemarahan.

–¬†Tidak nyaman dengan orang tua.

c. Avoidant Attachment

–¬†Siap mengeksplorasi, cuek terhadap pasangan.

–¬†Saat berpisah dengan orang tua, tidak ada rasa cemas.

– Cuek dengan ada atau tidak adanya orang tua.

– Menjaga jarak dengan orang tua.

pola kelekatan, pola attachment
pada secure attachment, anak menggunakan figur lekat sebagai basis dalam bereksplorasi

Ainsworth (1989) bilang, meskipun orang dewasa dapat tetap lekat dengan orang tua, mereka juga bisa lekat dengan individu lain. Kelekatan pada orang dewasa ada secure, preoccupied, fearful-avoidant, dan dismissive.

Bartholomew and Horowitz (1991) menuliskan bahwa ciri-ciri kelekatan, terdiri dari:

a. Secure Attachment

– Cenderung memiliki pandangan positif terhadap diri sendiri dan figur lekatnya.

– Memandang hubungan antara ia dan figur lekatnya sebagai suatu yang positif.

– Merasa nyaman dengan situasi intim maupun dalam kesendirian..

– Mencari keseimbangan antara intimasi dan independensi dalam hubungan mereka.

b. Anxious-Preoccupied Attachment

– Mencari intimasi, penerimaan, dan perlakuan yang baik dari figur lekatnya.

– Mengalami ketergantungan terhadap figur lekat mereka.

– Merasa kurang aman (insecure) terhadap hubungannya dan figur lekat.
Semacam takut kehilangan gitudeee.

– Saat bersama figur lekat, mereka sedikit gugup.

– Seringkali meragukan berharganya mereka sebagai individu.

– Menyalahkan diri sendiri apabila figur lekat kurang sensitif terhadap kebutuhannya.

c. Dismissive-Avoidant Attachment

РMerasa sudah cukup dan tidak butuh lekat dengan orang lain.

– Menyangkal kebutuhan untuk memiliki hubungan yang dekat.

– Menganggap hubungan intim sebagai sesuatu yang tidak penting.

– Apabila memiliki figur lekat, berusaha mengurangi keintiman hubungan tsb.

– Memiliki perilaku yang cenderung defensif.

– Cenderung menekan dan menyembunyikan perasaan mereka.

– Apabila ia menghadapi penolakan (dihindari, dimusuhi, dibenci, dsb) mereka cenderung menjauhkan diri dari sumber penolakan tsb.

d. Fearful-Avoidant Attachment

– Menginginkan hubungan yang intim, tapi kurang nyaman dalam kedekatan emosional

– Secara tidak sadar memiliki pandangan negatif terhadap dirinya dan figur lekatnya.

РMemandang dirinya tidak layak memiliki figur lekat.

– Tidak mempercayai niat baik dari figur lekatnya.

– Kurang suka mengekspresikan perasaan afeksi (kasih sayang).


4. Manfaat kelekatan (attachment)

Rini (2002) berpendapat bahwa kelekatan dapat memberikan pengaruh positif terhadap remaja yang mendapatkannya, antara lain:

a. Rasa percaya diri. Perhatian dan kasih sayang orang tua yang stabil, menumbuhkan keyakinan pada anak bahwa ia berharga bagi orang lain. Dengan orang tua yang selalu ada, anak menjadi aman dan percaya diri.

b. Kemampuan membina hubungan yang hangat. Kalau anak mendapat hubungan yang hangat dan aman dari orang tua, ia akan menjadikan hal tersebut sebagai contoh dalam membina hubungan dengan orang lain. Namun, kelekatan yang buruk dan traumatis membuat anak kesulitan membina hubungan yang baik dan aman.

c. Mengasihi sesama dan peduli pada orang lain. Remaja yang tumbuh dalam pola attachment yang aman, akan memiliki sensitivitas atau kepekaan yang tinggi terhadap sekitarnya. Rasa pedulinya tinggi dan memiliki kebutuhan untuk membantu orang lain.

d. Disiplin. Pola secure attachment membantu orang tua untuk lebih mudah memahami remaja. Hal ini membuat pemberian arahan dan nasihat menjadi lebih proporsional, empatik, penuh kesabaran dan saling mengerti.

Anak juga akan belajar mengembangkan kesadaran diri dari sikap orangtua yang menghargai anak untuk mematuhi peraturan dengan disiplin karena sikap menghukum akan menyakiti harga diri anak dan tidak mendorong kesadaran diri.

e. Pertumbuhan intelektual dan psikologis yang baik. Kelekatan yang aman dapat memberikan kontribusi positif pada pertumbuhan fisik, intelektual, dan kognitif, serta perkembangan psikologis individu.

anak dengan secure attachment, saat dewasa mampu membina hubungan dengan baik. pic: elitedaily

Santrock (2003) menyebutkan beberapa manfaat kelekatan, antara lain:

a. Memfasilitasi kecakapan dan kesejahteraan sosial seperti harga diri, penyesuaian emosi, dan kesehatan fisik.

b. Membantu remaja menunjukkan kesejahteraan emosi yang lebih baik.

c. Membantu remaja untuk memiliki harga diri yang lebih tinggi.

d. Sebagai fungsi adaptif untuk menyediakan dasar rasa aman terhadap remaja agar dapat mengeksplorasi dan menguasai lingkungan baru serta dunia sosial yang semakin luas dalam kondisi psikologi yang sehat.

e. Membantu remaja dari kecemasan dan kemungkinan perasaan tertekan atau ketegangan emosi yang berkaitan dengan transisi dari masa kanak-kanak menuju ke masa dewasa.

f. Membantu keberhasilan remaja dalam hubungan intim dan harga diri pada awal masa dewasa.

g. Membantu remaja untuk menghasilkan hubungan positif dan dekat di luar keluarga dengan teman sebaya.

Takeaways: Kelekatan yang aman dapat memberi manfaat berupa:

  • Menumbuhkan rasa percaya diri
  • Mampu membina hubungan yang baik dengan orang lain
  • Menumbuhkan kedisiplinan
  • Mempengaruhi pertumbuhan intelektualitas dan psikologis
  • Menumbuhkan harga diri dan kesejahteraan yang lebih baik pada remaja
  • Membantu remaja menghasilkan hubungan positif dengan teman sebaya


5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kelekatan

Oke, kita sudah liat ciri-ciri kelekatan yang tinggi.
Atau barangkali kamu jadi teringat sama mantanmu yang posesif?

Mungkin kamu jadi penasaran: Kok bisa ya ada orang yang pengennya nempel terus sama orang lain? Apa yang membuat mereka jadi seperti itu?

Sebelum menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kelekatan, kita akan mulai dari bagaimana proses berkembangnya kelekatan dari anak usia 0 hingga 5 tahun.

Mungkin kamu nggak akan menuliskan ini di penelitian kamu, tapi kayaknya penting juga kalau kamu nanti punya anak.

Bowlby (1958) menjelaskan bahwa kelekatan berkembang melalui sejumlah tahap, yang ditentukan oleh perubahan-perubahan kognitif dan interaksi dengan figur lekatnya.

Pada usia 0 hingga 2 bulan, bayi belum bisa membedakan orang-orang di dekatnya. Bayi masih belum memilih-milih figur lekat dan mengenali orang di dekatnya.

Pada usia 2 hingga 7 bulan, bayi mulai mampu mengenali 0rang-orang di sekitar. Apabila ia sudah “kenal” dengan seseorang, ia akan merasa lebih aman dan nyaman. Dari sini, kita bisa mulai menciptakan kelekatan dengan cara sering berada di dekatnya.

Pada usia 7 hingga 24 bulan, bayi telah mengembangkan keterikatan dengan ibu atau figur lekat lain. Bayi akan berusaha untuk terus dekat dengan figur lekat tersebut. Bila berpisah, ia akan menangis.

Pada usia 24 bulan, bayi merasa lebih aman dalam berhubungan figur lekat. Apabila di sini tercipta hubungan lekat yang aman, anak tidak merasa sedih selama berpisah dari figur lekatnya.

Pengalaman kelekatan pada anak dan figur lekat akan menjadi model mental, yang seterusnya model tersebut akan tertanam pada anak. Model mental ini kelak menjadi cara anak tersebut dalam membina hubungan dengan orang lain (Buren dan Cooley, 2002). Kelekatan tersebut disimpan dalam pikiran, dan membimbing anak dalam menciptakan hubungan dengan orang lain.

Model mental ini juga menjadi tolak ukur anak dalam menilai hubungan kayak apa sih yang bagus. Model yang banyak mukul kah? Model yang marah-marah kah? Atau yang penuh kasih sayang? Interaksi interpersonal kemudian dihasilkan dan diinterpretasikan berdasarkan gambaran mental yang dimiliki seorang anak (Ervika, 2005).

Nah! Tadi sudah dilihat kan bagaimana proses terbentuknya kelekatan. Dari sini kan kamu bisa tahu nih, perlakuan yang kamu perlukan dalam menciptakan kelekatan yang pas buat (calon) anak kamu kelak.

Lah ngomongin anak, emang pasangan udah punya? *JEDER*

Tapi, faktor-faktor apa aja yang mempengaruhi kelekatan?

Erikson menyebutkan sejumlah faktor yang memengaruhi kelekatan anak dengan figur lekatnya, yaitu:

a. Perpisahan yang tiba-tiba antara anak dengan figur lekat. Perpisahan secara mendadak bisa menyebabkan trauma pada diri anak. Perpisahan mendadak ini dapat berupa kematian orang tua, orang tua terpisah dari anak, dan sebab lain.

b. Penyiksaan emosional atau penyiksaan fisik. Memberi hukuman untuk mendisiplinkan anak secara berlebihan bisa membuat anak menjaga jarak dengan figur lekatnya. Dengan menciptakan citra diri sebagai orang yang sulit didekati, figur lekat justru membuat hubungan kelekatan menjadi rapuh dan tidak aman.

c. Pengasuhan yang tidak stabil. Kalau anak sering dioper-oper alias ganti pengasuh, anak jadi bingung mau lekat sama siapa. Semakin sering berganti pengasuh, semakin sulit anak menciptakan kelekatan.

d. Sering berpindah domisili. Sering berpindah tempat juga menyebabkan anak kerepotan untuk menyesuaikan diri. Kesulitan menyesuaikan diri ini tentu dapat mempengaruhi hubungan dan tingkat kelekatan dengan figur lekatnya.

e. Pola asuh yang tidak konsisten. Ada figur lekat yang plin-plan dalam mendidik anak. Mereka berlaku pada anak sesuai mood saja. Kadang lembut, kadang membentak. Figur lekat yang sulit ditebak tentu akan membingungkan anak. Selain itu, anak juga sulit untuk memercayai figur lekat. Ini memengaruhi pola attachment.

f. Figur lekat yang mengalami masalah psikologis. Orang tua yang mengalami masalah emosional atau psikologis dapat menciptakan masalah baru dalam berkomunikasi. Belum lagi kalau anak menjadi sasaran dari masalah psikologis tersebut.

Tapi selain yang di atas, ada lagi tambahan faktor yang mempengaruhi kelekatan, tapi di luar pendapatnya Erikson.

g. Kepribadian. Penelitiannya Carver (1997)  menemukan bahwa faktor-faktor kepribadian punya hubungan dengan gaya kelekatan antara satu individu dengan figur lekat. Dalam penelitian tersebut, ditemukan bahwa kualitas kelekatan dewasa memiliki hubungan mendasar pada kepribadian dan gambaran manifestasi sifat-sifat dasar kepribadian dalam hubungan interpersonal. Dalam penelitian tersebut, Carver mengaitkan lima tipe kepribadian (Big Five Personality Factor) dengan kelekatan.

Dikatakan oleh Carver,  individu dengan kepribadian Agreeableness punya kesenangan dalam membentuk suatu hubungan kedekatan. Extraversion terkait dengan rasa menikmati hubungan interpersonal dalam basis yang aman. Sementara, individu dengan kepribadian Neuroticism punya kekhawatiran tentang keamanan berhubungan sosial dengan seseorang. Pribadi yang Conscientiousness cenderung merasa aman-aman aja dalam kelekatan, karena ia memang memiliki disiplin diri yang tinggi. Orang dengan kepribadian Openness to Experience punya kecenderungan menghindari hubungan, tapi nggak ditemukan kecemasan mengenai kelekatan. Bisa dibilang orang kepribadian openness ini memilih menghindari hubungan karena memang nggak ingin atau nggak butuh.

Ada lagi sih faktor yang mempengaruhi kelekatan, seperti faktor kesusahan, faktor mengandalkan, dan faktor keamanan. Tapi kok kayaknya nggak nyambung, jadi nggak saya tambah di sini. Hehehe.

Kalau kamu mau lihat, cek aja di sini

Takeaways: Kelekatan yang aman dapat memberi manfaat berupa:

  • Menumbuhkan rasa percaya diri
  • Mampu membina hubungan yang baik dengan orang lain
  • Menumbuhkan kedisiplinan
  • Mempengaruhi pertumbuhan intelektualitas dan psikologis
  • Menumbuhkan harga diri dan kesejahteraan yang lebih baik pada remaja
  • Membantu remaja menghasilkan hubungan positif dengan teman sebaya


6. Alat Ukur Kelekatan

HEEEMMMMMM tampaknya Anda bersemangat yes untuk meneliti kelekatan. Jangan khawatir, situs Psikologi populer yang satu ini selalu menyediakan alat ukur untuk inspirasi kamu!

Itulah bedanya PsikologiHore! sama yang lain. Asik.

Eniwei, ada beberapa alat ukur tentang kelekatan yang bisa kamu liat:

ECR-R (Experiences in Close Relationships – Revised)

Saya menemukan alat ukur ini di jurnalnya Shaver dan Noftle (2006). Kepanjangan dari skala ini adalah Experiences in Close Relationships, Revised. Dibuat oleh Fraley, Waller, & Brennan, ECR-R mengukur pengalaman subyek dalam hubungan yang intim.

Dengan skala ini, kamu bisa mengetahui tipe kelekatan seperti apa yang dimiliki seseorang, bisa secure, atau malah insecure. Bisa juga untuk mengetahui tingkat kenyamanan seseorang dalam sebuah hubungan yang dekat.

ECR-R terdiri dari 36 aitem menggunakan skala likert, terdiri dari angka 1 (sangat tidak setuju) sampai 7 (sangat setuju). 36 aitem ini terbagi lagi menjadi dua: 18 aitem untuk mengukur perasaan terabaikan (abandonment) hingga keinginan untuk memiliki hubungan intim; 18 aitem lagi mengukur aitem avoidance dan ketidaknyamanan dalam memiliki hubungan dekat.

Walaupun dalam skala ECR-R aitem yang difokuskan adalah hubungan romantis, namun kamu bisa menyesuaikan kalimatnya dengan kebutuhan kamu.

Misalnya kalau fokusmu adalah kelekatan seseorang dengan sahabat, ya kamu sesuaikan aja sendiri. Bahasanya juga mudah diterjemahkan kok.

Skala ECR-R bisa kamu intip di sini

ASQ (Attachment Style Questionnaire)

ASQ adalah singkatan dari Attachment Style Questionnaire, terdiri dari 40 aitem skala Likert, yang mengukur lima dimensi kelekatan dari Hazan dan Shaver (1987) dan Bartholomew (1990).

Aitem ini terbagi menjadi lima dimensi:  Confidence in Self and Others , Discomfort with Closeness , the Need for Approval , Preoccupation with Relationships, dan Relationships as Secondary. Penilaian aitem dimulai dari 1 (sangat tidak setuju) sampai 6 (sangat setuju).

Jujur aja buat nyari contoh ASQ ini susah, saya udah ngubek-ngubek adanya cuma berbayar.

Saya nemu sih di sini (langsung loncat ke halaman 56), cuma kok namanya Adult Attachment Questionnaire?
Di halaman 33 disebutin namanya ASQ, tapi di lampiran kok jadi Adult Attachment Questionnaire? Makanya aing agak bingung.

But anyway, it’s worth to try. Kamu boleh tanya ke dosen pembimbing kalau bingung #melempartanggungjawab.

Adult Attachment Scale

Dikembangkan pada 1990, tapi berdasarkan teori Shaver (1987), dan Levy & Davis (1988).
Skala ini mengukur tiga pola kelekatan pada individu dewasa, yaitu secure, anxious (resistant), dan avoidant.

Skala ini terdiri dari 18 aitem skala likert, dengan skor dari 1 (nggak saya banget) sampai 5 (saya banget).

Skalanya cuma 18 nih, jadi cepet ngisinya.
Skala adult attachment bisa kamu intip di sini.

Relationship Questionnaire (RQ)

Skala ini dibuat oleh Horowitz dan Bartholomew pada 1991, mengukur pola kelekatan pada orang dewasa berdasarkan teori dari Hazan dan Shaver.

Skala yang asli cuma terdiri dari empat aitem, diukur menggunakan skala likert dari rentang 1 hingga 7.

Skala kelekatan ini bisa kamu lihat di sini.

Itu tadi ya contoh skala baku yang bisa kamu intip. Anyway, tetep sesuaikan dengan teori dan ciri-ciri yang kamu gunakan.

Untuk reliabilitasnya kamu nggak perlu khawatir, kan skalanya udah banyak yang make. Untuk memastikan kamu bisa mengutip pernyataan para ahli mengenai reliabilitas skala-skala di atas.

Tapi tetep konsultasikan sama yang lebih ahli ya.


7. Potensi Penelitian

Image result for attach gif

Oke, semua sudah kita pelajari bareng. Cobak lemesin dulu punggungmu, mana tau pegel.

Jadi, gimana? Tertarik buat meneliti kelekatan?

Kalau dilihat dari faktor pembentuk, kelekatan bisa kamu hubungkan dengan variabel lain seperti pola asuh, regulasi emosi, atau tipe kepribadian.

Kamu juga bisa meneliti dampak pola attachment terhadap kemampuan regulasi emosi. Secara kan kalau tipe kelekatan yang insecure ada yang bergantung pada figur lekat. Apakah ketergantungan pada figur lekat mempengaruhi regulasi emosi?

Kalau kamu niat banget, kamu bisa meneliti hubungan antara kekerasan rumah tangga dengan tipe kelekatan yang didapat oleh pelaku saat kecil. WOW ini sih calon skripsi terbaik.

Kalau mau yang gampang dicari ya coba aja meneliti hubungan kelekatan dengan posesifitas dalam berhubungan pada mahasiswa. Temen saya dulu skripsinya itu deh.

Mungkin kalau saya minta skripsinya buat diliatin di sini dia mau. Heheheh, ingetin aja yes~

Anyway, potensi penelitian mengenai kelekatan masih cukup bagus kok.

Inspirasi lain tentang variabel-variabel psikologi tadi juga bisa kamu liat di sini.

Kalau ada pertanyaan, langsung meluncur ke kolom di bawah yes!

 

9 Replies to “Definisi Kelekatan – Attachment: Variabel Psikologi

  1. halo ka… saya mau tanya… apakah terdapat hubungan antara perilaku seksual dengan adult attachment style? apakah orang2 yang secure itu berpotensi untuk berprilaku seksual rendah? atau malah sebaliknya? terimakasih..

    1. Halo Dwi,

      Sebelumnya yang kamu maksud dengan perilaku seksual rendah pada orang dewasa itu yang seperti apa ya?

  2. ka mau nanya kalo kelekatan anak terhadap orang tua yang sibuk bekerja alat ukurnya di atas belom ada ya ? apa saya yang kelewat baca? hehe

  3. Halo kak, terimakasih untuk informasinya. Menurut saya ini sudah cukup jelas banget, mungkin bisa ditambahkan daftar pustakanya agar bisa dikutip. Sangat membantu sekali utk nemuin judul proposal metode penelitian ūüėÄ

    1. Halo ūüôā

      Untuk referensi bisa dilakukan pencarian terbalik lewat google scholar dengan cara memasukkan nama pengarang, tahun penelitiannya, dan variabel yang mau dicari. Misalnya: Flanagan, attachment 2003.

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)