Waktu baca yang dibutuhkan: 6 menit

Gofur termangu di teras rumah sore itu.
Superpell yang ia seduh tadi, kini dingin karena tak kunjung diminum.

Kegelisahan Gofur bukan tanpa sebab. Henpongnya disita ibunya, akibat keseringan main mobile legends bang bang.

Gofur tak mengerti kenapa hapenya harus disita. Kalau karena nilainya jeblok, bahkan sebelum dikasi hape pun sebenarnya otak Gofur sudah melempem. Penyakit turunan, kata Gofur dulu.

Namun satu hal yang bikin Gofur bingung adalah ucapan ibunya saat itu:

“Kamu jangan main game terus, nanti kena gaming disorder!”

Sebenernya gaming disorder itu apa sih? Pikir Gofur.  

 

Pada Juni 2018, WHO merilis sebuah pernyataan yang bilang kalo gaming disorder beneran ada, dan sudah ada diagnosa resminya.

Yes, kecanduan gaming sekarang adalah gangguan kejiwaan.

Tapi istilah ini sekarang malah jadi pisau bermata dua. Diagnosa yang harusnya digunakan buat treatment, malah dipake untuk ngasi label ke orang secara serampangan.

Orang-orang yang suka mengisi waktu bermain game malah dituduh kecanduan gaming. Anak yang hobinya main game, atau bercita-cita jadi gamer profesional, disuruh berhenti karena nanti jadi gangguan jiwa.

Tapi kecanduan main game itu sebenernya apa sih?

Kali ini kita akan ngebahas tentang gaming disorder, ciri-cirinya, dan pembelaan buat kamu yang seneng main game. Ayo kita mulai!

Definisi Gaming Disorder

Menurut WHO, Kecanduan ngegame, atau seterusnya akan kita sebut gaming disorder, adalah gangguan yang terjadi pada pemain game, yang disebabkan oleh game baik online maupun offline.

Gangguan ini dapat berupa:

  1. ketidakmampuan mengendalikan keinginan bermain game
  2. prioritas main game yang melebihi aktivitas keseharian
  3. kecenderungan meningkatkan intensitas main game meskipun konsekuensinya negatif.

Di dalam manual gangguan kesehatan terbaru milik WHO, ICD 11, Gaming disorder tercantum dengan kode 6C51.

DSM dan PPDGJ, yang biasa dipake sama psikolog di Indonesia, belum mencantumkan diagnosa ini.

 

Ciri-Ciri Orang Kena Gaming Disorder

Seperti yang udah disebutin barusan, ciri-ciri orang dengan gangguan gaming disorder adalah sebagai berikut:

  • Ketidakmampuan mengendalikan diri terhadap gaming, entah itu berupa seringnya main, lama waktu bermain, intensitas main,  dan konteks game yang dimainkan;
  • Prioritas terhadap gaming yang melebihi aktivitas keseharian dan aspek hidup lainnya. Jadi kehidupan sosial, kebutuhan dasar terganggu, kebersihan diri juga terganggu;
  • Kecenderungan untuk meningkatkan intensitas ngegame meskipun dampaknya negatif.

Menurut ICD 11, untuk disebut gaming disorder pola perilaku sudah harus cukup parah, dalam arti udah mengganggu kehidupan sehari-hari, keluarga, sosial, pekerjaannya. Perilaku gaming harus berkelanjutan dan atau naik turun tapi berulang.

Pola perilaku di atas harus sudah berlangsung selama 12 bulan lebih! Katakanlah main gamenya udah dari kecil, tapi kalo tiga ciri-ciri di atas baru muncul selama sebulan atau dua bulan, belum boleh dikatakan gaming disorder.

Meski demikian, ICD-11 membolehkan mengabaikan durasi minimal bila semua ciri di atas sudah sangat parah.

 

Penanganannya

Berhubung kategori ini masih baru, maka penanganan khususnya belum ada. Biasanya karena ini masih dekat dengan kecanduan, maka penanganannya menggunakan terapi CBT.

 

Pembelaan untuk Orang yang Suka Main Game

Okay, sekarang gaming disorder sudah menjadi gangguan jiwa yang diresmikan WHO. Kamu mungkin pernah dinasehati orang-orang di sekitar untuk mulai mengurangi atau berhenti main game.

Kalau kamu ngerasa sehat-sehat aja, terus masih bisa beraktivitas dengan sehat di luar gaming, tentu kamu nggak mau dong dituduh gangguan jiwa.

Mau membela diri? Nih udah saya siapin.

 

1. Main Game ada manfaatnya juga

Walaupun sering dicap jelek, tapi sebenernya main game gak selalu berdampak negatif.

Sebagian pakar menyebut main video game juga bisa memberi efek positif, terutama untuk anak. Penelitian dari Kovess-Masfety dkk (2016) menyebut bahwa main game, dalam waktu sekitar 5 jam perminggu, bisa meningkatkan kemampuan sosial dan kognitif anak.

Penelitian lain dari Shimai, Masuda, dan  Kishimoto (1990) bilang bahwa anak yang bermain game cenderung lebih mudah berteman dan lebih berinisiatif bicara dengan anak sebayanya.

Sementara, penelitian lain dari Gentile dkk (2009) bilang kalo anak yang main game dengan fitur prososial (ngobrol, menolong, dsb) cenderung menunjukkan perilaku serupa waktu dewasa.

Jadi, main game pun sebenernya nggak selalu berdampak buruk.

 

2. Gaming disorder adalah kasus yang jarang terjadi

Berdasarkan penelitian mengenai gaming disorder, kebanyakan orang yang main game nggak memiliki gejala perilaku negatif, dan nggak memenuhi kriteria untuk disebut memiliki gangguan gaming.

Kalaupun ada, jumlahnya hanya 0,3 – 1% dari populasi. Itulah kenapa kalo ada kasus kriminal atau kematian yang terkait game, beritanya langsung heboh, soalnya jarang terjadi.

Jadi kalo kamu ditakut-takuti kena gaming disorder, ya santai aja. Nggak semua gamer terganggu jiwanya.

 

3. Penelitian mengenai gaming disorder belum banyak

Walaupun udah dirilis oleh WHO melalui panduan ICD XI, tapi APA selaku badan psikologi Amerika belum merilis pernyataan resmi soal gaming disorder. Gaming disorder, menurut APA, masih butuh penelitian lebih banyak sebelum disebut gangguan kejiwaan.

Selain itu ICD adalah manual yang nggak banyak dipakai, artinya nggak sepopuler DSM atau PPDGJ.

 

4. Pakar pun masih ragu soal gaming disorder

Dalam sebuah interview, seorang psikolog bernama Anthony Bean merasa ragu soal keharusan menyebut perilaku gaming sebagai sebuah diagnosa khusus.

Pasalnya mayoritas pemain game, meskipun bermain dalam jangka waktu yang lama, masih tahu kapan harus berhenti. Mereka pun masih punya kehidupan sosial yang baik, masih bisa sekolah, dan masih punya pekerjaan.

Malah sebagian orang menggunakan game sebagai sarana melarikan diri dari depresi dan kecemasan.

Bean menyebut, “ketika depresi dan kecemasan ini berhasil ditangani, kecenderungan bermain game jadi berkurang drastis.” Ini menunjukkan bahwa gaming mungkin bukan penyebab suatu gangguan, tapi bisa saja merupakan salah satu tanda adanya masalah kejiwaan lain seperti kecemasan dan depresi.

Nggak hanya itu, sejumlah peneliti lain juga masih khawatir tentang perlunya menciptakan diagnosa bernama gaming disorder.

Yang pertama adalah minimnya penelitian yang mendasari gangguan ini. Terutama bahwa sebagian diagnosa diambil dari penyalahgunaan obat-obatan dan kecanduan judi, dan bukan dari penelitian yang mendalam terhadap perilaku gaming itu sendiri.

Terus juga tindakan merilis gangguan gaming punya efek negatif baik di dunia medis, sains, maupun kehidupan sosial. Kekhawatiran datang pada kepanikan moral yang muncul terhadap bahaya gaming.

Gaming memang udah lama dicap sebagai aktivitas nggak bermanfaat, terutama dari orang-orang yang nggak pernah main game. Diagnosa ini bisa jadi senjata mereka untuk “menghalalkan” upaya melarang main game.

Akhirnya apa? Diagnosa gaming disorder akhirnya disalahgunakan untuk labeling, bukan digunakan untuk mencari tahu batasan antara mana gaming yang wajar dan yang udah kecanduan.

Akhirnya mereka yang hobi main game kena stigma negatif kan. Padahal mayoritas gamer masih bisa hidup normal dan sehat.

 


 

Gaming disorder adalah kondisi kejiwaan yang diagnosanya masih baru. Belum lagi hanya sebagian kecil dari persentase gamer yang memenuhi kriteria ini. Dengan kontroversi seputar perlu atau nggaknya penegakan diagnosa, penelitian lebih jauh masih diperlukan.

Memang sih apapun yang berlebihan pasti nggak baik. Kalau kamu atau orang di sekitarmu memiliki ciri-ciri kecanduan gaming seperti yang udah disebutin tadi, mungkin sudah waktunya mencari bantuan dari ahli.

Author: Robi Maulana

Dalang sesungguhnya di balik PsikologiHore. Suka ngopi tapi kopi nggak suka sama dia.

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)