Pertolongan Pertama pada Hati yang Luka

Cara mengobati hati yang luka sebelum jadi infeksi.

Ketika kamu terluka, katakanlah jarimu teriris pisau, kamu cepet-cepet ngasih obat merah ke lukamu. Kamu langsung nyari plester dan kamu balut perlahan. Kalau kamu mau sedikit lebay, mungkin jarimu kamu foto, dan kamu upload di instastories.

Kita dengan segera merawat luka fisik kita. Soalnya kalau nggak dirawat, yang ada malah jadi infeksi.

Nggak hanya fisik yang bisa luka. Perasaan kita juga bisa.

Malah, sakit di perasaan lebih sering kita alami dibandingkan sakit fisik. Bedanya, untuk sakit di hati, kita nggak sepeduli itu. Misalnya dalam menghadapi penolakan, trauma, atau kegagalan. Berapa banyak sih dari kita yang mencoba menyembuhkannya?

Kita cenderung mencoba menahannya dan mengabaikan perasaan sakitnya. Padahal luka hati pun kalau nggak dibersihkan dan dirawat, bisa jadi infeksi juga. Ketika luka di hati nggak disembuhkan, kesehatan mental kita bisa aja terganggu.

Makanya, seharusnya kita juga merawat luka di hati kita. Biar cepet sembuh, biar gak terus-terusan cemberut.

Nah, berikut ini kami kasih beberapa jenis luka yang sering dialami. Plus, pertolongan pertama menyembuhkannya. Apa aja yes?

1. Kesepian

Ngobrol sama temen, berantem sama saudara, atau membujuk mama buat dibolehin keluar kota; hal-hal sederhana ini memberikan makna dalam hidup kita.

Apa yang terjadi ketika semua temen sibuk sama pacarnya, saudara pergi sama temennya, dan mama lagi nggak bisa diganggu?

Kesepian. Rasa kesepian ini menyakiti kita secara perlahan, dengan kepedihan yang tak bisa diobati sendiri. Merasa tidak dicintai barangkali adalah perasaan paling sepi di dunia.

Bahkan kesepian juga menyebabkan kamu jadi pelupa.

Ini mengingatkan kamu tentang semua kepedihan, penolakan, dan pengucilan yang kamu alami, bahkan yang sudah lama sekali berlalu.

Bahkan jika kamu terus menyendiri dalam sepi, luka hati ini perlahan membuatmu membenci dirimu sendiri. Kamu jadi terus menerus menarik diri dari kehidupan sosial.

Jika terus dibiarin, rasa kesepian akan membuat kamu sulit berempati. Kamu sulit menilai sesuatu dari sudut pandang orang lain. Jadinya egois gitu deh.

Kesepian juga menjadi faktor utama penyebab depresi. Apalagi dengan era sosial media seperti sekarang, yang kayaknya berlomba-lomba memamerkan kebahagiaan dan hidup senang. Kita jadi semakin sulit mengungkapkan pikiran, perasaan, dan emosi kita yang sesungguhnya.

 

Pertolongan pertama

Pertolongan pertama dalam menyembuhkan rasa sepi, tentu saja adalah membuat hubungan sosial yang baru. Ya, kamu sebaiknya jangan terus menerus menunggu teman lamamu kembali.

Setia sama persahabatan itu penting, but sometimes people grow apart. Nggak semua temanmu yang pergi akan menengok lagi ke belakang, ke arahmu yang selalu menunggu. Jika ini terjadi, maka kamu pun perlu mencari kehidupanmu yang baru.

Temukanlah komunitas yang sesuai sama hobi atau minatmu. Kalau sungkan mau ketemu langsung, setidaknya ngobrol dulu aja via sosmed. Perkenalkan diri di sosmed komunitas itu, dan bilang aja kalau kamu pengen nyari temen baru. Pasti deh, pasti, kamu diterima dengan tangan terbuka.

Ketika kamu mulai terasa nyaman di komunitas itu, maka ikutlah pertemuannya.

Cara lain menangani kesepian adalah mengubah negative thinking yang kamu lakukan. Daripada berpikir bahwa temanmu pergi karena sudah tidak peduli, pikirkan bahwa mungkin dia memang beneran sibuk.

Berpikir positif memang tidak banyak mengubah keadaan. Tapi yakinlah, masih mending daripada harus mikir yang jelek-jelek.

 

2. Penolakan

Kamu pikir hubunganmu baik-baik saja. Kamu pikir akhirnya kamu menemukan jodohmu. Namun gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba pasanganmu meminta putus. Atau ketika kamu sudah mendekati seseorang, tapi ternyata kamu melihat tangannya digenggam orang lain.

Rasa sakit akibat penolakan seringkali luar biasa parah. Tajam dan seringkali berdampak pada perubahan cara berpikir. Nggak hanya itu, penolakan menciptakan ledakan kemarahan, self-esteem yang hancur, dan kehilangan rasa percaya ada cinta.

Tak perlu penolakan yang besar. Bahkan penolakan kecil seperti nggak diajak nongkrong pun bisa memberikan luka hati yang perih. Dan penolakan cenderung membekas di otak, kita seringkali terkenang penolakan itu saat mood kita sedang jelek.

Penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepedihan kita saat diminta mengingat kenangan buruk, sama perihnya membakar tangan.

 

Pertolongan pertama

Karena penolakan memberikan reaksi yang kuat, ini saatnya melakukan evaluasi. Kamu akan butuh kertas dan pena.

Ingat-ingat kembali beberapa penolakan yang terjadi padamu. Adakah di antara penolakan tersebut yang membuatmu menyalahkan diri sendiri?

Jika ada, maka tuliskan penolakan itu, dan tuliskan alasan kenapa kamu ditolak. Lalu, tulislah bantahan mengenai alasan itu. Bantahan ini harus berupa sesuatu yang nggak menyalahkan diri sendiri. Pikirkan alasan yang lebih logis dan nggak memihak yang terpikirkan olehmu.

Contohnya saat kamu diputusin tanpa alasan. Mungkin alasan yang terpikir olehmu membuat kamu menyalahkan diri sendiri. Maka bantahlah. Ingat-ingat: jangan jangan memang tidak ada chemistry di antara kalian? Jangan-jangan kamu mau serius, sementara dia cuma pengen main-main?

Lain kali, jika kamu sekali lagi mengalami penolakan, entah itu dalam cinta atau hal lain, berikan waktu untuk merenung. Lihatlah alasan penolakan itu terjadi, dan apa yang bisa kamu lakukan agar itu tidak terjadi lagi.

 

3. Kegagalan

Ketika kamu kalah dalam pertandingan atau nggak bisa lulus tepat waktu, perasaan gagal bisa jadi sulit.

Perasaan gagal bisa membuat kamu merasa nggak pintar, nggak menarik, nggak mampu, atau nggak punya kemampuan – semuanya menjurus pada jatuhnya kepercayaan dirimu. 

 Kegagalan bisa aja membuatmu membenci diri sendiri. Kamu menciptakan kesimpulan yang jelek tentang dirimu, merusak optimisme yang kamu bangun, dan mungkin saja meruntuhkan semua yang sudah kamu usahakan selama ini.

Jika kamu dipecat, misalkan. Perasaan gagal karena sudah disingkirkan ini membuat kepercayaan diri runtuh, bahkan bisa berujung pada depresi.

 

Pertolongan pertama

Luka hati karena gagal bisa menjatuhkan kepercayaan diri. Hal pertama yang perlu kamu lakukan adalah fokus dulu.

Ya, fokuslah pada sesuatu yang masih bisa kamu kontrol.

Misalkan kamu gagal memenangkan kompetisi. Atau gagal lolos audisi. Daripada kamu mikirin kegagalanmu, pikirkanlah apa yang bisa kamu pelajari dari situ. Lihat lagi apa yang masih bisa kamu lakukan berbeda, dan bagaimana kegagalan ini masih bisa membuatmu jadi orang yang lebih baik.

 

4. Ruminasi

Ruminasi apaan dah?

Ruminasi adalah tindakan ketika kamu mikirin sesuatu yang negatif secara berlarut-larut.

Pernah nggak pacarmu dichat nggak bales, ditelpon nggak diangkat, dan temen-temennya juga ternyata pada nggak tau kabarnya?

Maka kemudian kamu mikir bahwa dia kecelakaan. Kamu membayangkan dia digotong ke rumah sakit, didorong pake ranjang pasien terus di jidatnya ada darah netes. Atau kamu mikir bahwa dia selingkuh sama cewek yang belakangan ini sering banget komentar di foto instagramnya.

Nah itu dia namanya ruminasi.

Kamu memikirkan sesuatu berlarut-larut. Jeleknya, yang kamu pikirin bukanlah solusi, tapi justru memperbesar masalahnya.

Ruminasi dapat memperkuat rasa sedih, memperbesar rasa marah, bikin kamu nggak bisa ngapa-ngapain, dan sering juga berujung pada depresi.

Ruminasi bisa juga terjadi ketika kamu ingin merenung tapi masih terbawa emosi. Mikir yang bukan-bukan justru malah membuat luka baru di hatimu.

 

Pertolongan pertama

Ketika kamu ingin memikirkan penyelesaian masalah, mikir aja nggak cukup. Kamu butuh rencana.

Tulis daftar situasi mana aja yang bikin kamu melakukan ruminasi. Lalu, di sebelahnya, tuliskan daftar aktivitas yang bisa membuat perhatianmu teralih. Bisa main game, nonton tv, atau jalan-jalan keliling komplek.

Kalau kamu memang lagi pengeeen banget mikirin orang yang bikin kamu jengkel, maka siapkan jadwal khusus untuk mikirin dia. Misalnya 20 menit pagi dan 20 menit berikutnya sebelum tidur.

Ketika di luar jadwal tersebut kamu ingin melakukan ruminasi, katakan pada dirimu sendiri bahwa “nanti, ada waktunya”.
Pas udah masuk waktunya ruminasi, maka pikirkanlah apapun yang mau kamu pikirkan.

Terbaik tentu saja adalah berhenti mikirin sesuatu yang nggak bisa kamu kontrol. Kita melakukan ruminasi karena kita nggak bisa mengendalikan masalahnya, betul?

Maka, daripada mikirin masa lalu yang gabisa diubah atau mikirin orang lain, yaudahlah pikirin masalahmu sendiri. Inget-inget masih ada nggak masalahmu yang bisa diselesaikan segera. Itu lebih baik!

Nah itu tadi yes beberapa luka hati yang sering muncul dan bagaimana pertolongan pertamanya.

Jangan cemberut terus deh, nanti cantiknya ilang lo.

Tetap tegakkan kepalamu, apapun kondisi yang lagi kamu alami saat ini. Kamu kuat dan kamu bisa.

Content writer dan dalang di balik PsikologiHore. Kerjaannya menulis, menggambar, dan menghabiskan stok kopi di dapur.

Robi Maulana

Content writer dan dalang di balik PsikologiHore. Kerjaannya menulis, menggambar, dan menghabiskan stok kopi di dapur.

You may also like...

  • Harti Manto

    thank u bang robi maulana.blog anda luar biasa