5 Cara Mengelola Emosi Ini Akan Membuatmu Kuat!

Chusnul kumat lagi.

Bukan, dia bukan kesurupan. Dia nangis lagi di bangkunya pas jam istirahat.
Teman-teman sudah mencoba menghibur. Gofur bahkan sampe membelikan busa sofa, cemilan favoritnya Chusnul.

“Aku gapapa kok,” jawab Chusnul terisak, sembari menyedot lagi ingusnya yang sudah mencapai leher.

“Aku sih nda apa-apa kalo Pak Ucup mutusin aku…” sambungnya, “tapi cucu-cucunya juga nda perlu marah-marah ke aku di tempat umum kan…”

“Yaudah Chusnul harus kuat…” ucap Naylul, “Kamu harus bisa mengelola emosi kamu.”

 

Kamu pernah nggak sih ngeliat orang marah-marah di tempat umum? Atau nangis histeris sampe diliatin orang? Nggak enak emang kalo kebawa emosi di tempat umum. Apalagi kalo tumpahan emosi itu bikin orang-orang ngeliatin kamu.

Emosi emang bikin kita jadi manusia seutuhnya. Tapi, kalo kebawa emosi di tempat dan waktu yang kurang tepat, malah berabe jadinya.

Tapi gimana dong cara mengelola emosi yang tepat, yang bikin kita jadi makin kuat?

Kali ini kita bahas!

Oh iya. Artikel kali ini buat mengendalikan emosi diri sendiri. Kalo buat mengendalikan emosi orang lain, kamu bisa cek di sini dan di sini ya~

 

1. Sisakan seporsi waktumu untuk menggalau

Emosi semacam galau dan takut itu wajar. Tapi kita nggak boleh kebawa sama emosi-emosi itu.

Kalo terus menerus kebawa, yang ada malah jadi nggak bisa fokus kerja atau belajar. Misalnya kalo lagi berusaha fokus belajar, terus kamu kepikiran kenangan indah bersamanya. Wah ambyar bosq~

Jadi gimana caranya biar nggak kebawa-bawa galau dan takut?

Sisain seporsi waktumu dalam sehari untuk berpuas-puas menggalau atau untuk bertakut-takut ria. Misalnya kamu sehari melek selama 16 jam, ya sisain waktu satu jam untuk mikirin galau dan takutmu. Bisa dibagi dua; setengah jam siang, setengah jam sore, terserah kamu.

Yang penting jangan deket-deket waktu tidur.

cara mengendalikan emosi, cara mengatasi emosi, cara mengendalikan emosi diri sendiri, cara mengelola emosi, bagaimana cara mengendalikan emosi,
puas-puasin menangis bosq~

Aneh? Ada penelitiannya lo.

Penjelasannya sih gini: ketika kamu memberi porsi waktu khusus buat menggalau, kamu bisa puas-puasin emosimu untuk galau dan takut, tanpa perlu membiarkannya berkeliaran di pikiranmu terus-terusan.

Bandingin sama kebiasaan kita sehari-hari yang katanya “mencoba melupakan” atau “mencoba mengabaikan”, bukannya justru galau dan takutnya tambah muncul?

Untuk memberikan porsi waktu emosi, caranya adalah sebagai berikut:

  1. Pilih waktu dan porsi waktu untuk menggalau, berkhawatir, atau bertakut-takut.
  2. Jam, tempat, dan porsi waktunya harus konsisten, dan kalo bisa jangan deket waktu tidur.
  3. Kalo misalnya di luar waktu itu kamu merasakan lagi galau, takut, dan khawatir, katakan ke dirimu sendiri kalo, “nanti ada waktunya”.
  4. Ketika udah masuk Waktu Indonesia Galau, siapin timer di hapemu sesuai porsi yang kamu tentukan.
  5. Menggalaulah, bertakut-takutlah, khawatirlah, marahlah. Tulis semua yang kamu pikirkan di kertas kalo perlu. Inget, selama waktu ini, jangan mainan hape!
  6. Kalo timernya udah bunyi, berhentilah dan lanjutkan aktivitasmu.
  7. Kalo masih kepikiran, katakan pada dirimu bahwa,”nanti jatah waktunya ada lagi.”
  8. Terus lakukan ini, lama-lama kamu bisa memisahkan emosimu sesuai jatah waktu yang kamu sediakan.

Hasilnya nggak langsung keliatan hari itu juga lo ya, jadi harus sabar dan lakuin terus menerus.

 

Tujuan dari latihan ini adalah supaya kamu bisa mengendalikan emosimu. Jadi, rasa galau, takut, khawatir, marah, apapun itu, nggak akan mengkonsumsi waktu dan pikiranmu terus-terusan.

Jadi kamu bisa fokus dengan aktivitasmu tanpa kebawa emosi negatif lagi.

 

 

2. Beri label yang tepat pada emosimu

(Sebelum bahas lebih jauh, saya pertegas dulu ya: emosi nggak cuma marah doang. Emosi juga bisa berupa takut, khawatir, sedih, dan lain-lain.)

Label terhadap emosi pernah saya bahas di sini sih, tapi nggak ada salahnya dibahas lagi.

Emosi bisa mempengaruhi cara pandangmu terhadap suatu kejadian. Lebih jauh, emosi juga mempengaruhi tindakanmu.

Kamu nggak mau kan gegabah mengambil tindakan gara-gara kebawa emosi?

Walaupun kita sering sadar kalo jangan kebawa perasaan dalam mengambil sikap, kadang kita sendiri jarang memperhatikan perasaan kita.

Malah, orang dewasa seringkali kesulitan dalam ngasi label pada perasaan yang mereka rasakan.

Khawatir dikit bilangnya stres.

Stres dikit bilangnya depresi.

Jengkel dikit bilangnya kecewa.

Memberi label yang tepat pada sesuatu yang kamu rasakan bisa membantu kamu untuk nggak kebawa perasaan.

Kalo kamu ngerasain perubahan emosi di pikiranmu, ambillah waktu sejenak. Identifikasi apa yang kamu rasain, dan apa penyebabnya.

Misalnya kamu ngerasa gak enak. Apa yang sebenernya kamu rasain? Gelisahkah? Betekah? Takutkah? Kira-kira apa penyebabnya?

cara mengendalikan emosi, cara mengatasi emosi, cara mengendalikan emosi diri sendiri, cara mengelola emosi, bagaimana cara mengendalikan emosi,
ini marah apa cuma jengkel doang?

Kadang sekedar berhenti buat mengidentifikasi perasaan, udah cukup buat mengendalikan emosi kamu.

Atau kalo kamu lagi kerja, terus ngelamun, terus overthinking. Kalo udah overthinking kan biasanya jadi bete tuh. Berhenti sebentar, terus pikirin kenapa kamu ngelamun, trus balik lagi deh ke kerjaanmu.

Memberi label pada emosimu bisa bikin kamu lebih “aware” terhadap perubahannya. Kadang emosi itu malah jadi lega sendiri, dan emosi kamu jadi lebih stabil.

 

 

3. Sadari emosimu saat ini; temanmu atau lawanmu?

Emosi berupa marah dan takut nggak selalu negatif. Semua emosi pada dasarnya bisa membantu kita, tapi ya gitu kadang-kadang bisa jadi sumber masalah.

Misalnya sedih nih. Sedih bisa bikin kamu lebih berempati. Sedih bisa bikin kamu mawas diri dan merenung. Sedih juga bisa menginspirasi kamu untuk bikin caption panjang di Instagram, yang nantik kan bisa mengundang like.

Tapiii sedih bisa jadi bahaya kalo bikin kamu males ngapa-ngapain, atau membawa kamu bertindak negatif.

Atau marah. Marah bisa ngasi kamu energi lebih buat membela sesuatu yang kamu yakini. Tapi marah juga nggak bagus kalo dipake buat nyakitin orang.

Maka, abis kamu ngasi label terhadap emosi kamu, identifikasi apakah emosi itu temen atau musuh kamu. Apakah emosi itu membantu kamu, atau membahayakan kamu?

Kalo udah identifikasi itu kawan atau lawan, pikirin sekali lagi: kamu yakin?

cara mengendalikan emosi, cara mengatasi emosi, cara mengendalikan emosi diri sendiri, cara mengelola emosi, bagaimana cara mengendalikan emosi,
marah apa nggak ya enaknya~

Kalo emang emosimu adalah kawan, maka lepaskan emosi itu sepenuhnya. Tapi kalo misalkan emosi kamu bakal memperpanjang masalah, ya coba kendalikan pake poin satu dan dua tadi.

 

 

4. Cari mood boostermu sendiri.

Kalo kata Tony Robbins tuh: emosi dan gerakan saling terkait satu sama lain.

Orang kalo lagi sedih sama lagi hepi kan beda ya? Kalo sedih badannya bungkuk, mukanya dilipet, matanya sayu. Kalo hepi kan badannya tegak, sorot matanya hepi, bibir bawaannya mau nyengir aja.

Nah coba deh kalo sedih atau galaumu lagi kumat. Langsung sadari gimana posisi tubuh dan ekspresi mukamu. Terus coba tegakin punggung, tarik nafas yang agak dalem, dan coba senyum.

Tarik nafas yang dalem, lalu berhitung sampe lima. Itu lumayan efektif lo.

Kamu juga bisa temukan moodbooster pribadi kamu. Bisa berupa ngopi sama temen, ngefollow akun meme di sosmed, nontonin video stand-up, terserah.

Kalo saya pribadi sih moodbooster saya adalah gerakin badan pas dengerin lagu yang ngebeat. Walaupun sebenernya nggak terlalu menikmati lagunya, lama-lama nanti semangat juga. Sama minum kopi yang agak asem. Hahahaha

cara mengendalikan emosi, cara mengatasi emosi, cara mengendalikan emosi diri sendiri, cara mengelola emosi, bagaimana cara mengendalikan emosi,
pokoknya ngopi sampe hepi

Kamu juga bisa banyakin gerakin badan alias olahraga. Olahraga membantu ningkatin kadar serotonin, jadi kamu hepi lebih lama.

 

5. Kadang penyebabnya memangnya harus dihadapi.

Apa sih emosi yang menurutmu paling nggak nyaman?

Malu? Takut? Marah? Cemas?

Saya pernah bahas dikit tentang kenapa orang bad mood terus di sini.

Salah satu alasan kenapa emosi negatif datang terus menerus karena kita nggak berani ngadepin akar masalahnya. Kita nggak berani menyelesaikan penyebabnya.

Ini yang bikin emosi negatif dan nggak nyaman itu datang berlarut-larut.

Misalnya kamu nggak berani ngomong di depan umum karena takut diketawain. Atau kamu nggak berani nyatain perasaanmu karena takut ditolak. Atau kamu nggak kunjung minta maaf sama orang karena takut maafmu ditolak.

cara mengendalikan emosi, cara mengatasi emosi, cara mengendalikan emosi diri sendiri, cara mengelola emosi, bagaimana cara mengendalikan emosi,
hayati harus kuat~

Kadang-kadang supaya emosi nggak nyaman itu hilang seutuhnya, kamu harus menghadapi emosi itu sendiri.

Kalo kamu mau keadaan berubah, kadang kamu sendiri yang harus mengubahnya.

Nikmati emosi yang nggak nyaman itu, bila memang itu harus. Semakin sering kamu menghadapi ketidaknyamanan itu, semakin kuat kamu menghadapinya.

 


NAH!

Itu dia sobatq tentang gimana cara mengelola emosi.

Orang yang kuat dan tegar bukannya nggak pernah sedih. Orang yang berani bukannya nggak pernah takut. Orang yang sabar bukannya nggak pernah marah.

Mereka cuma tau kapan emosi itu datang, dan mereka tau cara mengendalikannya.

Semoga abis ini kamu nggak diperbudak perasaan lagi ya. Jadi kamu bisa makin kuat dan mampu mengendalikan tindakanmu.

Pernah punya cerita tentang kebawa emosi? Cerita aja sama kita di bawah sini~

 

Dalang sesungguhnya di balik PsikologiHore. Suka ngopi tapi kopi nggak suka sama dia.

2 Replies to “5 Cara Mengelola Emosi Ini Akan Membuatmu Kuat!

  1. Kak. Gue kalo lagi emosi. Bawaannya murung. Jadi diem. Dan itu sering bikin emosi gue numpuk. Kadang gue suka tiba-tiba rasanya pengen banget nangis. Tapi air mata gak mau keluar. Jadinya badan gue sering capek sendiri. Apa sikap gue yang kaya gini baik? Thanks kak.

    1. Halo Aufa, makasih udah mampir :)))
      Emosi itu kayak bom. Kalo kamu kubur dia bisa meledak di dalem.

      Minimal praktekkin satu atau dua cara di atas. Kalo memang sulit mengeluarkannya, tulis apa aja yang kepikiran sama kamu di kertas atau buku.
      Coba aja buat mulai menulis jurnal atau diari. Lumayan efektif tuh.

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)