Cara Menemukan dan Menumbuhkan Passion

Apakah kamu sekarang masih ragu sama passionmu? Udah gede tapi masih nggak tahu harus ngapain? Simak cara menemukan passion berikut ini.

Saya baru aja bayar biaya buat domain dan server blog ini. Barusaaan aja.

Sebenernya saya dari berapa hari yang lalu ragu-ragu mau perpanjang masa aktif blog ini apa nggak. Kalo mau dibilang males ya nggak juga, soalnya kadang kalo lagi repot, kangen juga buat nulis sesuatu. Tapi ya gitu, nulis kadang kalo nggak diriset dulu malah jadinya nggak enak.

Jujur saya udah lama nggak buka ni blog. Ini aja waktu saya buka laman login admin, saya dimintain username sama password. Alias saking lamanya saya nggak masuk ke laman login, situs saya sampe lupa siapa saya :(((((((((

Setelah menimbang-nimbang, saya mengorbankan duit buat ke Jogja (nggak tau lagi dah kapan mau liburan), dan memutuskan untuk perpanjang masa aktif situs ini.

Salah satu alasan yang bikin saya membulatkan tekad adalah saya masih punya sedikit passion yang tersisa untuk nulis. Iya, nulis artikel kayak gini ini nyenengin. Minimal apa yang saya baca dan ketahui bisa saya bagiin, syukur-syukur bisa dipraktekkin sama rangorang~

Padahal dulu-dulu waktu saya masih SMA, saya nggak pernah nulis artikel sama sekali. Pas kuliah udah mulai, tapi jarang dan isinya nggak penting sama sekali. Baru pas udah lulus ini passion untuk nulis tumbuh dikit-dikit.

Kamu mungkin pernah berhenti mengerjakan sesuatu, atau nggak menikmati suatu pekerjaan karena kamu bilang “nggak ada passion”.

Kamu mungkin ngerasa kayak belum punya passion sama sesuatu. Mungkin hidup kamu datar-datar aja, mengikuti arus seperti eceng gondok di bendungan kali njagir.

Jadi gimana sih cara menemukan passion? Gimana cara menumbuhkan passion terhadap sesuatu?

Kalo kita kurang suka sama sesuatu, adakah cara menjadikan itu sebagai passion kita?

Kebetulan saya barusan baca bukunya Angela Duckworth judulnya Grit: The Power of Passion and Perseverance. Buku ini banyak membahas tentang pantang menyerah sih sebenernya.

Jadi buku ini berisi sejumlah penelitian dan wawancara sama peneliti tentang gimana sih caranya jadi orang yang pantang menyerah terhadap sesuatu.

Buku ini membahas juga tentang passion. Tentang gimana caranya ngedapetin passion, dan tentang sikap kayak apa yang diperlukan untuk jadi seorang yang bertekad kuat. Nah, di dalem buku ini, sikap itu disebut grit.

Grit, alias sikap pantang menyerah, secara garis besar dibagi jadi dua: passion dan ketekunan. Kedua aspek besar ini memecah jadi empat tahapan.

Duckworth menyebut ada empat tahap yang harus dilalui agar kamu punya passion sekaligus tekun menjalani suatu bidang. Apa aja tuh?


 

Interest – Temukan Ketertarikan

Yang pertama, kamu harus tertarik dulu terhadap suatu bidang. Sedikit aja nggak apa-apa. Misalnya menulis.

Kalau kamu tertarik di bidang tulis menulis, maka kamu harus mulai menulis. Setengah halaman aja dulu. Tulis sesuatu yang menurut kamu menarik. Tulis perasaanmu. Tulis pikiranmu terhadap suatu fenomena.

Jadinya sedikit? Nggak apa-apa. Rasa puas akan mulai muncul di sini.

Nah, kalau kamu tertarik sama seseorang, apa sih yang kamu lakukan?

Stalking sosmednya kan? Cari tau lebih banyak tentang dia kan?

cara menumbuhkan passion

kepoin ilmunya, tambah terus bisa makin tertarik!

Sama juga kalo kamu tertarik sama suatu bidang. Kamu perlu cari tau lebih banyak tentang siapa yang jago di bidang itu, apa karyanya, dan lain-lain. Kamu juga bisa mencari tau informasi paling update terhadap bidang tersebut.

Oke, itu kalo kamu dari awal sudah tertarik.

Kalau misalnya kamu nggak suka sama pekerjaanmu sekarang. Misalnya kamu ngerasa salah jurusan. Atau “nggak ada passion” sama sesuatu yang kamu kerjain. Lalu apa yang bisa dilakukan?

Sebagian orang berpikir bahwa passion sama kayak sambaran petir. Datangnya mendadak dan terus ada selamanya.

Memang ada orang yang menemukan passion secara tiba-tiba. Tapi nggak semua orang mengalaminya.

Passion sebenarnya bisa juga tumbuh seiring berjalannya waktu. Yang perlu kamu lakukan adalah terus mengupdate informasi. Manusia pada dasarnya suka sama sesuatu yang baru, dan ketika kamu terus memperbarui pengetahuanmu, kamu lama-lama akan tertarik sama bidang tersebut.

Liat noh Chef Juna awalnya masuk ke dunia kuliner secara nggak sengaja. Chef Ramsay juga tuh awalnya mau jadi pemain bola, terus sekarang sukses jadi chef. Artinya, passion bisa tumbuh seiring berjalan waktu, kan?


 

Practice – Latihan Keras

Untuk sukses di suatu bidang, kamu harus berlatih. Terus menerus mengasah kemampuan akan membuatmu semakin mahir di bidang tertentu.

Nah, latihan sendiri bisa bermacam-macam. Tapi latihan yang paling berdampak adalah latihan yang disebut deliberate practice.

Latihan dengan sistem deliberate memaksa kamu untuk melakukan suatu pecahan dari keterampilan secara berulang-ulang, berkali-kali, selama berjam-jam setiap harinya.

Misalnya kalo di basket, kamu latihan free throw selama berkali-kali berjam-jam, dengan penuh kesadaran.

Makanya latihan ini disebut deliberate, karena latihan semacam ini memerlukan konsentrasi penuh, dengan pemahaman sadar terhadap semua kesalahan dan yang benar terhadap apapun yang dilakukan.

Pesepakbola legendaris David Beckham misalnya. Dia dikenal karena tendangan bebasnya yang akurat. Dia mengaku, saat muda, dia latihan tendangan bebas berjam-jam sebelum dan sesudah sesi latihan bersama yang diwajibkan klub.

Tom Brady, quarterback legendaris, menyimpan kertas berisi petunjuk dasar melempar bola. Kertas itu tersimpan di dompetnya, dan ia latih kemampuan dasar melempar bola itu sepanjang karirnya, setiap hari.

Kalau di hand lettering, atau kaligrafi, deliberate practice yang bisa dilakukan adalah berlatih membuat garis dengan satu kali sapuan kuas, berkali-kali, dengan bentuk yang konsisten.

Latihan dengan sistem deliberate ini memfokuskan kamu ke bagian tertentu di suatu keterampilan, lalu memperhalusnya hingga kamu bisa melakukannya tanpa berpikir.

cara menumbuhkan passion

Jujur aja latihan ini super membosankan. Saya sendiri latihan hand lettering, dan berlatih dengan sistem deliberate jujur aja bikin saya bosen setengah mampus.

Supaya nggak terasa bosen, saya coba akali dengan langsung mengoreksi kesalahan saya setiap melakukan satu kali percobaan. Saya coba bedah gerakan saya yang mana yang keliru, dan mana yang bener. Gitu terus berkali-kali.

Kita terlalu sering membaca cerita atau menyimak film, ketika muncul seorang tokoh dengan bakat emas, yang bisa menguasai semuanya dalam sekejap. Ini bikin kita mengidolakan bakat lebih dari segalanya sebagai penentu kesuksesan.

Padahal, mereka yang sukses sebenarnya udah latian keras setiap hari. Mereka cuma menyembunyikannya aja.

Filsuf asal Jerman, Friedrich Nietzsche pernah berkata: “Jangan bicara tentang bakat lahir! Banyak orang sukses yang berhasil namun hanya memiliki sedikit bakat. Lebih dari itu, mereka memberi waktu untuk menguasai tiap bagian kecil, sebelum membuat dampak besar yang memukau”.

Saya pribadi kurang percaya sama bakat. Saya percaya, mereka yang sukses di puncak dunia adalah mereka yang sudah menjalani latihan keras selama berjam-jam setiap hari.

Bakat hanya membantumu di garis mula, tapi garis akhir menghamba mereka yang terus berusaha.


 

Purpose – Temukan Alasanmu

Secinta apapun kamu sama suatu bidang, akan ada momen di mana kamu merasa jenuh.

Gimana caranya supaya nggak mundur? Gimana caranya supaya nggak menyerah?

Kamu harus menemukan alasan kuat kenapa kamu harus terus bertahan.

Alasan sendiri terbagi jadi dua: orientasi untuk diri sendiri dan orientasi untuk orang lain.

Penelitian dari Angela Duckworth membuktikan kalo mereka yang pantang menyerah biasanya punya awalnya orientasi untuk diri sendiri, lalu pelan-pelan bergeser ke orientasi untuk orang lain.

cara menumbuhkan passion

berjuang demi orang lain biasanya lebih kuat

Ini masuk akal sih. Ketika kamu tertarik pada suatu bidang, lalu manfaatnya cuma buatmu sendiri, biasanya kalo ada rintangan, godaan menyerah terasa mudah datang. Coba kalo orientasinya untuk orang lain, pasti nggak gampang nyerah kan?

Misalnya lulus kuliah. Kalo kamu nggak peduli sama orangtuamu, pasti kamu udah nyerah ngerjain skripsi dari dulu-dulu, kan?

Atau bekerja. Walaupun pekerjaan mereka nggak nyenengin, mereka yang udah punya tanggungan pasti mikir-mikir beribu kali buat resign, kan?

Kalo di pekerjaan, istilahnya adalah job crafting. Kamu melihat deskripsi pekerjaanmu, membedahnya, lalu memodifikasi bagian tertentu di dalamnya agar berorientasi untuk orang lain.

Duckworth di dalam bukunya ngasi contoh tentang seorang pekerja bangunan di gereja. Pekerja bangunan ini bisa aja bilang,”saya bangun gereja ini biar anak bisa makan”.

Tapi kalo dia melakukan job crafting, dia bisa aja berpikir,”saya membangun gereja ini sebagai seorang pekerja Tuhan, agar semua orang bisa beribadah dengan tenang dan nyaman”.

Meski demikian, Duckworth bilang kalo orientasi untuk diri sendiri pun bisa juga dibuat jadi nggak gampang nyerah.

Caranya:

  1. temukan alasan kenapa bidang ini bisa bermanfaat buat orang lain.
  2. ingatkan dirimu tentang manfaat bidang yang coba kamu kuasai ini terhadap kemajuan hidupmu.
  3. temukan role model yang bisa menginspirasi. Bisa orang lain, bisa dirimu sendiri di 15 tahun ke depan.

 

Hope – Temukan Pengharapan

Ketika kamu jatuh tujuh kali, bisa nggak kamu bangkit delapan kali?

Bisa nggak kamu tetap berusaha, bahkan setelah kamu menghadapi masalah terburuk dalam karirmu?

Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan atau kekecewaan. Tapi mereka yang sukses semuanya punya satu kesamaan, yaitu berpikir bahwa, “ya sudah, nanti coba lagi”.

Ada sebuah penelitian yang dilakukan Martin Seligman yang bernama learned hopelessness. Penelitian ini sekarang sudah dilarang, tapi kamu bisa kepoin di sini.

Jadi di penelitian itu, Seligman membagi dua kelompok anjing, lalu memisahkan mereka ke dua jenis kandang. Kedua kandang ini lantainya dialiri listrik tiap beberapa menit.

Bedanya, listrik di kandang pertama bisa dihentikan kalo si anjing menekan tombol tertentu. Sementara kandang kedua nggak dikasi tombol apapun, alias kalo ada listrik si anjing hanya bisa pasrah.

Habis itu dua kelompok anjing ini dipindahkan ke satu kandang baru. Kandang baru ini ada aliran listrik juga, bedanya di situ ada semacem tempat untuk nyelametin diri.

Apa yang terjadi?

Anjing dari kandang pertama, waktu merasakan aliran listrik, dengan cerdik melompat ke tempat aman. Sementara anjing lulusan kandang kedua hanya bisa meringkuk pasrah, mengais-ngais selagi listrik menyetrum dirinya. Padahal ada tempat menyelamatkan diri yang jelas-jelas bisa digapai.

Apa kesimpulannya?

Yang bikin kita gagal bukanlah masalah, tapi ketika kita merasa nggak bisa menyelesaikan masalah itu.

Ketika kita merasa diterpa sesuatu yang buat kita udah nggak bisa diubah, di situlah kita mulai merasa menderita.

Ketika kita merasa kita masih punya harapan, alias masih terus berusaha menemukan suatu cara menyelesaikan masalah, di situlah kita masih punya peluang.

cara menemukan passion

kegagalan bukan akhir mb~

Dalam urusan kemahiran dan keterampilan, manusia dibagi jadi dua pola pikir: fixed mindset sama growth mindset.

Orang yang fixed mindset merasa bahwa kecerdasan atau bakat adalah bawaan lahir, jadi belajar pun kalo nggak bakat ya percuma.

Sementara orang yang punya growth mindset merasa bahwa manusia punya peluang yang sama. Dengan latihan, apapun bisa dikuasai.

Ketika menemukan masalah, atau gagal terhadap sesuatu, orang yang mindsetnya fixed akan pasrah dan berhenti. Sementara orang yang mindsetnya growth melihat kegagalan sebagai upaya untuk berusaha lebih keras.

Terus, penelitian juga membuktikan bahwa orang yang mindsetnya growth lebih ngeyel dan pantang menyerah, dan secara jangka panjang punya nilai yang lebih bagus di sekolah, terus juga lebih sukses.

Terus terang saya masih ada sedikit pola pikir yang fixed. Kalo kamu juga sama, mending kita pelukan dulu.

Misalnya kamu punya mindset fixed, lalu apa yang harus dilakukan?

Yang pertama adalah mengubah cara bicara terhadap diri sendiri. Ketika kamu menemukan seseorang yang hebat pada satu bidang, yakini bahwa dia gitu karena latihan.

Terus ketika kamu menemukan masalah yang kamu hadapi, lihatlah ke belakang ketika dulu kamu terbentur masalah tapi akhirnya berhasil menyelesaikannya. Jadikan itu sebagai patokan bahwa, kegagalan adalah petunjuk bagimu untuk berusaha lebih keras.

Lihat juga perbedaan kemampuanmu antara sebelum latihan dengan sekarang. Pasti ada perubahan kan?

 

Nah, itu tadi cara menemukan passion dan mengembangkannya. Lebih jauh, nggak hanya menemukan dan mengembangkan, tapi juga mempertahankannya dan terus berusaha meskipun rintangan menghadang.

Intinya gini:

  • Temukan satu yang menarik bagimu
  • Latihlah keterampilan yang diperlukan sedikit demi sedikit
  • Temukan alasan kenapa kamu terus bertahan
  • Optimislah, dan yakinlah semua kesulitan akan berlalu

Nggak semua orang mau repot-repot menemukan passion. Kalo kamu berhasil membaca artikel ini, kayaknya karena kamu berniat mencarinya dan berusaha sukses. Semangat ya!

 

Content writer dan dalang di balik PsikologiHore. Kerjaannya menulis, menggambar, dan menghabiskan stok kopi di dapur.

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :)