Waktu baca yang dibutuhkan: 13 menit

Memaafkan itu Apa Sih?

 

Maaf itu apa sih? Apakah kalo memaafkan itu berarti melupakan? Apakah kalo memaafkan, berarti nggak boleh sakit hati lagi?

Apakah jika seseorang memaafkan, berarti orang yang menyakitimu boleh balik lagi dalam hidupmu?

 

Memaafkan berarti…

Memaafkan berarti berhenti mengenang rasa sakit dari perbuatan yang kamu rasakan.

Berarti kamu mau berhenti mengungkit rasa sakit yang kamu alami, dan selalu mengingatkan diri kamu sendiri untuk berhenti mengenang hal yang bikin kamu sakit.

Memaafkan berarti memindahkan fokus dari menyalahkan orang lain karena menyakiti kamu, menuju ke proses menyembuhkan luka di hatimu. Ketika kamu memilih memaafkan, kamu secara aktif lebih memperhatikan hati dan perasaanmu, membuatmu lebih siap menyembuhkan rasa sakit yang kamu alami.

Memaafkan berarti berhenti berandai-andai kembali ke masa lalu, dan berhenti berkhayal tentang gimana cara membalas rasa sakit itu.

Memaafkan juga berarti kemauan untuk menghadapi masa sekarang. Maksudnya gini; ketika kamu bertemu lagi dengan orang yang pernah menyakiti kamu, kamu siap untuk memberikan sikap dan respon yang baik, tanpa bersikap agresif dan penuh dendam.

Memaafkan orang lain berarti nggak ada niat balas dendam atau rasa sakit ke orang itu. Memaafkan berarti kamu nggak memusuhi, bersikap dingin, salty, dsb.

Kalo sudah memaafkan, berarti kamu berusaha bersikap ramah lagi ke orang yang udah menyakiti kamu. Kamu menghilangkan niat membalas perbuatan buruk orang lain, dan memilih fokus menyayangi diri sendiri.

Memaafkan berarti membebaskan diri. Ketika kamu merasa orang lain harus “kena karma” demi kepuasanmu, secara resmi kamu udah jadi tawanan masa lalu. Ketika dia berbahagia dengan hal-hal baik yang dia dapat, kamu justru akan kesal karena karma tak kunjung datang.

Bukannya rasa kesal semacem itu nggak penting? Kira-kira sensasi kesal dan mendendam itu baik nggak buat otak kamu?

 

Memaafkan bukan berarti…

Memaafkan bukan berarti melupakan.

Ketika kamu memberi maaf pada orang lain, bukan berarti perbuatan di masa lalu itu perlu dilupakan. Yang perlu dihilangkan adalah rasa sakit atau rasa kesalnya.

Kamu mungkin masih akan teringat perbuatan buruk yang pasanganmu lakukan. Tapi ketika kamu udah memaafkan orang, kamu nggak mengungkit perbuatan buruk itu, dan menjadikannya pelajaran untuk ke depannya.

Semakin berusaha melupakan sebuah kejadian, dia justru akan lebih sering muncul dalam lamunanmu.

Makanya, yang perlu dilakukan adalah memaafkan. Jadi saat kejadian itu muncul lagi dalam lamunan, dia tidak bisa menyakiti kamu, soalnya kamu udah berdamai dengan kejadian itu.

 

Memaafkan bukan berarti nggak boleh sakit hati. Sakit hati adalah reaksi wajar manusia kalo disakiti. Jadi kalo kamu disakiti dan kamu belum siap memaafkan, it’s totally fine. In my opinion, you don’t have to force forgiveness. Memaksa diri memaafkan kadang bikin lukanya nggak sembuh-sembuh.

Berusaha memaafkan boleh, tapi nggak perlu buru-buru juga. Kalo kamu terlalu cepat memberi kata maaf, takutnya orang lain jadi ngelunjak dan ngegampangin kamu. Mereka jadi nggak takut berbuat salah ke kamu.

Kalo emang masih marah, ya redakan dulu marahmu. Tenangin dulu emosi kamu. “Selesai” dulu sama marahnya kamu, baru maafin orang lain. Maaf yang lama dikasih tapi ikhlas, jauh lebih baik daripada segera memaafkan tapi di dalam hati masih ngempet.

Kalo butuh waktu seminggu? Lakukanlah. Biarkan waktu membantu meredakan rasa sakit hatimu, sambil kamu berusaha memaafkan pelan-pelan. Yang penting adalah kamu berusaha mengendalikan emosi, biar kamu nggak kebawa marah dan melakukan hal yang kamu sesali nantinya.

 

Memaafkan bukan berarti memaklumi. Ketika kamu memberi maaf pada orang lain, bukan berarti kamu membolehkan kejadian serupa terulang lagi.

Berikan orang yang salah itu kesempatan untuk tidak mengulangi lagi kesalahannya. Tapi kalau dia masih mengulangi, maka kamu boleh bersikap tegas dan tidak memberikan kesempatan lagi.

Misalnya gini. Kamu punya pacar yang sering genit sama cewek lain, suka ngegodain orang di Instagram. Kamu bisa memaafkan dia. Tapi kalo dia masih bersikap gitu terus, kamu bisa bersikap tegas dengan memberi dia ultimatum; kalo dia masih genit terus mending putus aja. Atau kasi hukuman yang bikin jera.

Memberi hukuman bukan berarti membalas dendam. Memberi hukuman adalah upaya biar kejadian serupa nggak terulang lagi. Bisa sambil memaafkan? Ya bisa aja. Setelah memaafkan, kamu boleh (dan harus) mencegah biar kejadian itu nggak terulang lagi.

Kalo hukuman diperlukan, maka berikanlah. Kalo memarahi dan mengomel diperlukan, ya ngomel aja, biar orang lain ngerti salahnya dia.

Kalo harus menjauh dari seorang teman karena perbuatan toxic-nya, maka menjauhlah perlahan. Toh masalahmu banyak, ngapain berkutat sama masalah yang itu-itu aja?

 

Memaafkan bukan berarti semua kembali seperti sediakala. Kejadian buruk bisa kamu jadikan pelajaran. Kamu perlu melakukan sesuatu agar kejadian atau kesalahan orang lain yang menyakiti kamu nggak terulang lagi.

Jadi, walaupun memaafkan, bukan berarti keadaan bisa dibiarkan begitu aja.

Kalo kamu sakit hati sama perkataan seorang temen, misalnya. Kamu bisa aja memaafkan perkataannya, tapi kamu juga bisa meminta dia untuk nggak gitu lagi.

Atau kamu punya pacar yang abusive, mukulan. Memaafkan sih boleh, tapi kalo sampe muka lebam dan bikin trauma, laporin polisi aja. Itu termasuk memaafin? Iya, tapi kamu juga harus melindungi diri kan.

 

 

Author: Robi Maulana

Dalang sesungguhnya di balik PsikologiHore. Suka ngopi tapi kopi nggak suka sama dia.

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)