Waktu baca yang dibutuhkan: 7 menit

Siapa sih yang suka dikritik?

Seorang temen saya pernah nunda skripsi sampe hampir empat semester. Alasannya? Karena dia takut direvisi.

Padahal waktu itu mulai skripsinya barengan saya, tapi dia sampe ketunda lama banget. Dia nggak memandang revisi sebagai jalan menuju wisuda. Menurut dia, revisi adalah coretan-coretan kejam yang menandakan kalo dia nggak pinter.

Iklan!

Sejujurnya nggak ada yang suka dikritik. Saya juga nggak suka kok.

Tapi nggak bisa dipungkiri kalo kritik penting juga buat perkembangan diri. Kritik kadang berasal dari orang yang persepsinya beda sama kamu, jadi bisa ngasi sudut pandang yang lebih fresh.

Kalo diterima dan dipertimbangkan dengan bener, kritik bisa bantu kamu berkembang.

Ada yang rela-rela aja dan nggak jatoh kalo dikritik. Tapi, gimana kalo kamu nggak kuat dikritik, dan bawaannya pengen emosi aja?

Apa yang harus kamu lakukan kalo postingan Instagram kamu dikatain jelek? Gimana cara ngerespon orang yang beda pendapat sama kamu di sosial media?

Kali ini, kita akan bahas gimana sih cara biar lebih sabar terhadap kritik.

 

Rasakan Reaksi Tubuhmu

 

Ketika kamu menerima respon jelek di sosial media, sensasi apa yang kamu rasakan di tubuh kamu?

Apakah kamu merasa esmosi? Apakah jantungmu berdegup kencang? Tangan berkeringat, dan otot pundak kamu menegang?

Buat sebagian orang, feedback negatif kayak komentar kasar atau selisih pendapat bisa memicu suatu respon. Respon ini disebut fight or flight response; suatu respon yang muncul ketika kita merasakan ancaman di lingkungan kita.

 

Respon fight or flight kerap muncul ketika para leluhur prasejarah kita nemu predator.

Di era sekarang, respon ini tetep ada di kita. Kita masih punya respon fight or flight ini. Masalahnya dengan nggak adanya predator, respon fight or flight muncul pada situasi yang salah. Dalam hal ini, respon fight or flight muncul saat kita dikritik.

Kritik mungkin nggak membahayakan tubuh kita secara langsung; tapi otak bagian emosi kita tetep nganggep itu bahaya.

Kamu mungkin merasa kalo kritik dari bos berarti pekerjaanmu sudah di ujung tanduk dan kamu bentar lagi dipecat.

Atau seseorang membantah argumen kamu di Twitter. Kamu langsung ngerasa kalo dia adalah hater kamu, dan dia iri sama kesuksesan kamu yang gemah ripah.

Padahal ini semua belum tentu bener, kan?

Sebelum mulai menganalisa kritik, coba pahami proses berpikir yang terjadi di otak kamu. Apakah pikiran-pikiran kamu masuk akal? Ini akan membantu kamu memproses reaksi, dan memikirkan respon yang lebih baik terhadap kritik tadi.

 

 

Anggap Kritik Sebagai Bentuk Kepedulian

 

Sebenernya yang bikin emosi kita naik terhadap kritik bukan karena negatif atau nggaknya kritik tersebut. Tapi, balik lagi ke mindset kita tentang kritik.

Sebenernya kayak apa sih pandanganmu terhadap kritik dan beda pendapat? Ada yang nganggep kritik sebagai penambah kualitas diri, ada juga yang main pukul rata: semua kritik berasal dari haters1!1!!1

Gimana Sih Cara Biar Nggak Marah Saat Dikritik?
akutu peduli ma kamu~

Ketika kita nganggep semua komentar yang nggak enak adalah bentuk kebencian, otak kita langsung merespon ini sebagai bentuk ancaman. Langsung deh mendidih dan dada berdesir. Rasain deh bibirmu. Pasti bibirnya nekuk ke bawah gitu.

Mindset kita terhadap kritik bisa mempengaruhi reaksi kita juga.

Karena itu, coba deh kalo kamu besok nemu kritik, ubah pola pikirmu. Ketika kamu nemu kritik, alih-alih menganggap itu sebagai upaya menjatuhkan, coba anggep itu sebagai bentuk kepedulian.

Atau ketika kamu nemu orang yang argumennya kontra denganmu, anggep aja itu sebagai upaya dia untuk berdiskusi. Kalo kamu tertarik diskusi, ya bales. Kalo buat kamu argumennya nggak bermutu, ya nggausah bales.

Tetep diliat lagi ya; kritik ada yang berbobot, ada yang kosongan. Cara ngebedainnya gimana?

Kritik berbobot biasanya juga diikuti dengan solusi. Atau diikuti sama pemikiran yang berdasar.

Kalo yang kosongan? Yaaa udah pasti cuma ngata-ngatain doang, yang nggak diikuti sama solusi atau pemikiran yang logis.

 

 

Kembangkan Growth Mindset

 

Untuk urusan pengembangan diri, manusia punya dua macem mindset.

Dua macem itu adalah growth sama fixed. Growth itu berkembang, fixed itu mentok.

Orang yang mindsetnya fixed alias mentok, akan nganggep kritik sebagai ancaman. Marah, emosy. Kalo bisa sih dia akan menghindari situasi yang bikin dia dikritik. Dia juga marah kalo pikiran atau pendapatnya diserang.

Orang dengan fixed mindset akan melawan kritikan. Perlawanan itu bisa dalam bentuk argumen balasan, atau diem aja tapi nggak didengerin. Itu karena dia percaya siapa dia, dan dia yakin dia nggak bisa berubah.

Sebaliknya, orang dengan growth mindset lebih mungkin menerima kritik, positif atau negatif, sebagai jalan belajar dan bertumbuh.

Bukan berarti orang dengan growth mindset nggak marah. Yaaa mungkin aja dia tersinggung sebentar, tapi dia akan bangkit dan menjadikan kritik negatif sebagai pelajaran.

Jadi, coba deh kembangkan mindset yang pengennya terus berkembang dan terus belajar.

Buku Grit karangannya Angela Duckworth cukup banyak ngebahas growth mindset. Coba deh cari buku itu.

 

 

Berpikirlah Bahwa Bukan Kamu yang Dikritik

 

Kadang yang bikin emosi ketika dikritik adalah karena kita take it way too personally.

Maksudnya tu gimana yaaa kayak seolah-olah kita secara individu gitu lo yang kena. Ketika kita mikir kayak gitu, saat nanti kena kata-kata yang pedes, kita jadi terasa jatoh lo.

Padahal yaaa mungkin yang dikritik hanya cara mikir kita atau pendapat kita aja.

Suatu hari nanti, kalo kamu mendapatkan kritik pedes atau argumen yang nggak menyenangkan, coba deh ubah sudut pandangmu.

Kalo biasanya kamu ngerasa itu diarahkan ke kamu, coba arahkan kritik itu ke kerjaannya kamu, atau ke pendapat kamu doang, dan bukan kamu secara pribadi.

Atau bisa juga dengan membayangkan kalo yang dikritik itu bukan kamu, tapi orang lain. Lihat diri kamu sebagai saksi dari sebuah kritik yang terjadi, bukan sasaran kritik atau argumen.

 

 

Berikan Jeda Waktu Sebelum Merespon Kritik

 

Dunia internet dan sosial media bikin berbagi pendapat jadi gampang. Kita jadi bisa mengutarakan pendapat kita secara cepet dan gampang, ke siapapun di belahan bumi.

Sayangnya internet dan candu sosial media bikin kita jadi impulsif. Kita kadang jadi refleks menyampaikan pendapat gitu aja, tanpa disaring dan dipikirin lagi.

Hal ini berlaku ke banyak netizen. Kadang mereka jadi nyampein kritik gitu aja, tanpa dipertimbangkan lagi penting apa nggaknya kritik mereka itu.

Daaaaan mungkin kamu pernah jadi sasaran kritik yang asal tembak ini.

Mungkin kamu cewek yang nggak berjilbab, dan di Instagram kamu pernah ngedapetin komentar,”lebih cantik berjilbab kak, maaf sekedar mengingatkan 🙏” atau ketika argumen kamu di Twitter disamber akun yang kamu nggak pernah kenal, follow juga kagak.

Sebelum kamu kebawa emosi, pikirkan bahwa mereka udah jadi korban impulsivitas sosial media. Menggunakan sosial media berlebih bikin mereka jadi refleks ngutarain pendapat ke sembarang sasaran. Tanpa disaring, tanpa dipikir lagi.

Dan sebaiknya kamu nggak menjadi korban impulsivitas yang sama.

Kalo kamu marah sama kritik yang diarahkan ke kamu, dalam hal ini di sosial media, tahanlah selama minimal 24 jam. Ini supaya emosi kamu mereda dan kamu bisa ngerespon dengan lebih jernih.

Nggak ada kewajiban bagimu untuk segera ngebales kritik online yang dateng. Tunggu aja 24 jam sampe emosi kamu reda. Kalo udah, pertimbangkan lagi aja mau bales apa mau kamu diemin.

Tapi saran saya sih diemin aja. Berkubang dalam masalah yang nggak perlu itu ngabisin tenaga lo.

Hal yang sama berlaku juga di kehidupan nyata. Kalo kamu kebawa emosi, ya tahan diri dulu sampe kamu menguasai emosi kamu.

 

Sering-sering Kena Kritik

 

Seorang mahasiswa yang baru memulai skripsi biasanya takut revisi. Revisi biasanya dianggep sebagai kiamat kecil, setiap coretan di kertas sama sakitnya dengan sayatan di muka.

Tapi seiring berjalannya waktu, mahasiswa skripsi akan tahan sama revisi. Mereka jadi terbiasa.

Demikian juga sama kritik dan argumen yang datang. Semakin sering kamu terekspos sama situasi kayak gitu, semakin kuat kamu nantinya.

Bukan berarti rasa nggak nyaman itu akan hilang. Rasa nggak nyaman itu tetep ada, cuma kamu jadi lebih kuat dan kritik itu nggak menjatuhkanmu.

Biasanya kalo berani mengekspos diri dan minta masukan, kamu jadi lebih sering mendapatkan kritik. Kamu jadi lebih kuat dan lebih terbiasa.

 

 

NAH itu dia ya bosq tentang gimana sih caranya biar nggak marah kalo dikritik.

Kritik dan saran kayak makanan rumah sakit. Bikin nggak nyaman, tapi emang perlu ditelen kalo mau sehat. Jadi kalo ada feedback dan kritik, yaaa telan dan ambil nutrisinya.

 

Author: Robi Maulana

Dalang sesungguhnya di balik PsikologiHore. Suka ngopi tapi kopi nggak suka sama dia.

One Reply to “Gimana Sih Cara Biar Nggak Marah Saat Dikritik?”

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)