Waktu baca yang dibutuhkan: 20 menit

Biografi Alfred Adler, teorinya, dan pemikirannya.

Suatu malam, saya ditanya sama temen.

“masrob anak keberapa?”
“dua dari tiga bersaudara”
“anak tengah ya? paling penyendiri berarti”

Tapi emang bener sih, saya sering menyendiri, apalagi kalo di kamar mandi.
Selalu sendirian.

Memang ada suatu anggapan di masyarakat seperti ini:

Anak sulung biasanya yang pinter,
Anak tengah biasanya yang ganteng penyendiri,
Anak bungsu biasanya yang manja.

Teori ini tanpa sadar sering kita pikirkan dan kita jadiin standar dalam menilai orang.
Tapi kamu tahu nggak siapa penggagas pertama teori ini? Alfred Adler!

Tapi teori Adler nggak cuma itu. Hasil pemikiran Adler yang kaya dan penuh inspirasi, bisa kita rasakan saat ini. Bahkan salah satu buah karya Adler bisa kamu liat di sekolah kamu, yaitu ruang konseling.

Kali ini kamu akan mengenal Alfred Adler, perjalanan hidupnya dan teori-teorinya yang kaya inspirasi. Yuk simak!

Daftar Isi:

  1. Biografi Alfred Adler
  2. Pemikiran dan Teori Alfred Adler
  3. Adler versus Freud
  4. Adler dan Adlerian
  5. Fakta Lain Alfred Adler
  6. Quote dari Alfred Adler

1. Biografi Alfred Adler

Alfred Adler lahir di Mariahilfer Straße, kota Vienna, Austria, pada 7 Februari 1870. Dia anak ketiga dari tujuh bersaudara, dari sepasang pedagang makanan pokok seperti gandum.
Adler kecil nggak bisa jalan sampai umur empat tahun karena rakhitis. Waktu umurnya lima tahun, Adler hampir meninggal karena pneumonia. Adler kecil adalah anak yang lemah dan sering bersaing dengan saudara-saudaranya.

Di usia 25 tahun, Adler menerima gelar dokter dari Universitas Vienna. Kemudian dia bertemu Raissa Timofeyewna Epstein. Si Raissa ini adalah penyanyi aktivis sosial dan cendekia dari Russia. Mereka kemudian menikah pada 1897 dan punya empat orang anak: Valentine, Alexandra, Kurt, dan Cornelia.

teori adler, teori alfred adler, teori psikologi individualistik
adler dan keluarga

Adler mengawali karir sebagai dokter spesialis mata, tapi kemudian beralih jadi dokter umum. Pada usia 28 tahun Ia buka praktik di dekat taman ria dan sirkus di kawasan pinggiran Vienna. Pasiennya Adler kebanyakan adalah penampil sirkus.

Terpukau dengan atraksi penampil sirkus, Adler kemudian meneliti kelebihan dan kekurangan unik dari tubuh para penampil sirkus tersebut. Penelitian ini nantinya menginspirasi inspirasi Adler dalam membuat teori inferioritas.

Usia 37, Adler diundang nongkrong bareng sama Sigmund Freud. Adler, Freud, bersama Rudolf Reitler dan Wilhelm Stekel, mulai sering nongkrong bareng tiap rabu malam (Mittwochsgesellschaft).

Berbeda dengan spesies laki-laki lain yang kalo ngumpul ngopi, ngomongin bola, dan ngomongin cewek, empat orang ini malah ngomongin tentang psikoanalisa. Tiga tahun kemudian mereka membentuk Vienna Psychoanalytic Society. Adler menjadi presiden pertamanya.

Tapi kemudian mulai terlihat benih-benih ketidakcocokan antara Adler dan Freud.

Yang pertama, orang mengira Adler adalah muridnya Freud. Adler nggak terima.
Freud-lah yang menginginkan Adler untuk datang buat sharing mengenai ide-idenya.

Lagipula, konsep dan ide-ide Adler tentang jiwa berbeda dengan Freud.
Untuk lebih lanjut mengenai perbedaan Adler dan Freud, saya ceritakan nanti ya!

Maka demi menghindari cekcok, satu tahun kemudian Adler keluar dari Vienna Psychoanalytic Society. Ia lalu mendirikan perkumpulan sendiri, yaitu Society for Individual Psychology.
Walaupun ada perbedaan pendapat dan pemikiran, Adler dan Freud tetap saling menghormati dan mengakui kejeniusan satu sama lain.

Waktu Perang Dunia I pada 1914, Adler ikut menjadi dokter perang untuk tentara Austria. Ia ditempatkan di front Russia. Ia lalu dipindahtugaskan di rumah sakit Austria. Di sini dia melihat sendiri pahitnya perang, serta perihnya derita fisik dan psikis bagi semua rakyat Austria.

Setelah perang berakhir, Adler mendirikan klinik konseling anak di Vienna. Ia juga membentuk tim untuk mengajarkan cara menangani trauma perang pada anak, lalu mengirim tim tersebut ke sekolah-sekolah. Tim ini sukses besar, sampai-sampai muncul permintaan untuk datang dari seluruh Austria.

biografi alfred adler
adler melakukan terapi pada anak

Pada 1924, ia menjadi pengajar di Institut Pedagogi di Vienna. Ia juga sering menjadi dosen tamu di berbagai kampus di Eropa dan Amerika. Setelah itu, pada 1927 ia juga menjadi dosen terbang di Uninversitas Columbia.

Pada 1932, Hitler dan Partai Nazi-nya berkembang pesat. Nazi, yang terkenal dengan kebenciannya sama ras Yahudi, dikabarkan bersiap menyerang Austria.

Adler kan yahudi nih. Daripada ditangkep Nazi, Adler dan keluarga pindah ke New York. Ia lalu mengajar di Long Island College of Medicine.

biografi alfred adler
kartu imigrasi adler

Adler adalah penulis hebat dan inspirasional. Ia menulis lebih dari 300 buku dan artikel. Pencapaian terbaiknya di antaranya: ‘The Practice and Theory of Individual Psychology’ (1927), ‘Understanding Human Nature’ (1927), and ‘What Life Could Mean to You’ (1931).

Tahun 1937, di Skotlandia, Alfred Adler meninggal karena serangan jantung. Jenazahnya dikremasi di Edinburgh, tapi menghilang. Abu jenazah Adler baru ditemukan pada 2007, di sebuah peti di Krematorium Warriston. Pada 2011 abu tersebut dikembalikan ke kota kelahirannya, Vienna, untuk dimakamkan di sana.


 

2. Pemikiran dan Teori Alfred Adler

Tadi kamu sudah mengetahui riwayat singkat Adler. Sekarang, apa aja sih teori yang Adler ciptakan?
Lalu, dari mana dan siapa Adler mendapat inspirasi?

biografi alfred adler, teori adler, teori alfred adler, teori psikologi individualistik

2.1 Dasar Pemikiran Alfred Adler

Pemikiran Adler dipengaruhi filsuf Hans Vaihinger dan karya sastra dari Dostoevsky. Waktu masih jadi anggota Vienna Psychoanalytic Society, ia mengembangkan teori inferioritas organik dan kompensasi. Pengembangan ini membawa Adler masuk ke dunia fenomenologi dan pengembangan karya terkenalnya, the inferiority complex.

Adler juga dipengaruhi filsuf-filsuf seperti Kant, Nietzsche, Virchow, dan Smuts. Aliran Adler, yang dikenal sebagai psikologi individual—memfokuskan pada psikologi sosial, komunitas, sekaligus psikologi dalam.
Berbeda dengan tokoh yang seangkatan (yang fokus pada mengobati), Adler bisa dibilang tokoh pelopor yang fokus pada pencegahan abnormal.

Ia mengajarkan para guru dan orang tua untuk membolehkan anak melatih kemampuan dalam mengambil keputusan, sambil bekerjasama dengan sesama teman.

Menurut Adler, lingkungan sosial punya dampak psikologis yang sama dengan alam pemikiran internal (pikiran individu itu sendiri). Bagi Adler, dinamika kekuasaan dan kompensasi sama pentingnya dengan seks. Jenis kelamin dan politik sama pentingnya dengan libido. 

Adler percaya bahwa bahwa orang awam pun perlu memahami ilmu psikologi. Adler juga pendukung awal feminisme di psikologi dan di dunia sosial. Adler percaya bahwa perasaan superioritas dan inferioritas seringkali dikarenakan gender, dan diekspresikan dalam bentuk karakteristik feminin dan maskulin.

2.2 Teori-teori yang pernah dikembangkan Alfred Adler

Bersama Sigmund Freud dan Carl Jung, Adler mengembangkan psikologi dalam. Psikologi dalam ini memfokuskan pada pentingnya dinamika alam pikiran bawah sadar.

Adler mengembangkan pendekatannya sendiri, dan aliran Psikologi Individual dicetuskan pada 1912. Aliran Psikologi Individual didasari pemikiran bahwa hubungan seseorang terhadap masyarakat adalah bagian penting pembentuk kepribadian mereka.

2.2.a. Teori Adler – Tentang Tujuan Hidup

Menurut Adler, semua manusia pada dasarnya mengejar superioritas. Adler percaya bahwa setiap orang memasuki kehidupan dalam perasaan inferior/minder, dan menghabiskan seumur hidup mereka untuk mengatasi hal tersebut. Teori ini dikenal sebagai pencarian superioritas, dan aliran Adler memfokuskan pada studi seputar pencarian superioritas ini.

Adler juga mempertanyakan tentang dorongan macam apa yang berada di balik motivasi kita sebagai individu. Ia menyebut dorongan ini sebagai “kebutuhan untuk sempurna”, sebuah istilah yang kemudian diartikan sebagai “keinginan untuk memenuhi potensi diri, dan menyadari bentuk ideal kita”.

2.2.b. Teori Adler – Cara melihat manusia

Holisme adalah pemikiran yang menyatakan bahwa sistem alam semesta harus dipandang sebagai sesuatu yang utuh, dan bukan merupakan kesatuan dari bagian-bagian yang terpisah.

Alam tidak bisa dipahami kalau kita mempelajarinya dengan cara memisahkan bagian-bagiannya: sistem harus dipelajari secara utuh sebagai suatu kesatuan.

Ajaran ini disukai Adler. Menurut Adler, manusia harus dianggap sebagai satu unit. Untuk memahami jiwa manusia, kita seharusnya melihat keseluruhan bagian dari manusia itu, dan bukan melihat sepotong-sepotong.

2.2.c. Teori Adler Tentang Pikiran Manusia – Finalisme Fiksional

Ada sebuah pemikiran dari Hans Vaihinger, yang menyatakan bahwa kebenaran itu semu. Apa yang kita sebut kebenaran, nggak ada hubungannya sama kenyataan.

Toh kebenaran itu relatif, dan semua orang berbeda pendapat tentang benar dan salah. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia membuat kebenaran semu namun dianggap sebagai sesuatu yang benar-benar ada. Vaihinger menyebut kebenaran parsial ini sebagai “fiksi”.

Adler setuju dengan pemikiran ini, dan percaya bahwa manusia menggunakan fiksi secara aktif dalam hidup mereka. Fiksi ini membuat seseorang merasa kuat, karena fiksi bisa meyakinkan orang bahwa apa yang dilakukannya sebagai kebenaran.

Berdasarkan fiksi ini, Adler beranggapan bahwa motivasi seseorang dalam bertindak bukan apa yang terjadi di masa lalu, tapi karena “kebenaran” yang ia yakini.

Kebenaran semu yang ada dalam pikiran, yang membimbing perilaku seseorang, oleh Adler kemudian disebut sebagai finalisme fiksional.

2.2.d. Teori Adler – Inferioritas

Inferioritas adalah perasaan bawaan manusia sejak ia keluar dari rahim ibu.

Kenapa bayi saat lahir menangis? Menurut Adler, karena bayi itu minder. Bayi itu merasa inferior terhadap dunia.
Anak merasa harus bergantung pada orang tua, dan ia tidak bisa melakukan apapun sendiri.

Adler menganggap bahwa perasaan inferior inilah yang menuntun manusia berkembang. Manusia ingin lepas dari perasaan inferioritas, menuju manusia superior dan sempurna.

Tapi ada juga lo yang nggak mampu mengatasi inferioritas ini.

Perasaan inferior ini akan semakin besar ketika kita tercemari oleh kata-kata negatif, cemoohan, dan kegagalan. Ketika sudah menumpuk, maka perasaan inferior ini menyebabkan kamu ogah ngapa-ngapain. Lebih dari itu, kamu juga bisa mengalami kelakuan pasif agresif. Perasaan inferior berlebihan ini, oleh Adler disebut inferiority complex.

Ciri-ciri orang yang rentan terkena sindrom inferiority complex adalah:

  • memiliki penghargaan diri yang rendah
  • berasal dari keluarga menengah ke bawah,
  • Anak yang sering dimarahi orang tua atau yang gagal memenuhi ekspektasi orang tua

Oh iya, gejala kecenderungan inferiority complex ini adalah suka mencari perhatian dan lebay. Tapi bukan cuma dua itu aja sih, ada juga gejala yang lain.

Inferiority complex akan saya bahas lebih lanjut di artikel lain yaa.

2.2.e. Teori Adler tentang Tipe Kepribadian – Berdasarkan Energi

Adler meyakini ada empat tipe kepribadian pada manusia, didasarkan pada level energi mereka.

Perlu saya jelaskan, energi di sini berarti besarnya usaha seseorang dalam menggapai superioritas.

Yang pertama adalah tipe ruling, atau berkuasa.
Orang dengan tipe kepribadian ruling adalah mereka yang rela menghalalkan segala cara untuk menggapai superioritas.

Energi mereka besar, memicu mereka untuk menyingkirkan siapapun yang menghalangi jalan. Tapi ada juga yang membalikkan energi itu, dan melampiaskannya dengan menyakiti diri sendiri. Termasuk dalam tipe ini adalah tukang bully, sadistis, pemabuk, kriminal, pecandu narkoba, pelaku bunuh diri, dsb.

Yang kedua adalah tipe Learning atau pembelajar.
Mereka yang termasuk tipe learning cenderung sensitif dan membangun “dinding” di sekitar mereka. Level energi mereka rendah, dan seringkali mengandalkan orang lain bila ada masalah. Ketika udah mentok alias nggak bisa ngapa-ngapain lagi, mereka rentan mengalami fobia, kecemasan, obsesi-kompulsif, dsb.

Kemudian ada tipe Avoiding atau penghindar.
Level energi mereka adalah yang paling rendah, makanya mereka nggak suka menghadapi realita. Mereka menghadapi masalah dengan cara lari dari masalah.  Mereka cenderung psikotik, lebih suka hidup di alam khayal daripada menghadapi kenyataan.

Terakhir, dan yang terbaik dari semua, adalah tipe Socially Useful.
Orang yang berfungsi sosial adalah orang yang sehat. Level energi mereka pas, gak lebih gak kurang. Mereka melakukan sumbangsih kebaikan dalam kehidupan sosial mereka, dan tidak terpengaruh perasaan inferioritas. Mereka juga percaya bahwa mereka punya kendali penuh atas nasib mereka sendiri.

Ada sedikit kritikan mengenai tipe kepribadian Adler. Tipe kepribadian versi Adler dianggap kurang obyektif. Definisi operasionalnya juga kurang jelas.
Energi sebesar apa yang disebut tinggi? Energi sebesar apa yang disebut rendah?
Pertanyaan ini tidak terjawab oleh teori Adler.

2.2.f. Teori Adler – Urutan Kelahiran

Selain energi untuk menggapai superioritas, Adler juga meyakini bahwa urutan kelahiran juga ngaruh pada kepribadiannya.

Anak sulung biasanya gampang merasa diabaikan, gampang minder, dan biasanya keras kepala. Tapi biasanya si sulung lebih dewasa dibanding adiknya. Selain itu, adik-adik biasanya mengidolakan si sulung, menjadikan dia sebagai pemimpin bagi anak-anak di keluarga.

Anak tengah memiliki sikap kompetitif. Salah satu motivasi anak tengah adalah karena biasanya mereka bukan anak yang paling diperhatikan.

Si sulung selalu jadi anak yang pertama (pertama sekolah, pertama kuliah, pertama nikah), sementara si bungsu selalu jadi si kecil di dalam keluarga. Seringkali, anak tengah merasa bahwa dia nggak “dianggap” di dalam keluarga. Anak tengah cenderung penyendiri dan paling rentan depresi.

Anak tengah dikenal sebagai penengah perselisihan. Mereka juga punya skill sosial yang bagus, gak suka berkonflik , dan loyal sama temen-temen deketnya. Anak tengah sering punya skill diplomasi yang bagus dan fleksibel terhadap hal baru, memungkinkan mereka lebih gampang jadi entrepreneur.

biografi alfred adler, teori adler, teori alfred adler, teori psikologi individualistik
hemsworth bersaudara. sumber: people.com

Seperti anak tunggal, si bungsu biasanya memiliki sikap manja dan merasa tidak mampu melakukan sesuatu sendiri. Anak bungsu juga sering merasa tidak mau kalah dari kakak-kakaknya. Anak bungsu seringkali dianggap anak kecil dan dimanja di keluarga.

Dimanja, menurut Adler, adalah perilaku paling buruk yang bisa dilakukan orang tua ke anak.
Memanjakan anak menjadikan dia tergantung, egois, dan gak bertanggung jawab saat memasuki kehidupan dewasa. Anak bungsu juga manipulatif, suka mengendalikan orang lain, dan sedikit ngebos.

Tapiiii ada tapinya. Si bungsu ini punya pesonanya sendiri. Biasanya si bungsu ini penyayang, dan teman yang selalu ceria. Dia juga penghibur alami, dan paling jago kalo urusan senang-senang.

Anak tunggal punya dua kemungkinan sifat: antara kayak anak sulung atau kayak anak bungsu. Karena gak punya pesaing dalam memperoleh perhatian, anak tunggal biasanya bermandikan kasih sayang, terutama dari orang tua. Kasih sayang yang berlimpah ini bisa jadi masalah, ketika di lingkungan dia gak mendapat hal yang sama.

Si tunggal bisa mandiri lebih cepat, dan mampu belajar untuk bergantung pada diri sendiri, dan gak masalah kalo harus sendirian.

Anak kembar biasanya punya satu yang dominan, yang bersikap seperti seorang kakak. Karena dekat, saudara kembar biasanya lebih pede. Tapi juga si kembar gak suka sendirian dan gampang ngerasa sendiri. Kembar identik biasanya sulit berpisah, dan kalo berpisah dalam waktu lama bsia mengarah pada kecenderungan depresi.

Ada tuh, adek kelas saya di kampus. Dia gak bisa ikut kegiatan-kegiatan di luar kota soalnya kalo misah sama kembarannya dia pasti sakit. Bisa ya kayak gitu.


3. Adler vs Freud

biografi alfred adler, teori adler, teori alfred adler, teori psikologi individualistik
Legenda Psikologi, Sigmund Freud

Kalo pegel, istirahat dulu.
Ini yang ngetik aja udah pegel nih.

Oke! Tadi di atas udah sempet kita bahas dikit ya mengenai konflik antara Adler dan Freud.

Jadi sebenarnya konflik Adler dan Freud bukanlah mengenai masalah pribadi. Konflik Adler dan Freud adalah tentang ketidakcocokan Adler terhadap teori-teori Psikoanalisa.

Saya gak mendapat sumber yang cukup valid mengenai detil-detil konfliknya. Jadi kalo kamu mengharapkan cerita lengkap mengenai bentuk perselisihan keduanya…. well, kamu belum beruntung.

Tapi saya mengusahakan mencari informasi tambahan.
Sementara kita bahas dulu cerita antara Adler dan Freud.

Perkenalan Adler dengan Sigmund Freud dimulai saat 1902, ketika Freud mengundang Adler buat nongkrong bareng di rumahnya tiap rabu malam. Diskusi-diskusi Adler dan Freud berkembang menjadi Vienna Psychoanalytic Society. Walaupun sering dianggap sebagai murid Freud, Adler adalah rekan sejawat dan setara. Ibaratnya Batman sama Superman lah. Adler menyetujui beberapa pendapat Freud, tapi juga berselisih pada pendapat yang lain.

Walaupun Adler punya pengaruh besar di komunitas, tapi pandangan sosiologis dan psikologis Adler dan Freud itu beda, kayak dua sisi mata uang.

Freud mencela Adler karena Adler terlalu fokus sama proses alam sadar.
Freud lebih fokus pada pikiran bawah sadar dan tidak sadar manusia. Sementara, Adler mencemooh Freud yang terlalu fokus pada aspek seksualitas dalam motivasi manusia. Bagian ini akan saya bahas lebih lanjut di bawah yaa… tunggu!

Singkat cerita, konflik antara Adler dan Freud mulai banyak diketahui sama anggota komunitas. Para pengikut setia Freud gak suka sama Adler, sehingga mereka melancarkan tekanan sosial pada Adler. Untuk mencegah konflik berkepanjangan, Adler mundur dari jabatan presiden dan keluar dari komunitas.

Duo Adler-Freud + Carl Jung pernah muncul dikit di film Indiana Jones.

Ayo kita bahas perbedaan-perbedaan antara Freud dan Adler!

biografi alfred adler, teori adler, teori alfred adler, teori psikologi individualistik
teori adler, teori alfred adler, teori psikologi individualistik

Sebenernya ada cukup banyak perbedaan teori antara Adler dan Freud.
Salah satunya adalah cara mereka berdua menganggap manusia.

Freud membagi kepribadian menjadi komponen-komponen, sedangkan Adler menganggap kepribadian harus dipelajari secara utuh. Freud menganggap kesadaran dan ketidaksadaran manusia terpisah, sementara Adler menganggap alam sadar dan tidak sadar bekerja dalam harmoni. Bagi Adler, alam sadar adalah sesuatu yang disadari oleh orang tersebut, sementara alam tidak sadar adalah sesuatu yang belum disadari. Semudah itu!

Kamu mahasiswa psikologi pasti udah akrab lah sama istilah id, ego, dan super ego. Buat Freud, ketiga komponen kepribadian ini dapat berkonflik. Dan bila tidak ditangani dengan benar, bisa menimbulkan gangguan pada jiwa.

Adler kurang setuju sama konsep ini, makanya dia bikin aliran sendiri yang disebut psikologi individual. Individu sendiri berasal dari kata un-divided, yang artinya nggak bisa dibagi. Buat Adler, pribadi adalah suatu yang perlu dipelajari secara utuh, bukannya dipecah-pecah.

Adler juga kurang suka sama Freud yang terlalu fokus pada aspek seks dalam teorinya. Adler percaya bahwa pribadi juga dibentuk dari aspek budaya dan sosial. Atas dasar itu, Adler menciptakan teori berbeda, dan bahkan model terapi psikologi yang berbeda pula.

a. Cara pandang terhadap manusia
Menurut Freud, manusia pada dasarnya “jahat”. Kalo seandainya di dunia ini nggak ada norma, maka sifat jahat manusia akan keluar dan terekspresi dengan bebas. Perilaku jahat ini diredam oleh proses berpikir dan ada norma yang mengatur.

Adler tidak setuju. Seseorang nggak punya sifat alami baik atau jahat. Orang bebas memilih dia mau jadi baik atau jahat, atau mungkin keduanya. Inget pandangan Adler tentang finalisme fiksional, kan? Kebenaran itu relatif.

b. Pengaruh masa lalu Bayangkan sebuah tanah liat. Kalo masih basah, tanah liat kan gampang dibentuk-bentuk tuh. Tapi semakin lama, tanah liat itu semakin keras kan? Kalo udah keras kita gak bisa membentuknya. Kalo dipaksa yang ada malah pecah.

Freud memercayai perilaku manusia mirip seperti itu. Semakin bertambah usia, semakin sulit untuk mengubah perilakunya. Bisa sih diubah, tapi butuh waktu lama.

Freud berpendapat bahwa masa kecil manusia merupakan masa paling kritis. Seluruh hidupnya dapat ditentukan di sini. Freud membagi perkembangan manusia menjadi lima fase: oral, anal, falik, laten, dan genital. Seluruh fase ini erat kaitannya dengan seksualitas. Bila tidak tercukupi, maka dampaknya akan keliatan pada perilakunya.

Adler pun sependapat, manusia dapat dipengaruhi oleh masa lalu.
Tapi bagi Adler bukanlah aspek seksualnya yang dapat mempengaruhi, tapi gimana cara orang tua memperlakukan anak tersebut. Diperhatiin apa nggak, ditantang mencari solusi sendiri apa nggak, diajak ngobrol apa nggak.

Dan buat Adler, masa lalu yang gak bahagia bukanlah akhir dunia. Kalo seseorang masih punya goal ke depan dan semangat untuk memperbaiki diri, maka orang tersebut masih bisa berubah.

biografi alfred adler, teori adler, teori alfred adler, teori psikologi individualistik
Selama ada kemauan, manusia bisa berubah

c. Motivasi Menurut Freud, dorongan hidup manusia berasal dari instingnya. Insting adalah sesuatu yang gak diproses oleh pikiran, muncul gitu aja.

Gampangnya gini. Kamu gak mikir “laper ahhh” baru kemudian laper, ya kan? Pastinya kalo udah lama gak makan, ya laper sendiri tanpa dipikir. Kalo udah laper, pasti pengen makan. Manusia bisa bertahan hidup berdasarkan dorongan untuk memuaskan insting tersebut.

Freud yakin bahwa dorongan seks juga adalah salah satu dorongan dasar manusia. Ini diketahui dari lima tahun perkembangan manusia, ia membagi lima tahun itu menjadi fase-fase pemenuhan seks, yaitu oral, anal, falik, laten, dan genital. Saya jelasin di lain kesempatan yaa.

biografi alfred adler, teori adler, teori alfred adler, teori psikologi individualistik
menurut Freud, dorongan seperti laper gak bisa dikontrol. sumber: newamericamedia.org

Adler memandang berbeda. Menurut Adler, proses berpikir berperan dalam menentukan dorongan kebutuhan.

Contohnya, kalo kamu yang muslim lagi puasa. Kamu gak berasa laper walaupun gak makan seharian. Itu karena kamu sadar kamu lagi puasa, jadinya gak berasa laper.

Kalo lagi gak bulan puasa, jam 11 belum sarapan aja kamu udah lemes kayak kanebo basah. Begitulah, menurut Adler proses berpikir juga menentukan dorongan.

Sementara Adler percaya bahwa manusia dimotivasi oleh dorongan sosial. Ia percaya bahwa kesadaran manusia adalah komponen powerful dalam menentukan pilihan dan menciptakan tujuan hidup.

d. Proses terapi Satu perbedaan pada metode terapi Adler dan Freud adalah pada metode pendekatan.

Adler lebih fokus pada saat ini. Metode terapi dengan hubungan yang akrab antara klien-terapis, menciptakan tujuan bersama, dan meyakinkan klien bahwa dia bisa berubah. Ruangan terapi Adler adalah model dua kursi  berhadap-hadapan, klien dan terapis duduk bersama gitu.

Metode Adler gak cuma pada penyembuhan, tapi juga pencegahan kemungkinan gangguan jiwa. Strategi pencegahan ini termasuk pemberian semangat, dorongan untuk lebih banyak bersosialisasi, dan pemusnahan perilaku yang memanjakan anak.

model konseling Adler. sumber: mainstreet.com

Freud lebih mengedepankan masa kanak-kanak kliennya. Metode Freud bisa berminggu-minggu, karena untuk menyelesaikan satu masalah aja terapis harus menggali masa lalu. Fokusnya juga “mengangkat” alam bawah sadar ke alam sadarnya. Bisa lewat hipnosis, interpretasi mimpi, gitu-gitu.

Model ruang terapi Freud berupa satu kursi untuk terapis/psikolog, dan satu kursi panjang atau ranjang untuk klien berbaring. Klien diminta untuk menerawang, nggak ngeliat ke terapis. Ini dimaksudkan supaya si klien bisa berbicara sepuasnya, menumpahkan semua yang ada di pikiran, ngalor-ngidul. Nanti terapisnya yang nyatet dan menginterpretasi. Mungkin akan nanya-nanya untuk menggali informasi tambahan, tapi nggak sering.


4. Adler dan Para Adlerian

biografi alfred adler, teori adler, teori alfred adler, teori psikologi individualistik
Adler bersama keluarga dan para Adlerian

 

4.1 Sejarah Adlerian

Adlerian itu apa sih?

Simpelnya sih, Adlerian adalah siapapun yang menerapkan psikologi individual dalam kehidupannya. Bisa seorang dokter, psikolog, terapis, guru, konselor, orang tua, bos, manajer, atau seorang mahasiswa.

Adlerian adalah mereka yang menolong siapapun yang butuh dorongan semangat. Mereka yang memberikan lingkungan belajar pada anak, memberikan anak kesempatan untuk mencoba sesuatu, dan memberikan perasaan dihargai pada anak. Adlerian memberikan anak penghargaan, sekaligus tantangan untuk berkembang menjadi manusia utuh.

Konseling sekolah juga biasanya merupakan adaptasi dari psikoterapi Adler, yaitu kursi yang diletakkan berhadap-hadapan.

Psikolog Adlerian percaya bahwa seperti apapun pengalaman seseorang di masa kecilnya, ia mampu mengubah hidupnya, kesehatan mentalnya, dan lebih jauh keberadaan hidupnya sebagai manusia utuh.

Psikologi Adlerian juga dapat dipakai oleh yang berasal dari kalangan psikologi dan orang awam. Adler merasa bahwa ilmu psikologi harus bisa digunakan dan dikembangkan semua orang, kalangan psikologi maupun bukan. Ia mempersilakan siapapun untuk memberi masukan dan menyebarkan semangat Adlerian.

Nama-nama besar seperti Maslow dan Carl Rogers juga merupakan penggemar karya-karya Adler. Karya-karya Abraham Maslow, Carl Rogers, dan Erich Fromm sedikit banyak dipengaruhi oleh psikologi individual Adler.


5. Fakta Lain dari Alfred Adler

  • Adik Adler meninggal tepat di sebelahnya, saat Adler berusia tiga tahun.
  • Adler kecil sering terlibat persaingan dan berantem sama kakaknya yang bernama SIGMUND Adler. Saat dewasa, Adler terlibat perselisihan dengan, siapa lagi kalo bukan, SIGMUND Freud.
  • Di usia muda, Alder menyukai ideologi sosialis. Saat kuliah ia belajar banyak tentang ideologi tersebut, dan sering pula menyumbang tulisan untuk koran sosialis.
  • Adler risih dengan anggapan bahwa ia muridnya Freud. Pada 1929 Adler menunjukkan sebuah kartu pos lama dari Freud pada reporter New York Herald. Adler ingin membuktikan kalo Freud bukanlah gurunya, justru sebenarnya Freud-lah yang sering mencari Adler untuk ngomongin ide.
  • Kata terakhir yang diucapkan Adler adalah “Kurt”, nama anaknya.

 6. Quote dari Alfred Adler

biografi alfred adler, teori adler, teori alfred adler, teori psikologi individualistik

“Mereka yang tidak tertarik dengan sesama manusia adalah yang mengalami kesulitan terbesar dalam hidup. Dari manusia seperti inilah, seluruh kegagalan manusia berasal.”

“Mereka yang normal adalah mereka yang tidak kamu kenal dekat”


sumber:
Adler, A., & Fleisher, L., (1988, December) The Child’s Inner Life and a Sense of Community.
Individual Psychology: The Journal of Adlerian Theory, Research & Practice Vol. 44(4), p. 417.
Corey, G. (2009). Case approach to counseling and psychotherapy (7th ed). Belmont, CA: Thomson Brooks/Cole.
Fisher, M. (2001). Alfred Adler. Muskingum College Department of Psychology. Retrieved from http://elvers.us/hop/index.asp?m=3&a=65&key=117
Freud, S., Fodor, N., & Gaynor, F. (1958). Freud dictionary of psychoanalysis. Greenwich, CT: Fawcett.
Lehtonen, J. (2010). Dimensions in the dialogue between psychoanalysis and neuroscience. International Forum of Psychoanalysis, 19(4), 218-223. doi: 10.1080/0803706X.2010.499136
Putnam, J. (1917). The theories of Freud, Jung and Adler: I. The work of Sigmund Freud.
Journal of Abnormal Psychology, 12(3), 145-160. doi: 10.1037/h0071967
Sax, L. (2000). The future of Freud’s illusion. World & I, 15(8), 263-283.
Prof. Dr. Klaus Lohrmann “Jüdisches Wien. Kultur-Karte” (2003), Mosse-Berlin Mitte gGmbH (Verlag Jüdische Presse)
Hoffman, Edward, The Drive For Self: Alfred Adler And The Founding Of Individual Psychology, Addison-Wesley, 1994
Orgler, Hertha, Alfred Adler, International Journal of Social Psychiatry, V. 22 (1), 1976-Spring
https://www.verywell.com/alfred-adler-2795502

http://www.thefamouspeople.com/profiles/alfred-adler-660.php

https://en.wikipedia.org/wiki/Alfred_Adler

https://en.wikipedia.org/wiki/Birth_order

http://journalpsyche.org/alfred-adler-personality-theory/

http://alfredadler.edu/about/theory
https://takalarpunk.wordpress.com/filsafat/teori-psikoanalisis/
https://www.ukessays.com/essays/psychology/sigmund-freud-and-alfred-adler-psychology-essay.php

 

Author: Robi Maulana

Dalang sesungguhnya di balik PsikologiHore. Suka ngopi tapi kopi nggak suka sama dia.

2 Replies to “Biografi Alfred Adler

  1. hai, terimakasih atas artikelnya ^^ boleh nanya ?
    kalau dalam dunia psikologi ada perbedaan pendapat gini… mahasiswa ataupun yang udh sarjana.. gimna cara mereka belajar ? gmna cara mereka nntukan teori siapa yang tepat di gunakan untuk menyelesaikan atau diterapkan di suatu kondisi ?

    1. halo haifa, terimakasih sudah mampir 🙂

      para psikolog yang saya tahu biasanya memiliki aliran yang disukai. ada yang memilih pendekatan psikoanalisa dalam berkomunikasi dengan klien, ada juga yang menggunakan pendekatan behavioristik.

      tapi, dalam praktiknya psikolog nggak terpaku sama satu pendekatan sih. psikolog biasanya melihat kondisi yang dihadapi, lalu penerapannya menyesuaikan mau pakai teori siapa. makanya, walaupun psikolog “menyukai” satu pendekatan, dia tetap harus mempelajari pendekatan lain.

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)