Waktu baca yang dibutuhkan: 4 menit

Seorang teman bikin twit seperti ini:

Jika harus memilih baik atau benar, pilihlah baik 🙂

Sebuah twit yang inspiratif, namun waktu membacanya saya agak tergelitik.

Iklan!

Soalnya gini: mengapa harus memilih baik jika itu nggak dibenarkan?

Misalnya dua orang melakukan hubungan seks di luar nikah atas dasar saling mencintai. Cinta itu baik, tapi apakah seks pranikah dibenarkan? Bukankah seks di luar nikah di negara kita ilegal?

 

Atas pertimbangan itu, saya kemudian ngebales twit temen dengan menulis kayak gini:

“Tapi baik belum tentu benar :(”

 

Baik itu subyektif. Kita semua punya pertimbangan berbeda soal apa yang menurut kita baik dan apa yang nggak. Ini karena kita semua punya pengalaman dan pertimbangan yang beda-beda.

Mencuri susu misalnya. Buat kamu yang mencuri karena terpaksa mungkin ngerasa itu baik. Tapi pemilik toko yang susunya dicuri? Karyawan toko yang harus mengganti kerugian? Lalu orang-orang yang gak mencuri tapi dicurigai mencuri? Mereka tentu merasa itu bukan tindakan yang baik kan.

Ini berbeda dengan mengikuti kebenaran. Benar itu absolut. Satu tambah satu sama dengan dua. Nggak ada jadi empat atau tujuh ratus.

Jika dua orang berbeda pendapat tentang kebenaran, maka tinggal sepakati saja rujukan ilmu yang sama, dan biarkan ilmu itu memberikan penghakiman.

Jika Harus Memilih Baik atau Benar

 

Menurut psikologi. pilihan kamu soal mengikuti benar atau baik berbicara lebih lanjut soal tipe kepribadian kamu.

 

Di dalam mbti, ada trait T dan F, bicara tentang thinking dan feeling. Trait thinking dan feeling bicara tentang oknum yang mana sih yang jadi pertimbangan kamu dalam mengambil keputusan.

Kalo menyelesaikan konflik atau masalah, kamu pilih pake pikiran, atau pake perasaan kamu? Mana yang paling menguasai kamu, emosi atau logika?

Kalo dominan T, berarti kamu lebih banyak mempertimbangkan pake logika. Di satu sini kamu jadi adil, tapi kamu cuek dan emotionally distant.

Kalo dominan F, kamu lebih banyak menggunakan perasaan. Kamu peduli dan berempati, tapi emosi kamu naik turun dan gampang dipengaruhi mood.

 

Kalo pake Kepribadian Big Five, maka ada beberapa trait yang terlihat sekaligus. Misalnya kalo kamu memilih mengikuti kebaikan dibanding kebenaran, maka trait yang terlihat adalah kamu punya keterbukaan terhadap pengalaman yang baik, agreeableness yang baik, tapi conscientiousness kamu rendah.

Kamu mudah menerima hal baru dan kamu berbelas kasih, tapi kamu subyektif dan kadang nggak bisa mengerjakan sesuatu dalam jangka panjang.

 

Terus gimana nih, memilih benar apa baik? Jika harus memilih baik atau benar, pilih mana?

Antitesis yang saya omongin panjang lebar barusan bukan untuk bikin saya keliatan sebagai manusia paling adil dan paling logis.

Tentu saja kita butuh belas kasih. Kata hati dan kebaikanlah yang membuat manusia bergerak maju, dan bukannya saklek pada aturan.

Hans Zimmer, seorang komposer terkenal, bilang,”If somebody tells you there’s a rule, break it. It’s the only thing that moves things forward.” Melanggar aturan sesekali diperlukan, karena dari sanalah kita bergerak maju.

 

Baik adalah kata hati. Sayangnya kita acap gagal memfilter mana yang beneran kata hati dan mana yang cuma nafsu. Makanya muncullah kawin lari, selingkuh, plagiat skripsi orang biar cepet nikah, dan lain-lain.

Dan kadang kita gagal pula bersikap belas kasih terhadap mereka yang membutuhkan. Keadilan tanpa hati telah menyebabkan seorang nenek harus mendekam di penjara.

Lihat kan? Memilih satu sisi dan meninggalkan yang lain hanya menciptakan kenelangsaan. Kita nggak harus menjadi hitam dan putih. Hidup nggak pernah seperti itu.

 

Maka, jika memang harus memilih baik atau benar, pilihlah keduanya. Pilihlah kebaikan yang dibenarkan. Dan pilihlah kebenaran yang baik.

Lihat juga kondisi dan situasinya. Lihatlah dari berbagai perspektif, dan lihatlah berbagai ilmu yang ada. Dari sanalah kamu akan menemukan berapa dosis benar yang diperlukan, dan berapa dosis baik yang dibutuhkan.

 

Anyway, saya lagi nulis tes mbti versi PsikologiHore nih. Udah selesai tapi jumlah pertanyaannya masih kebanyakan. Ntar kalo udah dicoba dan pertanyaannya diseleksi, saya rilis di sini.

Author: Robi Maulana

Dalang sesungguhnya di balik PsikologiHore. Suka ngopi tapi kopi nggak suka sama dia.

2 Replies to “Jika Harus Memilih Baik atau Benar

  1. Ini website psikologi yg keren banget, baguuus, sukaa 😆👏 , isi lebih banyak materi psikologi atau apapun yg berkaitan psikologi ya kak! Langsung aku save websitenya biar dapat info terbaru terussss hehehe 😍

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)