Waktu baca yang dibutuhkan: 4 menit

Kenapa ya orang-orang suka banget foto selfie? Adakah alasan psikologis di baliknya?

 

Kamu pasti pernah melakukan selfie. Mungkin nggak kamu upload, tapi pasti pernah nyoba.

Nggak heran sih. Jaman sekarang uda canggih, nyaris semua hape kamera depannya lumayan bagus buat selfie. Apalagi sekarang kamera depan rata-rata kamera jahat, yang bikin muka kamu jadi kinclong.

Dan dengan semakin mudahnya kita mengakses kamera, swafoto alias selfie menjadi aktivitas normal, bahkan sebagian orang suka banget melakukannya.

Malah, dari riset yang dilakukan oleh Opinium pada 2013, ditemukan kalo dalam sehari ada lebih dari satu juta foto selfie yang dijepret! Ini menunjukkan kalo selfie memang jadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kaum millenials.

Tapi kenapa sih ada orang yang suka banget selfie? Apa sih alasan psikologis di baliknya?

Ada beberapa alasan yang yang bisa diungkap terkait fenomena foto selfia yang terjadi dari aspek psikologi sosial. Apa aja sih?

 

Selfie adalah cara kita membaur ke masyarakat

Tujuan selfie sebenernya jauh lebih dalam dibandingkan sekedar memperlihatkan wajah. Foto selfie yang diunggah di sosial media adalah upaya kita untuk memperlihatkan eksistensi diri.

Misalnya kalo seseorang mengaplot foto selfie dia lagi di tempat jalan-jalan hits. Itu artinya dia pengen bilang ke dunia kalo,”hey! aku lagi jalan-jalan di tempat hits ini lo!”

Terus kenapa kita ngeksis di media sosial? Tujuannya nggak lain adalah untuk mendapatkan apresiasi.

Foto selfie dibuat untuk “memodifikasi” identitas sosial kita, dengan cara menonjolkan hal positif dan mengurangi yang jelek-jelek.

Pada dasarnya kita semua seneng diapresiasi. Orang yang aplot selfie akan merasa puas kalo fotonya banyak yang ngelike atau ngomen. Itu artinya dia dan selfienya disukai sama khalayak. Syukur-syukur dapet endorse.

Tapi kalo misalkan dia ngaplot selfie, terus yang ngelike cuma akun pelangsing sama akun obat penyubur rambut, biasanya sih dia mikir kira-kira apa yang salah.

Mungkin aja kemudian dia berusaha melakukan foto selfie yang lain, tapi dibenerin sampe dapet like yang agak banyakan.

orang yang tidak suka selfie, kepribadian orang yang suka selfie, selfie secara psikologis, penyakit suka selfie, selfie tanda gangguan jiwa,

Selfie sendiri gak pernah nggak sengaja. Mungkin ada orang yang niat banget sampe beli kamera bagus, atau beli lampu led kecil (gatau namanya) biar lebih wow. Mungkin ada juga yang cuma selfie ala kadarnya. Tapi tujuannya sama aja: memperlihatkan eksistensi diri, sambil berharap diterima di masyarakat.

Si pengupload selfie memang merancang selfienya cukup bagus untuk dilihat oleh orang lain. Nggak hanya mukanya doang, mungkin ditambahin ornamen lain kayak stiker lokasi, latar belakang, dan lain-lain, pokoknya macem-macem elemen yang memang tujuannya buat ngeksis.

Itulah kenapa kritikus seni Alicia Eler sampe bilang kalo saat ini, kita menjadi fans sekaligus paparazzi bagi diri kita. Semua-semua diupload, semua-semua dikasih tau, padahal nggak ada yang nanya dan nggak ada yang minta.

 

Selfie adalah cara kita mengeksplorasi diri

Cewek biasanya pernah melakukan selfie berkali-kali tapi tetep nggak nemu yang dia suka.

Ketika seseorang selfie berkali-kali, dia lagi menuntaskan keinginannya untuk memahami diri sendiri dari segi visual.

Makanya kadang kita selfie pake aksesoris macem-macem, atau pake filter dan stiker-stiker. Itu adalah cara kita untuk melihat diri sendiri dalam berbagai cara, dan menemukan mana sih yang paling luvchu.

Dalam sebuah diskusi panel tentang selfie, seorang neuroscientist James Kilner bilang, “kita rela memfoto diri sendiri berkali-kali sampe ketemu foto yang paling cocok dengan persepsi ideal diri kita.”

orang yang tidak suka selfie, kepribadian orang yang suka selfie, selfie secara psikologis, penyakit suka selfie, selfie tanda gangguan jiwa,

 

Ada Kadar Narsisistik di Dalam Diri Kita

Kami di PsikologiHore pernah ditanya,”apakah orang yang suka selfie adalah orang yang narsis?”

Iya, orang suka selfie karena ada narsisistik di dalam dirinya.

Dalam sebuah penelitian pada 2016 ditemukan kalo kadar narsis mempengaruhi tingkat keseringan kita dalam mengunggah selfie di situs jejaring sosial. Kamu pun kadang mikir,”ini orang narsis amat sih” saat ngeliat orang yang IG storynya udah kayak jahitan karung beras.

Lalu, apa iya orang yang suka selfie adalah tanda gangguan jiwa?

Ya nggak lah! Sebenernya narsis sendiri nggak selalu berarti jelek.

orang yang tidak suka selfie, kepribadian orang yang suka selfie, selfie secara psikologis, penyakit suka selfie, selfie tanda gangguan jiwa,

Pamela Rutledge dari Media Psychology Research Center, bilang kalo narsisistik yang sehat pun ada juga. Narsis yang sehat adalah bentuk kita dalam mencintai dan menghargai diri sendiri, dan penghargaan kita terhadap diri sendiri juga bagus buat kesehatan mental.

Lebih jauh, Rutledge bilang kalo kita semua ada kadar narsis, cuma emang beda-beda tiap orang.

Dan perlu kita tegasin juga kalo sekedar narsis beda sama gangguan kepribadian narsisistik. Kita udah pernah bahas di sini, jadi silakan dibaca yes.

 


 

NAH! Itu tadi pembahasan tentang kenapa sih orang suka selfie.

Intinya sih suka selfie bukan hal yang jelek kok, ada alasan psikologis di baliknya. Yang penting tetep dipikirin kira-kira ngeganggu nggak kalo kita kelewat sering mengupload foto.

Soalnya media sosial tetep aja ruang publik, yang kenyamanannya harus dipikirin bersama.

Kamu ada cerita soal selfie? Cerita sini dong ke kita-

3 Replies to “Kenapa Sih Orang Suka Selfie?

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)