13 Hal Kecil yang Nggak Psikolog Katakan

Psikolog adalah manusia setengah magic. Di mata banyak orang, mereka adalah manusia murah senyum, sabar, dan bijaksana.

Namun di balik pekerjaan mereka sebagai psikolog, ada beberapa hal yang sering sekali psikolog temui dan rasakan.
Mereka pengeeen banget mengatakan ini ke klien, tapi mereka memilih untuk bungkam.

Ijinkan saya untuk mengutarakan beberapa.
Dengan begitu, kamu yang mau ke psikolog bisa lebih paham tentang mereka.

Siap?

1. Kadang-kadang psikolog pengen marah sama klien

Psikolog berusaha memberikan yang terbaik untuk kliennya. Entah itu dalam bentuk terapi, tugas yang harus dikerjakan di rumah, saran… pokoknya, psikolog berusaha sekuat tenaga buat kebaikan klien.

Tapi, masalahnya… kadang-kadang klien keras kepala. Terapi terputus di tengah jalan, tugas nggak dikerjakan, saran nggak didengar… Ini kadang-kadang bikin para psikolog geregetan pengen ngomel ke klien.

 

2. Kadang psikolog ngomongin kamu ke psikolog lain

Memang sih ada peraturan bahwa psikolog dilarang membicarakan kliennya ke orang lain. Kalau ketauan, izin praktik dan gelarnya bisa dicabut.

Tapi ada pengecualian lo untuk ini. Psikolog boleh ngomongin permasalahan kliennya ke psikolog lain, selama tujuannya untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman.

Dan yang paling penting, identitas klien harus tetap dirahasiakan.

Boleh ngomongin, tapi cuma ke sesama psikolog.

 

3. Sometimes they don’t practice what they preach

Seorang psikolog yang saya kenal bisa menghentikan kebiasaan merokok.

Melalui hipnosis, klien bisa berhenti merokok dalam sekali duduk.

Uniknya, si psikolog ini adalah perokok berat.
Kata beliau,”kenapa saya harus berhenti merokok? wong saya merasa baik-baik saja“.

Kadang-kadang psikolog tidak mempraktikkan apa yang mereka sarankan.

Kaget? Hehehe. Tapi bukannya itu wajar ya?

Contohnya kayak pelatih bola. Apakah pelatih bisa melakukan yang ia minta pada pemain? Belum tentu.

Tapi, pelatih bisa melihat potensi dan batasan yang pemainnya belum tentu sadari!

Gitu juga dengan psikolog. Bisakah psikolog melakukan yang ia katakan pada kliennya? Belum tentu.

Tapi psikolog dibekali dengan keterampilan memahami karakter, batasan, dan potensi orang lain.

Pemahaman inilah yang ia gunakan untuk memberikan saran pada klien. Si psikolog mungkin nggak bisa melakukan yang ia sarankan. Soalnya, potensi dan karakternya mungkin nggak sama dengan kliennya.

Toh, tiap orang beda-beda. Iya apa iya? 😉

4. Mereka bukan Wikipedia

Psikolog bukan wikipedia dan google, yang bisa menjawab semua masalah.

Psikolog punya satu kebiasaan: kalau ditanya, dia akan bertanya balik.

Kamu jangan marah kalau mereka nggak  langsung menjawab masalahmu. Jiwa bukan matematika, yang 1+1 selalu 2. Dalam jiwa, nggak ada sebab yang super pasti.

Makanya psikolog jarang ngasih solusi langsung. Bahkan, kadang mereka pun akan sama bingungnya denganmu.

Tapi satu hal yang diyakini para psikolog: jawabannya sudah ada, cuma belum keliatan.
Bersabarlah, ceritakan semua yang kamu tau. Kalau ke psikolog, beberkan semua yang kamu pikirkan.

Psikolog akan menguraikan pikiranmu yang kusut, membentangnya di hadapanmu, dan jawaban itu akan kamu lihat sendiri.

 

Semua yang baik butuh waktu.

 

5. Mereka tidak kerja ginian demi uang

Kalau dihitung dari profit, uang sebagai psikolog  nggak sebanding sama capeknya.
Makanya psikolog juga sekalian buka biro psikologi. Ada juga yang jadi trainer.

Tapi, mereka yang melakukan praktik dan penanganan klien murni melakukannya untuk pengabdian.
Ada rasa puas yang terbayarkan bila klien berhasil menangani masalahnya.

 

6. Kalau nggak mau berubah, jangan ke psikolog deh!

Terapi adalah proses dua arah. Kalau cuma psikolog yang kerja, percaya deh terapi nggak akan berhasil!

Klien juga harus kerja sama. Nggak boleh rewel, nggak boleh cengeng, nggak boleh banyak alesan.

Tapi kalau kamu mau bekerja sama dan memberikan tanggapan, proses terapi akan berjalan lebih efektif.

Malah bisa aja jadi lebih cepat dari yang diharapkan. Lumayan kan, bisa hemat duit.

 

7. Ada di antara kami yang kurang terlatih

Tiap psikolog berbeda-beda. Baik dari karakter, kecakapan, dan pengalamannya.

Ada sebagian psikolog yang punya bermacam-macam kemampuan. Setelah lulus, ia membekali dirinya dengan bermacam-macam training, dan melahap buku serta jurnal penelitian.

Ada juga psikolog yang habis lulus nggak pegang-pegang buku lagi. Gitu juga ada. Ada juga yang baru lulus, alias masih minim pengalaman.

Lalu, apakah perlu datang ke yang paling berpengalaman?
Yaaa belum tentu juga. Biasanya makin jago psikolog, tarifnya juga lebih waw.

Tanyakan dirimu sendiri: seberapa parah masalahmu? Perlukah penanganan kelas dunia, atau psikolog yang biasa saja mungkin cukup untuk menangani?

Kalau kamu ngerasa biasa aja, yaa dateng ke psikolog muda juga nggak apa-apa. Lagian kalau ternyata masalahmu parah, dia akan mengopermu ke temannya yang lebih ahli kok.

 

8. Kamu mungkin nggak cocok sama saya

Saya pernah bahas ini di sini.

Tiap psikolog beda karakter. Ada yang bakal cocok sama kamu, ada yang nggak.
Liat gayanya lagi sih…

Kalau kamu sukanya dilembut-lembutin, cari aja psikolog yang lembut.
Kalau butuhnya yang tegas, carilah psikolog yang “menggigit”.

 

9. BERHENTI NGOMONG DOONNNGGG!!!!

Jadi psikolog memang perlu sabar.

Tapi ada juga saatnya mereka menyembunyikan tangan di kolong meja, meremas pena sampai hampir patah. Itu terjadi kalau ketemu klien yang nggak bisa diem.

Ada saatnya mereka kayak senyum manis, tapi dalem hati mereka teriak,”UDAH WOY OGUT LAGI YANG NGOMONG!”

Ya… jadi psikolog memang perlu sabar. Yang banyak.
Beli sabar di mana, ngomong-ngomong?

 

10. Kami mungkin akan ngasih PR.

Ya, proses penanganan tidak hanya terjadi saat kamu lagi konsultasi. Proses penanganan masalah justru lebih banyak terjadi di rumah.

Layaknya dokter yang nyuruh kamu minum obat, psikolog juga kadang ngasih PR.
Mungkin kamu disuruh nyatet dinamika emosi kamu selama beberapa hari.
Mungkin kamu perlu mencatat waktu-waktu saat gangguanmu kambuh.

Kalau psikolog ngasih PR, kerjakan ya. Biar masalahnya cepet selesai.

 

11. Kami tahu kok kalau kamu bohong.

Kita nggak tau apa yang orang sembunyikan, tapi kita bisa tau kelakuan orang bohong.
Ya kan?

Kita yang biasa aja tau, apalagi psikolog.
Psikolog lebih jago lah ngeliat ciri-ciri klien lagi bohong. Dia cuma diem aja.

Keliatan banget lo ekspresi psikolog pas tau kliennya bohong. Ada yang nahan senyum, ada yang sorot matanya jadi dingin. Ada yang ngangkat alis.

Tapi satu hal yang sama: psikolog berlagak percaya.

Paling-paling nanti juga klien ngaku sendiri.

 

12. Mereka nggak naksir kamu.

Psikolog akan menanyakan kabarmu.

Saat kamu menangis, dia akan menyediakan tisu buatmu. Gaya ngomongnya lembut, menenangkan gundahmu. Perhatiannya selalu ada untuk keluh kesahmu. Pokoknya the best banget lah.

Namun harap diingat: itu bukan bentuk cinta.
Si psikolog bukan naksir kamu. Dia cuma melaksanakan kerjaannya.
Jadi bales aja chatnya. Tapi nggak usah kegeeran.

 

13. Kalau ketemu kami di tempat umum, santai aja

Mungkin suatu saat kamu akan berpapasan dengan psikologmu.
Kamu panik, mau nyapa tapi nggak enak. Apalagi kalau dulu kamu ke psikolognya nggak cerita siapa-siapa.

Apa yang harus dilakukan?

Tenang ajaaa. 

Psikolog kadang lupa sama mantan kliennya.

Kalaupun inget wajahmu, mungkin udah lupa sama masalahmu. Jadi, kalau ketemu mereka di tempat umum, santai aja.

Pura-pura nggak kenal juga nggak apa-apa. Mereka ngerti kok.

 


 

Content writer dan dalang di balik PsikologiHore. Kerjaannya menulis, menggambar, dan menghabiskan stok kopi di dapur.

Robi Maulana

Content writer dan dalang di balik PsikologiHore. Kerjaannya menulis, menggambar, dan menghabiskan stok kopi di dapur.

You may also like...