10 Penelitian Terlarang di Psikologi


10 penelitian di psikologi yang sekarang nggak boleh dilakukan.

Penelitian itu penting. Karena makin sering dilakukan penelitian, maka ilmu pengetahuan bakal makin berkembang. Makanya setiap tahun, bahkan mungkin setiap hari, penelitian baru terus menerus muncul.

Di psikologi juga gitu. Tiap bulannya pasti ada artikel baru tentang penelitian, dari jurnal dalam negeri maupun internasional. Penelitian juga jadi syarat wajib buat kamu yang mau wisuda, dan juga buat dosen yang mau jadi profesor.

Penelitian sebenernya bebas, tapi tetep ada juga batasannya. Kita nggak boleh asal melakukan eksperimen, apalagi yang sifatnya menyakiti fisik dan jiwa subyek penelitian.

Kalo dulu, sebelum jaman peran dunia misalnya, penelitiannya masih bebas banget. Makanya jaman dulu banyak eksperimen berbahaya yang diujikan langsung ke manusia. Itulah sebabnya dulu ada juga penelitian-penelitian yang sempat dilakukan yang sekarang udah terlarang.

Berikut ini penelitian kontroversial di psikologi, yang kini terlarang untuk dilakukan.

1. Penelitian Albert Kecil

Pada 1920, John B. Watson melakukan penelitian mengenai classical conditioning.
Classical conditioning
adalah cara “memodifikasi” perilaku seseorang (bisa manusia atau hewan) dengan menggunakan perlakukan tertentu.

Cara pemodifikasian ini bisa menciptakan refleks pada sesuatu yang tadinya nggak berarti apa-apa.

Watson menguji classical conditioning pada balita 9 bulan, yang dalam penelitian ia sebut “Albert”.
Albert awalnya adalah anak yang suka binatang, terutama tikus putih.

Dalam penelitian, Watson memberi tikus putih pada Albert sambil memberikan suara-suara keras yang mengagetkan. Albert yang tadinya suka tikus putih, gara-gara ada suara keras, jadi takut pada hewan itu.

Penelitian semacam ini sekarang dianggap nggak etis.
Kenapa?

Karena, Watson mengabaikan dampak buruk pada objek penelitiannya, yang dalam hal ini adalah kemungkinan fobia dan trauma psikologis.

Meskipun dilarang, tapi classical conditioning pernah meraih hadiah Nobel, karena merupakan salah satu tonggak modifikasi perilaku pada manusia dan hewan.


2. Penelitian Konformitas Asch

Konformitas itu apa sih?
Konformitas, bahasa gampangnya, adalah perilaku ikut-ikutan.

Misalnya kamu naik motor terus berhenti di perempatan.
Padahal masih lampu merah. Tapi ketika orang-orang ada yang nerobos lampu merah, kamu ikut-ikutan nerobos juga. Rasanya salah sih, tapi karena semua orang gitu, ya kamu ikut aja.

Itu namanya konformitas.

Solomon Asch melakukan penelitian mengenai konformitas.
Pada penelitian ini, Asch membuat sekelompok orang yang bertugas mencocokkan panjang garis.

Tersedia tiga garis dan satu garis contoh. Masing-masing orang diminta untuk memilih satu dari tiga garis yang mana yang panjangnya hampir serupa dengan garis contoh.

Dalam sekolompok orang tersebut ada aktor, yang menyebutkan jawaban benar dua kali lalu mengubah jawaban menjadi jawaban salah. Tujuannya adalah menciptakan keraguan pada partisipan. Asch ingin melihat siapa yang akan ragu dan ikut-ikutan memberi jawaban salah.

Hasilnya, 37 dari 50 partisipan memilih jawaban yang keliru, gara-gara konformitas.
Penelitian ini sekarang nggak boleh dilakukan karena ada aktor dalam prosesnya, dan subyek nggak diberi tahu soal aktor tersebut.

Jaman sekarang, transparansi penelitian sangat diperlukan untuk mencegah penyalahgunaan partisipan.
Peneliti harus jujur di awal, subyek mau diapain dan ada apa saja di penelitian tersebut.


3. Penelitian Orang Sekitar

Pernah nggak kamu melihat seseorang kecelakaan di jalan rame, tapi bukannya nolongin, orang-orang cuma melihat dan bahkan merekam?

Keenggakpedulian ini disebut “bystander effect” atau efek orang sekitar (ini terjemahan saya).

Keanehan ini kemudian coba dijawab oleh John Darley and Bibb Latané dengan sebuah penelitian.
Kedua peneliti kemudian melakukan eksperimen.

Partisipan diminta mengisi survey sendirian di satu ruangan.
Selama proses pengisian, asap (yang nggak bahaya) kemudian dihembuskan ke ruangan.

Penelitian menunjukkan bahwa partisipan yang sendirian lebih cepat melaporkan asap dibandingkan partisipan yang mengisi bareng-bareng.

Ini menunjukkan bahwa kita merespon bahaya lebih cepat bila kita sendirian.
Kalau rame-rame, kita cenderung saling menyerahkan tanggung jawab pada orang lain.

Eniwei, penelitian semacam ini dilarang karena menimbulkan bahaya psikologis ke partisipan.
Asap yang dihembuskan, walaupun nggak bahaya, tetap aja menimbulkan kepanikan.


4. Eksperimen Kepatuhan Milgram

Salah satu penelitian paling menggemparkan di psikologi.

Penelitian ini dimula dari sebuah pertanyaan: kenapa banyak sekali tentara Jerman yang mau terlibat dalam kekejaman dan penyiksaan seperti Holocaust?

Masa iya tentara Jerman semua jahat?
Apa iya semuanya benci Yahudi dan gipsi?

Stanley Milgram menduga penyebabnya adalah kepatuhan terhadap figur yang berkuasa.
Menurut Milgram, nggak semua tentara Jerman jahat. Mereka hanya patuh terhadap atasan.
Untuk membuktikannya, ia melakukan eksperimen mengenai kepatuhan.

Partisipan diberitahu bahwa mereka melakukan penelitian tentang memori.
Tiap penelitian terbagi jadi dua orang: satu jadi “guru” dan satunya jadi “murid”.

Guru dan murid kemudian berada dalam ruangan bersekat, dan guru kemudian diberikan instruksi.
Bila murid salah menafsirkan instruksi, guru akan menekan tombol listrik.

Tombol listrik ini menyengat murid, semakin lama semakin menyakitkan.
Walaupun tahu sengatan ini menyakitkan, si guru tetap menekan tombol.

Ketika voltase di mesin sudah masuk level berbahaya, hampir semua guru ragu untuk memencet tombol.
Mereka akan melirik ketakutan ke arah Milgram, dan selanjutnya memencet tombol dengan rasa bersalah.
Beberapa dari mereka menangis setelah melakukan penelitian itu.

Eh, saya udah bilang belum kalau “murid” adalah bagian dari peneliti?
Jadi sebenarnya sengatan itu hanyalah akting, mesinnya bohongan.
Tapi, si partisipan asli (yang jadi guru) nggak tahu.

Milgram menyimpulkan bahwa mayoritas partisipan mengikuti perintah karena kepatuhan terhadap peneliti.
Penelitian Milgram ini sempat jadi hits dan banyak diperbincangkan di masanya.

Walaupun fenomenal, penelitian semacam ini sekarang dilarang.
Soalnaya, menimbulkan bahaya psikologis pada partisipan, karena rasa bersalah akibat harus menyakiti orang lain.


5. Eksperimen Kera Harlow

Pada 1950, Harry Harlow menguji ketergantungan balita terhadap figur lain.

Dalam penelitian ini Harlow menggunakan kera rhesus.

Kera ini dipisahkan dari ibu aslinya, lalu digantikan dengan dua ibu lain.
Satu terbuat dari kain, satu terbuat dari kawat. Kera dari kain nggak memberi manfaat selain rasa nyaman, sementara kera dari kawat dilengkapi dengan botol susu.

Selama penelitian, bayi kera lebih banyak menghabiskan waktu dengan kera kain dibandingkan kera kawat. Bahkan saat bayi kera ditakut-takuti sama Harlow, bayi kera memilih memeluk kera kain, bukan kera kawat.

Penelitian Harlow ini dihentikan pada 1985 karena bertentangan dengan peraturan APA soal perlakuan yang nggak pantas terhadap hewan.

Ini juga membuktikan bahwa uang dan materi nggak bisa menggantikan rasa nyaman. Asik.


6. Ketidakberdayaan yang Dipelajari

Satu lagi penelitian yang menyakiti hewan.

Pada 1965, Martin Seligman menguji ketidakberdayaan pada hewan. Caranya adalah meletakkan seekor anjing dalam kotak yang dipisahkan oleh sekat.

Anjing itu lalu disetrum, dan setruman akan berhenti kalau anjing itu loncat ke bagian kotak seberangnya.
Semakin lama penelitian berjalan, anjing akan menyadari cara menghindari disetrum.

Pada penelitian berikutnya, Seligman mengumpulkan sekelompok anjing lalu menyetrum mereka dalam rentang waktu yang acak. Lalu, anjing-anjing ini ditempatkan dalam kotak bersekat, lalu setruman akan dihentikan bila anjing melompati sekat tersebut.

Walaupun setruman dapat dihentikan dengan loncat, tapi anjing-anjing ini nggak mencoba.
Mereka hanya gemetar dan meringkuk ketakutan, yang menunjukkan adanya kepasrahan dan rasa nggak berdaya.

Kasian ya?


7. Eksperimen Muzafer Sherif

Pada musim panas 1954, Muzafer Sherif melakukan eksperimen yang ia sebut “Robbers Cave Experiment“.

Eksperimen ini dilakukan untuk menguji dinamikan suatu kelompok saat menghadapi konflik.
Sekelompok ABG dibawa ke perkemahan musim panas, namun mereka nggak tau bahwa mereka sedang jadi “kelinci percobaan” penelitian.

Anak-anak ini lalu dipisahkan menjadi dua kelompok dan nggak bertemu sama sekali. Dua kelompok ini cuma bertemu untuk perlombaan-perlombaan kecil yang butuh persaingan. Untuk meningkatkan tensi permusuhan, peneliti memberikan sistem poin.

Sherif lalu menciptakan masalah, seperti kurangnya air dan bahan makanan. Hal ini membuat kedua kelompok menjadi bersatu dan kerja sama. Setelahnya, kelompok besar ini jadi kuat dan nggak terpisahkan.

Walaupun kayaknya simpel dan nggak berbahaya, penelitian seperti ini sekarang dilarang karena anak-anak tersebut nggak tahu sedang dijadikan obyek penelitian.


8. Penelitian Gagap Wendell Johnson

Kenapa seseorang jadi gagap?
Faktor genetik kah, atau karena salah perlakuan?

Pada 1939, Wendell Johnson dan kawan-kawan berusaha menemukan sebabnya dengan mencoba mengubah 22 anak-anak yatim jadi gagap.

Setengah dari mereka diberikan perlakuan dan pengajaran positif, sementara sisanya dibentak-bentak.
Penelitian ini kemudian nggak berhasil. Malah, subyek yang dibentak-bentak jadi memiliki self-esteem yang rendah.

Penelitian semacam ini sekarang udah nggak boleh karena menimbulkan trauma psikologis.

Penelitian ini juga dianggap nggak sah oleh pihak penguji saat itu.


9. Penelitian Mata Cokelat dan Mata Biru

Kenapa seseorang jadi rasis?
Kenapa kita membeda-bedakan seseorang dari ras, agama, dan gender?

Jane Elliott adalah guru SD biasa, namun yang ia lakukan menjadi perhatian psikolog pada masanya.

Pada 1968, ketika isu rasial dan diskriminasi masih sedemikian pekat, Jane melakukan percobaan dengan membagi siswanya menjadi yang bermata cokelat dan yang bermata biru. Jane ingin mengetahui apa sih dampak dan penyebab diskriminasi.

Setelah membagi, Elliott menceritakan penelitian hoax yang bilang salah satu kelompok lebih superior dibanding yang lain. Selama seharian, kelompok superior mendapat perlakuan spesial.

Kelompok superior kemudian menjadi songong, sementara yang inferior merasa minder.

Percobaan Elliott ini menerima banyak kecaman, karena menimbulkan perpecahan yang nggak perlu. Percobaan ini juga nggak boleh dilakukan lagi karena efek pasca percobaan (perasaan superioritas dan inferioritas) mungkin akan permanen.


10. Eksperimen Penjara Stanford

Pada 1971, Philip Zimbardo melakukan percobaan mengenai perilaku kelompok dan dampak peran di penjara.

Zimbardo dan timnya membentuk kelompok yang terdiri dari 24 mahasiswa. Mereka kemudian setuju menjadi proyek percobaan penjara, dengan bayara $15 sehari. Setengah di antara mereka menjadi tawanan, setengahnya jadi sipir.

Eksperimen ini dibuat semirip aslinya, bahkan sampe ditangkep dan diborgol kayak penjahat beneran.

Tawanan diberikan pengenalan ke kehidupan di penjara, termasuk diinterograsi dan dikasi pakaian tawanan. Zimbardo menjelaskan bahwa, “dalam beberapa hari, para sipir jadi sadis dan tawanan jadi depresi dan menunjukkan gejala stres berat.

Penelitian ini malah berakhir lebih cepat karena psikolog lain yang datang mengomentari bahwa “yang dilakukan Zimbardo agak berlebihan.

BTW walaupun pernah melakukan eksperimen yang serem gini, Zimbardo tetap menjalani peran sebagai psikolog. Malah, dia pernah mendapat award dari APA.

Eksperimen ini juga pernah jadi film lo. Judulnya The Experiment, yang main Adrien Brody.

Penelitian selayaknya memberikan kemajuan bagi ilmu dan kemajuan manusia, namun harus tetap memerhatikan moral dan etika baik pada sesama manusia maupun dengan hewan. Selain itu, peneliti harus memerhatikan hak-hak bagi partisipan, dan transparan dalam melakukan penelitian.

2 Replies to “10 Penelitian Terlarang di Psikologi

Ada komentar? Mau nanya? Silakan tulis di sini :) (kalo mau tau dibales apa nggak, cek email kamu ya)